The Unkindled Of The Broken Soil

Reads
788
Votes
0
Parts
31
Vote
Report
the unkindled of the broken soil
The Unkindled Of The Broken Soil
Penulis SaltSea

Bab Tujuh Belas: Abu Di Bawah Helm

Bab Tujuh Belas: Abu di Bawah Helm

Asap yang tadinya mengepul kini tertiup oleh angin, Sora yang masih berlari dengan setiap napasnya yang terengah-engah mengejar komandan musuh itu sebelum meninggalkan medan perang yang dipikirnya.

Binatang buas yang jatuh, Goblin yang licik telah hangus oleh sambaran api, dan Ogre yang tak lagi bisa menahan kekuatan dari jumlah kecilnya pasukan yang bangkit dari kekalahannya itu namun, dari semua itu gemuruh dari medan perang perlahan memudar menjadi sunyi di belakang Sora yang tengah berlari menuju tepi bukit itu.

Sora sampai di atasnya dan melihat di depannya itu sudah terlihat dalang dari kehancuran peperangan ini berdiri seorang komandan musuh yang diincarnya sedari tadi yang sendirian dan terlihat komandan itu tengah menunggu Sora di lerengnya dengan duduk di atas batu yang sudah hangus akan api dan sosoknya dibingkai oleh zirah hitam yang membubung dengan warna rona jingga yang telah memudar.

Zirah hitam tampak dilapisi dengan sigil dan rune yang tidak dikenali oleh Sora yang menyelubungi wujudnya seperti bayangan itu sendiri yang telah menempanya hingga menyusuri helmnya yang bertanduk itu namun, di balik helmnya itu, Sora merasakan sesuatu yang sepertinya ia kenal.

Sora berhenti beberapa langkah jauh dari komandan musuh itu dengan pedangnya yang sudah digenggamnya dengan erat dan dadanya terasa sesak ketika suara komandan musuh itu.

Terdengar merendahkan Sora, sinis yang sepertinya Sora ketahui, dan dingin seperti angin di musim dingin.

“Lama tidak bertemu… Mireborn.”

Menggunakan kata Mireborn Sora tersentak seketika dan memastikan sosok di balik helm dan zirah hitam itu terlibat dalam pembantaian di desanya itu dengan suaranya itu bergema di antara tulang-tulang Sora yang berasal dari ingatannya dan dari dalam hatinya itu terdapat sesuatu yang terkubur sangat dalam yang tak mau ia rasakan dan memilihnya untuk terkubur di dalamnya agar dirinya tak menjadi apa yang dilakukannya di Weeping Hollows sebelumnya.

Jari-jarinya mulai mencengkeram gagang pedangnya dengan erat-erat hingga komandan musuh itu mulai berkata lagi.

“Masih hidup rupanya kau? Setelah sekian lama kita tak bertemu lagi dari kejadian... apa nama desamu itu? Lupakanlah dan persetan dengan nama desamu itu tapi aku pikir kau sudah binasa saat itu dengan terkubur di bawah reruntuhan bangunan itu bersama dusun kecilmu itu dan ibumu itu yang sudah terbakar menjadi abu, bukan?”

Sempat ada keheningan setelahnya walau Sora tak menunjukkan pergerakan apa pun namun Sora hanya diam saja dan sesuatu mulai membakarnya dari dalam hingga komandan musuh itu mulai mengatakan apa yang seharusnya tidak boleh dikatakan kepada Sora itu.

“Ah... tidak. Itu bukan ibu kandungmu, bukan? Siapa namanya kalau kau ingin memberitahuku ini? Oh, maaf aku lupa bila kau itu bisu, bukan? Ups...”

Komandan itu menaruh tangannya di helmnya dan menggaruk-garuknya seolah terasa gatal agar terlihat lebih tajam dan kejam untuk mencari jawaban dari pertanyaannya itu lalu, ia teringat namanya dan berkata.

“Aha, Eyla Varn, ya? Nama ibumu itu?”

Suara komandan musuh itu ketika menyebutkan namanya yang membuat Sora terdengar kembali dan hal itu menusuk langsung ke dalam diri Sora seperti bilah pisau ke tulang rusuknya dan akhirnya Sora yang tak mampu menahannya lagi ia melangkah maju dengan mulutnya yang terkatup rapat untuk menahan ledakan emosinya itu dan matanya mulai menyala karena amarahnya sudah membara.

Sora mulai menyerang komandan musuh itu dengan brutal dan frontal langsung ke depannya yang membuat pedang mereka saling beradu dan dengan mudah komandan itu menahan semua serangan yang dilancarkan Sora itu dengan satu tangan saja yang pedang di genggamannya itu.

Pedang hitamnya menangkis serangan Sora yang terlihat tampak mudah dan tanpa usaha yang perlu merepotkan dirinya hingga percikan api dari bilah pedang mereka menyembur ke tanah.

Mereka berdiri dengan pedang mereka yang terkunci selama beberapa saat dan pedang mereka saling menempel hingga tatapan mereka saling bertemu antara wajah Sora dan komandan musuh itu saat ini. Hingga sang komandan tertawa dengan mengejek dan menghina Sora itu.

“Masih membawa bebannya itu, begitu? Bagus. Kalau begitu mari kita bicara dengan cara yang paling bisa kita lakukan.”

Ia mendorong Sora ke belakang dan menariknya ke posisi duel dengan pedangnya menyeret seperti menarik seutas tali di tanah yang begitu tajam dan mematikan.

“Ayolah, Mireborn. Mari kita selesaikan apa yang belum pernah kita selesaikan sebelumnya.”

Sora menatapnya dengan pedangnya mulai mencengkeram erat gagangnya yang dengan sendirinya terangkat mengarah ke komandan musuh itu.

Kemudian, sesuatu dari dalam diri Sora perlahan bangkit yang bukan perubahan fisiknya dan bukan karena ketakutan tetapi, pembalasan dan kehancurannya.

Ada yang retak dari dalamnya hingga nafasnya mulai tersendat dan dunia terasa meredup dalam pandangannya.

Trauma Sora melonjak dari dalam dengan gambaran ingatannya, suara hingga jeritannya, dan kenangan yang terlalu lama terkubur di bawah kesunyiannya yang berbentuk api. Mayat Eyla Varn yang sudah menjadi abu dan hendak meraih Sora dengan mata terbelalak yang kosong itu tergambar jelas dalam ingatannya.

Sora mulai menghembuskan napasnya dalam-dalam dengan cara ia bisa menyingkirkan semua kenangan yang begitu menyakitkan bagi dirinya itu dan ia memantapkan pendiriannya untuk mengangkat pedangnya lagi dengan menekan semua hasrat ingin balas dendam dan ketakutannya yang kini menjadi-jadi.

Sang komandan mengangguk sekali yang meremehkannya dengan bilah pedangnya yang samar dengan dialiri oleh sihir gelap menunjuk ke arah Sora.

“Bagus, kau ingat sekarang. Lalu, berdarahlah untuknya jika itu harus kau lakukan.”

Tanpa sepatah kata pun, mereka berdua kembali dalam beradu pedangnya lagi.

Keheningan di antara mereka terpecah oleh dentingan dari bilah pedang mereka yang menandakan pertarungan dua orang yang terikat dengan kejadian di desa Mireholt telah kembali dan Sora siap untuk mengubur traumanya dan mengalahkan dengan api dalam dirinya dan pedangnya itu.

Jauh di sisi lain dari medan perang, naga mayat hidup terakhir mengeluarkan jeritan terakhirnya yang melengking sebelum taring Bahamuth merobek lehernya yang membusuk itu.

Langit turun hujan dengan nanah hitam dan tulang-tulang yang berjatuhan dari naga mayat hidup itu setelah ajalnya tiba, bayangan dewa naga perang itu menciptakan badai keheningan di bawahnya yang membuat kelima naga mayat hidup itu telah lenyap semua tanpa tersisa.

Langit tidak lagi terkutuk dan Bahamuth telah menyelesaikan tugasnya, ia mengangkat sayapnya yang besar itu sekali lagi dan angin kencang terbuat hingga membuat di bawahnya terasa seperti badai debu dari hamparan tanahnya itu beterbangan saat ia meninggalkan medan peperangan itu.

Bahamuth terbang meninggi dan ia terbang seperti dewa yang kembali ke tempat di mana seharusnya itu.

Lalu, dia menghilang di balik awan-awan itu yang memudarkan bayangannya seolah-olah dia tidak pernah dipanggil sama sekali.

Di bawah langit yang pertempurannya masih membara, para prajurit Elarion dengan berlumuran darah dan terengah-engah masih bertempur dengan besi dan baja mereka untuk melawan sisa-sisa gerombolan musuh yang semakin menipis itu.

Para binatang buas dan makhluk-makhluk itu goyah tanpa bantuan dari naga mayat hidup mereka tetapi, mereka tidak mundur melainkan amarah mereka tak henti-hentinya akan haus darah manusia itu.

Namun, api harapan kini membara di berbagai jajaran Elarion.

Dan di jantung badainya medan peperangan itu, Vael masih bertarung dengan Thelan yang baju zirahnya setengah hancur dan setengahnya lagi retak dan nafasnya mulai tersengal-sengal tetapi, tekadnya tak terpatahkan untuk beradu lagi dan lagi dengan pedang dan belati yang pernah dimiliki pria yang dulunya adalah saudara seperjuangannya itu kini menjadi boneka yang dikendalikan oleh dari pasukan mayat hidup musuh itu.

Duel mereka bukan lagi sekadar permainan pedang-pedangannya tapi, itu adalah lagu kesedihan dan amarah dari Vael yang lahir dari tragedi yang dinyanyikan dalam bilah pedangnya yang sedang mencoba membebaskan saudaranya itu dari keterikatan pemanggilannya itu dengan mengistirahatkan kembali jasadnya itu.

Vael menyerang dengan seluruh kekuatan yang dimilikinya, menyerang Thelan dengan lengkungan yang menyapu sisinya dan beberapa tusukan dari pedangnya yang mencegah Thelan mendapatkan celah dalam menyerang Vael itu.

Setiap teknik yang pernah mereka latih bersama itu kini berbalik melawan satu sama lainnya dengan setiap baja pedang mereka berdenting yang masih memberikan perlawanan di antaranya dan setiap percikan darah beterbangan di setiap gerakan mereka.

Tetapi Thelan tidak menunjukkan tanda-tanda melemah, rasa sakit, dan ada suara darinya selama berduel bersama Vael itu karena Thelan bukanlah pria yang dikenal Vael yang saat ini ia hanyalah wadah kosong digerakkan oleh kebencian dan sihir gelap dari pengontrolnya.

Kemudian terdengar pekikan yang tidak wajar dari Thelan yang kekuatannya mulai melonjak dengan drastis.

Udara di sekitarnya mulai menghitam ketika ia mengeluarkan pancaran auranya tak biasa itu dan bilah pedangnya menyala dengan api berwarna hijau gelap yang terkutuk dan bayangannya menyala seperti api membara di bawahnya.

Serangan yang dilancarkan Thelan menjadi serangan dengan pergerakan yang mengerikan yang mampu untuk melakukan sebuah tebasan pedangnya dengan jangkauan yang lebar dan brutal itu dapat merobek daging beberapa orang sekaligus yang berada di dalam jangkauannya itu.

Dia menyerang Vael seperti badai dan Vael ketika menahan serangannya itu yang tak sengaja mendapati dirinya tersandung dan ia bisa menangkisnya namun, tebasan Thelan itu mengenai sisi bahu kirinya yang memotong sebagian lengan Vael hingga sobekan di bagian lengan kirinya terlihat begitu jelas.

Nafas Vael mulai tersendat yang sudah menunjukkan kelelahan yang sudah mencapai ambang batasnya hingga membuat penglihatan Vael mulai kabur dan dunia dalam pandangan Vael terasa begitu sedikit kabur baginya.

Vael kemudian berlutut setelah itu tetapi, tangannya masih mencengkeram pedangnya lebih erat dan dari bibirnya terdengar bisikan yang nyaris tak terdengar di tengah kekacauan yang berbunyi: “Aku terikat oleh sebuah sumpah…”

Kenangan tentang Borreal melonjak melalui dirinya mulai dari aula latihan, mata para mentor yang memerhatikan murid-muridnya berlatih, suara para kawan-kawannya yang memanggil namanya, dan Thelan yang kini berdiri di sampingnya sekali lagi mengajaknya untuk latih tanding dengannya yang baru belajar memegang replika pedang dari kayu itu.

Semua memorinya akan hal itu kini telah pergi bersamanya untuk selamanya.

Namun, sumpah yang masih terikat itu di dalam dirinya akan Borreal yang sudah hancur dan tak bersisa itu tetap ada.

“Aku adalah pedangku yang terakhir untuk menjaga sumpahku... dan aku tidak akan menyerah apa yang telah mengikatku dan membuatku hingga seperti ini.”

Vael bangkit dari keputusasaannya dan menolak untuk mengatakan menyerah dalam menghadapi saudaranya yang perlu diistirahatkan kembali itu.

Vael mulai melangkah ke arah Thelan yang sudah bersiaga dalam posisinya itu dengan perlahan lalu perlahan ia mempercepat langkahnya hingga berlari dan ia menyerang untuk terakhir kalinya sebagai serangan terakhirnya itu kepada Thelan.

Pedang mereka bertemu dalam gemuruh kekuatan, sihir gelap, dan baja yang saling beradu untuk peperangan di Elarion dan juga untuk sumpahnya kepada Borreal itu hingga untuk mereka yang tidak bisa bangkit lagi dari tanah.

Keheningan dua pria yang dulu terikat oleh sumpah yang sama kini dipisahkan oleh kematian dan kehidupan.

Vael berdiri tegak di hadapan Thelan yang sedang beradu itu dan baju besinya hancur seutuhnya saat ini dengan tulang rusuknya terasa retak dan darahnya mengalir dengan deras di bagian lengan kirinya dan luka yang sudah berukir di sekujur tubuhnya itu.

Di hadapannya, Thelan yang terpelintir oleh ilmu hitam menendang Vael untuk memberikan ruang baginya untuk melancarkan serangan mematikannya lagi seperti tadi dan kini Thelan memasang kuda-kudanya dan mengangkat pedangnya yang diliputi ilmu hitam itu dengan tanda-tanda yang terukir di dalam pedangnya yang bersinar dengan kutukan membuatnya tetap hidup dalam kehidupan palsu.

Baja telah bernyanyi di antara mereka sekali lagi yang mereka melakukan serangan demi serangan, tebasan demi tebasan, setiap tusukan bergema dengan kenangan menyakitkan, dan setiap luka menangis dengan kesedihan kepada lawannya di hadapan mereka.

Tetapi sekarang, Thelan mengambil satu langkah mundur perlahan dengan mengangkat pedangnya yang memumbung tinggi ke atas kepalanya disertai api hitam yang melingkari baja pedangnya melilit seperti ular.

Matanya yang telah lama mati menatap Vael bukan dengan kebencian tetapi, dengan keharusan yang dingin dari seorang pria yang tidak dapat menahan untaian takdirnya dalam jasad yang telah membusuk lama dan digerakkan oleh penggeraknya.

Vael berdiri teguh dengan pedangnya di tangan kiri dan belatinya di tangan kanannya.

Lututnya gemetar akan luka yang tak sanggup ia tahan rasa sakitnya itu tetapi, semangatnya masih tetap membara dengan membawa sumpah Borreal yang masih berdenyut di dalam nadinya.

Mereka berdua saling menatap sebelum menyerang sebagai penentuan dari pertarungan duel terakhir mereka berdua.

Tebasan kedua pedang mereka yang berteriak lebih keras dari trompet perang mana pun lalu, keheningan seketika untuk beberapa saat ketika keduanya tidak bergerak untuk melihat siapa yang jatuh terlebih dahulu di antara mereka.

Lalu, Vael berlutut dengan tangannya yang menahan badannya untuk jatuh di atas tanah itu dengan menyemburkan darahnya dari mulutnya akibat tebasan yang menyobek bagian dadanya saat pedang terkutuk itu mengiris sisa-sisa baju besinya yang sudah hancur itu yang membuat rasa sakitnya membara dan kekuatannya mulai goyah.

Namun, belatinya yang digenggam di tangan kanannya hilang dari genggamannya karena belatinya itu menancap dengan tusukan yang sangat dalam di dada Thelan itu.

Ksatria yang dibangkitkan sebagai mayat hidup dari Borreal itu terhuyung mundur dan cahaya di matanya berkedip-kedip hingga membuat pedangnya jatuh dari genggaman jari-jarinya.

Ia jatuh berlutut dengan baju besinya yang bolong akan tusukan belati Vael yang ditancapkannya itu dengan presisi yang akurat mengenai inti dari mayat hidup itu.

Wajahnya menoleh ke arah Vael dengan tidak ada niat jahat dan tidak ada perlawanan lagi dari dirinya yang hanya... kedamaian yang telah melepaskan dirinya itu.

Sekilas sesuatu yang manusiawi terlihat dari Thelan sebagai mayat hidup itu sebelum ajal untuk kedua kalinya menjemputnya dan kemudian, untuk pertama kalinya sejak mereka bersatu kembali dalam kebangkitan Thelan itu, Thelan tersenyum dengan samar dan hampa tapi begitu menghangatkan Vael ketika melihatnya itu.

Pandangan Vael mulai kabur tapi ia menolak untuk tumbang terlebih dahulu sebelum menyelesaikan tugas terakhirnya itu hingga ia bangkit dengan kekuatan yang tersisa di milikinya untuk melangkah maju dan membawa pedangnya dengan gemetaran di tangannya menuju Thelan itu.

Ketika sampai di tempat Thelan yang memberikan posisi untuk Vael agar bisa mengeksekusinya dengan terhormat itu, Vael mulai mengangkat pedangnya dengan tinggi-tinggi dan berhenti sejenak untuk melihat wajah Thelan yang mendongak ke arahnya untuk menunggu saudaranya untuk mengeksekusinya itu.

Vael menjerit dengan suara yang tercabik-cabik dari bagian terdalam jiwanya dan menghunuskan pedangnya tepat di belakang leher Thelan itu sebagai pukulan terakhirnya yang kepala Thelan terputus dari badannya dan jatuh menggelinding itu.

Mayat hidup itu terdiam. Thelan, yang dulunya seorang komandan dan saudara sumpah dari vael dan juga seorang manusia... kini berbaring dengan tenang yang seperti ia inginkan itu.

Vael berdiri di sana sejenak dengan bilah pedangnya ia tancapkan di atas tanah dengan bahunya mulai gemetar dan tanpa disadari, Vael mulai menangisi apa yang telah ia lakukan itu sungguh membuat hatinya teramat sakit.

Kemudian, dengan kaki yang tak sanggup lagi untuk bangkit, ia jatuh berlutut di samping mayat Thelan tanpa kepala itu. yang enggan menangisinya dengan suaranya dan terdengar isak dari Vael dan rasa sakitnya lebih dalam dari sekadar air matanya yang menetes itu.

Ia hanya menundukkan kepala dengan satu tangannya mengambil belati di dada Thelan lalu ia mencengkeram gagang belatinya dengan erat yang dulunya pernah dimiliki oleh saudaranya itu, Thelan.

“Tidurlah sekarang… saudaraku.” Ujar Vael dengan isak tangisannya sebagai kata-kata terakhir setelah saudara seperjuangan yang tak terikat oleh darah itu.

Thelan telah beristirahat dengan tenang. Perang masih bergemuruh dan di tempat terbuka itu namun di sini, untuk sesaat badai berlalu dalam waktu singkat bagi Vael.

Dan satu sumpah yang akhirnya terpenuhi baginya itu.

Di tengah-tengah tepi medan perang yang runtuh, tempat bumi yang sudah hangus akan semburan api Bahamuth dan naga-naga mayat hidup sebelumnya bertemu dengan batu yang sudah hancur dan langit yang berwarna abu-abu kelam.

Sora beradu dengan komandan musuh yang di mana ia adalah manifestasi dari bayangan masa lalunya yang hantu masa lalunya kembali lagi dengan baja dan racun baginya.

Pedang mereka telah bertabrakan belasan kali dan percikan baja mereka menari-nari seperti logam yang meneriakkan pertarungan mereka. Sora menyerang dengan amarah murni di matanya dan api masa lalunya itu mulai membakar jiwanya.

Namun, sang komandan hanya tertawa lugas yang mengejeknya setiap serangan Sora itu seperti anak kecil yang baru saja direbut makanannya itu dengan menangkis setiap pukulan Sora dengan mudah.

"Kau terlalu emosional dan terlalu kekanak-kanakan untuk penebusan yang kau lakukan itu. Apakah kau benar-benar berpikir mengayunkan pedangmu itu dengan amarah akan membuatmu mengalahkanku? Hahahaha... jangan harap hal itu terwujud, bocah Mireborn." Ejeknya dengan suaranya yang tenang tapi begitu kejam.

Sora meraung tanpa suara yang suaranya terkunci selamanya dalam keheningan tak berujung dan bergegas melancarkan serangannya lagi dengan tebasan yang lebih berat diarahkan ke tenggorokan sang komandan.

Komandan musuh itu menghindar dengan satu gerakan yang mudah dan dia melancarkan serangan balik dengan menghantamkan sepatu botnya ke dada Sora yang membuat Sora terhempas hebat mundur ke belakang yang menyeretnya ke tanah di sekitarnya itu.

Sora menghantam batu di belakangnya dengan keras hingga membuat debu mengepul di sekelilingnya.

“Oh, ayolah… ini bukan yang kuharapkan darimu. Aku pikir kau tumbuh dari momen itu di dalam abu, tapi ini? Ini menyedihkan sekali.” Kata komandan itu dengan mendesah kecewa kepada Sora yang perlahan mulai mendekatinya itu.

Sora menggertakkan giginya dan tangannya gemetar saat dia mendorong dirinya kembali berdiri.

Darah menetes dari sudut mulutnya meskipun bukan dari jeritannya itu melainkan dari keheningan yang brutal dia alami selama ini.

Komandan itu berhenti dan berkata dengan nadanya yang merendahkan Sora lagi.

“Menyerahlah saja, Mireborn. Letakkan pedangmu itu dan aku akan mengampuni perbuatanmu itu tapi, dengan syarat begitu aku merebut kastel yang kau pertahankan itu untuk atasanku dan mungkin aku membiarkanmu hidup dengan tenang bersama kelompokmu itu.”

Cahaya yang samar mulai menyebar di sekujur tubuhnya dengan memancarkan cahayanya dari bekas luka di sekujur badannya dan berdenyut seperti detak jantung yang lebih tua dari suaranya dan lebih tua dari kesedihannya itu.

Api merah membara di bilah pedangnya yang bukan sekedar api tetapi, jiwa dan ingatannya untuk membalaskan dendamnya kini membara sepenuhnya yang telah ia tahan dan tak mempunyai pilihan lagi selain itu.

Komandan itu berhenti dengan rasa penasaran. "Oh... kau mulai serius sekarang. Baiklah kalau begitu..." katanya yang dengan nada hampir gembira itu.

Dia mengangkat tangannya sendiri ke langit dan dari balik baju besinya, api hitam mulai melingkari seluruh tubuhnya yang berputar menjadi aura kematiannya di sekitarnya.

Rune-nya aktif bukan dari kehidupan namun, dari hasil kebusukan dan kedengkian yang dimilikinya.

Kegelapan yang tebal dan membara mengalir di sekitar tubuhnya yang berdetak seperti api yang dipenuhi asap dan bilah pedangnya dibentuk ulang oleh aliran kerusakan dari rune itu menyelimutinya juga.

"Mari kita selesaikan pertarungan ini, Mireborn. Dan mari kita lihat rasa sakit siapa yang membuat mereka lebih kuat." Katanya dengan senyumnya yang sinis.

Sora berdiri tegak tak goyah dari beban masa lalunya yang akhirnya berubah menjadi api merah dalam jiwanya.

Bumi bergetar di bawah kaki mereka sekali lagi dan bentrokan pertarungan di antara mereka pun dimulai kembali.


Other Stories
Coincidence Twist

Kejadian sederhana yang tak pernah terpikirkan sedikitpun oleh Sera menyeretnya pada hal-h ...

Keeper Of Destiny

Kim Rangga Pradipta Sutisna, anak dari ayah Korea dan ibu Sunda, tumbuh di Bandung dengan ...

Kasih Ibu #1 ( Hhalusinada )

pengorbanan seorang ibu untuk putranya, Angga, yang memiliki penyakit skizofrenia. Ibu rel ...

Dante Fair Tale

Dante, bocah kesepian berusia 9 tahun, membuat perjanjian dengan peri terkurung dalam bola ...

7 Misteri Di Korea

Untuk membuat acara spesial di ulang tahun ke lima majalah pariwisata Arsha Magazine, Om D ...

Pulang Tanpa Diikuti

Sekar menghabiskan liburan panjang di rumah neneknya, sebuah rumah tua di desa yang menyim ...

Download Titik & Koma