Bab Tiga Puluh Lima: Air Mata Yang Mengingat Dan Bencana Yang Dijanjikan
Cahaya fajar yang pucat merembes masuk melalui celah-celah kain tenda medis, membawa serta debu-debu halus yang menari dalam keheningan pagi. Di atas ranjangnya, Kaelith mengerjap perlahan.
Dunia tidak lagi gelap, tidak lagi berupa danau sunyi dengan langit kelabu yang tak berujung. Udara berbau obat-obatan herbal, tanah basah, dan... aroma samar keringat dan darah yang familier.
Kesadarannya kembali perlahan, menyusun kepingan-kepingan realitas yang sempat hancur. Ia menggerakkan jari-jarinya, dan merasakan kehangatan kasar yang menahannya.
Kaelith menoleh ke samping. Di sana, duduk di kursi kayu yang tidak nyaman dengan kepala terkulai di sisi tempat tidur, adalah Sora.
Pemuda itu tertidur lelap, napasnya teratur meski dadanya masih dibalut perban tebal. Tangan Sora menggenggam erat tangan Kaelith, seolah-olah jika ia melepaskannya sedetik saja, Kaelith akan hanyut kembali ke dalam kegelapan.
Di samping kursi itu, bersandar pada tiang tenda, adalah busurnya itu yang didapatkan dari reruntuhan Borreal bersama Sora saat itu yang benda itu diberikan untuk menggantikan busur lamanya dari pemberian ayahnya itu yang telah patah pada saat itu.
Kaelith menatap tangan yang menggenggamnya. Tangan itu kasar, kapalan, dan dipenuhi parut bekas luka yang terlihat jelas dari setiap pertempuran yang telah ia lalui dan setiap penderitaan yang ia tanggung dalam diam. Namun, bagi Kaelith saat ini, tangan itu terasa lebih lembut daripada sutra mana pun.
Ingatan tentang mimpinya berputar kembali di benaknya. Ia melihat danau itu lagi, dan sosok wanita berambut merah dengan mahkota baja dan perak. Kaelith berusaha mengingat nama atau wajah wanita itu dengan jelas, tetapi bayangannya kabur seperti riak air.
Ia tidak tahu siapa wanita itu yang bukan keluarganya dan bukan teman yang ia kenal. Namun, kata-kata wanita itu terpatri kuat di dalam jiwanya, membakar seperti bara api di tengah badai salju.
\"Jangan biarkan dia berjuang sendirian. Bangunlah.\"
Air mata mulai menggenang di pelupuk mata Kaelith. Ia merasa kotor mulai dari tubuhnya dan jiwanya yang dihancurkan oleh kekejaman yang menimpanya di istana Jargmund. Rasa jijik dan trauma itu masih ada, mencakar-cakar di pinggiran pikirannya. Namun, di saat yang sama, ia masih hidup. Ia telah merangkak keluar dari neraka itu, dan ia masih bisa melihat hari esok.
Ia memandang Sora lagi. Anak laki-laki bisu yang tidak pernah meminta apa pun, yang selalu ada di sana.
Kaelith teringat masa lalunya sendiri, jauh sebelum ia bertemu Sora atau yang lainnya. Ingatan tentang rumahnya di Virandel, tentang kerajaan yang damai sebelum langit terbelah dan makhluk-makhluk misterius turun untuk menghancurkan segalanya. Ia ingat jeritan ibunya, tangisan adiknya, saat mereka direnggut darinya oleh kekejaman yang bukan berasal dari dunia ini. Sejak hari itu, Kaelith selalu sendirian, berlari dari bayang-bayang, menutup hatinya di balik busur dan anak panah.
Namun sekarang... ada seseorang yang tidak lari. Seseorang yang tetap tinggal, bahkan ketika Kaelith sendiri telah pergi dari tubuhnya.
Sebutir air mata lolos dari sudut matanya, jatuh menetes tepat di punggung tangan Sora.
\"Kau bodoh...\" bisik Kaelith, suaranya parau dan pecah, namun penuh dengan emosi yang meluap.
\"Kau selalu saja bodoh.\"
Sora yang tidak bergerak dalam tidurnya, masih terlelap dalam kelelahannya menjaga Kaelith, tidak menyadari bahwa gadis yang dijaganya itu akhirnya telah kembali.
Sementara itu, di bagian lain perkemahan yang mulai menggeliat bangun, suasana di dalam tenda Silas Verne jauh berbeda.
Silas berbaring di atas dipan daruratnya, satu kaki disangga bantal, matanya menatap langit-langit tenda sambil melantunkan syair-syair gubahannya sendiri dengan nada rendah dan serak.
\"Raja duduk di atas emas, tak tahu menara kan runtuh... Air naik, api padam, dan hantu-hantu menagih... Huh!?\"
Senandungnya terhenti saat tirai tenda tersingkap. Namien Solis melangkah masuk. Wajah penyihir itu masih lebam, tetapi bukan luka fisik yang menarik perhatian Silas. Itu adalah sorot matanya yang terlihat gelap, berat, dan penuh dengan sesuatu yang berbahaya.
Silas memposisikan dirinya untuk duduk, meringis sedikit karena nyeri di tulang rusuknya. Ia menatap Namien dengan alis terangkat.
\"Kau terlihat seperti seseorang yang baru saja menjual jiwanya di persimpangan jalan, Ular,\" komentar Silas santai.
\"Atau kau baru saja menelan sebuah lemon utuh?\"
Namien tidak tersenyum. Ia menarik sebuah kursi kayu reyot, memutarnya, dan duduk menghadap Silas dengan tangan bersedekap di sandaran kursi.
\"Hanya berjalan-jalan pagi, Pak Tua. Menikmati udara segar Jargmund yang berbau selokan.\" Jawab Namien dengan datar.
Sarkasme itu ada, tetapi terasa kosong, seperti lapisan tipis di atas jurang yang dalam.
Silas tertawa pelan, suara yang bergemeretak di dadanya. \"Simpan humor gelapmu untuk anak-anak, Namien. Aku sudah hidup cukup lama untuk membedakan antara lelucon dan keputusasaan. Bahkan bisa ular pun tidak bisa membohongi sesama pemangsa.\"
Ekspresi Silas berubah serius, matanya yang tajam menembus pertahanan Namien. \"Katakan. Apa yang ada di kepalamu yang membuatmu terlihat seperti akan membakar dunia?\"
Namien terdiam sejenak, menatap lantai tanah. Lalu, ia mengangkat wajahnya, dan di sana Silas melihatnya sebuah rencana yang begitu gila hingga mungkin saja berhasil.
\"Goulash harus jatuh.\" Kata Namien dengan suaranya yang rendah.
\"Tapi, ada satu hal yang menghalangi kita. Dinding yang tidak bisa ditembus. Vorlag.\"
Silas mengangguk pelan. \"Sang Anomali. Kita semua tahu itu. Jadi? Kau punya cara untuk membunuhnya? Racun? Sihir kuno yang kau sembunyikan di balik lengan bajumu?\"
\"Bukan,\" jawab Namien.
\"Sesuatu yang lebih besar.\"
Namien mengangkat satu jari telunjuknya ke udara.
\"Bencana harus dilawan dengan bencana, Silas. Hanya itu satu-satunya bahasa yang dimengerti oleh monster seperti dia.\"
Namien kemudian membeberkan rencananya rencana yang ia debatkan dengan Lyra semalam. Tentang bendungan raksasa di belakang istana, tentang jutaan ton air yang tertahan, dan tentang bagaimana ia berniat melepaskan semuanya untuk menyapu bersih sektor bawah, menenggelamkan Vorlag, atau setidaknya meremukkannya di bawah tekanan alam yang tak terbendung.
Silas mendengarkan tanpa berkedip. Tidak ada kengerian di wajahnya, tidak ada penolakan moral seperti yang ditunjukkan Lyra. Sebaliknya, perlahan-lahan, sebuah senyum lebar dan liar merekah di wajah tua Silas.
Ia tertawa. Tawa yang keras, tulus, dan sedikit gila.
\"Hahahaha! Demi para dewa yang sudah mati!\" seru Silas sambil memukul pahanya.
\"Namien Solis... kau benar-benar orang gila. Aku menyukainya! Aku menyukainya!\"
Namien mengerutkan kening, sedikit terkejut dengan reaksi yang begitu antusias. \"Kau... menyukainya? Kau tidak keberatan? Lyra hampir muntah saat mendengarnya. Bagaimana dengan penduduk di sektor bawah? Mereka yang tidak terlibat... mereka akan menjadi korban.\"
Silas berhenti tertawa, tetapi binar matanya semakin tajam. Ia mencondongkan tubuh ke depan, menatap Namien lekat-lekat.
\"Dalam perang, Nak, tidak ada yang namanya \'tidak terlibat\'. Kita semua adalah korban dari saat tiran itu naik takhta. Jika kita tidak melakukan ini, mereka akan mati perlahan-lahan di bawah sepatu bot Goulash. Jika kita melakukannya... setidaknya kematian mereka akan membeli kebebasan bagi sisanya.\"
Silas menepuk bahu Namien dengan keras.
\"Jangan ragu, Ular. Simpan keraguanmu untuk masa damai. Bawa rencana gilamu ini ke rapat strategi nanti. Suarakan dengan lantang. Karena hanya kegilaan seperti ini yang bisa meruntuhkan Jargmund.\"
Namien menatap Silas, lalu menghela napas panjang, seolah beban berat sedikit terangkat dari pundaknya. Ia mengangguk, seringai tipis dan berbahaya akhirnya kembali ke bibirnya.
\"Baiklah kalau begitu, mari kita buat hujan di kerajaan ini.\" Kata Namien.
Di dalam keheningan tenda medis yang hanya dipecahkan oleh desau angin pagi, Kaelith dengan kesadarannya kembali merajut realitas yang sempat hancur itu, menoleh ke samping dan melihat Sora yang masih tertidur dengan posisi duduk yang tidak nyaman di kursi kayu, kepalanya terkulai.
Namun tangannya tetap menggenggam tangan Kaelith dengan erat seolah itu adalah satu-satunya hal yang menahannya di dunia ini.
Tepat pada saat itu, tirai tenda tersingkap pelan. Dokter yang bertugas, seorang pria paruh baya dengan wajah lelah namun penuh dedikasi, masuk membawa baskom air bersih dan kain perban baru.
Langkahnya terhenti seketika saat matanya bertemu dengan mata Kaelith yang terbuka. Ia terpaku, melihat pasien yang selama berhari-hari hanya diam seperti mayat hidup kini menatapnya dengan sorot mata yang sadar, meski masih rapuh.
Kaelith, menyadari kehadiran orang lain, dengan panik menarik tangannya dari genggaman Sora, meski Sora tidak terbangun dan buru-buru untuk menyeka sudut matanya yang basah dengan punggung tangannya yang gemetar. Suaranya parau, kering karena lama tak digunakan, saat ia bertanya,
\"Di... di mana aku sekarang?\"
Dokter itu terdiam sesaat, tenggorokannya tercekat melihat perubahan drastis dari wanita muda yang sebelumnya hancur total itu. Ia menarik napas dalam-dalam sebelum menjawab dengan nada lembut dan menenangkan.
\"Kau aman, Nona,\" jawab dokter itu pelan, meletakkan baskom di meja kecil.
\"Kau berada di kamp pasukan revolusi. Teman-temanmu... mereka membawamu kembali.\"
Kaelith terdiam mendengar jawaban itu. Ingatan tentang kejadian mengerikan di istana Jargmund dengan ingatan akan pelecehan, rasa sakit, dan hilangnya harga dirinya itu memenuhi ingatan di benaknya seperti bayangan mimpi buruk yang nyata.
Namun, ia tidak bisa mengingat apa yang terjadi setelahnya, saat ia jatuh ke dalam kehampaan katatonik itu. Isak tangis yang tertahan kembali naik ke kerongkongannya. Ia mencoba sekuat tenaga untuk menahannya, menyeka air matanya lagi dengan gerakan kasar dan putus asa, berusaha menyembunyikan kehancurannya di hadapan orang asing.
Dokter itu, memahami bahwa Kaelith membutuhkan ruang untuk memproses semuanya, mengangguk hormat dan dengan perlahan mundur, meninggalkan tenda medis itu dalam keheningan kembali.
Saat tirai tenda tertutup di belakang dokter, Sora yang masih tertidur tiba-tiba tersentak pelan. Ia merasakan sensasi dingin dan basah di punggung tangannya dengan tetesan air mata Kaelith yang jatuh saat menangis itu.
Sora membuka matanya, mengerjap mengusir kantuk, dan hal pertama yang ia lihat membuatnya membeku. Kaelith sudah bangun dan wanita itu sedang duduk, wajahnya dipalingkan, bahunya berguncang hebat saat ia berusaha mati-matian menghapus air mata yang terus mengalir dengan tangan satunya.
Sora tertegun. Ia melihat kerapuhan yang begitu dalam pada sosok yang biasanya tangguh itu. Tanpa berpikir panjang, nalurinya bergerak lebih cepat daripada keraguannya. Ia bangkit dari kursinya, mengabaikan nyeri di tulang rusuknya yang patah, dan mendekati Kaelith.
Sora yang tak tahu harus melakukan apa dan dirinya merasa canggung, tidak tahu apa yang bisa menghibur Kaelith itu, dan bahkan jika ia tahu, ia tidak tahu bagaimana caranya untuk melakukannya. Ia hanya tahu satu hal: ia tidak ingin melihat Kaelith menangis sendirian.
Dengan gerakan yang kaku namun penuh kelembutan, Sora merengkuh tubuh Kaelith. Ia memeluknya, sebuah pelukan yang canggung namun tulus, mencoba memberikan perlindungan dari dunia yang telah menyakitinya begitu dalam.
Kaelith tersentak saat merasakan lengan Sora melingkari tubuhnya. Pertahanan dirinya runtuh seketika. Ia tidak lagi mencoba menyeka air matanya. Ia tidak lagi mencoba menjadi kuat.
Kaelith membalas pelukan itu. Ia membenamkan wajahnya ke bahu Sora, mencengkeram kain baju Sora dengan erat hingga buku-buku jarinya memutih. Tangisnya pecah, bukan lagi isak tertahan, melainkan raungan kepedihan yang selama ini terbungkam. Ia menangis untuk rasa sakitnya, untuk traumanya, dan untuk rasa syukurnya karena masih bisa merasakan kehangatan ini.
Di dalam pelukan itu, di tengah tangisannya yang membasahi bahu Sora, Kaelith teringat kembali pada sosok wanita berambut merah dalam mimpinya yang memberitahunya untuk tidak menyerah, untuk bangun demi orang yang menunggunya.
Dan di sanalah ia sekarang, hidup, menangis, dan dipeluk oleh orang yang tidak pernah meninggalkannya, tepat seperti yang dikatakan mimpi itu.
Di luar tenda medis, dokter itu menghela napas panjang, memberikan ruang bagi momen pribadi yang sedang terjadi di dalam antara dua jiwa yang terluka itu.
Dokter itu merapikan jubahnya yang sedikit kusut, lalu melangkah dengan tujuan pasti membelah kesibukan pagi di kamp revolusi. Langkahnya membawanya langsung menuju tenda komando pusat, tempat di mana nasib pergerakan ini sedang dipetakan.
Di dalam tenda yang diterangi oleh cahaya matahari yang mulai meninggi, Veyla berdiri membungkuk di atas meja strategi yang besar. Meja itu penuh sesak. Peta-peta topografi Jargmund terhampar luas, ditindih oleh bebatuan-bebatuan kecil yang menandakan posisi musuh dan pasukan gerilya mereka.
Di sampingnya, berserakan gulungan-gulungan kertas berisi informasi intelijen terbaru mengenai jadwal rotasi penjaga kerajaan yang baru, rute patroli pasukan kerajaan yang berubah dari biasanya, hingga titik-titik lemah di seluruh kota yang berhasil diidentifikasi oleh Lyra dan Eleonora.
Veyla memijat pelipisnya, matanya lelah namun tajam, mencoba menyatukan kepingan puzzle yang rumit ini. Suara langkah kaki di pintu masuk tenda membuatnya mendongak.
Melihat dokter itu masuk, Veyla langsung menegakkan tubuh.
\"Dokter,\" sapanya, nadanya mendesak namun terkendali.
\"Ada masalah?\"
Dokter itu menggeleng pelan, senyum tipis kelegaan terukir di wajahnya yang menua.
\"Bukan masalah, Komandan. Justru sebaliknya. Kaelith... dia sudah sadar. Masa katatoniknya telah berakhir. Dia kembali kepada kita.\"
Mendengar kabar itu, bahu Veyla yang sedari tadi tegang perlahan merosot. Helaan napas panjang keluar dari bibirnya, seolah-olah sebuah batu besar yang menghimpit dadanya baru saja diangkat. Satu kekhawatiran terbesar yang menghantui pikirannya bahwa mereka telah kehilangan salah satu pejuang terbaik mereka selamanya kini sirna satu per satu.
\"Syukurlah,\" gumam Veyla, matanya kembali fokus ke peta dengan semangat yang baru.
\"Itu kabar terbaik yang kudengar sepanjang minggu ini.\"
Belum sempat dokter itu menjawab, tirai tenda kembali tersingkap dengan kasar. Feron masuk, membawa serta aroma besi panas, arang, dan keringat dari bengkelnya. Wajahnya yang tertutup jelaga tampak serius namun puas. Ia menyeka dahinya dengan punggung tangan yang kekar.
\"Laporan, Feron?\" tanya Veyla langsung, tidak membuang waktu.
\"Persenjataan hampir selesai,\" jawab Feron dengan suara beratnya yang khas.
\"Pedang, tombak, dan beberapa kejutan khusus yang kupersiapkan untuk pasukan lapis baja mereka. Anak buahku bekerja lembur. Besok pagi, setiap orang di kamp ini akan memegang baja yang layak untuk menebas leher tiran.\"
\"Bagus,\" kata Veyla, suaranya kini penuh otoritas yang tidak bisa dibantah. Ia menatap Feron dan dokter itu bergantian.
\"Kumpulkan semua yang terlibat termasuk bocah pendiam dengan rekan-rekannya itu. Kita adakan rapat strategi final dalam satu jam lagi. Kita tidak bisa menunda lagi.\"
Veyla menunjuk ke arah peta Jargmund, tepatnya ke gambar benteng penjara yang telah mereka bobol.
\"Goulash tidak akan diam saja setelah apa yang kita lakukan,\" lanjut Veyla, nadanya memperingatkan.
\"Penjaranya yang dibanggakan sebagai tempat paling aman di kerajaan, baru saja kita obrak-abrik. Kita telah memberikan pukulan telak tepat di wajahnya. Dia pasti sedang mengumpulkan pasukannya sekarang, bersiap untuk memburu dan menghabisi kita sampai ke akar-akarnya. Jika kita tidak bergerak sekarang, kita akan kehilangan momentum.\"
Feron dan dokter itu mengangguk serempak, memahami sepenuhnya gravitasi situasi tersebut. Mereka tahu bahwa waktu untuk bersembunyi telah habis.
Tanpa menunggu jawaban dari mereka lebih lanjut, Veyla melangkah keluar dari balik meja strateginya, meninggalkan tenda komando dengan langkah lebar dan mantap. Tujuannya hanya satu.
Ia berjalan membelah kamp menuju tenda Silas Verne. Sudah waktunya untuk memberitahu sang pemimpin bahwa masa menunggu telah usai. Bahwa persiapannya dan mendnegar beberapa kabar yang didengar olehnya kini hendak memberitahu kepada Silas yang waktunya untuk menurunkan seorang tiran yang telah mencengkeram leher kerajaan ini selama puluhan tahun dari takhtanya yang berdarah.
Veyla berjalan dengan langkah yang mantap dan terukur membelah kesibukan perkemahan, mengabaikan debu yang beterbangan di sekitar sepatu botnya. Tujuannya jelas, tenda Silas Verne sebagai pemimpin dari pasukan revolusi saat ini. Tanpa ragu, ia menyingkap tirai tenda Silas dan melangkah masuk.
Di dalam, ia menemukan Silas dan Namien sedang duduk berhadapan, sisa-sisa perdebatan mereka tentang bendungan masih menggantung di udara. Begitu melihat Veyla masuk, keduanya seketika menghentikan pembicaraan mereka. Namien menutup mulutnya yang baru saja hendak melontarkan komentar sarkastis, sementara Silas menoleh dengan tatapan tenang santainya itu terhadap Veyla.
Veyla berdiri tegak di hadapan mereka, posturnya mencerminkan urgensi.
\"Persiapan persenjataan hampir selesai, dan semua regu sudah siaga,\" lapor Veyla tanpa basa-basi.
Ia menatap Silas. \"Sudah waktunya kita mengadakan rapat besar. Kita harus mematangkan rencana penyerangan sekarang juga.\"
Silas mengangguk pelan, menyetujui penilaian Veyla. Namun, sebelum menjawab komandan wanitanya itu, ia melirik ke arah Namien dengan tatapan penuh arti.
\"Simpan detail \'basah\' itu untuk nanti, Ular,\" kata Silas yang suaranya pelan dan bercampur dengan geli. \"Jangan beritahu Veyla atau yang lain sekarang. Biarkan itu menjadi hidangan utama saat rapat nanti.\"
Namien yang mendengar itu hanya bisa terkekeh pelan. Ia bersandar di kursinya dengan gaya malas yang dibuat-buat, seringai khasnya kembali menghiasi wajahnya yang lebam.
\"Oh, tentu saja,\" jawab Namien dengan nada sarkasme yang kental.
\"Aku tidak akan merusak kejutan pestanya. Aku akan dengan senang hati mengungkapkan kepada semua orang yang belum tahu betapa \'jeniusnya\' cara kita untuk mati nanti.\"
Silas tertawa mendengar respon itu, suara tawanya yang serak memenuhi tenda kecil tersebut. Sementara itu, Veyla hanya bisa berdiri diam di tempatnya.
Alisnya berkerut, menatap kedua pria itu dengan campuran antara kebingungan dan keheranan. Ia merasa seperti melewatkan sebuah lelucon internal yang berbahaya, namun ia memilih untuk tidak membuang waktu dengan bertanya.
\"Baiklah,\" kata Silas, menghentikan tawanya dan kembali serius.
Ia menatap Veyla. \"Aku setuju dengan usulanmu. Kumpulkan semua orang. Kita adakan rapat itu.\"
Veyla mengangguk, menerima perintah itu. Sebelum berbalik pergi, ia mengalihkan pandangannya kepada Namien.
\"Bawa teman-temanmu juga, Tuan Solis. Kehadiran mereka penting,\" kata Veyla. Lalu, suaranya sedikit melembut, memberikan kabar yang ia bawa dari dokter tadi.
\"Dan satu hal lagi... Temanmu yang sempat mengalami kondisi kritis. Kini, dia sudah sadar sepenuhnya dari masa katatoniknya.\"
Mendengar kabar itu, topeng ketidakpedulian Namien retak sejenak. Sebuah senyum pahit, namun penuh kelegaan, terukir tipis di bibirnya. Namun, seperti biasa, ia dengan cepat menutupinya dengan lapisan humor gelapnya.
\"Ah, benarkah?\" respon Namien, suaranya datar namun matanya berbinar.
\"Baguslah, kalau begitu. Kupikir dia berencana tidur sepanjang revolusi ini hanya untuk menghindari mendengarkan rencanaku. Ternyata dia sudah bangun untuk tidak melewatkan hal ini rupanya...\"
Veyla hanya menggelengkan kepalanya melihat tanggapan Namien, lalu segera undur diri dari tenda untuk melaksanakan tugasnya mengumpulkan para kapten.
Sepeninggal Veyla, Silas bangkit dari dipannya dengan bantuan tongkatnya. Ia berjalan terpincang mendekati Namien dan menepuk bahu penyihir itu dengan keras, memberikan dukungan penuh atas apa yang baru saja mereka diskusikan sebelumnya.
\"Rencanamu itu memang terdengar gila, Namien,\" kata Silas, matanya bersinar liar.
\"Tapi itulah yang kita butuhkan saat ini. Jangan ragu, saat kau menyuarakannya nanti pada saat rapat dimulai, pastikan suaramu itu terdengar jelas oleh semua yang ada di sana.\"
Namien merubah ekspresi wajahnya. Seringai khasnya melebar, penuh dengan kepercayaan diri yang berbahaya.
\"Jangan khawatir, Pak Tua gila.\" Jawab Namien santai.
\"Aku sudah merancang seluruh argumen yang akan menjadi jawabanku nanti di kepalaku. Jika mereka ingin berdebat, aku akan pastikan mereka sadar bahwa tidak ada pilihan lain selain dari rencana ini.\"
Silas tertawa terbahak-bahak lagi, sangat puas dengan jawaban itu.
Namien kemudian berdiri dari tempat duduknya, merapikan jubahnya yang lusuh.
\"Aku harus pergi sekarang,\" kata Namien.
\"Aku perlu melihat kondisi Putri Tidur itu dan memberitahu ksatria Borreal bahwa liburan mereka telah usai.\"
\"Silakan, ular yang berbisa.\" Silas mempersilakan dengan lambaian tangannya.
Namien mengangguk singkat, lalu berbalik dan melangkah keluar dari tenda, meninggalkan Silas yang masih tersenyum dalam bayang-bayang, bersiap untuk menyulut api revolusi dengan rencana paling gila yang pernah didengar Jargmund.
Other Stories
Perjalanan Terakhir Bersama Bapak
Sepuluh tahun setelah kepergian ibunya saat melahirkan Ale, Khalil tumbuh dengan luka yang ...
Hantu Kos Receh
Mahera akhirnya diterima di kampus impiannya! Demi mengejar cita-cita, ia rela meninggalka ...
Hold Me Closer
Pertanyaan yang paling kuhindari di dunia ini bukanlah pertanyaan polos dari anak-anak y ...
Hopeless Cries
Merasa kesepian, tetapi sama sekali tidak menginginkan kehadiran seseorang untuk menemanin ...
Saat Cinta Itu Hadir
Zita hancur karena gagal menikah setelah Fauzi ketahuan selingkuh. Saat masih terluka, ia ...
Susan Ngesot Reborn
Renita yang galau setelah bertengkar dengan Abel kehilangan fokus saat berkendara, hingga ...