The Unkindled Of The Broken Soil

Reads
785
Votes
0
Parts
31
Vote
Report
the unkindled of the broken soil
The Unkindled Of The Broken Soil
Penulis SaltSea

Bab Enam Belas: Kehancuran Perang Meningkat

Bab Enam Belas: Kehancuran Perang Meningkat

Medan perang telah berubah menjadi neraka ketika asap dari manusia, makhluk selain manusia itu, dan beberapa binatang buas terbakar menjadi abu serta aroma dagingnya memenuhi udara di sekitarnya.

Sora dan Vael yang masih sibuk menghadapi kepungan dari berbagai arah dengan sisa unit mereka yang masih bertahan di tengah-tengah pasukan musuh yang mulai mengelilingi mereka itu hingga mereka berdua berdiri saling membelakangi di atas tanah yang sudah berlumuran banyak darah dari kedua belah pihak.

Sora yang sedari tadi mencoba membuka jalan melalui celah itu kini menghadapi kesulitan setiap kali ia mencoba menebaskan pedangnya ke arah barisan musuh yang terlihat seperti tembok mengelilingi mereka di sekitarnya itu dengan gerakannya tajam tetapi melambat karena sudah terlihat kelelahan dan tiada hentinya pengepungannya itu.

Dada Vael naik turun dengan cepat yang sedang mengatur nafasnya atas sesaknya ruang yang diberikan kepada unitnya itu, dengan lengan kirinya yang berdarah tetapi pedangnya masih tetap tegak untuk melawan dan di tangan kanannya itu ia memegang belati Komandan Thelan yang hadiah dari seorang saudara seperjuangan telah gugur lama dan disimpan oleh Thramund lalu diberikan kepadanya saat ini sebagai senjata yang seharusnya dikembalikan kepada ksatria Borreal.

Di sekeliling mereka, prajurit Elarion yang masih hidup itu mulai berteriak akan keputusasaan dan ketakutan ketika beberapa dari mereka jatuh satu persatu dan beberapa dari mereka mencoba mempertahankan barisan mereka agar tetap hidup namun ketika mereka juga mulai merasakan kelelahan yang sangat hebat dan otot-otot mereka mulai menjerit sebagai harapan yang sudah memudar dengan perlahan di setiap detiknya.

Sora yang sedari tadi mencoba mengatur napasnya saat beberapa kali menangkis serangan musuh yang datang ke arahnya itu mulai melihat sebuah celah di antara barisan musuh itu dan ia mulai menunjuk dengan tajam untuk memberitahu Vael bahwa mereka bisa menerobos masuk ke dalam arah celah di barisan itu yang di mana tempat musuh mulai membanjiri jalan mereka itu.

Vael memahami maksud Sora dan mulai menggertakkan giginya. “Aku tahu! Kita akan coba!”

Keduanya mulai menyerang lagi dan membuka jalur untuk melalui pengepungan yang dapat membuat mereka dan unitnya itu mati di areanya dan mereka berdua mencoba menyatukan medan perang hanya dengan pedang mereka.

Di dinding kastel, Kaelith yang tidak memiliki waktu istirahat sama sekali setelah menghabisi satu raksasa dengan usahanya sendiri itu, ia langsung mengambil tabung anak panah yang tersisa dari posnya yang sangat minim itu dan mencoba menembakkan anak panahnya itu kembali ke arah raksasa dan 2 naga mayat hidup masih menyemburkan api di sekitar area tembok pertahanannya hingga melumpuhkan seluruh balista yang ada di temboknya.

Ia menembak dengan amarah murni, dan jari tangannya gemetar akan luka yang diakibatkannya yang terus menerus menarik tali busurnya itu tanpa henti bahkan tak memberikan waktu otot tangannya untuk beristirahat sedikit pun.

Tabung panahnya mulai kosong dengan cepat dan ia mengambil sisa anak panah yang ada di tembok itu dan mulai menembakkan anak panah yang dapat ia temukan di sana dengan baju zirahnya mulai retak serta terlihat hancur di bagian kirinya akan ledakan api naga mayat hidup sebelumnya dan kini, wajahnya berlumuran dengan darah dari raksasa yang menyembur sebelumnya dan abu dari setiap kebakaran hebat di atas tembok pertahanannya itu.

Raksasa terakhir dari keenam mereka itu akhirnya menunjukkan kewalahan dan mengeluarkan erangan kesakitan yang ditahannya selama ini saat beberapa anak panah dari Kaelith dan unit tersisanya itu mengenai tenggorokannya hingga menembus bagian dalamnya itu dan raksasa itu akhirnya jatuh ke belakang dengan membawa sebagian tembok yang sudah hancur itu bersamanya yang puing-puingnya itu menutupi sebagian kepalanya dan badannya.

Namun tetap saja, Kaelith tidak memiliki waktu untuk bernapas dengan tenang sebagai waktu istirahatnya dan ia mulai melihat ke arah naga-naga mayat hidup itu melintas lagi di atas temboknya itu dan api nekrotik mereka semburkan di setiap tembok yang masih berdiri dan membakar menara lainnya beserta unit pemanah yang tersisa itu.

Unit pemanah Kaelith mulai menjerit karena badannya sudah terbakar oleh semburan api naga-naga mayat hidup itu tepat berada di samping Kaelith yang masih selamat itu hingga suara jeritannya tak terdengar lagi. Kaelith yang melihat hal itu langsung berteriak dengan geram dan ia meneriakkan perintahnya kepada yang masih selamat itu sambil air matanya yang sudah mengalir di wajahnya.

“BERLINDUNG! BERLINDUNG!”

Dan di saat yang sama juga, mereka semua yang berada di tembok pertahanan itu kehabisan anak panah hingga balista yang sudah hancur akan terkena semburan api naga mayat hidup itu dan tumpukan reruntuhan menara yang mengenainya itu.

Di tenda perang, Namien hanya bisa terdiam dengan kesal saat api dari naga mayat hidup itu terlihat jelas saat membakar tembok pertahanan kerajaannya itu dari dalam tenda dan juga ia tak bisa memberikan perintahnya kepada yang lainnya karena situasi dan kondisinya sudah lebih buruk dari yang Namien rencanakan itu dan Raja Aetheryn duduk di sampingnya itu yang tak bisa bergerak sedikit pun dan tak bisa berbicara lagi dengan kondisi di temboknya itu.

Bagaimana di luar temboknya saat ini yang membuat ekspresi wajahnya muram dan tak memiliki sebuah harapan untuk membalikkan keadaannya saat ini apalagi untuk memenangkannya.

Namun di luar tembok pertahanan itu, suara jeritan samar yang terdengar begitu pelan mulai bergemuruh dari atas awan yang di dalamnya hanya ada keheningan saja.

Hingga membuat langit berubah, awan-awannya itu menggulung dan berputar di atas medan perangnya seperti pusaran laut yang berputar hingga membentuk spiral merah kehitaman yang terlihat hal itu merobek langit yang tinggi di atas para naga mayat hidup yang masih beterbangan di bawah pusarannya itu.

Semua orang berhenti untuk memerhatikannya bahkan mendongak ke atas untuk melihat fenomena ini hingga hal ini membuat Namien melangkah keluar dari tenda komando dengan cepat karena merasakan sesuatu yang ia ketahui itu namun kata terlambat sudah berhenti di ujung kerongkongannya untuk menghentikan hal itu dengan matanya terbelalak dan napasnya tercekat.

Dia berlutut sambil menatap langitnya itu yang ia tahu siapa yang dapat melakukan hal tersebut.

“Mantra itu…” bisiknya.

“Tidak… tidak, dia tidak…”

kemudian air matanya mulai mengalir dan jatuh dari matanya.

Di dalam hutan, Solhen Merach masih berlutut di tanahnya itu dan terlihat darah mulai keluar dengan sendirinya ketika merapalkan mantranya itu dari mulutnya dan jubahnya mulai basah kuyup akan keringatnya tetapi, dia terus berbicara hingga memaksakan kata-katanya itu terbentuk walau batuk darah mulai keluar dari mulutnya.

Tongkat di tangannya mulai retak perlahan dan jatuh ke tanah dan mulai terbakar dengan sihir mentah dari mantranya yang dilantunkan itu.

Spiral di langit terbuka lebih lebar…

Dan dari dalamnya itu, terlihat sosok yang mulai menunjukkan batang hidungnya yang membuat awan menjerit, langit bergetar, dan pohon-pohon membungkuk akan kehadirannya itu.

Dan kemudian, ia muncul seutuhnya dari dalam spiral itu dengan wujudnya besar dengan sayap yang berwarna kemerahan menghitam, sisiknya berkilauan, sosok itu terbang lebih tinggi dari raksasa mana pun, dan matanya menyala seperti matahari kembar.

Bahamuth adalah namanya dan ia adalah sosok mitos yang diceritakan dalam legenda rakyat tentang naga yang memiliki keahlian dalam menghancurkan layaknya dewa perang.

Dewa naga kuno yang dipanggil hanya dalam keputusasaan seseorang yang memanggil dirinya itu dan dikenal menghancurkan ladang, kerajaan… bahkan naga lainnya. Bahamuth mulai mengeluarkan raungan yang membelah kondisi di medan perang itu dengan menunjukkan kehadirannya itu.

Naga-naga mayat hidup itu berbalik seolah merasakan apa yang telah terjadi dan mulai menjauhi area Bahamuth itu sebisa mungkin.

Tapi, Bahamuth mengalihkan pandangannya ke naga-naga mayat hidup itu yang dekat dengan dirinya dan dalam sekejap, menyambarnya di langit itu dengan cakar raksasanya dan menghantamnya ke tanah dengan kekuatannya yang sedemikian rupa sehingga tanah retak dan membuat sebuah lubang yang sangat besar untuk membuat salah satu naga mayat hidup itu jatuh dan juga mengenai sebagian besar pasukan musuh yang berada di area itu dan tengkorak naga mayat hidup itu hancur saat terkena benturan dan cengkeramannya itu.

Medan perang membeku akan kekuatan Bahamuth seketika dan untuk sesaat, harapan kembali sirna yang membuat pasukan Elarion bangkit dari keterpurukannya itu dan dari kejauhan di dalam hutan itu.

Solhen yang masih melantunkan rapalan mantranya dalam keadaan mulutnya sudah dipenuhi oleh darahnya sendiri dan tangannya gemetar dengan hebat hingga ia telah menyelesaikan rapalannya itu dan membuatnya tersenyum lemah ketika mendengar raungan Bahamuth yang telah ia panggil sebelum ia sendiri jatuh ke tanah dan tak sadarkan diri saat Bahamuth memulai aksinya itu dengan nafas terakhirnya yang ia miliki dari kekuatannya itu.

Gelombang medan peperangan telah berbalik lagi ke pihak Elarion dan kali ini adalah babak penentuan dari menemukan perhitungan akan kesuksesan dalam memenangkan peperangannya dan langit kini menjadi milik Dewa Perang, Bahamuth.

Medan perang bergemuruh di bawah langit yang menghitam saat Bahamuth melepaskan amarahnya.

Kakinya yang besar itu mulai menghantam tanah dengan beban yang dapat membelah tanah, dan cakarnya mencabik-cabik sisa-sisa naga mayat hidup yang telah dibantingnya beberapa saat sebelumnya.

Di atas Bahamuth itu, keempat naga mayat hidup yang tersisa terus berputar-putar sebagai balasan membunuh salah satu rekannya itu dengan menyemburkan api nekrotiknya dari keempatnya itu ke arahnya.

Bahamuth berdiri tegak dan melihat ke atasnya itu tanpa memedulikan serangan dari keempat naga mayat hidup itu dengan matanya bersinar lebih terang.

Bahamuth menghirup udara sekali yang di sekitarnya itu terdistorsi oleh panas dan tekanan olehnya dan kemudian, ia menyemburkan apinya itu yang semburan apinya itu meletus dari mulutnya itu dengan api kehancurannya dikeluarkan untuk keempat naga mayat hidup itu sendiri dengan berwarna merah membara semburan api melonjak ke atas membuat spiral api neraka yang menyilaukan dan beradu dengan api mayat hidup yang turun dengan kekuatan yang luar biasa hingga langit di atasnya itu bergetar akan kekuatan mereka.

Dua naga mayat hidup itu tertangkap di tengah penerbangan ketika beradu dengan semburan dari Bahamuth itu hingga sayap mereka yang membusuk itu terbakar yang mengubahnya menjadi abu seketika dan wujud mereka ditelan oleh api Bahamuth sebelum jatuh ke tanah.

Dua naga yang tersisa mulai menjauh dan melarikan diri dari Bahamuth dengan meraung akan putus asa dalam melawan Dewa Naga Perang itu.

Dan dari bawah itu, pasukan Elarion melihat kejadian itu hingga membuat mata mereka membelalak dan membuat moral mereka membara akan kekuatan Bahamuth yang berpihak kepada mereka itu hingga mereka menabuhkan genderang dan teriakan perang sekali lagi untuk membakar semangat mereka itu.

"Untuk Elarion!!!"

Pedang terangkat mereka terangkat dan perisai mereka digenggam erat di tangan mereka. Pasukan yang lelah dan hampir putus asa itu sekarang menyerang sekali lagi dengan teriakan perlawanan mereka yang menembus api dan darah itu walau kalah jumlah dari pasukan musuh itu.

Sora dan Vael yang melihat itu, menemukan momentum untuk membalikkan keadaan medan perang itu yang membuat mereka berdua berlari dengan cepat melewati kekacauan dengan pedang mereka mulai menebaskan lagi di antara pasukan musuh yang menghalangi jalan mereka berdua untuk mencapai komandan musuh mereka.

Sora menebas setiap goblin, orc, ogre, dan lain-lain yang menggunakan zirah itu, melucuti zirah mereka dalam tebasannya yang diam dan begitu cepat hingga ketika pasukan musuh yang melihat pasukan Elarion bangkit kembali dan mulai menggila itu perlahan menarik diri dari barisan dan barikade yang telah mereka buat itu.

Sora yang sudah hampir dekat dengan ujung barisan musuh yang sudah tercerai-berai itu, matanya tertuju pada seseorang yang masih menunggangi kudanya itu dengan zirah hitamnya hingga helmnya memiliki tanduk dan berwarna hitam juga yang tidak lain adalah komandan dari pasukan musuh yang dihadapinya selama ini.

Vael yang sudah berlumuran keringat bercampur dengan darahnya itu di zirahnya mulai menyerang musuh di depannya dengan pedang dan belati yang lebar dengan brutal membukakan jalan melalui celah barisan musuh itu.

Kekuatan gabungan mereka berdua bagaikan badai yang tengah mengamuk di antara pasukan musuh saat ini yang bisa menghancurkan setengah dari barisan pasukan musuh itu.

Di atas bukit, para pemburu yang sudah menunggu sedari tadi akan waktu yang tepat untuk melancarkan serangan tambahannya itu mulai melepaskan anak panah mereka ujung anak panahnya itu dengan api yang sudah diberi minyak dan mengenai tepat di barisan musuh di depan Sora dan Vael itu.

Mereka berdua mengejar pasukan musuh yang hendak mundur dan melarikan diri juga dengan api. Jeritan dan kekacauan tidak terkontrol lagi akan jumlah pasukan yang sudah sedikit itu yang kurang dari 1.000 orang itu mampu bangkit kembali melawan sisa pasukan musuh yang terbilang jumlahnya lebih banyak di hadapan mereka akan pembalikan keadaan dari Bahamuth itu dan jalan mereka terbuka sangat lebar saat barisan musuh mulai goyah di bawah serangan yang brutal dan semangat baru yang sempat redup sebelumnya itu.

Komandan musuh duduk di atas kudanya yang hanya bisa memerhatikan hal itu hingga tak bergerak dari tempatnya yang ia sama sekali tidak mengatakan apa-apa dan memperhatikan gerak-gerik Bahamuth yang masih mengincar sisa dari naga mayat hidup itu dengan kekacauan yang dibuatnya itu terjadi di sekitarnya.

Kemudian... komandan berzirah hitam itu perlahan turun dari kudanya dan berbalik ke arah sampingnya dan di sana berdiri letnannya dengan sosok tingginya itu dengan zirah besi yang terpasang dalam keadaan sudah pucat warna zirahnya serta lubang di zirahnya dan di tengah zirahnya itu terdapat ukiran yang sudah berkarat dengan lambang Borreal yang retakan kulitnya sudah membusuk dan sudah merusak sebagian besar kulitnya serta matanya cekung itu.

Tangannya mencengkeram sebuah pedang melengkung yang diberikan oleh komandannya itu dan di dalam dadanya sebuah simbol yang terikat dengan sumpah itu sudah tak dimilikinya lagi.

Ia adalah Komandan Thelan yang dibangkitkan dari kuburnya itu dan jiwanya dikontrol oleh komandannya yang bukan miliknya lagi. Dibangkitkan tanpa jiwa dan sekarang terikat oleh sebuah kontrak dengan komandannya itu yang wujudnya sebagai mayat hidup saat ini.

Di sisi lain, Vael menyerbu maju dengan amarah yang membuat garis lurus ke arah barisan komandan musuh itu dengan berteriak saat bertarung seperti amarah dalam setiap tebasannya dan sumpah Borreal yang masih terikat di dalam hatinya.

Kemudian, pedangnya mulai beradu dengan sesuatu yang keras yang tampaknya seseorang telah menahan serangannya itu hingga ia melihat di hadapannya itu dan membuatnya membeku ketika ia mengenali sosok yang menahan serangannya itu.

Dunia seakan berhenti bagi Vael ketika melihat wajahnya lagi namun, terdapat kekecewaan yang mendalam ketika melihatnya itu.

"Tidak, itu tidak... mungkin." Bisik Vael dengan nada pelan hingga membuat matanya terbelalak.

Di hadapan Vael saat ini tengah berdiri Thelan, saudara perjuangannya di kerajaan Borreal itu.

Thelan saat ini seperti tidak seperti yang dikenalnya dulu yang terlihat bukan saudaranya yang telah berdiri bersamanya di barisan pasukan Borreal yang sudah hancur karena perbuatannya itu dan bukan pria yang masih mengingatnya lagi.

Daging Thelan itu berwarna abu-abu dan matanya kosong namun, sikapnya dan wujudnya masih tidak berubah dari hari itu.

Vael terhuyung mundur dan berkata dengan suaranya bergetar itu. "Thelan..."

Namun, tidak ada jawaban dari Thelan yang sudah menjadi mayat hidup itu hanya suara geraman pelan dari mulutnya dan bilah pedangnya sedang mencari darah untuk menempel di bilahnya yang sudah lama tak dihunuskan itu.

Mimikri mayat hidup yang bengkok dari penghormatan yang terikat oleh sebuah sumpah Borreal. Hingga, pedang Thelan terangkat yang mengarah langsung ke hadapan Vael dan untuk pertama kalinya, Vael merasa ragu-ragu untuk melawannya.

Di seberang medan perang, Sora yang sedang membuka jalannya itu hingga ia sudah membereskan satu barisan musuhnya itu, melihat Vael tengah berdiam diri dan melihat dalam keadaan membeku seperti melihat sesuatu yang berada di hadapannya itu dan beban sebenarnya dari perang ini bukan hanya bilah pedang dan naga tetapi, juga ingatan, ikatan, dan pengkhianatan yang runtuh sekali lagi dirasakan oleh Vael saat ini.

Masa lalunya kembali bagai hantu yang bukan untuk berdiri bersama-sama lagi melainkan untuk menguji di antara mereka itu.

Di balik kobaran api dan langit yang sudah dipenuhi oleh abu, medan perang berbenturan antara takdir yang berliku, pasukan yang mengawal Solhen sebelumnya itu berdiri dan menyaksikan hal itu dengan takjub.

Dari sudut pandang mereka, mereka melihat Bahamuth yang kekuatan amarahnya sangat dahsyat hingga mendatangkan malapetaka pada naga-naga mayat hidup yang tersisa.

Bumi sendiri bergetar saat naga-naga mayat hidup itu sayapnya mulai menghantam tanah dan jatuh dari langit dalam semburan api Bahamuth itu.

Para prajurit dan orang-orang tangguh sekalipun yang pernah pasrah pada kematian, kini bersorak-sorai dengan harapan yang membara di dada mereka.

“Gelombang perang sedang berbalik!” kata salah satu di antara mereka yang menyaksikannya.

“Demi para dewa, dia berhasil!” jawab salah satu dari mereka dengan gumaman pelannya.

Namun, teriakan mereka segera goyah saat salah satu dari mereka berbalik dan mencari keberadaan Solhen di dalam hutan hingga ia terkejut dan berteriak.

“SOLHEN!”

Penyihir tua itu dan Arsitek Keheningan tergeletak pingsan di atas tanah yang sudah berlumuran darah darinya serta tongkatnya sudah menjadi abu di sampingnya dengan jubahnya gelap karena lebih dari sekadar kotoran yang ada di tanah dan aroma keringat yang bercampur dengan darahnya.

Tanpa ragu, yang menemukan Solhen sudah tergeletak itu berteriak untuk meminta bantuan dan beberapa penjaga yang mendengarnya bergegas untuk menghampirinya.

Satu orang meletakkan jarinya di area lehernya itu dan yang lainnya melihat Solhen sudah tak berdaya itu dengan tatapan tak mempercayai apa yang dilakukannya itu.

“Masih bernafas! Tapi, nafasnya lemah.” Kata salah satu dari mereka yang memeriksa keadaan Solhen secara langsung

“Bawa dia ke istana, SEKARANG JUGA!” teriak salah satu dari mereka hingga mereka

Dengan cepat, mereka semua mengumpulkan beberapa kayu di hutan dan dirakit menjadi tandu bagi Solhen dengan cepat dan mengangkatnya ke atas tandu darurat yang sudah dibuat itu lalu membawanya dengan secepat mungkin melewati asap dan abu yang berjatuhan hingga teriakan kemenangan mereka digantikan oleh keheningan yang mendesak.

Di atas tembok yang rusak, Kaelith berdiri di tengah mayat-mayat unit pemanahnya yang sebagian tertimpa oleh reruntuhan dan terbakar hingga gosong.

Nafasnya berat, tali busurnya mengendur, dan jari-jarinya berdarah akan menarik tali busurnya terus menerus tetapi, dia masih melihat ke langit ke tempat Bahamuth sekarang yang memburu naga mayat hidup terakhir di langit dengan sayapnya yang dikepakkan itu sangat besar sekali.

Dan di sekelilingnya, hanya tersisa sepuluh pemanah dari banyaknya pemanah di tembok yang selamat dari serangan raksasa dan naga mayat hidup itu, semua balista hancur akan tertimpa reruntuhan dan terbakar habis oleh semburan api naga mayat hidup juga, dan setiap tabung anak panah kosong tak tersisa.

Para raksasa yang menyerang tembok pertahanannya itu sekarang terbaring di atas tanah tak bernyawa yang fisiknya begitu besar dan sudah tak menunjukkan pergerakan lagi.

Kaelith akhirnya menaruh busurnya di punggungnya dan melihat ke unitnya yang masih selamat itu dengan dipenuhi luka dan cedera.

“Selesai, kalian yang masih selamat dan yang beristirahat selamanya memberikan semua yang kalian bisa untuk mempertahankan tembok ini dengan mengorbankan nyawa kalian. Beristirahatlah sekarang dan biarkan mereka yang masih berdiri di lapangan menyelesaikan medan pertempuran ini.” Katanya yang melihat ke setiap unitnya yang tersisa itu.

Kemudian dengan langkah pincangnya, Kaelith menuruni anak tangga tembok pertahanan yang membawa luka-lukanya bersamanya saat ia menuju tenda komando di mana Namien dan Raja Aetheryn berada menemukan Namien yang duduk diam di kursinya sambil menatap langit dalam tatapan matanya yang kosong itu.

Namien tidak lagi memerhatikan peta di atas meja itu lagi atau medan peperangan saat ini bahkan tidak ada reaksi dari dirinya yang seperti biasanya.

Matanya kosong dan hanya menatap satu titik di langit abu-abu itu yang tak dilihat oleh banyak orang. Ketika Kaelith masuk ke dalam tenda dengan baju besinya setengah hangus, hancur, dan berlumuran darah akan darahnya yang bercampur dengan darah raksasa itu melihat Namien di sana dengan tatapan kosong melihat ke luar tenda.

"Namien?" tanyanya lembut dan tidak ada jawaban darinya.

"Hei, apakah kau tidak mendengarku?"

Masih tidak menjawab pertanyaan Kaelith itu.

Kaelith melangkah mendekat ke Namien tetapi, suara gemuruh langkah kaki yang terdengar tergesa-gesa itu dan baju besi yang berbaris dengan panik memecah keheningan di luar tenda itu.

Hingga salah satu dari para penjaga yang melindungi Solhen masuk itu berteriak minggir dan pada awalnya hanya segelintir orang-orang saja memerhatikannya kemudian, bertambah lebih banyak lagi dengan wajah yang tampak muram dan kesedihan yang mendalam ketika melihat Solhen di tandu dalam keadaan berlumuran darah di sekitar janggut hingga bajunya itu.

Namien yang menyadari hal itu, bangkit dari tempat duduknya dan bergerak ke arah kerumunan itu dengan secepat mungkin meninggalkan Kaelith di dalam tenda itu.

Mata Namien mulai mengamati para prajurit yang membawa tandu darurat itu dan berkata dari arah belakang yang hendak melihat di depannya itu.

"...Di mana dia?" tanyanya dengan suaranya seperti bisikan guntur.

Ketika kerumunan para prajurit itu mendengar suaranya, membukakan jalan untuk Namien dan tak seorang pun dari mereka yang membawa Solhen itu berbicara hingga dua orang lagi datang, sambil membawa tandu di antara mereka yang membuat Namien melihat Solhen sudah terbaring di tandu dengan berlumuran darah.

Namien mendorong melewati yang lain, matanya menatap ke arah Solhen itu dengan terdiam yang membuat napas Namien tersendat. Ia melangkah maju seperti orang yang terlempar ke dalam mimpi buruk.

"Apa yang terjadi?" tanyanya kepada penjaga terdekatnya dan tak menemukan sebuah jawaban darinya itu.

Hingga Namien mulai mencengkeram bagian leher zirahnya itu dengan erat dan bertanya sekali lagi kepadanya.

"APA YANG TERJADI!?"

Dan tetap saja penjaga itu tidak menjawab pertanyaannya dan yang lain mengalihkan pandangannya.

Tak lama dari itu, seorang tabib datang dengan jubahnya yang kusut dan wajahnya sudah dipenuhi keringat.

Tabib itu berlutut di samping tandu dan memulai pemeriksaannya dalam keheningan yang terlatih.

Kaelith keluar dari tenda dan memperhatikan dari pintu masuk tenda itu yang melihat Namien tak seperti Namien sendiri itu membuat bibirnya gemetar.

Tangan Namien mengepal dengan erat di kedua sisinya hingga tabib itu akhirnya berdiri dengan tanpa ada kata-kata darinya melainkan hanya keheningan.

Melihat hal itu, Namien dengan kesal mulai menyerbu ke arah tabib itu dan mencengkeram kerahnya itu hingga menariknya mendekat ke hadapan wajahnya.

“Katakan padaku apa yang salah dengannya!” gerutunya dengan nada kesal yang masih pelan.

Masih tak ada jawaban dari tabib itu yang sama dengan penjaga sebelumnya itu membuat Namien berteriak di hadapan wajah tabib itu dengan murka.

“KATAKAN PADAKU APA YANG SALAH DENGANNYA SEKARANG!”

Mata tabib itu yang dipenuhi beban, perlahan menjawab pertanyaan Namien dengan kata-kata yang pelan, lirih, dan berat menjawab: “…Dia sudah tidak ada di dunia ini lagi.”

Tangan Namien yang mencengkeram kerah tabib itu mulai mengendur perlahan hingga melepaskannya.

Dia berdiri sejenak di tempatnya yang tak bergerak lalu, kakinya itu tak sanggup menahan beban yang didapatnya itu jatuh dengan kedua lututnya yang menyentuh tanah tepat di samping mentornya yang mengajarinya sihir, yang mengajarinya arti dari kebijaksanaan, dan yang mengajarinya menahan diri dan mengontrol dirinya itu.

Tanpa disadarinya, air mata mengalir deras di pipi Namien saat dia menundukkan kepalanya. “Kau tidak seharusnya mati untuk kami demi memanggil makhluk itu…”

Kaelith yang sedari tadi memperhatikan kejadian itu dari awal hingga akhirnya, tangannya mulai menutupi mulutnya hingga bergetar dan bibirnya ikut gemetar juga ketika melihat reaksi Namien dan mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.

Tetapi, dia tidak mengatakan apa pun selain nafasnya tercekat saat kesedihan mulai mencekiknya hingga air matanya ikut menetes melihat seseorang yang ia benci itu mengorbankan nyawanya untuk mereka yang ingin melindungi tempat tinggalnya.

Dan di dalam tenda, Raja Aetheryn yang mendengar kejadian itu dari perwiranya, menyuruh perwiranya pergi terlebih dahulu dan dia duduk di kursinya itu yang membuat tubuhnya tenggelam ke kursi kayu ek berukir.

Dia menutupi wajahnya dengan kedua tangannya dan tidak berbicara karena dia juga tahu apa yang telah hilang dari mereka dan dirinya itu. Sebuah harga yang telah Solhen beli dari pembalasan dendam langit untuk memenangkan peperangan ini demi kerajaannya dan orang-orangnya.

Di sisi lain, medan perang masih bergemuruh dalam kekacauan namun bagi Vael, semua suara telah memudar di sekitarnya ketika ia harus berhadapan dengan Thelan yang di depannya kini telah berdiri sisa-sisa tubuh saudaranya yang sudah membusuk dan cekung itu yang pernah terikat oleh sumpah bersamanya dulu dan api di dalam dirinya kini sudah padam serta Thelan kini tak lebih dari sebuah boneka nekromansi yang dikendalikan.

Thelan bukanlah pria yang pernah dikenalnya dulu dan simbol Borreal masih menempel di baju besinya yang sudah hancur dan berkarat dengan kulitnya yang pucat, mulutnya yang terkoyak dengan sebagiannya masih memiliki kulit dan sisanya hanya tulangnya, dan pedangnya bergerak bukan dengan kehormatan melainkan dengan perintah dari orang yang mengendalikannya.

Lutut Vael gemetar seketika dan berkata sekali lagi kepadanya.

"Thelan... ini aku, Vael." Namun, sama saja seperti sebelumnya, tidak ada jawaban dari Thelan.

Hanya suara bilah pedangnya saja terdengar saat diayunkan ke arahnya dengan cepat dan tanpa ampun dan Vael tak bergerak dari posisinya atau menahan serangannya itu.

Dia masih berdiri membeku bukan karena ketakutannya tapi karena kesedihan dalam hatinya.

Kemudian, serangan itu diblokir oleh Sora yang memerhatikan mereka berdua sedari tadi dan kini berdiri di antara mereka dengan bilah pedangnya mencegat serangan mematikan beberapa inci dari Vael yang mengarah ke kepalanya itu.

Sora yang diam itu mulai menyipitkan matanya dan ia melihat ke arah Thelan yang telah menjadi mayat hidup dan menoleh ke belakangnya yang mengarah ke Vael itu untuk menunggu sinyal atau sepatah kata darinya.

Namun Vael hanya berdiri di tempat dengan menatap apa yang dulunya itu adalah temannya yang sudah dianggap saudara baginya kini telah berubah menjadi alat yang dikendalikan oleh seseorang dengan wujudnya yang sudah tak memiliki jiwanya itu.

Sora menatap lagi ke arah Thelan di hadapannya lalu ke Vael lagi dan saat Thelan melangkah mundur ke posisi duelnya untuk menunggu jawaban dari Sora yang hendak melangkah maju untuk menjawab panggilan Thelan itu namun, sebuah tangan menepuk bahu Sora dan menghentikannya untuk menjawab duel tersebut yaitu, Vael sendiri.

“Biar aku selesaikan ini, ini bebanku.” Katanya dengan pelan dan lirih.

Sora menatapnya sejenak lalu perlahan menurunkan pedangnya dan melangkah ke sampingnya. Vael menggantikan posisi Sora dengan melangkah maju untuk menjawab panggilan duelnya dengan menarik nafas yang belum pernah diambilnya sejak perang itu dimulai.

Di tangan kirinya, ia genggam pedang Borreal yang tajam dan sudah berlumuran darah lawannya dan di tangan kanannya, ia genggam belati yang pernah dimiliki oleh Thelan itu.

Thelan bergerak lebih dulu, pergerakannya yang mengalihkan perhatian Vael dengan kecepatan yang tak disangka itu membuat Vael menyambutnya dengan teriakan yang merupakan sebagian perang dari dalam dirinya dan sebagiannya lagi hati yang sudah hancur melawan saudaranya sendiri.

Pedang mereka beradu dalam sekejap yang terlalu cepat untuk diikuti oleh kebanyakan mata dan setiap gerakan mereka terpantul dengan sempurna, seolah-olah mereka telah bertarung satu sama lain sebanyak ribuan kali dalam latihan mereka, dalam ingatan mereka, bahkan dalam mimpi mereka.

Setiap serangan bergema dengan kesedihan yang terpancar dari Vael dan setiap kali menahan serangannya dengan menahan diri untuk mengingat siapa dirinya itu dulu.

Dan tetap saja, Vael terus mencoba maju dari semua hal itu yang melihat saudaranya adalah lawannya saat ini dalam wujud yang ia tak inginkan untuk menghadapinya.

Sora memperhatikannya dalam keadaan membeku bukan karena keraguan tetapi, karena rasa hormatnya kepada Vael yang berani melakukan hal seperti itu yang sempat membeku ketika di serang pertama kalinya dan tentunya, ini bukan pertarungannya dan hal ini adalah perpisahan yang ditulis dengan baja oleh Vael kepadanya.

Di seberang medan perang, tatapan Sora mulai melihat sosok melalui asap dan api dan terlihat komandan musuh berdiri diam di punggung batu yang berada di dataran tingginya itu tengah menyaksikan duel antara Vael dan Thelan itu.

Bahkan dari kejauhan pun, aura di sekitarnya itu menyesakkan dada Sora yang bukan karena amarah atau murka melainkan sesuatu yang jauh lebih dari apa yang ia bayangkan dan disengaja bagi komandan itu.

Kemudian, komandan itu berbalik pergi dan mulai berjalan pergi dari duel yang membosankan itu menurutnya. Hal itu seakan-akan membuat pertempuran ini tidak lagi membutuhkan perhatiannya dan kepingan-kepingan itu sudah disiapkan untuk sesuatu yang lebih besar baginya dan panggungnya yang sudah disiapkannya.

Sora mulai menyipitkan matanya dan ia tidak akan membiarkan bayangannya itu lenyap begitu saja. Tanpa suara, ia melesat untuk mengejar sang komandan tersebut dengan pedangnya yang sudah tergenggam erat di tangannya.

Di setiap langkahnya yang terasa panas dan kakinya menjerit karena kelelahan.

Namun, tekadnya tak tergoyahkan yang ia bukan sekadar manusia yang ingin melindungi kerajaan ini melainkan ia adalah sumbernya untuk dihadapi komandan musuh itu dan Sora tidak akan membiarkannya menghilang di balik asap kerajaan lain yang hancur olehnya sebelumnya itu.

Tidak untuk kali ini.


Other Stories
O

o ...

Buku Mewarnai

ini adalah buku mewarnai srbagai contoh upload buku ...

Haura

Apa aku hidup sendiri? Ke mana orang-orang? Apa mereka pergi, atau aku yang sudah berbe ...

Cinta Di Balik Rasa

memendam rasa bukanlah suatu hal yang baik, apalagi cinta!tapi itulah yang kurasakan saat ...

Susan Ngesot Reborn

Renita yang galau setelah bertengkar dengan Abel kehilangan fokus saat berkendara, hingga ...

Gadis Loak & Dua Pelita

SEKAR. Gadis 16 tahun, penjual kue pasar yang dijuluki "gadis loak" karena sering menukar ...

Download Titik & Koma