Bab Dua Puluh Tujuh: Yang Disisakan
Keheningan di dalam penjara tidak pernah menenangkan seperti di luarnya, di dalamnya itu seperti keheningan akan jeritan yang terlupakan oleh darah yang telah mengering karena penyiksaan, dan keputusasaan yang meresap ke dalam bebatuan dan tulang-tulang yang telah lama mengering.
Di suatu tempat di antara dinding tembok penjara yang lembap dan cahaya obor yang menyala dengan berkedip-kedip.
Gema lagu Silas yang menghantui seperti asap melalui koridor yang melantunkan sebuah lagu kematian, lambat dan suram yang beratnya seperti rantai di pergelangan tangan mereka berempat.
Kaelith duduk di samping Vael yang diam itu tengah bersandar pada dinding yang dingin itu. Arelan bersandar di dinding seberangnya yang sedari tadi tidak berkata apa pun kecuali kesunyiannya sendiri.
Namien duduk dengan lututnya ditekuk hingga ke dadanya dengan bibirnya mengerucut karena frustrasi akan pikirannya sudah menghitung bagaimana penyebab kesengsaraan ini dapat diputarbalikkan menjadi sebuah peluang.
Suara Silas makin bergema lembut seperti dia menyanyikan sebuah lagu atau membuat puisi dalam ucapannya. “Ketika bintang-bintang lupa bersinar, dan burung gagak lupa menangis... dinding akan mulai berdarah, dan langit akan runtuh ke bawah...”
Kemudian, suara sepatu bot datang dari arah koridor mendekat ke arah sel dengan langkahnya yang berat dan suara langkah kaki para penjaga yang berbaris ke arah mereka.
Tiga penjaga muncul, diikuti oleh seorang penjaga keempat yang mengenakan baju besi yang lebih gelap dengan ekspresi kejam di balik topeng setengahnya adalah kepala sipir.
Saat mereka berhenti di depan sel, suasana penjara tampak berubah dari menakutkan menjadi sesuatu yang lebih buruk.
"Berdiri, kalian berempat! Waktunya interogasi!" kepala sipir membentak kepada mereka yang tertunduk lesu itu.
Namun, Vael segera bangkit mengatakan kepada kepala sipir itu dengan menantang. "Kalian harus menyeretku terlebih dahulu untuk membuatku berdiri."
"Dengan senang hati." Kata kepala sipir itu sambil menyeringai dan menyuruh dua penjaga yang mengawalnya itu masuk dan menangkap mereka berempat dan membanting tubuh mereka dengan keras ke lantai untuk mengikatnya.
Arelan yang dibuat berdiri secara paksa oleh para penjaganya dengan tangannya yang terikat di belakangnya itu tidak berkata sepatah kata pun tetapi emosinya terlihat jelas ketika ia mengatupkan rahangnya seperti sedang menelan emosinya dengan mentah-mentah.
Kaelith mencoba menarik diri saat mereka meraihnya tetapi ketika cengkeraman para penjaga mengenai Kaelith itu seperti tercengkam oleh besi dengan memutar lengannya ke belakang punggungnya dan Kaelith mulai menjerit kesakitan hingga suaranya bergema di sekitar area penjara hingga membangunkan tahanan lainnya seperti guntur.
Namien tidak melawan para penjaga itu melainkan ia hanya berdiri dengan suaranya dingin dan datar berkata kepada para penjaganya itu. “Cobalah untuk tidak memukul sisi kiri wajahku. Masih terasa sakit akhir-akhir ini.”
Tidak ada yang tertawa ketika candaan sarkastiknya itu dilontarkan kepada para penjaga itu melainkan para penjaga itu dengan kasar merobohkan Namien yang tidak melawan itu.
“Susah sekali berbicara dengan bahasa manusia yang sama dan hanya mengenal kekerasan sebagai bahasanya.” Ujar Namien yang wajahnya dengan dipaksa tunduk hingga menempel ke lantainya itu dengan tangan penjaga itu yang kasar juga hingga kedua tangannya terikat di belakang punggungnya.
Mereka diseret menyusuri koridor penjara, yang di mana Silas melihat mereka melewati selnya itu dengan terus bernyanyi dan jari-jarinya mencengkeram erat jeruji selnya yang berkarat itu.
Namien menoleh ke arah belakang sekali dan tatapan mereka bertemu yang Silas berkedip perlahan, seolah membuat janji diam-diam dengan Namien itu.
Mereka dibawa ke suatu ruangan di dalam penjara itu yang lebih dalam dari blok sel mana pun menuju ke dalam ruangan yang begitu lebar dan diterangi oleh obor yang dipenuhi dengan peralatan penyikasaan yang sudah berkarat, rantai-rantai yang menyisakan tulang tangan seorang manusia saja, dan kait yang menggantung di atasnya dengan sisa-sisa bercak darah di ujungnya.
Sebuah meja bernoda merah tua berada di tengahnya. Kepala sipir berdiri menunggu hingga mereka berempat dibariskan sejajar dan lengannya disilangkan di belakang punggungnya.
“Baiklah, para pahlawan dari Elarion, hantu dari Borreal, dan seorang wanita yang bernilai puluhan ribu koin emas untuk kepalanya.” Katanya dengan berjalan ke depan mereka yang perlahan-lahan hingga berhenti di tempat Kaelith
Tatapan matanya beralih ke Kaelith yang sudah muak dengannya itu dengan melotot dan berkata kepada kepala sipir itu. “Sentuh aku dan aku akan menggigit lidahmu hingga kau tak bisa berbicara atau berteriak lagi.”
Sipir penjara itu hanya tersenyum ketika mendengar hal itu dari Kaelith dan menanggapinya dengan seringai liciknya. “Mari kita mulai, oke?”
Kepala sipir itu memberi isyarat kepada para penjaga dan penyiksaan mereka berempat dimulai dengan tinjuan dari kepala sipir yang menghantam perut Kaelith terlebih dahulu hingga membuat Kaelith memuntahkan isi dari dalam perutnya beserta cairannya itu.
Sepatu botnya yang mengenai wajah Namien begitu keras hingga membuat pipinya memar dengan sobekan di pelipisnya akibat bergesekan dengan besinya itu.
Dan senjata tumpul yang dipukulkan ke area badan Vael dan Arelan yang menahan rasa sakitnya itu dipukuli bertubi-tubi dari beberapa penjaga yang ada.
Vael menahan semua serangannya itu hingga salah satu pukulan mengenai pelipisnya hingga robek dan darah mengalir begitu saja sebelum dirinya dipukuli terus-menerus hingga para penjaganya sendiri menyerah akan kelelahan yang memukul Vael sedari tadi yang tak mengeluarkan suara sedikit pun dan begitu juga dengan Arelan menerima setiap pukulan-pukulan itu dalam keheningannya yang tenang untuk menahan semua rasa sakitnya dan mencoba bertahan lebih lama lagi.
Sama seperti Vael walaupun Arelan sudah tak kuat melihat Kaelith yang tertunduk di sebelahnya itu dengan terus-terusan memuntahkan cairan dari mulutnya yang kepala sipir itu meninju bagian perutnya dan menampar pipi Kaelith dengan keras hingga wajahnya memerah membengkak itu.
Namien hanya bisa tertawa dengan bibirnya yang sudah berdarah akibat tendangan sepatu bot besi para penjaga dan pukulan tangan kosong para penjaganya itu berkata dengan sinis sambil meludahkan air liur yang sudah bercampur dengan darahnya ke arah penjaganya itu.
“Kalian menyebutnya ini sebagai interogasi? Aku pernah mengalami hal yang lebih parah dibandingkan ini.”
Ketika Kaelith sudah tertunduk lesu dan kesadarannya hampir hilang itu namun masih bisa memberikan perlawanannya dengan meludahi wajah kepala sipir itu setelah kepala sipir itu mengangkat kepala Kaelith dengan menarik rambutnya ke atas itu yang memperlihatkan wajah Kaelith membengkak akibat tamparan dan air liurnya sudah menetes di bagian sisi bibirnya itu akibat pukulan langsung ke perutnya.
Melihat Kaelith meludahi wajahnya, kepala sipir penjara itu hanya tertawa dan melepaskan Kaelith dengan membiarkan dirinya tergeletak di atas tanah itu dengan keras bunyi jatuhnya.
“Kurasa, bagianmu sudah selesai, raja baru saja memberitahu sebelumnya jika dirimu ini mempunyai instruksi khusus namun aku sudah tak kuat ketika melihat dirimu begitu angkuh dan keras kepala untuk disiksa juga. Maka dari itu, besok kau akan pergi ke istana dengan bertemu raja dan juga menikmati suasana malam di kamar sang raja tentunya.”
Vael, Arelan, dan Namien seketika membeku ketika mendnegar hal itu dari ucapan kepala sipir dan mereka bertiga mulai mengamuk yang marah mereka sudah tak terbendung lagi.
Vael bangkit dalam keadaan terikat dan mulai menyerang kepala sipir itu sebisanya namun kepala sipir itu menduga hal tersebut hingga tendangan dari sepatu kepala sipir itu melayang ke arahnya dan membuat Vael tergeletak di lantai dengan kepalanya terbentur keras.
Arelan menyusul dengan teriakannya itu mulai memberontak dengan para penjaga yang menahannnya itu yang memukulinya hingga salah satu benda tumpul mengenai belakang kepalanya yang membuat pandangannya berputar di sekelilingnya itu yang membuatnya tak bisa bangkit kembali.
Dan Namien, langsung menghujat dan menyumpahi kepala sipir itu dengan emosinya yang meledak luar biasa, "KAU... KAU BAJINGAN MANIAK YANG SADIS! INGATLAH INI, AKU AKAN MEMBAKAR DIRIMU BESERTA RAJAMU ITU YANG SEPERTI BABI HUTAN!"
Mendengar hal tersebut keluar dari perkataan Namien, membuat kepala sipir itu menoleh ke arahnya dan tertawa pada perkataannya itu sementara Namien terus menghujatnya yang mempermainkan Kaelith dengan kata-kata seperti itu.
Kepala sipir penjara itu melangkah mendekat ke arah Namien sambil tertawa dan berbalik ke arah para penjaganya itu untuk menertawai perkataan Namien itu hingga seluruh isi ruangan itu dipenuhi tawa sinis ke arah Namien.
Di tengah tawa mereka itu, kepala sipir itu langsung melayangkan tinjunya begitu keras ke arah perut Namien yang membuatnya memuntahkan isi perutnya yang sama seperti Kaelith namun Namien mengeluarkan lebih banyak darah daripada cairannya itu dan membuat perkataannya untuk menghujat kepala sipir itu terhenti seketika. Lalu, kepala sipir itu mencodongkan telinganya ke arah Namien seperti ingin mendengarkan sesuatu dari Namien namun hanya suara muntahan Namien saja yang terdengar saat itu, hingga kepala sipir itu berkata dengan pelan dan sinis ke Namien.
“Coba saja, penyihir. Namun, apakah kau tahu kalau penjara ini sudah dilapisi batu anti sihir yang dirimu itu tak bisa mengeluarkan satu sihir pun di dalamnya, paham?”
Namien mendengar perkataannya itu menanggapinya dengan lirih dalam keadaan kesakitan, “Bajingan!”
Kepala sipir itu hanya tertawa pusa ketika melihat Namien hanya bisa putus asa dan menghujatnya dalam penderitaannya saat ini.
“Nikmatilah waktu-waktumu ini berada di dalam penjara Jargmund dan selamat datang di penderitaan dan penyiksaan ini.” Ujar kepala sipir itu sambil tertawa sinis dan menyambut mereka berempat di ruang integrosi penjaranya.
Setelah selesai berbicara kepada Namien, kepala sipir itu mendekat ke arah Kaelith yang masih menundukkan kepalanya ketika mendnegar hal itu, tak disengaja air mata emosinya sudah mengalir ke pipinya yang sudah bengkak dan memerah itu.
Kepala sipir itu mengangkat kepala Kaelith dengan menarik rambutnya ke atas sekali lagi dan berkata kepadanya dengan pelan dan berbisik itu, “Kau akan dikirim ke kamar-kamar kerajaan dan kau seharusnya merasa terhormat akan hal itu. Tidak banyak penjahat yang dipilih untuk mendapatkan perhatian lebih dari seorang raja yang dermawan dan rendah hati seperti itu.”
Kaelith tidak menjawab pernyataannya namun wajahnya itu berusaha untuk memalingkan dari tatapan kepala sipir itu namun tak bisa setelah dirinya masih terikat itu dan tak berdaya akan ucapannya yang membuat air matanya menetes itu.
Jika dia bisa menggerakkan jari-jarinya, dia akan mencungkil matanya dan jika dia bisa berbicara dengan bebas, dia akan mengutuk seluruh garis keturunannya.
Sipir penjara mencondongkan tubuhnya ke arahnya lagi lebih dekat dan menyeringai. “Kau cukup berharga dan kau tahu itu selama wajahmu itu tetap utuh dan maafkan aku, sebagai permintaan maafku akan kuobati dengan salep yang kupunya serta sihir penyembuh untuk mengembalikan wajahmu seperti semula.”
Kaelith yang mendengr perkataannya itu tak bisa menahan emosinya yang menjadikan air matanya menetes terus menerus dan ia hanya bisa menggumamkan suaranya dengan kata-kata yang keluar begitu tak jelas akibat pipinya membengkak dan tangisan seorang wanita untuk dihidangkan kepada raja yang hasratnya seperti binatang buas itu.
Sisa dari malam itu telah berlalu dalam jeritan, memar, darah dan pahitnya fakta yang akan datang.
Ketika mereka berempat sudah mencapai ambang batasnya, mereka dikembalikan ke sel mereka dengan dilempar seperti boneka ke lantai yang lantainya itu terbuat dari batu dan mereka tergelatak tak berdaya dalam keheningan yang mengerikan setelah penjaga mengunci sel mereka dan membiarkan mereka berempat tergeletak di atas lantainya itu.
Kaelith yang pipinya sudah disembuhkan itu oleh sihir penyembuh saat dirinya sudah tak sadarkan diri tadi, duduk dengan lutut ditarik ke dadanya dengan tangannya gemetar akan mengingat ucapan kepala sipir itu menghantui benaknya.
Namien menyeka darah dari bibirnya dengan lengan bajunya dan berbisik pelan, "Ini bukanlah akhir. Setidaknya ada sesuatu yang bisa kita lakukan sebelum hal itu terjadi kepada Kaelith."
Vael yang masih batuk mengeluarkan darahnya itu berkata dengan suaranya yang sudah habis. "Tidak ada Namien, selama kita masih berada di sini tanpa memegang senjata kita sendiri, kita tak bisa melindungi diri kita sendiri bahkan Kaelith juga tapi, setidaknya kita membuat mereka kewalahan dan mengulur waktu dengan sisa kekuatan kita yang ada ketika waktunya tiba."
Dari seberang sel mereka, Silas berbicara dengan tenang kepada mereka berempat seperti badai yang masih mengumpulkan kekuatannya.
"Sebentar lagi, tempat ini akan terbakar dan sang tiran akan menemui ajalnya." Katanya dengan pelan seperti berbisik yang membuat Namien menatapnya dan menanggapinya.
"Kau terus mengatakan hal itu. Kapan sinyalnya akan tiba yang katamu itu?"
Mata Silas berbinar dalam kegelapan dan menghiraukan perkataan Namien dan melanjutkan perkataannya. "Api akan datang dari kesunyian."
Dan dengan janji samar itu, kesunyian kembali lagi ke penjara Jargmund yang hanya rasa sakita mereka yang tersisa untuk berbicara untuk mereka saat ini sekarang. Namun, tak seorang pun dari mereka tahu percikan apinya telah dinyalakan.
Angin pagi bertiup kencang, menyelinap melalui celah-celah tempat persembunyian bawah tanah seperti pisau tak terlihat.
Sora mengerjapkan mata pada sinar cahaya lemah yang menyaring melalui kisi-kisi terowongan di atas.
Napasnya datang dalam bentuk awan kecil, dan kehangatan api unggun yang hampir padam nyaris menahan dingin dari badannya yang tidur di luar tenda itu dengan terus merenung apa yang terjadi kepada mereka berempat saat ini.
Terutama Kaelith yang dipikirkannya itu yang firasatnya berkata, bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi cepat atau lambat itu.
Sora terbangun dari tidurnya yang nyenyak, membersihkan dedaunan kering yang menyelimuti badannya dan kotoran dari pakaiannya ketika ia melihat sesuatu yang tidak biasa menutupi badannya, sebuah selimut dengan kain kasar tetapi begitu hangat. Matanya mengikuti kain itu sampai ke asalnya.
Tak lama dari itu, Lyra keluar dari dalam tendanya dengan posturnya sedikit membungkuk karena dinginnya pagi, lengannya melingkari dirinya dengan erat.
Rambutnya yang pendek, biasanya dengan tertata rapi, sekarang jatuh bebas hingga berantakan di sebagian lehernya yang rambutnya berwarna cokelat lembut dan berantakan hingga membuat rambutnya berdiri.
Ia menguap dengan ekspresi datar seperti biasanya dan bergumam, "Dingin...," dengan suara pelan.
Sora memperhatikannya saat ia berjalan ke arahnya dan berkata kepada Sora yang sudah bangun dari tidurnya.
"Sekarang, bisakah kau kembalikan selimut itu setelah kau sadar bahwa aku kedinginan seperti ini? Terima kasih atas pengertiannya." Katanya dengan nada sarkastis dan nada malasnya yang duduk di sampingnya di dekat api unggun, menggosok-gosokkan kedua tangannya untuk menghangatkannya.
Mereka tidak berbicara sejenak hingga keheningan di antara mereka tidak canggung atau tegang, hanya dua orang yang bertahan dari dinginnya pagi dengan saling menghangatkan diri di dekat api unggun itu.
"Kopi?" Lyra memecah keheningan dengan menawarkan dengan suaranya yang pelan namun jelas dalam keheningan.
Sora berkedip dan memiringkan kepalanya sedikit yang menandakan kebingungan dengan apa yang ditawarkan Lyra itu.
Sora meraih pena dan kertasnya yang selalu ia simpan, menuliskan sesuatu, dan menyerahkannya padanya. ‘Apa itu kopi?’
Lyra membaca catatan itu dengan tertawa kecil. "Kau benar-benar tidak pernah minum kopi sebelumnya?"
Sora menggelengkan kepalanya pelan. "Baiklah, mari kita lihat apakah kau suka kopi atau tidak untuk memastikannya." Ujarnya sambil menyeringai dangkit dari tempat duduknya.
Lyra menghilang ke dalam tendanya dan muncul beberapa saat kemudian dengan membawa dua cangkir timah yang tidak serasi, sekantong kecil bubuk kopi hitam, dan sebuah sendok.
Dengan kakinya itu, dia menyingkirkan abu yang berserakan di sekitar api unggun dan mengambil ketel penyok dengan cemberut yang sudah dikenalnya.
"Rose," gumamnya sambil memeriksa sisa-sisa di dalam ketel. "Dia tidak pernah mencuci benda ini setelah memakainya."
Sora memiringkan kepalanya, memperhatikan Lyra itu dengan rasa ingin tahu saat dia dengan hati-hati menggosoknya dengan air dan kain untuk membersihkannya.
Itu adalah salah satu dari beberapa kali dia melihat Lyra melakukan sesuatu yang biasa tetapi sangat berbeda dengan gerakannya yang tajam dan penuh perhitungan saat mengamati atau berbicara di tenda sebelumnya dan di desa itu.
Ada sesuatu yang lebih manusiawi di sini yang tampak dari Lyra dan sesuatu hal yang begitu sederhana.
Lyra kembali ke api unggun yang telah mengisi ketelnya dengan air dan meletakkannya di atas api unggun. Smabil menunggu air di dalam ketel itu mendidih, Lyra duduk kembali di samping Sora dan untuk pertama kalinya, menjadi orang yang mengajukan pertanyaan kepadanya.
"Jadi... siapa kamu sebenarnya?"
Sora menatapnya sejenak, lalu mengambil kertasnya lagi dan menuliskan sesuatu dengan perlahan: ‘Aku Sora. Hanya orang biasa yang melakukan perjalanannya dengan terlahir bisu hingga saat ini yang kamu ketahui ketika diriku hanya bisa berkomunikasi dengan tindakan, gerakan badanku sebagai isyarat, dan tulisan ini sebagai suaraku yang telah lama hilang.’
Lyra membaca kata-kata itu dengan saksama dan ekspresinya, yang biasanya bimbang antara bosan dan skeptis kini melembut.
Dia menatap kertas itu sejenak lebih lama sebelum melipatnya dengan lembut dan meletakkannya di sampingnya.
Pertanyaan berikutnya datang dengan sedikit lebih berbobot. "Dan mengapa kau melakukan perjalanan?"
Tangan Sora bergerak lebih lambat kali ini untuk menuliskan sesuatu hingga menyerahkan kertas itu lagi kepada Lyra ketika sudah selesai.
Lyra menagmbil dan membaca tulisannya itu di dalam hatinya. ‘Karena jika aku berhenti berjalan, dunia yang kuingat akan mati. Karena orang-orang yang berjalan bersamaku juga percaya pada jalan itu meskipun mereka tidak pernah memintaku untuk menjelaskannya atau mengikutiku dalam perjalanan yang tak pernah kuminta kepada mereka itu.’
Lyra tidak berkata apa pun setelah membaca isi kertas itu yang telah dituliskan Sora yang untuk beberapa saat, Lyra hanya menatap tulisannya itu dan bibirnya hampir tidak terbuka untuk berkata-kata. Napasnya tertahan sejenak, lalu dia melipat kertas itu tanpa sepatah kata pun.
Sora menyadari sedikit sesak di rahangnya yang mungkin sekilas ingatan darinya tentang sesuatu yang belum dia bagikan kepada Lyra. Tepat pada saat itu, ketel mulai bersiul dengan nada tinggi dan melengking yang memecah keheningan mereka berdua seperti sebuah sinyal.
Lyra dengan segera mengambil kain dan mengangkat ketel dari api unggun. Uap mendesis dari ketel saat dia menuangkan air panas ke dalam cangkir mereka dan menambahkan sesendok penuh bubuk kopi ke masing-masing cangkir.
Dia mengaduk cangkirnya dengan lembut, nadanya kembali ke gayanya yang biasa.
"Cobalah untuk tidak seperti Rose saat meminumnya. Minumlah dengan perlahan karena minuman ini masih panas." Katanya sambil menyeringai kecil dengan menyerahkan cangkir kopi itu kepada Sora.
Sora menerimanya dan mengambil cangkir timah yang berisikan kopi itu dengan memperhatikan cairan gelap berputar dan dengan hati-hati meniupnya agar sedikit dingin.
Dia menyesap dan langsung terbatuk-batuk dengan wajahnya mengerut karena rasa pahitnya kopi itu.
Lyra tertawa pelan. "Kau membuat wajah yang sama persis seperti yang Rose lakukan ketika mencicipi kopi untuk pertama kalinya."
Sora menatapnya dengan mata lebar dan penuh pengkhianatan yang memasang ekspresi semua orang bisa artikan maksudnya itu, ‘apakah kau sedang menjahiliku dengan minuman ini?’
"Minumlah dengan perlahan, kau akan terbiasa nantinya dengna kopi itu." Kata Lyra lagi dengan lembut mendorong bahunya ke bahu Sora saat dia menyesap cangkirnya sendiri dengan mudah merasakan kopi yang pahit itu.
Api unggun di depan mereka berderak di dalam keheningannya yang bukan lahir dari kehati-hatian atau perhitungan, tetapi sesuatu yang lebih dekat dengan kenyamanan.
Untuk sesaat, revolusi, penjara, dan tiran di atas mereka tidak menjadi masalah. Yang ada hanya kehangatan, kopi pahit, dan dua orang asing yang perlahan-lahan menjadi sesuatu yang sama sekali berbeda.
Api masih berderak pelan, aroma kayu bakar bercampur dengan kopi pahit di udara. Lyra menyesap cangkir kopinya dengan perlahan dan matanya setengah terpejam karena kelelahan di pagi hari.
Di sisi lain, Sora kini telah menerima nasibnya sambil memegang cangkir timah itu dengan canggung yang menatap isinya dengan ekspresi pengkhianatannya dengan tenang.
Setiap kali rasa kopi yang menyentuh lidahnya itu, ia merasa sedikit meringis dan Lyra tidak dapat menahan tawa kecilnya itu setiap kali memerhatikan Sora menunjukkan ekspresi wajahnya yang aneh.
Momen hening mereka berdua itu dipecahkan oleh suara langkah kaki yang bergema dan mantap serta suara tarikan benda berat yang suaranya dikenali oleh Lyra itu.
Dari kabut cahaya pagi, seorang pria kekar muncul, tinggi dan berbahu lebar, dengan kain tempa tebal diikatkan di atas tuniknya.
Tangan kanannya bertumpu pada palu yang diikatkan di punggungnya, dan sepasang kacamata bertengger di atas dahinya. Ia tampak seperti tungku berjalan dan seringainya hampir memenuhi seluruh wajahnya.
"Wah, wah... siapa yang beruntung kali ini?" katanya dengan nada menggoda dan suaranya yang begitu bahagia ketika melihatnya sambil menatap Lyra dan Sora di dekat api unggun.
"Aku berpaling selama beberapa minggu dan kucing kecil pencuri itu sekarang punya pacar rupanya."
Lyra berbalik untuk melihat siapa yang berbicara itu dan ia berdiri dengan cepat dan melawan semua dugaannya untuk berlari ke arahnya ketika mengenali pria tua itu dan memeluknya yang melingkarkan lengannya di pinggangnya.
"Feron, dasar tukang tempa yang sudah tua. Kupikir kau sudah berubah menjadi abu di suatu tempat."
"Hah! Kau berharap seperti kepada orang tua ini yang masih tahu cara membuat lelaki tua ini merasa berguna, ya?" Feron tertawa terbahak-bahak ketika mendengarnya dan menepuk punggungnya dengan kasar.
"Aku masih mencintaimu, lelaki tua. Kau membesarkanku lebih baik daripada separuh bangsawan di kerajaan yang dipenuhi oleh tikus kotornya ini." Kata Lyra yang menarik diri dari pelukannya dengan senyum miring.
Sementara itu, Sora memperhatikan mereka dengan minat yang tenang, seperti menyaksikan reuni keluarga yang mekar dari api dan jelaga.
Tetapi, ada sesuatu yang lebih dalam itu, yaitu keakraban yang sangat aneh di dalam benaknya. Sora meraih kantongnya dan menulis di kertasnya itu, lalu bangkit dari tempat duduknya dan berjalan menuju Feron untuk menyerahkan kertas yang Sora tulis itu.
‘Apakah kau saudara Thramund? Karena, aku melihatmu mirip seperti dirinya itu.’
Feron berkedip-kedip melihat tingkah laku Sora itu dan senyum membeku di wajahnya sesaat yang kemudian dia mengambil kertas itu dengan perlahan, membacanya, dan kembali menatap Sora ketika selesai membacanya.
“Bagaimana kau tahu dia itu?”
Sora menulis lagi dengan kertas barunya lalu menyerahkan kertas itu kepada Feron. ‘Kami bertemu dengannya di Elarion dan dia membantu kami saat berada di sana. Aku hanya menebak dari wajahmu dan palumu itu begitu mirip dengan dia itu.’
Selama beberapa saat, Feron tidak mengatakan apa-apa lalu dia tertawa terbahak-bahak. “HAH! Kau sudah melihat bocah itu! Dia benar-benar adik laki-lakiku. Kulit kayu yang besar dan palunya yang lebih besar dariku. Bagaimana dia bisa bertahan selama ini?”
Sora tersenyum tipis dan menuliskan lagi di kertasnya itu lalu memberikannya ke Feron itu. ‘Kau mungkin bisa menebak dari reaksinya itu ketika kami pergi tanpa mengucapkan selamat tinggal kepadanya lalu, dia mengejar kami. Palu di tangan serta mengutuk kami dari bengkelnya sampai ke gerbang depan Elarion itu.’
Feron hanya bisa tertawa terbahak-bahak setelah membacanya. “Hah! Aku bisa membayangkannya sekarang! Palu itu melambai di udara dan berteriak sampai janggutnya berantakan tak beraturan pastinya.”
Lyra memiringkan kepalanya karena masih kebingungan itu. “Kalian berdua sebenarnya sedang memabahas apa dan siapa itu Thramund?”
“Dia adalah adik laki-lakiku dan sifat keluarganya yang masih khasnya sebelum aku dan dirinya berpisah. Jadi, apa yang membawa ke sini, si pendiam? Kau menyebut teman-temanmu di kertas yang kau tulis sebelumnya.” Kata Feron dengan bangga dan sambil menepuk dadanya itu.
Kemudian tatapannya berubah sedikit lebih serius, mengamati Sora yang mengangguk dengan pelan dan menuliskan sesuatu di kertasnya lagi.‘Mereka saat ini berada di penjara Jargmund. Masing-masing dari mereka memiliki masalah masa lalu dengan kerajaan ini dan aku bertemu dengan Lyra untuk bekerja sama dengannya dan pasukan ini untuk menemukan cara membebaskan mereka dan pemimpin pasukan ini di penjara itu.’
Wajah Feron terlihat kehilangan sedikit rasa humor ketika membacanya dan dia mulai menggaruk dagunya, lalu menatap Lyra yang mengangguk kecil untuk mengiyakan.
Dia mendengus melalui hidungnya. “Penjara, ya? Itu berarti kita tidak punya banyak waktu untuk disia-siakan.”
Feron berbalik dan mengangkat palunya dan di sandarkan ujung palunya di bahunya. “Aku harus menempa baja dan jika kau berencana untuk menyelamatkan teman-temanmu itu, kau akan butuh lebih dari sekedar kopi dan pesonamu itu, pendiam. Temui aku di bengkel nanti, aku akan selalu di sana bila kau membutuhkan sesuatu yang berkaitan dengan senjata.”
Feron mulai berjalan pergi ke arah bengkelnya, lalu berteriak dari balik bahunya, “Dan jangan hancurkan kucing kecil pencuriku, mengerti?”
Sora berkedip dan bingung akan maksud perkataan Feron itu yang terakhir. Lyra mengerang akan tingkah Feron itu dan berbalik ke arah Sora.
“Abaikan saja dia. Dia sudah tua dan setiap har menghabiskan waktunya dengan mabuk-mabukan karena asap besi selalu mengotori wajahnya.”
Namun ada sedikit kedutan di sudut bibirnya yang samar seperti, mungkin saja Lyra tidak sepenuhnya membenci ide Feron itu.
Saat Feron menghilang ke dalam bengkelnya itu, api di antara mereka berdua berderak lagi dan panasnya masih terasa dan tetap ada walau dinginnya pagi terlupakan oleh badan mereka berdua yang tengah merasakannya itu.
Meskipun rencana mereka masih belum pasti, potongan-potongan itu perlahan mulai menyatu.
Sedangkan itu, di suatu tempat... secercah sinar matahari pagi yang pucat berhasil menembus celah-celah jeruji besi yang tinggi dengan menembus kegelapan yang dingin dan lembap di dalam sel penjara Jargmund.
Sinar itu jatuh ke lantai batu yang kotor dan menyinari memar-memar baru di wajah Vael dan darah kering di sudut bibir Namien. Mereka berempat, Kaelith, Vael, Arelan, dan Namien, duduk bersandar di dinding yang dingin dan keheningan di antara mereka lebih berat daripada rantai yang terbelenggu di tangan mereka saat ini.
Harapan mereka telah terluka dan begitu pula tubuh mereka yang disambut dengan mendengar nyanyian lembut Silas Verne dari seberang sel yang merupakan sebuah lagu kematian tengah menanti para pemberontak mulai bergerak itu.
Dan hari yang dijanjikan kepala sipir itu telah tiba dengan suara hentakan sepatu bot berlapis baja bergema di sepanjang koridor dan kini para penjaga berasal dari istana itu berhenti tepat di luar sel mereka.
Pintu sel terbuka dengan derit suara yang memuakkan dan seorang jenderal, diapit oleh tiga penjaga elit berbaju besi hitam legam tengah berdiri di hadapan mereka berempat yang melihat Kaelith dengan tatapan yang sudah ketakutan itu ketika mengetahui hal ini bakal terjadi.
"Bawa wanita itu!" perintah sang jenderal dengan suaranya dingin dan datar. Saat kedua penjaga melangkah ke arah Kaelith, bukan Vael atau Arelan yang bergerak lebih dulu.
Melainkan Namien yang menghalangi jalan para penjaga itu dengan berkata. "Tunggu sebentar, jenderal. Apakah tidak ada prosedur yang melibatkan dengan dokumen yang harus ditandatangani oleh raja sendiri? Mungkin secangkir teh adalah waktu yang tepat di pagi hari sebelum kita memulai formalitas yang tidak menyenangkan ini, bukan?" kata Namien dengan melangkah maju perlahan dengan senyum liciknya yang seperti biasa meskipun matanya sama sekali tidak mengatakan akan berhasil seperti yang dibayangkannya itu.
Jenderal itu bahkan tidak meliriknya dan menghardiknya itu. "Diam kau, penyihir."
Mendengar itu, para penjaga itu maju terus dan melewati Namien yang berdiri di depan mereka.
Naluri Namien mengambil alih dan dia mengangkat tangannya untuk mencoba memanggil sihir apinya itu di telapak tangannya sebagai gertakan.
Namun, tidak ada yang terjadi saat ia mencoba melakukannya melainkan hanya kekosongan yang dingin dan menyerap, seolah-olah sihir itu sendiri telah mati di dalam dinding-dinding penjara ini.
Di pergelangan tangannya, dia bisa merasakan sihir penahan yang tersembunyi di balik dindingnya itu masih aktif dan menghalangi semua aliran sihir yang ada seperti perkataan kepala sipir itu sebelumnya.
Wajah percaya diri Namien langsung berubah menjadi pucat pasi.
Melihat sihir itu gagal, Vael meraung dan menyerbu ke depan dan diikuti oleh Arelan yang bergerak seperti serigala yang terpojok.
Namun perlawanan mereka sia-sia ketika mereka yang berpakaian compang-camping dan masih menanggung luka-luka dari penyiksaan sebelumnya, dengan mudah dikalahkan.
Pukulan keras dari sarung tangan besi mengenai perut Vael hingga memuntahkan isi perutnya dengan darah sekali lagi dan menyebabkannya batuk darah dan jatuh tergeletak di atas lantai sambil melihat reaksi Kaelith yang menatapnya hingga memanggil namanya itu yang tak terdengar oleh Vael.
Arelan dihantam hingga menuju dinding batu itu dengan keras yang membuatnya tak bisa bergerak akan ditahan oleh salah satu penjaganya itu.
Melihat kondisi ini, Namien langsung dengan cepat mencoba menyerang dengan melompat ke salah satu penjaga itu dan menemukan celah di baju besinya yang memperlihatkan baju tuniknya itu, langsung di gigit oleh Namien yang membuat penjaga itu kesal dan yang tadinya menahan Arelan kini membanting Namien ke lantai dengan keras hingga membuat Namien tak bisa berdiri lagi akan bantingan penjaga itu.
Arelan yang bebas itu mulai memberontak sekali lagi hingga salah satu penjaga berhasil menyerangnya dari belakang dan memukul bagian belakang lehernya yang membuat Arelan pingsan dan tergeletak di atas lantai.
Vael, Arelan, dan Namien kini jatuh di atas lantai dalam keadaan tak berdaya dalam melindungi Kaelith yang sendirian itu dan dibawa menuju ke hadapan sang raja hari ini.
"TIDAK!" teriak Kaelith saat dua penjaga lainnya mencengkeram lengannya dengan kasar.
"VAEL! ARELAN! NAMIEN!" Jeritan Kaelith kini berubah menjadi tangisan putus asa saat ia diseret keluar dari selnya.
Ia melihat wajah-wajah teman-temannya yang babak belur dan tak berdaya di atas lantai itu dan mereka yang tergeletak itu kini dipenuhi dengan rasa bersalah yang sangat mendalam ketika membiarkan Kaelith dibawa begitu saja untuk memenuhi hasrat sang raja yang tamak itu.
Harapan terakhirnya hancur dan Kaelith kini hanya bisa menangis pasrah saat pintu sel tertutup di belakangnya yang memisahkannya dari satu-satunya keluarga yang dimilikinya.
Kaelith tidak dibawa ke ruang interogasi mrelainkan Ia langsung dibawa menuju lorong-lorong belakang istana yang mewah namun hawanya begitu dingin dan mengerikan, hingga tiba di ruang ganti yang dipenuhi cermin berbingkai emas dan botol-botol parfum.
Sang jenderal mendorongnya ke kursi di depan meja rias yang di mana Kaelith masih memberontak itu.
"Buat dia tampak seperti sesuatu yang akan dihadapkan kepada seorang Raja." Sang jenderal memerintahkan seorang penata rias tua, pucat, dan kurus itu yang tengah berdiri gemetar di sudut ruangannya itu.
Tak berani menatap sang jenderal, penata rias itu mengangguk dengan pelan dan sang jenderal mendengus puas, lalu berbalik dan meninggalkan ruangan itu dengan mengunci pintu itu dari luar.
Kaelith kini menatap bayangannya terpantul di cermin dengan wajahnya yang kotor dan matanya bengkak karena menangisi teman-temannya yang terkapar akan melindunginya itu, tetapi ekspresinya begitu kosong dan dipenuhi oleh putus asa yang sudah membawa dirinya lebih dalam lagi.
Ia sudah tahu mengapa ia dibawa ke sini dan penata rias itu mendekatinya dengan langkah yang pelan.
"Nona... Saya... saya minta maaf." Bisiknya dengan tangannya gemetar saat memegang sisir dan menyisir rambut Kaelith itu.
Kaelith tidak menjawab perkataannya dan ia hanya menatap kosong ke arah orang asing yang menyerupainya di pantulan cermin itu.
Penata rias itu mulai bekerja dalam diam, membersihkan wajah Kaelith dengan kain lembut. Setelah selesai merias wajah dan menata rambutnya, ia mengambil gaun sutra tipis pakaian khas penari Jargmund.
Saat menyerahkannya, ia mencondongkan tubuh ke depan dan berbisik sangat lembut di telinga Kaelith. "Maafkan aku, nona. Tapi, bersabarlah sebentar saja karena revolusi... akan datang pada waktunya. Kumohon, bersabarlah sedikit saja, nona." Bisiknya lagi dengan suaranya bergetar.
Sebelum Kaelith sempat bereaksi, penata rias itu melangkah mundur dan meninggalkan ruangan melalui pintu samping kecil dan kini Kaelith ditinggalkan sendirian di dalam ruangan itu.
Dengan enggan, ia mengenakan pakaian penari yang terasa seperti gaun pemakamannya di kulitnya dan kembali duduk di depan cermin lagi.
Tak lama kemudian, pintu utama terbuka. Sang jenderal masuk ke dalam ruangan itu dengan matanya yang penuh nafsu untuk menelanjangi penampilan Kaelith dari atas ke bawah dan melampiaskannya itu.
"Bagus sekali dan begitu cantik dirimu saat diam seperti ini." Katanya yang kemudian jenderal itu menoleh ke anak buahnya yang berada di luar ruangan itu.
"Jaga pintu ini! Jangan biarkan siapa pun masuk sampai aku keluar dari ruangan ini! Beritahu aku dari luar ruanagna jika terjadi sesuatu."
Pintu ruangan itu ditutup dan tidak dikunci dan kini hanya mereka berdua di dalam ruangan. Kaelith menatap pantulan jenderal itu di cermin saat pria itu melepaskan helmnya dan menampilkan senyuman yang membawakan penuh kemenangan.
Kaelith hanya bisa mengingat wajah pria itu dengan seksama yang membekas dalam ingatan seumur hidupnya.
Jenderal itu mulai membuka sabuk zirahnya dan berkata dengan seringainya yang penuh hasrat.
“Raja bisa menunggu sebelum ia menikmati pestanya yang akan dimulai itu dan aku akan mencoba untuk mencicipi sedikit saja dengan hidangan pembukanya.”
Jenderal itu melangkah mendekat dengan perlahan ke arah Kaelith yang sedang duduk di hadapan cermin meja rias itu.
Kaelith hanya bisa memejamkan matanya, air matanya mulai mengalir di pipinya yang kini telah merusak riasan yang telah diriaskan oleh penata riasnya.
Ia tidak berteriak lagi tapi ia hanya menangis dalam diam saat sang jenderal merobek paksa pakaiannya dan membawanya dengan kasar ke tempat tidur di dekat meja rias itu.
Selembar kain disumpalkan ke mulut Kaelith untuk membungkam suaranya. Dalam kegelapan yang pekat dan rasa sakitnya itu, ia memaksa matanya untuk tetap terbuka dan untuk merekam setiap detail wajah pria itu.
Kini dirinya sudah rusak sepenuhnya, baik dari fisik maupun batinnya dan hal ini baru permulaan sebelum ia bertemu sang raja nanti. Keheningan setelahnya terasa lebih memekakkan daripada bermimpi di mana pun.
Kaelith hanya terbaring di kasur yang terasa sangat dingin itu dan matanya yang terbuka menatap kosong ke arah langit-langit atap ruangan itu yang berdebu.
Air mata telah berhenti mengalir dan meninggalkan jejak perak yang kering di pipinya yang telah dirias.
Ia tidak merasakan apa-apa lagi, tidak marah dan tidak sedih hanya sebuah kebetulan yang dingin dan telah membentang luas telah merenggut segala apa yang pernah dimilikinya. Tubuhnya terasa seperti milik orang lain, seperti sebuah wadah yang sudah rusak.
Sang jenderal bangkit dengan gerakannya santai dan tanpa penyesalan itu. Ia mengenakan kembali zirahnya yang dipol dengan rapi dan setiap kepingan baja yang terpasang terasa seperti paku lain yang menancap di peti mati jiwa Kaelith.
Ia memasang helmnya kembali dan menyembunyikan wajahnya di balik baja tanpa ekspresi. Jenderal itu melirik ke arah Kaelith yang terbaring tak berdaya di atas kasur.
"Lihatlah dirimu itu, wajahmu kini penuh dengan keputusasaan dan aku suka ekspresi wajahmu itu." Katanya dengan suaranya dipenuhi senyum mengejek yang terdengar bahkan dari balik helmnya.
Tawa puas menggelegar dengan singkat dan brutal keluar dari mulutnya saat ia membuka pintu ruangan itu.
"Selamat menikmati pestanya." Ujar jenderal itu sebelum pergi meninggalkan Kaelith sendirian dalam keheningan yang pecah.
Dua penjaga elit masuk tanpa berkata apa pun dan mereka mengangkat Kaelith dari kasur dengan kasar, seolah ia hanyalah sebuah buntalan kain dan bukan manusia lagi. Kaelith tidak melawan mereka dan tidak ada lagi perlawanan yang tersisa di dalam dirinya.
Mereka berjalan melalui koridor belakang istana yang remang-remang, menuju sebuah ruangan besar yang ramai di mana para penari lain sedang menari di panggung yang begitu menyesakkan, aroma parfum, dan keringat bercampur di udara.
Dari penampakannya, terdengar suara musik dan tawa riuh dari aula utama istana.
"Ini milikmu." Kata salah satu penjaga kepada seorang wanita paruh baya yang tampak tegas dan ternyata dia adalah sang perencana penari.
Penjaga itu mendorong Kaelith untuk berbelok seperti menyerahkan sebuah barang, lalu berbalik dan pergi dari hadapannya.
Sang perencana memperbaiki punggung Kaelith itu dengan membongkar penuh kebencian.
"Dasar tidak punya hati seorang manusia." Gumamnya pelan.
Ia kemudian melihat Kaelith yang seakan-akan ia melihat semuanya yang memunculkan mata yang kosong, jejak air mata yang masih membekas, dan getaran samar di tubuhnya yang coba ia sembunyikan.
Ekspresi sang perencana melembut seketika dan digantikan oleh pemahaman yang menyakitkan.
Dengan cepat, ia memberi isyarat kepada salah satu gadis penari yang berdiri di sekeliling seorang pemudi dengan rambut cokelat pendek yang ujungnya tajam.
"Rose, bawalah dia ke tempat persembunyian kita. Sekarang juga!" bisik sang perencana yang suaranya sangat pelan dan mendesak itu untuk memastikan tidak ada yang mendengarnya.
Mata Rose melebar sedikit saat dia menatap Kaelith, lalu dia mengangguk sekali yang penuh pengertian dan maksudnya itu.
"Dia sudah mengalami lebih dari yang kau alami saat ini, pergilah sekarang!" tambah sang perencana yang matanya memancarkan urgensi.
Rose tidak membuang waktu lagi dan dengan segera, ia mendekati Kaelith dengan lembut. "Nona, ikuti aku dan kau akan aman bersama kami tentunya." Bisik Rose itu yang memegang pergelangan tangan Kaelith dengan lembut.
Kaelith hampir tidak bereaksi, tetapi Rose dengan sigap menopang tubuhnya secra terpaksa ketika Kaelith tak bergerak itu dan menyampirkan salah satu lengan Kaelith di bahunya seolah-olah dia hanya membantu yang kelelahan.
Dengan gerakan yang hati-hati dan tanpa perhatian, Rose mengemudinya menjauh dari barisan para penari, melewati koridor samping yang lebih sepi.
Kemampuannya berpura-pura seperti kucing dan setiap langkahnya terukur dan nyaris tanpa suara itu.
Rose yang membawa Kaelith itu menghindari patroli penjaga, berpendapat di antara bayang-bayang pilar, dan menghindari keramaian pesta. Ia tahu ini adalah kesempatannya dan sebagian besar prajurit berada di jamuan raja, lengah oleh anggur dan perayaan.
Akhirnya, mereka tiba di sebuah area gudang yang gelap di bagian paling bawah istana.
Rose menekan sebuah batu yang longgar di dinding, yang membuka sebuah pintu rahasia yang tersembunyi di pintu masuk ke saluran air tua yang telah diubah oleh pasukan revolusi menjadi jalur pengungsi.
“Kita hampir sampai, Nona. Bertahanlah sebentar lagi.” Bisik Rose yang mengemudikan Kaelith masih limbung untuk masuk ke dalam kegelapan yang lembap.
Saat pintu batu itu tertutup di belakang mereka, memisahkan kemewahan mereka dari istana palsu, Rose berhasil membawa Kaelith keluar.
Ia tidak menyia-nyiakan kesempatan ini, bergerak cepat yang ia bisa melewati lorong-lorong bawah tanah menuju tempat persembunyian mereka, membawa jiwa yang rusak menuju satu-satunya tempat di Jargmund di mana harapan masih mencoba untuk bernapas kembali dengan kelegaan.
Other Stories
Institut Tambal Sains
Faris seorang mahasiswa tingkat akhir sudah 7 tahun kuliah belum lulus dari kampusnya. Ia ...
Bukan Cinta Sempurna
Pesona kepintarannya terpancar dengan jelas, rambut sebahunya yang biasanya dikucir ekor ...
My 19 Story
Di usia sembilan belas, Liora dikhianati dan melarikan diri ke Jakarta, tempat seorang pri ...
Kasih Ibu #1 ( Hhalusinada )
pengorbanan seorang ibu untuk putranya, Angga, yang memiliki penyakit skizofrenia. Ibu rel ...
Cahaya Menembus Senesta
Manusia tidak akan mampu hidup sendiri, mereka membutuhkan teman. Sebab dengan pertemanan, ...
Setelah Perayaan Itu Usai.
Amara tumbuh di sebuah dusun kecil, ditemani sahabatnya, Angga. Setiap hari mereka lalui d ...