Bab Dua Puluh Lima: Gema Di Bawah Derap Kuku Kuda Hitam
Hembusan angin yang bertiup melintasi desa itu yang hampir memadamkan api unggun di samping Sora memaksanya untuk bangkit dari tempat duduknya.
Keheningan sebelum badai memecah derap suara puluhan kuku kuda bergerak yang bergemuruh dari balik bukit-bukitnya yang gelap, semakin keras suaranya, semakin berat langkahnya, dan suaranya seperti ketukan genderang perang yang sudah lama tertunda.
Dari sisi terjauh desa yang berada di pintu masuk desa itu, Vael mendengar sesuatu dari arah kejauhannya itu ketika keheningan menyelimuti seluruh isi desanya.
"Mereka sebentar lagi menuju kemari." Arelan yang sudah menghunuskan kapak kembarnya dari punggungnya itu melangkah di samping Vael dengan tekad yang kuat.
"Terlalu cepat bagi mereka untuk menuju kemari atau mungkin waktu yang tepat untuk membuktikannya kepada mereka itu."
"Entahlah, sebaiknya kita mundur ke belakang dan berkumpul bersama Sora sekarang." Ujar Vael kepada Arelan yang sudah menghunuskan pedangnya juga.
"Lebih baik bertarung bersama daripada bertarung sendirian." Arelan menanggapi perkataan Vael itu yang mereka berdua setuju untuk bergerak untuk berkumpul dengan Sora itu di belakangnya.
Kaelith yang muncul dari barisan pepohonan dengan matanya tajam mengamati beberapa bayangan telah bergerak menuju desa itu dan busurnya sudah disiapkannya yang dia mengambil posisi di perancah tinggi sebuah lumbung tua di desa itu dan menghadap ke jalan utama desa yang bisa melihat keseluruhan dari atas sana termasuk Sora yang sudah menghunuskan pedangnya serta Vael dan Arelan yang hendak berkumpul dengan Sora itu.
"Hei, mari kita akhiri ini dengan cepat sebelum menjadi lebih buruk lagi."
Namien yang muncul terakhir dengan tangannya bersinar samar dengan aliran sihirnya yang terlihat jelas mengalir di sepanjang sarung tangannya. Dia menyeringai entah kepada siapa dan berbisik kepada angin,
"Ini tampaknya sangat melelahkan."
Dari arah pintu masuk desa, para tentara bayarannya berdatangan dengan puluhan kudanya itu menyerbu masuk ke dalam desa dengan teriakan mereka yang mengisi seluruh desa.
Gelombang tentara bayaran telah memasuki desa dengan zirah hitam mereka yang jumlahnya sedikitnya tiga puluh orang sekarang menyerbu desa seperti serigala yang kelaparan dan pemimpin mereka berada di belakang pasukan depan itu yang diapit oleh orang-orang pilihannya yang berbeda dengan orang-orang yang berada di depannya itu yang zirahnya lebih menakutkan dibandingkan orang-orang yang berada di depannya itu.
Teriakan kuda bercampur dengan teriakan perang mereka dan debu mengepul di sekeliling mereka.
Sora, Vael, dan Arelan berdiri seperti penjaga yang tak tergoyahkan di jalan setapak untuk menunggu mereka datang dan masuk ke dalam area jangkauan mereka.
Kemudian terdengar bisikan Namien yang merapalakan sihir, membuat tanahnya itu menjadi lumpur dan tanah yang menghisap kuda mereka ke dalam tanah berlumpur itu.
Beberapa kuda yang bergerak di bagian depan itu tiba-tiba tenggelam, penunggangnya terlempar dari pelananya, jeritan mereka meletus saat lumpur tebal yang tersihir mencengkeram anggota badan dan menyeret mereka ke bawah seperti kutukan.
Gelombang depan itu goyah dengan teredam di tengah-tengah serangan mereka itu. Anak panah pertama Kaelith melesat menembus kekacauan langsung ke tenggorokan seorang tentara bayaran yang berhasil selamat dari sihir Namien itu yang menjatuhkannya dari kudanya itu.
Sora bergerak seperti kilat dan melesat di antara para penunggang kuda yang sedang bergerak menuju arahnya dengan mulai menebaskan pedangnya dengan presisi yang tepat, dan bilah pedangnya bersinar dalam cahaya obor yang berkedip-kedip.
Di sampingnya, Vael mengayunkan pedangnya yang baru saja dihunuskannya itu dengan brutal dan kapak Arelan menari dalam serangan lengkungan yang lebar hingga memotong baja dan tulang di depannya.
Di atas mereka, Kaelith melepaskan anak panah dari tempatnya itu dengan setiap anak panah ditembakkan dengan amarah yang sunyi dan menyerang pasukan berkuda atau infanteri tentara bayaran itu dengan cepat, tidak pernah meleset, dan selalu penuh perhitungan.
Suara Namien yang berada di belakang mereka itu dengan duduk di atas tong kosong sedang merapalkan sihir di medan perang yang menyala dengan kobaran api dan menyegel bagian gang timur untuk memotong sisi pasukan berkuda yang hendak menyerang dari arah samping.
Penduduk desa yang dulu gemetar ketakutan saat tentara bayaran The Gallows Sun datang, kini berdiri dalam diam dari tempat persembunyian mereka dan melihat pertarungan mereka berlima melalui celah-celah tempat tinggal mereka itu.
Tidak ada yang pernah mengira orang-orang asing itu akan menjadi penyelamat mereka.
Ketika serangan yang dilancarkan tentara bayaran itu telah menemui kegagalan dan banyak korban yang berjatuhan, pemimpin tentara bayaran itu langsung memberikan aba-abanya kepada sisa pasukannya itu dengan ia sendiri akan turun ke medan pertarungannya itu dengan pertimbangannya dan baju zirahnya yang berwarna hitam membentuk ukiran melengkung dengan garis-garis emas yang tajam di zirahnya yang seolah-olah dimaksudkan untuk mengintimidasi mereka dari bentuknya saja.
Wajahnya tidak menunjukkan rasa takut dan penghinaan kepada mereka berlima itu.
Pemimpin itu bergerak dengan kuda putihnya dan empat orang elitnya yang di pilih melangkah maju di belakangnya untuk mengelilingi mereka berlima dengan formasi yang sempurna.
Senjata mereka terhunus untuk melakukan serangan dengan menerobos api yang dibuat oleh Namien sebelumnya itu.
Pemimpin tentara bayaran itu mengamati medan pertarungan yang kini dipenuhi oleh bawahannya yang gugur dan sekarat. Rahangnya terkatup rapat dan amarahnya mulai berkobar di matanya.
"Menyedihkan sekali, jadi selama ini penduduk desa menyewa sekelompok pahlawan untuk melawan kami lagi rupanya." Gerutunya dengan frustasi dan melangkah maju ke depan yang targetnya sudah tertuju ke arah Sora yang masih bertarung itu.
"Aku akan menangani bocah itu sendiri."
Dari atap, Lyra mengamati tanpa terlihat seorang pun baik itu kawan atau lawannya.
Matanya menyipit memerhatikan yang bukan ke arah pemimpin tentara bayaran itu, melainkan ke arah Sora yang sedang bertarung dengan tak memedulikan berapa serangan yang diterima olehnya itu hingga ia bisa menjatuhkan lawan di hadapannya yang sedang menunggangi kuda maupun yang menyerang langsung ke arahnya dengan berlari itu.
Lyra yang terus memerhatikan Sora itu mulai memikirkan apa yang Namien katakan kepadanya itu dan berbisik pada dirinya sendiri. "Aku tahu kalau aku seharusnya tidak ada di sini bersama mereka yang menjarah itu dan aku mengetahui yang dimaksud oleh penyihir itu sekarang."
Di bawah, Sora yang melihat pemimpin tentara bayaran itu sudah dekat dengan dirinya itu yang menyerangnya dengan menendang Sora dari kudanya hingga membuat Sora terhempas dari posisinya itu lalu dengan cepat ia bangkit kembali untuk melihat tawa seorang pemimpin yang serakah dan arogan itu.
Hembusan angin yang sedari tadi berhembus seketika hening dan medan pertarungan menahan napasnya sejenak setelah pemimpin tentara bayaran itu turun dari kudanya untuk menghadapi Sora seorang diri dengan kekuatannya itu.
Namun, suatu pergerakan aneh yang dirasakan oleh Sora ketika angin menderu lagi dengan berantakan alirannya tetapi kali ini bukan badai melainkan benturan antara kekuatan dari pemimpin tentara bayaran itu yang menyala dalam angin itu.
Komandan tentara bayaran itu berdiri tegak dengan seringai menghina terpancar di wajahnya.
"Baiklah, kau bocah, kau akan menyerang lebih dulu atau kau menunggu izin ibumu itu sbelum menyerang diriku?"
Sora tidak terpancing dengan perkataannya itu dan mencoba untuk tidak bergerak yang mempersiapkan posisi kuda-kudanya itu untuk menunggu serangan pemimpin arogan itu.
Sora tidak memalingkan pandangannya dari pemimpin tentara bayaran itu hingga di dalam dirinya, rune itu mulai menyala yang bukan bersumber dari amarahnya melainkan tekad Sora itu.
Udara di sekitar Sora terasa seperti padat hingga runenya mulai aktif dengan memancarkan warna merah yang diselingi putih menyelimuti seluruh badannya hinggha mengalir ke bilah pedangnya dengan menghakimi perbuatan dan perkataannya itu.
Mata Sora memantulkan api yang tidak liar seperti sebelumnya, tetapi stabil dan terkendali yang menandakan bahwa Sora mampu untuk mengendalikan kekuatannya itu.
Pemimpin tentara bayaran itu ketika melihat Sora yang mengaktifkan runenya mulai tertawa pada awalnya lalu berhenti untuk menyeka air matanya yang keluar karena kelucuannya itu.
"Hmm... jadi kau salah satu yang memiliki kekuatan kuno juga ya, tapi tetap saja kekuatanmu itu hanya api yang membara tanpa bisa mengalahkan angin yang mengamuk seperti badai." Gumam pemimpin itu dengan mempersiapkan kuda-kudanya hingga pedangnya yang melengkung itu.
Suara mendesing hebat dan meledak dari kaki pemipin itu yang juga ia mengaktifkan kekuatan rune miliknya sendiri dalam energi hitam kehijauan itu yang terus berputar-putar seperti topan dahsyat.
Angin gelap melilit tubuhnya dan dapat mengangkat kerikil kecil serta debu menjadi pusaran di kakinya.
Rune di seluruh tubuhnya yang mengalir itu terlihat berdenyut dan mengikuti irama alunan angin yang terlupakan yang begitu kuno dan hancur karena waktu.
Lalu ketika mereka berdua sudah saling mengaktifkan runenya itu, mereka bergerak untuk melakukan duel mereka dengan gerakan yang sangat cepat dan menghilang dari pandangannya.
Hanya suara pedang mereka yang bertemu di udara dalam kilatan yang cepat dan bergema dentingannya yang menandakan keduanya tidak dapat dikalahkan dengan mudah untuk menyerah pada lawannya itu.
Suara baja beradu dengan baja lainnya yang berderak seperti guntur di duelnya itu.
Dari atap, Lyra yang memerhatikan duel pertarungan mereka berdua itu dalam bayangannya membuat matanya tak bisa mengikuti pergerakannya yang sangat cepat yang hanya sekilas terlihat tarian api dan badai yang tengah berkecamuk itu.
"Apa ini? Gerakan bocah itu… tidak seperti yang lainnya. Cukup terkendali dan terhitung, tapi api itu… yang bereaksi terhadap emosinya yang bukan berasal dari sihir, tapi dari sesuatu yang lain." Pikir Lyra yang sedang mencoba untuk memerhatikannya tanpa terganggu oleh sekitarnya itu.
Sora tidak menggunakannya untuk menguasai kekuatan runenya itu melainkan ia menggunakannya untuk menahan segala hasratnya yang terpendam itu dan memilih untuk tidak membunuh siapapun dengan kekuatan itu.
Sementara itu, Vael dan Arelan berdiri saling membelakangi dengan darah mereka yang mulai mengalir di setiap luka yang diterima mereka dan percikan api beterbangan di setiap benturan bilah pedang mereka yang melawan empat orang pilihan sebagai pengawal dari pemimpin tentara bayaran itu.
“Mereka bertarung seperti bukan manusia!” teriak Arelan yang menangkis serangan brutal yang juga menggunakan kapak ganda kepadanya.
Vael mencoba untuk melancarkan serangannya ke salah satu seorang pengawalnya itu yang memegang tombak namun dapat menangkis serangan Vael lalu berputar untuk melancarkan serangan balik ke arahnya yang membuat Vael menghindar ke belakangnya itu dan berkata kepada Arelan.
“Kita hancurkan saja mereka ini. Temukan titik kelemahannya!”
“Lebih mudah untuk diucapkan daripada dilakukannya!” teriak Arelan ke arah Vael yang sedang mencoba untuk mencari celah di posisi bertahannya itu.
Pengawal elit tentara bayaran itu menyerang dengan cepat dalam formasi yang sangat rapat tanpa memberikan celah kepada Vael dan Arelan sebagai lawan mereka itu.
Namun, bilah pedang Vael bernyanyi dengan setiap benturan yang bergema dengan irama himne perang Borreal itu dan Arelan mulai meraung liar seperti badai dengan kapaknya menyerang dan bertahan ke arah pengawal elit itu dengan bertubi-tubi seperti roda besi.
Di atas mereka, Kaelith melepaskan tembakan terakhir di tabung anak panahnya itu yang melepaskan anak panahnya itu ke rongga mata seorang pembawa perisai yang hampir menjatuhkan Arelan dari belakangnya itu.
Dia menghembuskan napas tajam dan keringat yang membasahi dahinya.
Kemudian, Kaelith merasakan sesuatu dari belakangnya itu dan melihat ke belakangnnya itu di ladang yang jauh.
Sepuluh tentara bayaran muncul dari arah belakangnya itu dengan membawa obor di tangan mereka dan juga ember yang dipenuhi dengan minyak tanah yang tercium oleh Kaelith itu.
Kaelith menarik napasnya dan melihat ke arah tabung anak panahnya itu telah habis, dan ia berteriak kepada yang lainnya.
“Hati-hati, sepuluh orang mendekat dari—!”
DUARRR!!!
Sebelum para penyergap mencapai belakang desa itu, tanah di bawah mereka menyala dengan tiba-tiba yang serangkaian minyak telah disebar itu memercikan apinya dan tanahnya yang basah oleh minyak itu terbakar dengan hebat hingga menghanguskan sepuluh orang itu tanpa tersisa.
Jeritan mereka itu terdengar jelas, api yang semakin menjadi-jadi, dan kekacauan yang sudah diperhitungkan oleh seseorang yang menyiapkannya itu.
Namien dengan santainya duduk di atas tong air yang dengan tenang meniup ujung jarinya terdapat api kecil itu seperti lilin.
“Sudah kukatakan berkali-kali untuk menutup pintu belakang sebelum meninggalkan tempatnya itu.” Gumamnya sambil melihat ke arah sepuluh orang yang perlahan jatuh di atas tanah sambil terbakar itu.
Kaelith melihat kejadian itu dari tempatnya yang tinggi dengan matanya terbelalak.
‘Dia memasang jebakan... tanpa memberi tahu kita? Tentu saja dia melakukannya. Karena dia Namien.’ Pikir Kaelith menghembuskan napasnya yang lega itu sambil tersenyum tipis melihat tingkah laku Namien.
Kembali ke tengah-tengah desa itu, Duel Sora dan pemimpin tentara bayaran itu yang telah merubah pertarungan mereka menjadi tingkatan yang lebih ganas dengan percikan api beterbangan hingga angin yang berhembus dengan kuat bagai pedang yang tajam itu.
Api dan angin bertabrakan yang mengirimkan hembusan angin bercampur api ke seluruh desanya yang membuat area duel pertarungan mereka perlahan-lahan dimakan oleh api dan penduduk desa yang keluar dari tempat tinggalnya itu yang rumahnya sudah diselimuti oleh api.
Pemimpin tentara bayaran itu menunduk rendah ketika Sora menyerangnya dan melancarkan serangan balik dengan menebas ke bagian tulang rusuk Sora tetapi rune Sora masih menyala yang menghempaskan serangan pemimpin tentara bayaran itu seketika.
Sora membalas serangan baliknya ketika menemukan titik celahnya itu dengan mengayunkan pedangnya dari bawah ke atas yang bilah pedangnya berdengung dengan api merah putih runenya itu dan hampir menebas pemimpin itu yang sempat menghindari serangannya.
Pemimpin itu terhuyung mundur yang masih menertawai Sora dengan emosinya yang sudah tak bisa dikendalikannya lagi.
"Siapa yang melatihmu cara berperang, bocah?" ujar pemimpin itu dengan meludahkan darah yang bercampur dengan air liurnya itu.
"Kau bertarung seperti seseorang yang sudah pernah mati sebelumnya." Tambahnya lagi dengan mempersiapkan kuda-kudanya.
Sora tidak menanggapi pernyataannnya itu dan ia mengangkat bilah pedangnya lagi untuk mempersiapkan serangan selanjutnya darinya.
Dari balik bayangan, Lyra berbisik kepada dirinya sendir sambil mengamati pertarungan mereka berdua itu dari atas: "Aku pernah melihat pembunuh yang begitu sadis dan aku pernah melihat penjarah yang dengan serakahnya merampas semuanya bahkan nyawa seseorang pun. Tapi, aku melihat kau begitu berbeda dari yang lainnya yang seseorang menanggung beban dari hasil apa yang pernah terjadi dari keduanya itu."
Api menari-nari di pedang Sora dan pertarungan mereka berdua baru saja dimulai ke babak selanjutnya yang lebih mematikan. Irama duel mereka berdua telah berganti menjadi musiknya sendiri seperti yang arogan melawan yang pendiam, angin melawan api, dan ketepatan melawan naluri.
Tebasan pedang mereka ketika beradu sekali lagi sama halnya seperti dentangan maksud dan tujuan mereka itu.
Setiap tusukan yang dilancarkan mereka berdua ke satu sama lainnya itu ditangkis oleh mereka berdua.
Hingga pemimpin tentara bayaran itu bertarung seperti badai tanpa terkendali dan rune-nya melonjak di sekitar area kakinya yang meningkatkan kecepatannya hingga sosoknya menjadi sangat cepat dari sebelumnya dari angin yang dikeluarkannya tadi.
Setiap tebasannya ditujukan untuk menghancurkan pertahanan Sora dan setiap serangannya itu membawa keinginan dari seorang pembunuh.
Namun Sora tidak goyah ketika pemimpin itu melancarkan rentetan serangan yang bertubi-tubi itu, melainkan Sora mengalir seperti air yang menghindari serangannya dengan ketenangan dan bilah pedangnya menari dengan ketepatan yang terkendali ketika menemukan setiap celah dari serangan pemimpin itu.
Kemudian Sora melihat titik kelemahannya yang bisa mengakhiri pertarungan mereka berdua itu di tengah-tengah badai api yang mengamuk itu.
Sebuah keraguan dari gerakan pemimpin itu terlihat tak stabil di pergelangan tangan kirinya yang bebas itu.
Sora melangkah maju dan melancarkan serangan baliknya dengan kilatan pedangnya yang telah diselimuti oleh api melakukan serangan balik yang menghantam pemimpin itu tepat di sampingnya dan menjatuhkannya ke belakang.
Pemimpin itu tersandung yang sudah terhempas badannya di atas tanah mulai menggeram dan memuntahkan banyak darah dari mulutnya.
"Dasar bocah kecil—" ia mulai mengumpat tetapi Sora tidak memberinya waktu untuk menyelesaikan perkataannya dengan menebaskan pedangnya ke area runenya yang masih aktif itu untuk mengehntikan aliran runenya itu.
Pemimpin tentara bayaran itu meraung sekali lagi akan kesakitan tebasan Sora lakukan dan ia mencoba untuk mengaktifkan rune di kakinya sekali lagi.
Dengan kecepatan gerakannya berlipat ganda dalam setiap langkahnya, hembusan angin yang semakin menjadi-jadi bahkan lebih dari badai, dan setiap serangannya tak terlihat oleh mata.
Tetapi Sora berdiri teguh di tengah-tengahnya ketika pemimpin itu mengitarinya dan menyerangnya dengan menggunakan anginnya itu.
Sora tidak mengejar pemimpin tentara bayaran itu yang sudah bangkit dan justru Sora menunggu waktu yang tepat untuk menyerangnya itu walau ia mendapatkan luka sayatan di sebagian wajah dan tangannya itu.
Hingga pada saat Sora berhasil menebak arah serangan pemimpin itu dan menangkap tebasan pedangnya itu di tengah ayunan yang menggunakan tangan kosongnya itu.
Sora menahannya dengan kedua tangan dan kini mereka berdua terkunci yang saling menatap satu sama lainnya lagi dan dalam napasnya, Sora melepaskan serangan ketika mengunci kedua tangannya itu dengan membenturkan kepalanya dengan sekeras mungkin ke kepalanya dan ketika pemimpin itu tersentak.
Sora melancarkan pukulan ganas yang membara langsung ke pelindung dada pemimpin itu. Baju zirah pemimpin tentara bayaran itu hancur seperti kaca dan rune di seluruh tubuhnya itu meredup hingga menghilang efeknya di sekitar area badannya.
Kekuatannya membuat pemimpin itu terlempar ke belakang dan mendarat dengan hempasan yang hebat dan berguling sebelum ia menatap langit malam dengan cahaya api yang membakar di sekitarnya.
Pemimpin tentara bayaran itu batuk dengan darah yang keluar dari mulutnya, terengah-engah akan serangan yang diterimanya, dan darah menetes dari mulutnya serta lukanya yang diterimanya itu.
"Kau... kau bisa saja membunuhku... saat ini." Katanya dengan mencoba mengatur napasnya yang sudah tak bisa dikendalikannya lagi.
Sora tidak menjawab pernyataannya itu dan pemimpin itu melanjutkan perkataannya.
“Aku menyerah, tolong, ampuni nyawaku ini dan kasihanilah aku.” Gerutu sang komandan yang mengangkat tangannya dengan susah payah itu.
Hingga di satu momen itu terhenti begitu saja ketika sebuah bayangan bergerak dari atas atap rumah penghuni penduduk desa dengan langkah-langkahnya yang nyaris tak terdengar.
Napas yang terukur dan mata yang melihat segalanya. Lyra melangkah keluar dari kegelapan, sepatunya nyaris tidak terdengar saat ia melangkah di atas tanah dan mendekati kedua pria itu dengan perlahan-lahan.
Pemimpin itu melihat Lyra datang dan mengira akan menyelamatkan nyawanya itu, mulai tertawa terbahak-bahak dengan darah yang menyembur dari mulutnya itu.
“Hah... Kau lihat? Kau mungkin bisa mengalahkanku, bocah. Tapi dia? Tidak ada yang bisa menang melawannya.”
Pemimpin itu tertawa dengan santainya yang masih terbaring di atas tanah itu melihat ke Lyra, bersiap untuk menyombongkan dirinya.
Namun, Lyra bergerak di luar kendali seperti yang diucapkan pemimpinnya itu dengan tangannya yang bersarung tangan memukul bagian belakang leher pemimpinnya itu hingga membuat matanya berputar dan jatuh tak sadarkan diri itu.
Sikap Sora bangkit secara naluriah dan bilah pedangnya setengah terangkat dengan api merah putihnya itu kembali menyala di telapak tangannya.
Namun, Lyra dengan cepat mengangkat kedua tangannya yang menandakan sebuah isyarat menyerah di hadapan Sora itu yang ekspresinya tenang dan berkata kepada Sora yang nadanya lebih dingin dari malam.
"Dia tidak sadarkan diri. Tidak lebih dari itu."
Sora yang mendengar hal itu berhenti seketika dan menurunkan kesiagaannya itu untuk mengamatinya.
Runenya masih aktif, tapi masih stabil dan terkontrol.
"Aku tidak ikut campur untuk melindunginya dan aku mengawasimu sepanjang pertarungan melawannya sedari tadi hingga saat ini. Aku ingin melihat apakah kau akan melakukan hal yang sama dengan apa yang dilakukannya ini, tapi kau tidak melakukannya." Lanjutnya dengan melangkah melewati pemimpin tentara bayaran itu yang sedang pingsan.
Rune di sekitar badan Sora mulai meredup dengan perlahan hingga ia menurunkan pedangnya itu yang mengarah ke Lyra.
Cahaya api runenya itu memudar dari bilah pedangnya yang diselimuti tadi dan napasnya diatur dengan perlahan serta lebih terkendali sekarang.
"Kau telah membuatku terpukau akan tindakanmu di hari ini dan lebih dari yang kukira." Kata Lyra dengan senyum tipisnya tersungging di sudut bibirnya.
Setelah itu, Lyra berbalik untuk berjalan kembali menuju cakrawala yang gelap. "Langkahmu selanjutnya... adalah Jargmund, kerajaan yang diperintah oleh seorang tiran dengan darah di singgasananya dan memasang rantai di leher rakyatnya sendiri. Aku ingin bertemu lagi denganmu di sana sebagai orang yang membebaskan belenggu itu dari tiran yang sudah memimpin lebih dari puluhan tahun lamanya." Katanya dari balik bahunya yang Lyra berhenti tepat di tepi bayang-bayang dan siluetnya terbingkai dalam cahaya bulan.
“Jika kita bertemu lagi Jargmund, kau akan menemui dan mencari diriku ini di dalamnya setelah kau melihat kondisi kerajaannya hingga rakyatnya itu dan mungkin, hanya dua orang yang menanggung rasa sakit dalam diamnya ketika melihat hal seperti itu tergambar dalam benaknya.” Tambah Lyra yang kemudian lebih lembut nadanya, seolah-olah dia bahkan tidak berbicara kepada Sora lalu, dia menghilang dari pandnagan Sora itu.
Angin berbisik di tempat Sora berdiri saat ini, tetapi perkataan Lyra tidak meninggalkan jejak dalam benaknya itu. Sora terdiam sesaat dengan pedangnya itu disarungkan kembali ke sarung pedangnya dan udara malam di sekitarnya itu berhembus dengan lembut di sekelilingnya beserta kobaran api yang mneyelimuti di sekitar areanya.
Kaelith mendekat dari bayang-bayang gang desa dengan matanya dipenuhi dengan pertanyaan.
Sedangkan, Vael dan Arelan berdiri di tempat mereka berdua yang sudah menghabisi seluruh pengawal elit itu di pinggiran desa dengan senjata mereka yang masih terhunus dan bersimpah darahnya.
Namien bersandar santai pada sisa-sisa pagar yang hancur sebagiannya dengan lengannya dijadikan bantalan kepalanya dan matanya menatap langit malam yang berbintang itu.
Hanya satu pertanyaan yang terngiang di benak Sora: ‘Bagaimana dia tahu tentangku bahkan hanya melihat dari pertarunganku saja?’
dan mungkin yang lebih penting pertanyaannya yang terbesit di benak Sora adalah, ‘Sejak kapan dia mengawasiku selama ini?’
Hembusan angin telah reda, tetapi badai di dalam tubuh Sora masih belum usai akan pertanyaannya yang masih terngiang di benaknya hingga saat ini.
Ia berdiri tak bergerak di samping pemimpin tentara bayaran yang tak sadarkan diri itu dengan menatap ruang kosong tempat Lyra menghilang.
Pedangnya masih terasa hangat karena pertarungan sebelumnya yang sudah disarungkannya itu. Pikirannya tidak tertuju pada pertarungan melainkan pikirannya mengejar pertanyaan-pertanyaan yang menolak untuk dirinya diam dan Lyra memberitahu tujuan selanjutnya itu.
‘Siapa sebetulnya dia itu? Bagaimana dia tahu tentangku? Kapan dia mengetahuinya? Dan mengapa rasanya dia telah mengawasi lebih lama dari yang kuketahui?’
Alisnya berkerut dan bibirnya terlihat terkatup rapat. Api di balik matanya bukanlah amarah, tetapi kali ini kebingungan dan sebuah perhatian aneh yang tidak dapat Sora sebutkan itu.
Langkah kaki dari belakangnya terdengar menggema dan Kaelith mendekati Sora itu yang melewati abu berserakan dan tanah yang berlumuran darah.
Kaelith berhenti di sampingnya dengan suaranya rendah tetapi jelas. "Kau baru saja mengalahkan pemimpin yang arogan itu, tapi kau tampak seperti seseorang yang kalah dalam duelnya itu. Apa yang terjadi di wajahmu yang tebal itu?" tanya Kaelith dengan menatap Sora yang masih terdiam dengan ekspresi wajahnya yang kebingungan itu.
Sora yang mendengar perkataan Kaelith itu dan melirik ke arahnya dengan terkejut akan kehadirannya yang dirinya tidak merasakannya.
Kaelith hendak ingin tertawa ketika melihat ekspresinya yang terkejut itu. “Kau selalu seperti itu, memberikan semua yang kau miliki dan kemudian berdiri di sana seolah-olah bebanmu itu masih ada di pundakmu.” Tambah Kaelith yang suaranya kali ini lebih lembut.
Sora tidak menjawabi pernyataannya itu, tapi cara matanya mencari kegelapan sudah cukup memberitahunya. Kaelith mengikuti tatapannya dan sekilas melirik ruang kosong tempat Lyra menghilang dari pandangan Sora tadi.
Lalu Kaelith menghembuskan napasnya dengan perlahan dan melipat tangannya. “Jadi, hal ini berkaitan dengan wanita berkerudung itu lagi?”
Sora yang mendengar hal itu, langsung menatap Kaelith dengan terkejut lagi. Kaelith mengangkat alisnya yang melihat Sora terkejut dua kali itu.
“Kau benar-benar berpikir aku tidak akan memperhatikan caramu menegang saat dia menghampirimu tadi?” Kaelith menambahkannya dengan menggoda Sora tetapi terlihat ekspresinya sedikit cemburu terhadapnya.
Sebelum Sora bisa bereaksi untuk menanggapi perkataan Kaelith itu, suara langkah kaki bergema lagi yang tak jauh di sekitar mereka berdua.
Vael dan Arelan yang berlumuran darah itu melihat dari sisi lain alun-alun yang memerhatikan Sora dan Kaelith sedang berbicara itu. Bibir Vael melengkung membentuk senyum kecil saat melihat dua orang itu.
Arelan yang memerhatikan wajah Vael itu membuatnya heran dan berkata kepada Vael ketika mengalihkan pandangannya ke dua orang itu,
"Mereka sangat dekat sekali. Vael, apakah kau akan mengira mereka adalah rekan perang atau semacamnya itu?"
Vael tertawa kecil ketika mendengarnya dari Arelan. Tiba-tiba, suara Namien memecah suasana seperti anak panah yang dibungkus dengan sutra.
"Rekan perang yang bertarung dengan pedang dan hati lebih tepatnya, menari di antara api dan bayangan yang berada di bawah pemandangan seni yang diterangi bulan. Ah, bahasa cinta dalam pertumpahan darah."
Namien berjalan santai melewati kedua ksatria Borreal itu di tengah-tengahnya dengan lengan terlipat di belakang kepalanya dan seringai yang penuh arti di wajahnya.
Vael tertawa terbahak-bahak dan sedangkan Arelan hanya bisa menatap Namien dengan tatapan tidak terkesan ketika mendnegar perkataannya yang dapat memecahkan batu sekalipun walau Arelan mengetahui maksudnya itu.
Kelompok itu sekarang sudah berkumpul sepenuhnya dan mereka melihat pemimpin yang arogan itu masih tak sadarkan diri dan masih tergeletak di tanah seperti baju besi yang telah dibuang.
Kaelith menendang pelan ke pemimpin itu dengan sepatunya. "Jadi... apa sekarang? Ikat dia dan biarkan dia membusuk di desa ini?"
Sora tidak menjawab pernyataan Kaelith tapi ia mengerutkan kening sambil berpikir dari apa yang dikatakan Kaelith itu, lalu perlahan menggelengkan kepalanya.
Saat itulah Vael melangkah maju dengan wajahnya yang datar dan menunjukkan keadilan yang berbeda.
Tanpa sepatah kata pun, Vael mengangkat pemimpin tentara bayaran yang lemas itu di atas bahunya dan membawanya ke tengah alun-alun desa dan menjatuhkannya dengan bunyi yang cukup keras menghantam tanah di bawahnya.
Kemudian Vael menatap ke rumah-rumah di dekatnya dan berteriak dengan suaranya yang lantang dan bergema di setiap desanya itu.
"Hei, kalian yang masih selamat. Dialah penyebab penderitaanmu dan membuat kalian menjadi ketakutan kalian selama ini hingga membuat kalian bisu."
Pintu berderit terbuka ketika penduduk desa mendnegar hal tersebut dari Vael dan keluar dengan hati-hati hingga gemetar.
Lelaki tua, ibu-ibu, anak-anak, dan para petani yang terluka semuanya memasang ekspresi tenang dari orang-orang yang selamat tetapi tidak pernah hidup tenang dalam tempat tinggalnya sendiri.
Vael mengangkat tangan dan menunjuk ke arah pemimpin tentara bayaran itu: "Dia milik kalian sekarang dan kalian yang berhak memutuskan hidup atau kematiannya."
Vael melangkah mundur dengan perlahan, penduduk desa mulai mengelilingi pemimpin tentara bayaran yang jatuh tak sadarkan diri itu.
Beberapa penduduk desa menatapnya dengan sinis dan yang lainnya mengambil sebongkah batu seukuran tangan mereka.
Keputusan apa pun itu, sekarang ada di tangan mereka yang tersiksa olehnya selama ini.
Mereka berlima itu melihat dengan suasana di sekitarnya itu berubah menjadi serius dan mencekam yang pada akhirnya Namien memecah keheningan mereka.
"Jadi, sekarang ke mana kita akan pergi, Si Pendiam?" tanya Namien dengan memiringkan kepalanya ke arah Sora.
Sora yang menoleh ke arah selatan itu seperti yang Lyra katakan sebelumnya. Sora mengangkat tangannya dan menunjuk dengan tegas ke arah selatan itu.
Namien yang mengikuti arah jari Sora hanya bisa terdiam sesaat kemudian memahami arah tersebut dengan berkata. "Selatan, ya... kerajaan Jargmund, kalau begitu tujuan selanjutnya."
Wajah Kaelith tiba-tiba menegang ketika mendengar nama kerajaan itu.
Vael yang menyarungkan pedangnya. "Tidak pernah menyangka kita akan menginjakkan kaki di sana."
Arelan menyesuaikan pegangan kapaknya dan diletakkan di belakang punggungnya itu. "Tiran tidak pernah jatuh dengan mudah, tapi kita pernah jatuh lebih parah daripada kejatuhan seorang penguasa yang lengser."
Sora hanya menatap ke depan yang mengarah ke selatan itu dan dalam pikirannya itu masih mengulang-mengulang perkataan Lyra yang menuju jalan yang tidak mungkin diubah olehnya.
Menuju tiran di kerajaannya yang serakah dan menuju kerajaan yang tak kenal akan tempat takdirnya telah menanti.
Dan di belakang mereka, angin membawa pergi bisikan terakhir dari pasukan tentara bayaran yang gugur dan napas pertama dari apa yang terjadi selanjutnya.
Other Stories
Hold Me Closer
Karena tekanan menikah, Sapna menerima lamaran Fatih demi menepati sumpahnya. Namun pernik ...
Bumi
Seni mencintai terkadang memang menyenangkan, tetapi tak selamanya berada dalam titik mani ...
Bekasi Dulu, Bali Nanti
Tersesat dari Bali ke Bekasi, seorang chef-vlogger berdarah campuran mengubah aturan no-ca ...
Melepasmu Dalam Senja
Cinta penuh makna, tak hanya bahagia tapi juga luka dan pengorbanan. Pada hari pernikahan ...
Perpustakaan Berdarah
Sita terbayang ketika Papa marah padanya karena memutuskan masuk Fakultas Desain Komunikas ...
Weird Husband
Kanaya bersinar di ballroom Grand Hyatt Jakarta, mengenakan gaun emerald dan kalung berlia ...