The Unkindled Of The Broken Soil

Reads
930
Votes
2
Parts
51
Vote
Report
the unkindled of the broken soil
The Unkindled Of The Broken Soil
Penulis SaltSea

Bab Empat Puluh Tujuh: Langit Abu-abu Dan Kedatangan Sosok Yang Dianggap Bencana

Jalanan utama Sektor Bawah kini telah berubah menjadi ladang pembantaian yang mengerikan. Tumpukan mayat pasukan kavaleri Jargmund dan bangkai kuda memenuhi jalan, menciptakan barikade daging yang mengerikan.

Di balik dinding mayat itu, sisa-sisa bala bantuan Jargmund yang baru tiba terhenti. Wajah-wajah mereka pucat pasi, terjebak dalam dilema yang mematikan.

Mundur berarti menanggung rasa malu dan menghadapi eksekusi mati dari Raja Goulash karena kegagalan. Namun, maju berarti menyerahkan nyawa mereka kepada tiga iblis yang berdiri di sana: Sora dengan pedang api putihnya yang menyala, Vael yang menari dengan bilah kematian di atas kuda curian, dan Arelan yang bermandi darah bagaikan dewa perang yang tak terkalahkan.

Keberadaan tiga orang itu, yang menahan ribuan pasukan hanya dengan kekuatan mereka sendiri, membakar semangat pasukan revolusi yang jumlahnya tak sampai ratusan orang itu menjadi bara api yang tak terpadamkan.

Sementara itu, di lorong-lorong sempit pemukiman, Lyra bertarung dengan musuh yang berbeda: kelelahan.

Napasnya memburu, dadanya terasa sesak. Ia terus menyisir setiap rumah, memastikan tidak ada nyawa yang tertinggal. Kakinya terasa berat seperti digelayuti timah, namun ia memaksanya terus bergerak.

Lyra mendobrak pintu sebuah rumah kayu reot. Pemandangan di dalam membuat darahnya mendidih. Seorang prajurit Jargmund sedang menodongkan pedangnya ke leher seorang anak kecil yang menangis dalam pelukan ibunya yang memohon histeris.

Prajurit itu menoleh kaget saat mendengar pintu didobrak. Namun, itu adalah kesalahan terakhirnya.

Sebelum ia sempat menggerakkan pedangnya untuk menebas anak itu, belati Lyra sudah melayang. Dalam sekejap mata, pisau itu menancap di tenggorokan si prajurit. Ia ambruk seketika, darah menggenang di lantai.

Ibu anak itu langsung memeluk anaknya erat-erat, tangis ketakutan berubah menjadi tangis lega. Ia menatap Lyra dengan mata basah. \"Terima kasih... Terima kasih banyak, Nona! Kau menyelamatkan anakku...\"

Lyra tidak membuang waktu untuk basa-basi. Ia menghampiri mereka, membantu sang ibu berdiri.

\"Pergilah,\" kata Lyra dengan napas tersengal namun tegas. \"Bawa anakmu lari ke arah pasukan revolusi di luar. Mengungsilah secepat mungkin sebelum banjir datang. Jangan menoleh ke belakang.\"

Ibu itu mengangguk cepat, menggendong anaknya, dan berlari keluar rumah. Lyra mengambil belatinya yang tertancap itu lalu menyusul keluar setelahnya dan matanya kembali menyapu area di sekitarnya ketika melihat kondisi di luar.

Di persimpangan jalan, ia bertemu dengan salah satu prajurit revolusi yang sedang memapah seorang kakek tua.

\"Lapor!\" seru Lyra cepat.

\"Berapa jumlah penduduk yang berhasil kita amankan?\"

Prajurit itu menggelengkan kepala, wajahnya penuh debu. \"Aku tidak tahu angka pastinya, Nona Lyra. Tapi setidaknya ratusan orang sudah berhasil kita tarik keluar. Semua area sudah disisir oleh beberapa regu. Seharusnya sudah tidak ada lagi yang tertinggal.\"

Lyra menghela napas lega. \"Bagus. Kalau begitu kita bi—\"

Ucapan Lyra terpotong. Telinganya yang tajam menangkap suara samar.

\"Tolong!! Seseorang... tolong aku!\"

Suara itu berasal dari sebuah bangunan dua lantai yang setengahnya sudah dilalap api, tak jauh dari posisi mereka berdiri. Struktur bangunan itu tampak rapuh dan bisa runtuh kapan saja.

Lyra menoleh tajam ke arah bangunan itu. Tanpa pikir panjang, ia memberi perintah pada prajurit di depannya.

\"Kumpulkan seluruh penduduk yang sudah dievakuasi di satu titik kumpul! Pastikan mereka siap bergerak ke dataran tinggi kapan saja. Aku yang akan memberikan aba-aba selanjutnya!\"

\"Tapi Nona, bangunan itu—\"

\"Lakukan perintahku!\" potong Lyra keras. \"Aku akan menyusul setelah mengambil orang terakhir itu!\"

Prajurit itu mengangguk paham, lalu segera berlari melindungi warga yang dibawanya.

Lyra kembali memacu kakinya. Rasa sakit di otot betis dan pahanya semakin menjadi-jadi, seolah berteriak minta istirahat. Namun, Lyra mengabaikannya. Ia menoleh sekilas ke arah medan pertempuran utama. Di sana, ia melihat punggung Sora, Vael, dan Arelan yang masih mati-matian menahan gelombang musuh, membeli waktu berharga bagi evakuasi ini. Dan yang paling penting: Vorlag belum terlihat.

\"Bertahanlah sedikit lagi...\" batin Lyra, memaksa kakinya berlari menuju bangunan yang terbakar itu demi satu nyawa tersisa.

Jauh di atas tebing, di tempat persembunyian yang aman, Namien dan tim kecilnya mengawasi kekacauan di Sektor Bawah. Dari ketinggian itu, pemandangan di bawah tampak seperti lukisan neraka yang hidup; api, asap, dan darah bercampur aduk.

Namien mengetuk-ngetukkan jarinya ke batu dengan tidak sabar. Matanya terus mencari kilatan cahaya sinyal dari Veyla yang tak kunjung muncul.

\"Ck! Lama sekali!\" decak Namien kesal. \"Apa yang mereka lakukan di bawah sana? Menunggu sampai Vorlag datang untuk minum teh?\"

Feron, yang duduk bersandar di dinding batu sambil mengatur napasnya, tiba-tiba mendongak. Ia merasakan perubahan pada udara di sekitarnya. Angin bertiup lebih dingin dan lembap.

\"Namien,\" panggil Feron pelan. \"Apakah hanya perasaanku saja, atau cuaca di sini terlihat semakin gelap?\"

Mendengar itu, Namien langsung mendongak menatap langit.

Benar saja. Langit yang tadi cerah kini perlahan tertutup awan hitam tebal yang bergulung-gulung. Warna biru langit berubah menjadi abu-abu pekat yang mengancam. Aroma hujan mulai tercium samar di udara.

Wajah Namien berubah tegang. Kekesalannya memuncak.

\"Sialan...\" umpat Namien. \"Hujan? Sekarang?!\"

Ia menatap ke arah bendungan. Di sana, bubuk mesiu yang ia taburkan di atas kayu-kayu reyot itu tergeletak terbuka.

\"Jika hujan turun...\" gumam Namien, giginya gemeretak, \"bubuk mesiu itu akan basah. Daya ledaknya akan berkurang drastis. Rencana kita bisa gagal total.\"

Tim itu terdiam, menyadari bencana baru yang sedang mengintai. Mereka kini tidak hanya berpacu melawan Vorlag, tapi juga melawan alam.

\"Ayo... cepatlah...\" bisik Namien, matanya menatap nanar ke arah pasukan Veyla di bawah.

\"Berikan sinyal itu sebelum langit menangis. Jangan menunggu Vorlag datang. Dan demi segala yang ada, jangan hadapi monster itu secara langsung.\"

Namien, sang ahli strategi yang selalu penuh percaya diri, kini hanya bisa mengepalkan tangannya, menjadi penonton tak berdaya yang berdoa agar hujan menahan dirinya barang beberapa menit lagi.

Di tengah arena yang penuh darah dan lumpur, Sora, Vael, dan Arelan seolah sedang menari di atas benang tipis antara hidup dan mati. Dalam setiap ayunan senjata, batin mereka berteriak menantang takdir: Siapa yang akan mati lebih dulu? Aku atau kalian?

Arelan sudah tidak lagi peduli pada rasa sakit yang mendera tubuhnya. Kapak kembarnya kini berwarna merah pekat, terselimuti darah musuh yang tak terhitung jumlahnya. Di mata pasukan Jargmund, ia bukan lagi manusia, melainkan seekor binatang buas yang lepas kendali. Ketika Arelan meraung menyuruh mereka maju, lutut para prajurit itu gemetar hebat. Mereka terpaku di tanah, seolah sedang menatap malaikat pencabut nyawa yang siap memanen jiwa mereka.

Sora, dengan Rune api putih yang menyala terang di punggung tangannya, menebas dengan keanggunan yang mematikan. Setiap kali pedangnya menyentuh musuh, api putih itu menyebar, membakar zirah dan daging. Efek bakar itu menjalar ke samping, membuat kuda-kuda kavaleri panik, berbalik arah tak terkendali, dan menabrak kawanan mereka sendiri dalam kekacauan total.

Vael, sang ahli taktik, bertarung seperti kutu yang mematikan. Terdesak di atas kudanya, ia tidak panik. Dengan gerakan akrobatik yang nekat, ia melompat dari pelananya ke punggung kuda musuh, mengejutkan penunggangnya, lalu melempar prajurit itu jatuh sebelum mengambil alih kendali. Ia berpindah dari satu kuda ke kuda lain, menebas kiri dan kanan, mengacaukan formasi kavaleri dari dalam.

Kaelith, dari posisi tingginya, terus melesatkan anak panah untuk melindungi punggung ketiga rekannya. Namun, matanya yang tajam menangkap pergerakan aneh di garis belakang musuh.

Seorang prajurit pembawa terompet berlari tergesa-gesa dengan wajah pucat pasi. Ia menempelkan instrumen itu ke bibirnya.

TOOOOOT! TOOOOOT!

Suara terompet perang itu melengking, bukan sebagai tanda serangan, melainkan peringatan bahaya.

\"MUNDUR! CEPAT MUNDUR!\" teriak para perwira Jargmund dengan panik.

\"VORLAG SUDAH DATANG! MINGGIR DARI JALANNYA ATAU KITA SEMUA MATI!\"

Mendengar nama itu, kepanikan massal melanda. Pasukan kavaleri dan infanteri Jargmund yang tadinya garang kini lari terbirit-birit, tidak memedulikan formasi. Mereka mundur dengan cepat, meninggalkan tiga ksatria yang berdiri di tengah lautan mayat.

Arelan, yang melihat musuhnya lari, berteriak murka. \"KEMBALI KE SINI, BAJINGAN! JANGAN LARI KALIAN PENGECUT! HADAPI AKU!\" makiannya menggema, namun tak ada satu pun musuh yang menoleh.

Vael, yang merasakan kejanggalan dari pola mundur musuh yang begitu ketakutan, langsung sadar. Instingnya berteriak bahaya. Tanpa membuang waktu, ia memacu kudanya ke arah bangunan tempat Kaelith berada.

\"KAELITH! TURUN! SEKARANG!\" teriak Vael dengan nada yang tak terbantahkan.

Melihat keseriusan di wajah Vael, Kaelith langsung melompat turun dari atap rendah, mendarat di belakang pelana Vael. Vael segera memacu kudanya menjauh, membawa mereka mendekati posisi Veyla di dekat mulut selokan.

\"Apa yang terjadi? Kenapa mereka lari?\" tanya Kaelith bingung.

\"Vorlag sudah tiba,\" jawab Veyla singkat saat mereka mendekat, wajahnya tegang.

Kata-kata itu membuat Vael berpikir cepat. Ia melompat turun dari kudanya, membiarkan Kaelith tetap di atas pelana.

\"Ada apa denganmu?\" tanya Kaelith panik melihat Vael turun.

\"Bawa kuda ini,\" perintah Vael cepat. \"Pergilah ke tempat aman bersama Lyra dan penduduk. Urus sisanya nanti. Biarkan kami bertiga yang menahan ini.\"

Wajah Kaelith berubah frustasi. \"Apa?! Tidak! Aku tidak bisa meninggalkan kalian bertiga di sini sendirian melawannya!\"

Kaelith bersiap untuk turun dari kuda, hendak membantah. Namun, Vael tidak memberinya kesempatan.

PLAK!

Dengan keras, Vael menampar pantat kuda itu.

Binatang itu meringkik kaget dan langsung melesat kencang menuju terowongan selokan air, membawa Kaelith menjauh.

\"VAEL! TUNGGU!\"

Teriakan kesal dan putus asa Kaelith terdengar memanggil nama mereka, namun Vael tidak menoleh. Ia tahu Kaelith harus pergi sebelum monster itu muncul.

Setelah memastikan Kaelith aman, Vael berlari kembali ke tengah jalan, tempat Sora dan Arelan sedang mengatur napas.

Arelan melihat Vael datang dan meringis sambil memegang bahu kanannya. \"Hei, Vael... bantu aku sebentar.\"

Vael melihat posisi bahu Arelan yang aneh. Dislokasi. Akibat terlalu banyak mengayunkan kapak seberat itu. Tanpa peringatan, Vael mencengkeram lengan Arelan dan menyentaknya.

KRAK!

\"Erghhh!\" Arelan menggeram menahan sakit saat tulangnya kembali ke posisi semula. Ia memutar lengannya beberapa kali.

\"Sudah cukup?\" tanya Vael.

\"Lebih dari cukup,\" seringai Arelan liar, kembali menggenggam kapak kembarnya erat-erat.

Suara derap langkah kuda tunggal mulai terdengar. Lambat, berat, dan penuh intimidasi.

Veyla, yang merasakan aura mencekam mendekat, segera berteriak pada sisa pasukan revolusi. \"MUNDUR! KOSONGKAN AREA INI! MASUK KE SELOKAN!\"

Pasukan revolusi menurut dengan cepat. Veyla mundur hingga ke mulut pintu masuk selokan, matanya tak lepas dari jalan utama, bersiap menunggu kedatangan Lyra untuk sinyal terakhir.

Di tengah jalan yang kini sunyi dari teriakan perang, Vael, Sora, dan Arelan berdiri berjajar.

\"Kalian siap?\" tanya Vael pelan, matanya menatap kabut debu di depan.

\"Aku tidak peduli,\" jawab Arelan. \"Tapi aku akan kerahkan semua yang kupunya.\"

Sora hanya mengangguk. Tatapannya tajam lurus ke depan, Rune di tangannya berkobar lebih terang, merespons ancaman yang datang.

Dan akhirnya, dari balik kabut debu itu, ia muncul.

Seekor kuda perang raksasa berwarna merah darah melangkah keluar. Di atasnya, duduk sosok setinggi dua meter yang mengenakan zirah hitam pekat yang menyerap cahaya. Tidak ada satu pun goresan pada zirah itu, seolah perang barusan tidak pernah menyentuhnya. Di tangannya, tergenggam sebuah Halberd besar yang memancarkan aura kematian.

Vorlag, Sang Anomali Daging dan Tulang, kini berdiri tepat di hadapan mereka bertiga.

Vorlag berdiri tegak di tengah medan pertempuran, menatap tiga sosok di hadapannya dengan tatapan yang sulit diartikan. Di sekelilingnya, tumpukan mayat manusia dan bangkai kuda menciptakan pemandangan mengerikan, namun Vorlag justru terkekeh pelan. Suara tawanya rendah, bergetar di dalam zirah hitamnya.

\"Kalian benar-benar orang yang beruntung,\" ucap Vorlag, suaranya tenang namun mencekam.

\"Aku membiarkan kalian lolos saat lari dari penjara itu karena aku bosan. Tapi sepertinya keberuntungan itu membuat kalian menjadi sombong.\"

Vorlag turun dari kuda merah raksasanya dengan gerakan santai. Kaki besinya menghantam tanah, menimbulkan bunyi dentuman berat. Ia mengangkat Halberd-nya, ujung mata pisau senjata itu terarah lurus ke wajah Sora.

\"Dan kau...\" lanjut Vorlag, matanya berkilat di balik helm. \"Kau masih ingin menantangku setelah selamat dari kematianmu waktu itu? Dengar baik-baik, Bisu. Kau tidak akan mendapatkan kesempatan kedua kali ini.\"

Vorlag mengayunkan Halberd-nya sekali ke udara dengan sebuah gerakan pemanasan yang menciptakan angin kencang lalu memasang kuda-kuda santai. Ia merentangkan tangan kirinya, mengundang mereka.

\"Berusahalah untuk menghiburku,\" tantang Vorlag dingin. \"Jika kalian membosankan, aku tidak akan segan-segan membunuh kalian layaknya sampah.\"

Provokasi itu menyulut sumbu amarah Arelan yang sudah pendek. Walau ia tahu siapa monster di hadapannya, ego dan adrenalinnya tidak membiarkannya diam dihina.

\"JANGAN BANYAK BICARA, BAJINGAN!\"

Arelan menerjang maju dengan teriakan perang, kapak kembarnya siap membelah zirah hitam itu. Vorlag hanya tersenyum sinis di balik helmnya. Ia tidak bergerak dari posisinya, membiarkan Arelan masuk ke dalam jangkauan serangannya.

Saat kapak Arelan mengayun turun, Vorlag menggerakkan Halberd-nya dengan kecepatan yang tak masuk akal untuk senjata sebesar itu.

Vorlag menangkis serangan Arelan dengan mudah dan santai, lalu memutar gagang senjatanya, menghantam sisi tubuh Arelan dengan keras hingga Arelan terhuyung ke samping, pertahanannya terbuka lebar.

Melihat celah itu, Vael tidak membuang waktu. Ia bergerak secepat kilat dari sisi buta Vorlag, pedang Thelan mengarah ke celah leher zirah Vorlag.

Namun, Vorlag adalah anomali. Ia tidak perlu melihat untuk tahu. Dengan gerakan memutar tubuh yang fluida, Vorlag menghempaskan Arelan lebih jauh dengan satu dorongan Halberd, lalu kaki kanannya melesat menendang ke arah Vael yang sedang melayang di udara.

BUAGH!

\"Ugh!\"

Vael mencoba menahan tendangan itu dengan menyilangkan pedangnya, namun kekuatan tendangan Vorlag seperti dihantam batang pohon besar. Vael terhempas jauh ke belakang, berguling di tanah lumpur sebelum bisa berhenti.

Kini giliran Sora. Memanfaatkan momen Vorlag yang baru saja menendang, Sora maju dengan kecepatan penuh, Rune api putihnya menyala terang. Ia berharap kecepatannya bisa mengimbangi monster itu.

Namun, Vorlag justru menggenggam Halberd-nya dengan kedua tangan dan, alih-alih bertahan, ia merangsek maju menyambut Sora. Sora terkejut. Kecepatan Vorlag ternyata setara, bahkan mungkin melebihi dirinya.

Vorlag mengayunkan senjata besarnya secara horizontal. Sora terpaksa membatalkan serangannya dan melompat menghindar ke samping. Namun, Vorlag tidak berhenti. Ia melepaskan satu tangan dari senjatanya dan melancarkan pukulan tangan kosong secepat kilat ke arah Sora yang baru mendarat.

BAM!

Sora hanya sempat menyilangkan kedua tangannya di depan dada untuk menangkis. Benturan itu begitu keras hingga Sora terseret mundur beberapa meter dengan posisi berdiri, kedua lengannya terasa mati rasa seketika.

Hening sejenak.

Arelan bangkit dengan susah payah, darah segar mengucur dari sudut bibirnya. Tubuhnya mengerang kesakitan, setiap tulang rasanya retak. \"Bajingan...\" umpatnya sambil meludah darah.

Vael bangkit perlahan, memegangi dadanya. Napasnya pendek dan tajam; ia tahu ada tulang rusuknya yang retak atau patah akibat tendangan tadi.

Sedangkan Sora, ia menatap Vorlag dengan tatapan tajam dan waspada. Ia menyadari kenyataan pahit: kekuatan fisik dan kecepatan Vorlag berada di level yang berbeda. Rune-nya mungkin kuat, tapi tubuh Vorlag adalah senjata itu sendiri.

Vorlag kembali ke posisi santainya, menancapkan ujung Halberd ke tanah.

\"Menyedihkan,\" ejek Vorlag.

\"Kalian bertiga hanyalah sampah. Seperti anak kecil yang sedang bermain pahlawan-pahlawanan dengan pedang kayu. Kalian tak layak disebut pejuang.\"

\"KAU—\" Arelan hendak maju lagi, emosinya meledak.

\"ARELAN! TAHAN!\" bentak Vael keras, menahan rasa sakit di dadanya. \"Jangan termakan provokasinya! Dia sengaja memancingmu agar kau ceroboh!\"

Arelan berteriak kesal, memukul tanah dengan kapaknya, namun ia menahan diri. Vorlag melihat Arelan dengan senyum sinis yang meremehkan.

\"Dengar,\" kata Vorlag, suaranya penuh penghinaan. \"Kemampuan kalian bertiga sejajar dengan tumpukan sampah di sana. Kalian berada jauh di bawahku.\"

Sora, Vael, dan Arelan perlahan berkumpul kembali, membentuk formasi segitiga defensif. Napas mereka berat, keringat dingin bercampur darah membasahi tubuh.

\"Mustahil menyerang secara frontal,\" bisik Vael, matanya tak lepas dari pergerakan Vorlag.

\"Setiap serangan kita terbaca. Kekuatannya terlalu besar untuk ditahan.\"

\"Senjatanya...\" geram Arelan, matanya tertuju pada tombak kapak raksasa di tangan Vorlag.

\"Kita harus memisahkan dia dari Halberd sialan itu. Selama dia memegang jangkauan sejauh itu, kita akan mati perlahan-lahan dicincang.\"

Sora hanya bisa terdiam. Ia mengangguk lemah. Dalam batinnya, ia mengakui bahwa saat ini ia tak bisa melakukan apa-apa selain menghindar dan menahan. Memberikan satu serangan telak saja terasa mustahil tanpa mengorbankan nyawa.

Sora sudah kehabisan akal taktis. Vael hampir mencapai titik putus asa karena setiap strateginya mentah. Dan Arelan, tubuhnya sudah melampaui batas fisik, hanya digerakkan oleh tekad dan amarah.

Mereka bertiga berdiri di sana, babak belur dan terdesak, dengan satu tujuan tersisa yang menyedihkan: Bertahan hidup untuk beberapa menit lagi dan berharap banjir datang sebelum Vorlag memutuskan untuk mengakhiri permainannya ini.


Other Stories
Seoul Harem

Raka Aditya, pemuda tangguh dari Indonesia, memimpin keluarganya memulai hidup baru di gem ...

Hikayat Cinta

Irna tumbuh dalam keyakinan bahwa cinta adalah sesuatu yang harus ditemukan—pada seseora ...

Melupakan

Agatha Zahra gadis jangkung berwajah manis tengah memandang hujan dari balik kaca kamarn ...

Kita Pantas Kan?

Bukan soal berapa uangmu atau seberapa cantik dirimu tapi, bagaimana cara dirimu berdiri m ...

Kastil Piano

Kastil Piano. Sebuah benda transparan mirip bangunan kastil kuno yang di dalamnya terdapat ...

Deru Suara Kagum

Perlahan keadaan mulai berubah. Pertemuan-pertemuan sederhana, duduk berdekatan , atau sek ...

Download Titik & Koma