Bab Tiga Puluh Delapan: Bencana Yang Berjalan Dan Takhta Yang Membusuk
Bab Tiga Puluh Delapan: Bencana yang Berjalan dan Takhta yang Membusuk
Sementara markas pasukan revolusi sedang dilanda badai perpecahan ideologi yang terbelah antara kubu pragmatis yang dipimpin logika Namien dan kubu idealis yang berpegang pada moralitas itu yang membuat suasana di jantung musuh mereka justru dipenuhi oleh jenis kekacauan yang berbeda.
Di dalam Istana Jargmund yang megah, di menara tertinggi yang menghadap ke seluruh kota, Raja Goulash sedang tenggelam dalam dunianya sendiri.
Kamar raja itu tidak berbau seperti ruang kerja seorang pemimpin yang sedang menghadapi ancaman perang. Sebaliknya, ruangan itu berbau menyengat dengan bau seperti campuran aroma dari anggur yang tumpah, parfum murahan, dan keringat. Goulash dengan perut buncitnya yang terekspos separuh, sedang duduk di sofa beludru merah, dikelilingi oleh tiga wanita penghibur yang tertawa manja di sekelilingnya.
Goulash tertawa terbahak-bahak, wajahnya merah padam karena mabuk, tangannya menggenggam gelas emas yang isinya tumpah ke lantai karpet yang mahal. Ia sama sekali tidak menyadari bahkan tidak peduli bahwa di luar sana, badai sedang berkumpul untuk meruntuhkan kekuasaannya.
\"Lagi! Tuangkan lagi!\" seru Goulash dengan suara serak, menyodorkan gelasnya kasar. \"Malam ini kita rayakan... rayakan atas kebodohan rakyatku ini!\"
Para wanita itu terkikik, melayaninya seperti melayani anak kecil yang manja dan berbahaya.
Tiba-tiba, suara ketukan pintu terdengar. Ketukan itu ragu-ragu, namun cukup keras untuk menembus suara desahan dan tawa di dalam kamar.
Goulash menghentikan tawanya. Wajahnya yang gembira seketika berubah menjadi beringas.
\"SIAPA?!\" bentak Goulash, suaranya menggelegar.
\"Siapa yang berani mengganggu kesenanganku?!\"
Pintu terbuka sedikit, dan seorang perwira muda muncul dengan wajah pucat pasi. Tubuhnya gemetar saat melihat pemandangan di depannya itu yang terlihat Raja Jargmund saat ini dalam keadaan setengah telanjang dan dikelilingi oleh wanita-wanitanya.
\"Ma... Maafkan hamba, Yang Mulia,\" cicit perwira itu, matanya menunduk takut. \"Hamba... hamba membawa pesan mendesak dari Dewan Perang.\"
Goulash melempar gelas emasnya ke arah pintu. Anggur merah memercik ke seragam perwira itu, membuatnya tersentak kaget.
\"Pesan?! Persetan dengan pesan!\" maki Goulash. \"Kau mengganggu pestaku hanya untuk selembar kertas?!\"
\"T-tapi, Yang Mulia,\" perwira itu mencoba menjelaskan dengan suara bergetar.
\"Para Jenderal dan ahli strategi memohon kehadiran Anda di ruang rapat. Ini... ini mengenai pembobolan penjara kemarin. Situasi di sana memanas, para tahanan kriminal mulai menunjukkan tanda-tanda pemberontakan yang dipicu oleh pelarian itu. Kami butuh perintah Anda.\"
Mendengar itu, Goulash justru mendengus jijik. Ia kembali bersandar pada wanita di sampingnya, yang mengusap dadanya untuk menenangkannya.
\"Pemberontakan? Biarkan penjaga yang mengurusnya! Untuk apa aku menggaji mereka jika aku harus turun tangan untuk setiap tikus yang berkeliaran di wilayahku ini?\" Goulash melambaikan tangannya dengan gestur mengusir.
\"Pergi kau! Katakan pada mereka aku saat ini sedang sibuk! Aku sedang mengurus urusan negara yang lebih penting sekarang!\"
Goulash tertawa lagi, tawa yang menjijikkan dan basah akan keringatnya itu yang membuat wanita-wanita di sekelilingnya ikut tertawa yang tengah menertawakan perwira malang itu, memperlakukan laporan tentang keamanan kerajaan itu sebagai lelucon untuk seorang raja.
Perwira itu, menyadari bahwa rajanya tidak bisa diharapkan pada saat genting saat ini dan ia segera membungkuk dan pergi keluar kamar rajanya, menutup pintu yang kembali meredam suara pesta pora di dalamnya.
Perwira itu berlari kecil menyusuri koridor istana, napasnya memburu karena ketakutan dan frustrasi. Ia menuju ke Ruang Strategi Utama di lantai bawah.
Di sana, suasana jauh berbeda. Ruangan itu dingin, hening, dan dipenuhi oleh aura yang mencekam.
Para ahli strategi terbaik Jargmund dan jenderal-jenderal perang duduk mengelilingi meja peta yang besar. Namun, perhatian mereka bukan tertuju pada peta, melainkan pada satu sosok yang duduk di sudut ruangan yang gelap.
Vorlag, Sang Anomali Daging dan Tulang itu jarang sekali menghadiri rapat. Ia biasanya menghabiskan waktunya di arena latihan, menghancurkan boneka latih atau prajurit malang yang menjadi lawan tandingnya.
Namun, pembobolan penjara yang memalukan itu di mana musuhnya berhasil lolos dari genggamannya yang membuatnya hadir di dalam rapat kali ini. Vorlag duduk diam dengan tombak Halberd-nya yang bersandar di bahunya, matanya yang tajam menatap kosong ke depannya.
Pintu terbuka, dan perwira muda tadi masuk dengan langkah gontai.
Salah satu ahli strategi tua, seorang pria dengan jubah abu-abu, langsung berdiri. \"Bagaimana? Di mana Raja Goulash? Kita tidak bisa mengambil keputusan eksekusi massal tanpa pendapatnya itu.\"
Perwira itu menggeleng lemah, wajahnya suram. \"Raja... Raja menolak hadir. Beliau sedang... tidak bisa diganggu.\"
Keheningan melanda ruangan itu. Semua orang tahu apa artinya jika Goulash sedang tidak bisa diganggu itu. Bermabuk-mabukan dan bermain dengan wanitanya yang menjadi kebiasaannya itu, lagi dan lagi.
Ahli strategi itu memijat pelipisnya, frustrasi. \"Maafkan hamba, di saat genting seperti ini... Raja Goulash...\"
Tiba-tiba, suara gesekan logam yang berat memecah keheningan di seluruh ruangan itu yang di mana Vorlag bangkit berdiri dari tempat duduknya. Tubuhnya yang menjulang tinggi membuat ruangan itu terasa semakin sempit. Aura intimidasi yang ia pancarkan jauh lebih mengerikan daripada kemarahan raja mana pun.
Vorlag menatap perwira itu, lalu beralih menatap para jenderal dan ahli strategi yang tampak tak berdaya tanpa perintah raja mereka. Tatapan Vorlag penuh dengan penghinaan.
Bagi Vorlag, kekuatan adalah segalanya. Dan melihat pemimpin kerajaan ini begitu lemah, begitu budak pada hawa nafsunya sendiri, membuatnya muak.
\"Dasar sampah,\" geram Vorlag, suaranya berat dan menghina semua orang yang ada di sana. \"Kalian semua... dan Raja kalian...\"
Vorlag menggenggam erat gagang Halberd-nya. \"Tidak berguna.\"
Tanpa menunggu respon dari siapa pun, Vorlag berbalik badan. Jubah beratnya berkibar saat ia melangkah keluar dari ruang rapat, meninggalkan para petinggi militer yang terdiam kaku.
Vorlag tidak peduli lagi dengan politik, rapat, atau perintah raja yang mabuk. Ia hanya peduli pada satu hal: menghancurkan mereka yang berani melukainya dan lolos darinya. Jika rajanya tidak mau bertindak, maka ia sendiri yang akan mempersiapkan dirinya.
Sang Anomali melangkah menuju tempat latihan pribadinya. Di sana, ia akan melampiaskan amarahnya, mengasah kekuatannya hingga tidak ada satu pun yang bisa menghentikannya baik manusia, penyihir, atau bencana alam yang bisa menghentikan ayunan Halberd-nya.
Pintu ganda yang berat tertutup rapat kembali. Di sekeliling meja bundar yang memanjang itu, para ahli strategi, jenderal, dan penasihat kerajaan saling berpandangan. Raja mereka mabuk, dan senjata terkuat mereka baru saja pergi karena muak. Kini, nasib pertahanan Jargmund berada di tangan orang-orang yang tersisa di ruangan itu yang berisikan kumpulan manusia yang melebihi monster dan lebih memedulikan pada posisi mereka masing-masing daripada kehormatannya.
Ahli strategi tua yang tadi berbicara mulai mengambil alih kendali. Ia membuka peta kota di atas meja dengan kasar.
\"Kita harus menemukan tikus-tikus itu,\" geramnya.
\"Pasukan revolusi tidak mungkin menghilang begitu saja ke udara. Mereka butuh makan dan mereka pastinya butuh tempat tidur. Di mana sarang mereka?\"
Hening seketika dan tidak ada yang memiliki jawaban pasti bahkan intelijen mereka buta akan informasi itu.
Tiba-tiba, seorang Jenderal bertubuh gempal dengan wajah berminyak (orang yang pernah melecehkan Kaelith dengan kekejamannya) menggeser kursi dan berbicara dengan nada tinggi yang penuh kecurigaan.
\"Masalahnya bukan hanya di mana mereka bersembunyi,\" kata Jenderal itu, matanya menyapu wajah rekan-rekannya satu per satu dengan tatapan menuduh.
\"Masalahnya adalah bagaimana mereka bisa tahu seluk-beluk penjara itu? Bagaimana mereka bisa masuk dan keluar dengan begitu rapi?\"
Ia mencondongkan tubuhnya ke depan, seringai licik terukir di bibirnya.
\"Penyusup,\" desisnya. \"Pasti ada penyusup di dalam istana ini. Atau lebih buruk lagi... pengkhianat yang duduk di meja ini bersama kita.\"
Jenderal itu menunjuk secara acak ke arah perwira lain.
\"Mungkin kau? Atau kau? Kalian yang memberikan informasi itu kepada mereka demi menyelamatkan kulit kalian sendiri saat kapal ini karam, bukan?\"
Tuduhan itu bagaikan memercikkan minyak ke dalam api.
\"Jaga mulutmu!\" seru seorang penasihat yang merasa tersinggung. \"Aku telah mengabdi pada Goulash sejak kau masih menjadi prajurit rendahan!\"
\"Omong kosong! Kau yang membiarkan patroli sektor barat longgar!\" balas jenderal lainnya.
Ruangan itu seketika berubah menjadi pasar yang gaduh. Mereka saling tuduh, saling mencurigai, dan saling berteriak. Paranoia merayap masuk, membuat persatuan mereka retak bahkan sebelum perang dimulai. Setiap orang berusaha mencari kambing hitam agar bukan kepala mereka yang dipenggal oleh Goulash atau Vorlag nantinya.
BRAK!
Ahli strategi tua itu memukul meja bundar dengan sekuat tenaga. Suara hantaman kayu keras itu menggema, seketika membungkam kegaduhan yang memalukan tersebut. Napasnya memburu, matanya melotot marah menatap mereka semua.
\"HENTIKAN!\" bentaknya.
\"Apakah kalian anak kecil?! Saling tuduh tidak akan membawa kepala pemberontak itu ke hadapan Raja! Jika kalian ingin selamat, fokus pada musuh di luar sana, bukan di sini!\"
Dalam keheningan yang dipaksakan itu, seorang perwira muda yang duduk agak di belakang perlahan mengangkat tangannya. Ia tampak gugup, keringat dingin mengalir di pelipisnya. Dia adalah perwira yang sama yang pernah menerima sogokan dari Lyra di gerbang kota beberapa waktu lalu. Ketakutan akan ketahuan bersekongkol membuatnya memilih untuk berbicara setengah kebenaran demi mengamankan posisinya.
\"S-saya...\" ucap perwira itu terbata-bata. \"Saya mendapat laporan dari bawahan saya... ada aktivitas mencurigakan yang terlihat di sekitar area pemukiman warga di Sektor Bawah. Orang-orang asing yang keluar masuk, dan pasokan makanan yang menghilang lebih cepat dari biasanya di pasar lokal sana.\"
Semua mata kini tertuju padanya. Informasi itu adalah secercah petunjuk di tengah kegelapan.
\"Pemukiman warga?\" gumam Penasihat kerajaan, matanya menyipit licik. Ia mengelus janggutnya yang tipis.
\"Tentu saja. Tikus selalu bersembunyi di antara sampah. Mereka menggunakan rakyat jelata sebagai perisai.\"
Penasihat itu kemudian menatap ahli strategi dan jenderal lainnya dengan tatapan dingin yang tak berperasaan.
\"Kita harus menyisir area itu. Geledah setiap rumah, setiap gang, setiap lubang tikus di Sektor Bawah. Gunakan kekerasan jika perlu. Kita paksa mereka bicara di mana lokasi markas utama pemberontak itu.\"
Ahli strategi itu mengerutkan kening, mempertimbangkan implikasinya. \"Dan jika mereka tutup mulut? Atau jika mereka memang tidak tahu apa-apa? Penyisiran besar-besaran akan memakan waktu.\"
Penasihat itu tersenyum tipis, senyum yang mengerikan.
\"Jika mereka tidak mau bicara...\" jawab Penasihat itu dengan mudah tanpa ada beban yang seolah-olah sedang membicarakan nyawa manusia seperti hewan ternak itu, \"...bunuh saja para prianya. Habisi mereka di tempat sebagai contoh. Lalu, seret perempuan dan anak-anak mereka ke penjara istana. Jadikan mereka sandera. Pemberontak yang sok pahlawan itu pasti akan keluar dari lubangnya jika melihat rakyat yang mereka lindungi menjerit di ujung pedang kita.\"
Mendengar rencana keji itu, tidak ada satu pun di ruangan itu yang membantah atau merasa ngeri. Sebaliknya, mereka mengangguk-angguk setuju. Itu adalah bahasa yang mereka mengerti: ketakutan dan dominasi.
Jenderal gempal yang tadi memulai keributan langsung berdiri tegak dari kursinya. Matanya berbinar penuh nafsu membayangkan kekuasaan absolut yang bisa ia paksakan kepada rakyat tak berdaya. Ia teringat Kaelith, dan hasrat untuk menghancurkan sesuatu kembali muncul.
\"Ide yang cemerlang,\" kata Jenderal itu dengan semangat.
\"Saya setuju sepenuhnya. Biar saya dan pasukan saya yang memimpin penyisiran itu. Saya akan pastikan tidak ada satu sudut pun di pemukiman itu yang luput. Jika ada yang menyembunyikan pemberontak, saya akan pastikan mereka menyesal pernah dilahirkan.\"
Keputusan telah diambil dan mereka semua bahkan ahli strategi tua itu menyetujui rencana dari penasehat kerajaan.
Rapat itu berakhir bukan dengan strategi militer yang brilian, melainkan dengan sebuah rencana pembantaian. Di balik tembok istana yang megah, perintah telah diturunkan untuk mengubah pemukiman warga menjadi neraka, sementara para iblis yang menggunakan pakaian bangsawan dan zirah kerajaannya itu hanya tersenyum puas yang merasa telah melakukan tugas mereka untuk sang Raja.
Sementara para politisi busuk di ruang rapat sibuk merencanakan kekejaman mereka, Vorlag telah tiba di tempat latihan pribadinya khusus dengan tempat yang luas dan hamparan gurun seperti arena berpasir luas yang dikelilingi oleh tembok batu tinggi di sisi barat istana.
Di hadapannya berjejer boneka-boneka latihan yang terbuat dari kayu tebal dan diisi padat dengan jerami, diperkuat dengan pelat besi di bagian dada. Vorlag berdiri malas, menggenggam Halberd raksasanya dengan satu tangan seolah senjata seberat itu hanyalah ranting pohon.
Dengan desah napas panjang yang menandakan kebosanan luar biasa, Vorlag mengayunkan senjatanya. Gerakannya terlihat lambat, tidak bertenaga, seolah ia hanya sedang mengusir lalat.
WUSH!
Namun, dampak serangannya yang mengerikan. Bilah kapak pada tombaknya membelah udara dengan tekanan angin yang tajam. Bukan hanya satu boneka yang hancur, melainkan tiga boneka sekaligus yang berdiri berderet dalam jangkauan ayunannya. Kayu tebal dan besi itu terbelah menjadi dua bagian yang rapi, bagian atasnya meluncur jatuh ke tanah dengan suara brukk yang menyedihkan, diikuti hamburan jerami yang beterbangan.
Vorlag menatap potongan kayu di kakinya itu yang tidak merasakan adanya kepuasan dan adrenalin yang memacu dirinya.
\"Lemah, semuanya rapuh seperti kaca.\" Gumamnya.
Hasrat bertarungnya yang tak terpenuhi mulai membakar di dalam dadanya, membuatnya gelisah. Ia menginginkan darah. Ia menginginkan tulang yang keras. Ia menginginkan lawan yang bisa menahan pukulannya, bukan benda mati yang hancur hanya dengan sentuhan.
Matanya yang mulai melihat dan mencari sesuatu di sekeliling tempat latihan dan berhenti pada sosok seorang perwira muda yang sedang bertugas menjaga peralatan di pinggir lapangan. Perwira itu mematung, wajahnya pucat pasi, berusaha sekuat tenaga untuk tidak melakukan kontak mata dengan raksasa itu.
\"Kau,\" suara berat Vorlag menggelegar, membuat perwira itu tersentak kaget hingga hampir menjatuhkan tombak jaganya.
Vorlag menunjuknya dengan jari telunjuk yang terbungkus sarung tangan besi. \"Ke sini.\"
Kaki perwira itu gemetar hebat, lututnya beradu satu sama lain. Ia tahu panggilan itu bisa berarti akhir hidupnya, namun menolak perintah Vorlag adalah kematian yang lebih pasti. Dengan langkah kaku dan pasrah, perwira itu berjalan mendekat hingga berdiri di hadapan sang Anomali. Ia hanya bisa menunduk, menelan ludah yang terasa seperti pasir.
KLANG!
Vorlag melemparkan Halberd-nya ke samping. Senjata berat itu menancap dalam ke tanah berpasir.
\"Serang aku sekarang,\" perintah Vorlag dengan datar. Ia merentangkan kedua tangannya, membuka pertahanannya lebar-lebar. \"Gunakan pedangmu itu dan aku akan meladenimu dengan tangan kosong.\"
Perwira muda itu mendongak, matanya terbelalak ngeri. \"T-tapi... Jenderal Vorlag... sa-saya tidak mungkin...\"
\"SERANG SEKARANG JUGA!\" bentak Vorlag, suaranya meledak seperti guntur. \"Atau aku yang akan meremukkan kepalamu sekarang juga!\"
Didorong oleh rasa takut yang murni, perwira itu mencabut pedangnya dari sarung di pinggulnya dengan tangan gemetar. Ia memegang gagang pedang itu dengan kedua tangan, namun ujung pedangnya bergoyang-goyang tak terkendali.
Vorlag memasang kuda-kuda santai. Aura pembunuh yang pekat menguar dari tubuhnya, begitu berat hingga udara di sekitar mereka terasa menipis. Perwira itu merasa seolah sedang berdiri di hadapan seekor naga buas yang siap menelannya bulat-bulat. Kakinya lemas, keberaniannya lenyap.
Vorlag mendengus kasar melihat keraguan itu.
\"MAJU! JANGAN BUANG WAKTUKU, SAMPAH!\"
Teriakan itu memutus tali kewarasan perwira tersebut. Dengan jeritan putus asa seseorang yang tahu ia akan mati hingga membuat perwira itu memejamkan matanya dan berlari menerjang. Ia mengayunkan pedang bajanya dengan sekuat tenaga, sebuah tebasan vertikal yang mengarah lurus ke puncak helm Vorlag.
TRANG!
Pedang perwira itu menghantam helm Vorlag. Namun, alih-alih membelah atau bahkan menggores helm itu, bilah pedang baja itu justru hancur berkeping-keping. Pecahan logam berhamburan ke udara seperti serpihan es.
Vorlag tidak bergerak sedikit pun. Ia tidak bergeser, kepalanya tidak tersentak, bahkan ia tidak berkedip di balik helmnya. Serangan sepenuh tenaga itu baginya tak lebih dari gigitan nyamuk.
Perwira itu membuka matanya, menatap gagang pedangnya yang kini buntung dengan horor.
\"Hanya itu saja?\" suara Vorlag terdengar dingin dan kecewa.
Sebelum perwira itu sempat mundur, tangan besar Vorlag bergerak secepat kilat. Ia mencengkeram pelat dada zirah perwira itu, meremas bajanya hingga penyok.
\"Kau membosankan!\"
Dengan auman keras, Vorlag mengayunkan lengannya. Ia melempar tubuh perwira beserta zirahnya itu seolah melempar boneka kain.
Perwira muda itu melayang di udara, melintasi separuh panjang arena latihan, sebelum akhirnya tubuhnya menghantam tembok batu di ujung sana dengan suara BUM yang mengerikan.
Tubuh perwira itu merosot jatuh ke tanah, tak bergerak lagi. Darah segar mengalir dari mulutnya, membasahi pasir di bawahnya. Ia pingsan seketika, tulang-tulangnya patah oleh benturan itu.
Vorlag menatap tubuh yang terkapar jauh di sana itu dengan tatapan jijik. Ia bahkan tidak repot-repot mengambil kembali Halberd-nya yang menancap di tanah.
\"Sampah, seluruh isi kerajaan ini hanyalah sampah.\" Caci Vorlag dengan dingin.
Tanpa menoleh lagi, Vorlag membalikkan badan dan melangkah pergi meninggalkan tempat latihan, membiarkan perwira itu sekarat sendirian, sementara rasa bosan dan amarahnya semakin memuncak, menuntut darah yang lebih layak.
Other Stories
Love Of The Death
Segala sumpah serapah memenuhi isi hati Gina. Tatapan matanya penuh dendam. Bisikan-bisika ...
Lombok; Tanah Surga
Perjalanan ini bukan hanya perjalanan yang tidak pernah diduga akan terjadi. Tetapi menjad ...
Nina Bobo ( Halusinada )
JAM DINDING menunjukkan pukul 12 lewat. Nina kini terlihat tidur sendiri. Suasana sunyi. S ...
Buku Mewarnai
ini adalah buku mewarnai srbagai contoh upload buku ...
Devil's Bait
Dari permainan kartu tarot, Lanasha meramal lima temannya akan mengalami kejadian aneh hin ...
Di Bawah Langit Al-ihya
Tertulis kisah ini dengan melafazkan nama-Mu juga terbingkailah namanya. Berharap mega t ...