Pesan Dari Hati

Reads
3.8K
Votes
0
Parts
19
Vote
Report
Penulis Nenny Makmun

5. When Jo Love Sara

Awalnya semua hanya bisik-bisik beberapa teman asrama putri The Lady mengatakan, ”Aku beberapa kali melihat Jo dengan Sara anak akuntansi lho Ri.”
Sempat Niken, Resti teman kampus juga bilang pada Riri lihat Jo lagi makan bareng dengan Sara di kantin Akutansi. Tapi entah kenapa Riri juga tidak mau terlalu mempermasalahkan apalagi memang Jo anaknya supel.
Jadi menurut Riri mereka Jo dan Sara hanya berteman biasahanya saja beberapa kali terlihat bersama jadi sepertinya dekat sekali.itu yang ada dalam pikiran Riri.Kali ini bukan Sucita lagi yang menginformasikan kalau dirinya berpapasan dengan Jo yang sedang bersama Sara. Tapi Vina seberang kamarnya.
Awalnya Riri biasa saja, apalagi Jo juga tidak pernah menyinggung cewek lain setiap pertemuan mereka.Tapi memang pertemuan mereka agak berkurang frekuensinya, bebarapa minggu terakhir ini Riri jarang bersama Jo.
Jujur sih ada rasa kehilangan karena Riri kehilangan teman ngobrol yang asik, bersahabat dengan cowok kadang terasa lebih nyaman karena bisa terbuka juga lebih aman. Mereka lebih bisa menyimpan rahasia daripada dengan pertemanan cewek.
Kalaupun Jo dekat dengan Sara, pasti juga karena Jo butuh teman lain yang bisa dijadikan teman baik, yah seperti dirinya meskipun bersahabat dengan Jo tapi nyatanya masih ada Rehan, Andre, Vito dan beberapa teman cowok yang biasa silih berganti bermain ke asrama putrinya dan kadang berboncengan untuk menyelesaikan tugas-tugas kampus.
Ada juga Dika yang mengajaknya tetap menekuni bela diri pencak silat, kebetulan di kampusnya Merpati Putih juga ada jadi Riri masih tetap melanjutkan aktivitas olah raga ini untuk tetap menjaga kebugaran. Bukan lagi untuk menciptakan ketakutan cowok agar tidak bisa dekat seperti waktu SMU yang didukung papanya.
Sekarang di kampus Riri sudah memutuskan tidak lagi ikut pencak silat untuk menjadi atlit tanding seperti saat duduk di kelas tujuh sampaidua belas. Riri hanya ingin staminanya terjaga, dengan berlatih dua kali seminggu untuk pernapasan dan pelenturan sudah cukup membuat otot-otot, sendi-sendi dan tulang-tulangnya yang kaku berkutat de-ngan mata kuliah kampus teknik kembali normal.
Bisa dibilang Riri tidak pernah sakit, tapi tiba-tiba terlin-tas ingatannya pada Jo kalau nyatanya Jo pernah menemaninya dua kali ke dokter pertama saat Riri sakit gigi ternyata ada lubang kecil di gigi gerahamnya dan harus ditambal dan kedua sakit akibat menstruasi yang tidak kunjung berhenti akibat Riri terlalu tegang menghadapi ujian akhir dan obatnya hanya tidak boleh terlalu stres.
Jo! Riri jadi ingat Jo lah yang sabar menungguinya selama dia berobat. Jo yang memegang tangannya memberikan ketenangan karena Riri paling takut ke dokter gigi.
Secara rutin papanya selalu mengingatkan untuk cek gigi setiap enam bulan sekali, nyatanya papa yang sudah tidak over protective makanya tidak lagi mengingatkan untuk selalu rajin cek kesehatan gigi, membuat Riri melupakan kebiasaan tersebut sampai merasakan sakit kalau giginya berlubang sangat kecil.
Untung Jo punya dokter gigi langganan jadi Riri tidak perlu harus pulang ke Cibubur untuk memeriksa giginya yang sakit. Jo sabar menunggui dan sempat menggodanya kalau si tomboy yang takut dengan dokter gigi.
Memang sih, dari kecil Riri sudah takut urusan ke dokter gigi atau ke dokter umum kalau sakit. Untung ada papa yang selalu sabar membujuk dan menemani. Sekarang ada Jo sepertinya Jo bisa jadi penjaga buat dirinya setelah papa. Itu yang Riri harapkan sayangnya Jo terlalu santai dan hanya menganggap dirinya hanya sahabat dekat. Ah kenapa sih Jo tidak mau menjadikan dirinya sebagai kekasih. Riri benar-benar berharap karena sudah melewati enam semester kebersamaan.
Jo juga menunggui dirinya saat dia berobat pada dokter kandungan karena mendapat anjuran kalau menstruasi yang tak kunjung berhenti lebih baik langsung ke dokter obgyn*. Jo juga tidak keberatan menunggui bersama pasien yang kebanyakan ibu-ibu hamil dan ditunggui pasangannya.
Mereka sempat tertawa-tawa tentang status mereka yang dikira pasangan usia perkawinan dini. Riri jadi merindukan Jo yang sudah setengah bulan ini tidak mampir meluangkan waktu sekedar ngobrol ke asramanya.
Mau SMS atau telepon Riri merasa gengsi juga, nanti Jo menganggapnya dia terlalu berani. Selama ini Riri menyimpan perasaan cinta rapat di hatinya. Walaupun seharusnya menurut Sucita seharusnya sih Jo bisa membaca sikap Riri yang menunjukan rasa sayang lebih sekedar sahabat makanya Sucita bingung Jo itu pura-pura tak peduli kalau Riri mencintai atau memang benar-benar tidak merasa dicintai. Sucita jadi gemas tapi juga nggak mau terlalu urusan dengan hubungan mereka yang aneh menurut Sucita.
“Jo itu sepertinya sibuk ngurusin si Sara lagi Ri,” kata Sucita hati-hati.
Sucita tidak ingin Riri terluka sebenarnya, tapi melihat gelagat Riri yang tenang seakan tidak peduli Jo mau jalan dengan siapa saja membuat Sucita gemas juga akan hubungan mereka yang tampak semakin aneh saja.
“Ya sudahlah biarin aja, Jo mau jalan dengan Sara atau cewek lain manapun! Hubungan aku dan Jo juga hanya persahabatan saja kok,” jawab Riri tetap mengerjakan mata kuliah Mekanika Teknik yang menguras konsentrasinya.
“Riri Riri...kamu yakin hanya persahabatan dengan Jo? Aku sih tidak yakin kamu bakal tegar kalau akhirnya Jo memang jalan dengan Sara dan sudah tidak ada lagi waktu untuk sahabat setianya.” Cibir Sucita.
Riri hanya mengangguk-angguk dan memandang sekilas Sucita lalu meneruskan mengerjakan tugas di depan laptopnya. Jujur hati Riri juga resah, perasaannya benar-benar gundah nyatanya setiap nama Sara disebut. Awalnya biasa saja tapi semakin hari nyatanya Jo juga sudah tidak ada waktu lagi buat dirinya.
Riri mulai kehilangan dan merindukan Jo untuk menemani seperti waktu-waktu lalu. Tapi Riri kembali tersadar status hubungan mereka hanya persahabatan, Jo tidak pernah berniat untuk mengikat dirinya dan menjadikan pacar.
“Riri, Riri kamu hanya sahabat untuk Jo atau setidaknya sahabat spesial... ah tetap ‘sahabat’ juga kan judulnya!” hati Riri berteriak akan sebuah realita kebersamaan mereka hampir tiga tahun ini.
Beruntung ujian semakin dekat Riri bisa sejenak melupakan gosip-gosip jadian seputar Jo dan Sara, walau Riri sungguh butuh Jo untuk menerangkan mata kuliah Elemen Mesin yang akan membuat dirinya kesulitan.
Sewaktu Jo belum dekat dengan Sara, mereka akan mengupas habis bersama materi ujian tapi sekarang Riri tidak bisa berharap banyak. Jo tidak punya waktu lagi untuknya.
Riri banyak tahu kalau Jo sedang dekat dengan Sara, tetapi saat mereka bertemu ternyata Jo sepertinya enggan menceritakan tentang apa yang tengah terjadi antara dirinya dan Sara. Tak sekalipun Jo menceritakan tentang Sara.
Riri seperti biasa hanya menunggu sampai Jo bercerita tentang dirinya dan Sara. Apalagi untuk hal ini pada kenyataannya Riripun takut kalau harus kehilangan Jo sesungguhnya. Hatinya apakah sudah bisa menerima kalau Jo akhirnya menjauh hanya karena sudah memilih seseorang yang benar-benar spesial. Ah Riri merasa lara hati bila ini benar adanya.
Sebuah perjalanan tiga tahun yang sia-sia, Jo tidak pernah akan memintanya lebih selain hanya sahabat!
***
Dan sekarang Riri memandang resah langit yang cerah dari balik jendela kamar asrama The Lady, sekarang malam Minggu dan hari ini Jo ulang tahun.
Tadi siang Riri sudah menelepon Jo mengingatkan bisakah mereka bertemu dan merayakan ulang tahunnya.
Melakukan ritual yang sudah dijalani dalam rentang tiga tahun. Makan bersama, ngobrol apapun dan memberikan sesuatu. Lalu membuat doa harapan dengan bertambahnya usia.
“Jo aku sudah siapkan sesuatu untukmu, malam nanti ke asrama ya.” Riri berusaha riang saat meneleponya.
Dalam hatinya ada degup kencang karena Riri kali ini yakin akan mengatakan perasaan hatinya pada Jo malam nanti saat merayakan ulang tahun Jo.
Riri tidak peduli lagi akan dibilang murahan atau gampangan! Kali ini saat Jo ulang tahun adalah saat yang tepat baginya untuk mengungkapkan rasa yang terpendam setelah tiga tahun kebersamaan.
Riri tersenyum menimang kadonya yang berisi sebuah mug dengan foto-foto mereka saat bersama, ada saat mereka sedang ngopi di Starbuck, Coffe Bean atau sekedar nge-teh di warung depan asramanya dan lesehan nasi kucing di bilangan daerah Fatmawati.
Bersama Jo sudah banyak berbagai makanan dan minuman dicoba dari yang mewah sampai yang emperan.
Tapi tampaknya Riri harus menerima kekecewaan, sengaja malam ini dia berdandan sesuatu hal yang hampir dia tidak lakukan.
Demi memberikan kejutan pada Jo maka Riri belain sedikit memoles wajahnya natural.
Waktu lalu Jo pernah berkata, ”Riri kamu tuh manis tapi aduh kelewat tomboy, cobalah sesekali ber-make-up, enggak masalah rambut kamu pendek habis! Tapi sesekali memakai baju feminim. Sesekali ajalah untuk intermezzo.”
“Aku sudah berdandan Jo dan ini hanya untuk kamu! Tapi sepertinya benar aku sudah tidak ada artinya buat kamu.” Hati Riri resah menunggu kedatangan Jo yang tadi siang diiyakan.
Sabtu malam Jo benar-benar tidak datang dan tanpa kabar. Riri merasa sangat pedih, kali ini dia merasakan sakitnya hati karena cinta. Rasa peduli yang selalu dikedepankan nyatanya itu hanya kebohongan, bagaimanapun hatinya memiliki rasa yang tidak mau diajak kompromi dengan otaknya yang mengajaknya untuk cuek.
Di hari Minggu pun Jo tidak datang dan tetap tidak ada kabar. Riri berniat memberikan kadonya Senin saja setelah mata kuliah Metodologi Penelitian Teknik Industri.
Tentu saja Riri tidak tahu karena Jo memang sengaja memilih mendiamkan atas ingkar janji malam Minggu akan merayakan ulang tahun dirinya bersama Riri seperti yang sudah tiga tahun dilakukan.
Malam Minggu Jo habiskan merayakan ulang tahun bersama gadis yang tentunya spesial saat ini, siapa lagi kalau bukan Sara. Memang Jo belum lama mengenal Sara tapi untuk pertma kalinya juga dalam masa perkuliahan yang semua hanya sekedar sahabat termasuk Riri, Jo tidak bisa memperlakukan Sara seperti lainnya. Sara terlalu istimewa hadir tiba-tiba, membuat Jo melupakan Riri terutama yang merupakan sahabat terdekat dari semester awal dan teman-teman lainnya.
Kehadiran Sara begitu menyita waktu, tenaga dan juga konsentrasi diri Jo. Apalagi mendapatkan Sara juga bukan hal yang mudah.
Sara sangat sempurna, cantik, tinggi, langsing dan wajahnya yang indo balsteran Indonesia Belanda sangat memikat. Belum lagi dia sudah magang sebagai presenter di salah satu TV swasta, yah walau sifatnya yang posesif juga dominan tapi sejauh ini Jo merasa itu sebagai ungkapan rasa memiliki Sara yang besar terhadap dirinya.
Jo tidak merasa sifat rasa memiliki Sara adalah sifat yang akan membuat dirinya menjadi bosan dan terasing dengan orang-orang yang selama ini dekat dengannya.
***
Jo datang tergopoh-gopoh dan Riri sudah memasang wajah juteknya, Jo tahu Riri sangat marah.
“Ri...maaf maaf ya...aku...” belum selesai Jo menyelesaikan kalimat maafnya.
“Nih aku cuma mau kasih ini Jo,\" Riri menyodorkan tas kertas berisi mug yang sudah dibungkus rapi juga di dalamnya.
\"Wow terima kasih ya Ri,\" Jo menimang sekilas.
Dua minggu tidak bertemu menimbulkan kecanggungan yang teramat sangat, Riri merasa di antara mereka tercipta sebuah jarak yang jauh terbentang. Entah kenapa Riri tidak bisa lagi besikap santai seperti biasanya. Jangankan mengacak-acak rambut Jo seperti yang kerap dilakukan saat ulang tahun waktu lalu atau saat bercanda berlebihan.
Tiba-tiba Jo berubah menjadi orang yang sangat asing baginya. Dan tampaknya Jo juga tidak ingin membahas semuanya apa yang tengah terjadi dan tidak meminta maaf lebih lanjut dengan menjelaskan alasan kenapa tidak datang pada malam Minggu sesuai janjinya.
Keinginan Riri mengungkapkan rasa hatinya menguap begitu saja, ada yang harus di simpan dalam hatinya sendiri tentang rasa cintanya yang akhirnya Riri sadar kalau diungkapkan hanya akan mempermalukan dirinya sendiri.
Tiba-tiba...
\"Jooooo...\"
Suara manja nyaring memanggilnya.
Riri bisa melihat perubahan Jo antara sumringah tetapi juga mendadak pucat, bahkan dengan sengaja tiba-tiba Sara cewek ayu berwajah indo langsung mencium pipinya di depan Riri.
Dan yang lebih membuat Riri salah tingkah sorot biru mata Sara memandangnya dengan tidak suka. Riri baru sadar kalau cewek bernama Sara yang banyak di dengar memang sangat cantik dan dapat kesempatan magang di stasiun TV swasta sebagai presenter membuat dirinya tenar. Tubuhnya juga tinggi semampai tapi lebih berisi, beda dengan tubuh Riri yang tinggi semampai tapi kurus dan tirus.
Sara langsung bergelayut manja pada lengan Jo, Riri merasa jengah, air matanya rasanya sudah tinggal jatuh saja, ada rasa perih menusuk-nusuk hatinya. Nyatanya hati ini sangat terluka, Riri tersadar dirinya benar-benar mencintai Jo selama ini dan tidak hanya ingin sebagai sahabat saja.
\"Oke Jo, aku balik ya.\"
Tanpa bermaksud tidak sopan tanpa menunggu jawaban Jo dan Sara yang memandangnya tajam, Riri segera membalikan dirinya dan berlari. Lebih pedihnya Jo juga tidak ada suara apapun atas situasi yang membuat dirinya seakan hanya seorang pecundang bukan lagi sahabat yang amat disayangi Jo.
\"Entah sampai kapan aku bisa mengubur rasa sakit hati ini Jo?\" Riri memandang foto mereka berdua yang penuh coreng moreng roti tart.
Foto ini adalah ulang tahun Riri ke dua puluh tahun, waktu itu Jo mengadonya kaos bertuliskan Jo-Ri On The Hearts Riri disuruh langsung memakainya, saat memasukan kepalanya pada kerah oblong kaos pemberian Jo di saat bersamaan Jo menimpuk dengan kue tart kecil dan jepret kamera telah memotret mereka berdua.
Ternyata Jo meminta seorang waitres mengambil gambar saat dia mengerjain Riri.
\"Hmmm...\" Riri menarik napas dalam.
Sekarang semua kenangan tentang Jo tengah Riri rapikan dalam kardus unik yang dia dapat di toko Alat Tulis Kantor Papper Clip. Bagaimanapun Riri ingin menyimpan semuanya tetap dengan keunikannya.
Mungkin banyak orang apabila sakit hati akan membuang atau mengemasi barang-barang kenangan seadanya saja! Masuk ke box sampah, asal masuk saja ke tas plastik dikem-balikan pada pemberinya, diberikan pada orang atau di buang begitu saja.Untuk menyimpan kenangan tentang Jo, Riri sengaja mencari kardus yang unik.
Dan tak terasa banyak sudah pernak-pernik mengingat Jo memenuhi kardus coklat bergambar Tedy beartengah memakai kaos bergambar hati. Riri menyusun dengan sangat rapi.
Ada buku diary dari Jo, novel, komik, gantungan kunci Singapura oleh-oleh saat Jo ke Singapura, kaos, topi, foto-foto kebersamaan, CD, kaca mata hitam, gelang plastik, cincin, boneka monyet, boneka kecil panda, mug, lukisan kertas wajah berdua saat main di daerah Melawai, kalung persa-habatan dan sapu tangan.
Untuk terakhir Riri memasukan foto yang selama ini terpajang di meja belajarnya. Kemudian menutup rapi dengan mengaitkan pita yang jadi kuncinya lalu meletakan di atas lemari kayu baju. Sekilas terlihat box unik itu seperti hiasan.
\"Aku harus bisa melewati sisa kuliah dengan melupakan Jo, ah aku jadi mendadak kangen papa. Mungkin papa mengira kalau Jo adalah pengganti beliau untuk melindungiku, yah ternyata hanya cinta bertepuk sebelah tangan. Maafkan aku Papa, sepertinya memang hanya kamulah saat ini yang paling tepat menjadi my best bodyguard.\" Riri menggumam sendiri.
Tiba-tiba Riri merindukan over protective papanya yang sudah sangat berkurang setelah kuliah terlebih setelah sempat berkenalan dengan Jo.
Setelah tanpa sengaja Riri mengenalkan Jo dengan papa. Saat itu Jo sedang bertamu dan tiba-tiba papa mengunjungi ke asrama Riri setahun lalu.
Riri merasa sangat bahagia saat itu dua pria yang sama-sama disayangi bisa saling diskusi. Bahkan papa mengacungkan jempol sebagai tanda setuju kalaupun Riri dekat dengan Jo, dilanjutkan papa selalu menanyakan kabar dia dengan Jojo.
Saat itu Riri tidak bercerita status mereka sebenarnya, Riri tidak mau papanya tahu kalau saat itu mereka hanya sahabatan, karena Riri ingin memperjuangkan cintanya dan yakin akan mendapatkannya.

Other Stories
Hujan Yang Tak Dirindukan

Mereka perempuan-perempuan kekar negeri ini. Bertudung kain lusuh, berbalut baju penuh no ...

Haura

Laki-laki itu teringat masa kecil Haura yang berbakat, berprestasi, dan gemar berpuisi, na ...

Boneka Sempurna

Bagi Abrian, hidup adalah penjara tanpa jeruji. Selama bertahun-tahun, ia adalah korbam ta ...

Kating Modus!

Kisah seorang pemuda yang mengikuti organisasi internal di kampusnya. Ia diberi mandat ole ...

Mereka Yang Tak Terlihat

Saras, anak indigo yang tak dipahami ibunya, hidup dalam pertentangan dan kehilangan. Saat ...

Tukar Pasangan

Ratna, wanita dengan hiperseksualitas ekstrem, menyadari suaminya Ardi berselingkuh dengan ...

Download Titik & Koma