9. Meet With Cornel
Menulis di buku hariannya perjalanan hari ini tanpa terasa Riri tertidur dan terbangun saat sengatan matahari cerah menembus celah jendela kamarnya, menerjang di sela-sela korden kamar hotel.
Riri mengulet dan membuka korden melihat padatnya bangunan Singapura yang masih terasa senyap. Riri teringat di Jakarta jam tujuh apalagi hari Senin pasti jalanan pasti sudah sangat padat.
“Menyeduh coffe The House of Robert Timms decaffeinated coffe bag sepertinya enak nih,\" Riri membuka bungkus kopi yang disediakan hotel Marina Bay Sands yang berbentuk kemasan kertas dan menyeduhnya persis sepeti teh celup.
Sambil melihat HBO yang tengah menayangkan film animasi The Brave. Cerita awalnya sih bisa terbilang biasa, mengisahkan tentang seorang anak perempuan yang memiliki problem dengan ibunya.
Di sini ibunya Merida bernama Elinor, yang adalah seorang ratu yang ingin mempersiapkan anaknya tersebut untuk bisa menjadi sama seperti dirinya di kemudian hari nanti. Namun sayangnya Merida tak suka, ia yang sangat menyukai memanah dan berkelana di alam liar, atau bisa terbilang agak tomboy dari hobi, sama sekali tak mau dipaksakan untuk menjadi anggun selayaknya wanita terhormat di dalam kerajaan.
***
Udara Singapura di hari Senin pagi ini segar dan tampak cerah.
“Pagi ini aku ingin coba berenang di kolam renang dekat restauran The Club.\" Riri senyum-senyum sambil mengganti baju tidurnya dengan baju renang.
Dengan memakai baju handuk bermodel jas panjang ada tali sebagai sabuk yang di sediakan pihak manajemen hotel Riri naik ke lantai 55 lalu transfer dua lantai menuju ke lantai 57.
Sampai di kolam renang dekat restoran The Club sudah banyak yang berjemur, kadang nggak habis pikir orang kaya raya banyak sementara orang miskin juga banyak. Demi kenikmatan berlibur entah berapa puluh juta uang dihabiskan. Riri mengkalkulasi berapa dolar Singapore telah dihabiskan untuk semalam menginap di negeri singa putih.
“Ah bodo amat emang gue pikirin, daripada uang melayang buat Jo dan mamanya mending gue abisin, hmmm lagian ini tidak ada seberapanya!\" hati Riri masih penuh menyimpan rasa dendam dan amarah.
Rebahan sembari memesan orange juice dengan kaca mata hitam tetap serasa menjadi orang hilang. Baru kali ini Riri berpergian sendiri tanpa pamit dan rasanya sangat hampa, tapi sudahlah Riri mencoba menikmati walau hatinya sangat galau.
Riri sekilas memperhatikan para lifeguard atau penjaga kolam yang bertubuh six pack dan tampan.
\"Riri Riri di dunia cowok itu bukan hanya Jo masih banyak sekali orang ganteng berseliweran dan mana mungkin sih tidak ada pria selain Jo yang dikirim Tuhan buat diriku.\" Riri berbicara dengan hatinya.
Riri ikut bersenandung dan bergoyang-goyang saat musik menghentak lagu Lambada Kaoma, ”Chorando se foi quem um dia so me fez...chorarchorando estara, ao lembrar de um amorque um dia nao soube cuidar...chorando estara, ao lembrar de um amor. “
Lagu beat cepat membuat gairah hidupnya sejenak terbakar. Riri geli melihat hampir semua pengunjung berfoto narsis dengan latar belakang keindahan Singapura yang terbentang pada ketinggian lantai 57.
Hotel Marina Bay Sands yang dari taman Marlion park berbentuk gambar kapal dengan di sangga tiga pilar yang merupakan tower 1, 2 dan 3 banyak membuat orang penasaran. Jelas tampak dari jauh sangat glamour.
Untuk hanya melihat saja kolam renang ini, tidak diizinkan berenang bisa dilakukan dengan membayar sekitar 20 dollar Singapura, hanya bisa bersantai di area kolam renang atau menara pandang. Kebanyakan pengunjung kolam tidak berenang, melainkan sibuk bergaya di depan kamera atau sekadar menikmati panorama 360 derajat kota negeri singa.
Tentu saja kesempatan berenang dan narsis di kolam renang outdoor tertinggi di dunia ini terlalu sayang jika tidak diabadikan kamera.
Kolam renang tersebut berada di lantai 55 di hotel Marina Bay Sands yang memiliki 2.500 kamar. Resort yang disebut-sebut termahal di dunia, dibangun dengan biaya mencapai 5,7 miliar dollar AS ini, sudah dibuka sejak tahun 2010 lalu. Kolam renang yang menjadi daya tarik utama hotel ini berada di bagian puncak ketiga tower hotel berketinggian 200 meter ini. Bagian puncaknya yang disebut dengan Sands Skypark, mirip seperti anjungan kapal pesiar.
Riri meneguk sisa setengah orang juice-nya dan Riri sudah berdiri di pinggiran batas kolam renang tepian memandang luas dengan bebas hamparan negara Singapura.
\"May help me to take the picture, please.\"
Riri memberikan camera air Olympus-nya meminta tolong seorang bule cewek mengambilkan gambarnya.
\"Ok...ready...smile...”seorang bule wanita memotretnya.
\"Thank you Miss,\" Riri mengucapkan dengan sopan.
“You’re welcome,\" jawabnya ramah.
Hampir setengah jam Riri memandang puas dan berendam di kolam renang sepanjang 150 meter atau tiga kali ukuran kolam Olimpiade. Kolam renang tak terasa mulai semakin ramai.
Riri menepi pelan tiba-tiba tubuhnya limbung merasa tidak enak, saat menaiki tepian semuanya terasa gelap bahkan tangannya tidak kuat memegang tepian dan “byuuur“ walau tidak dalam kolamnya tapi Riri sempat merasakan tubuhnya tenggelam bahkan Riri setengah sadar sudah di kedalaman air, kepalanya berdenyut dan berkunang-kunang pada akhirnya gelap tak sadarkan diri.
Setelah itu benar-benar gelap di antara kegelapan pandangan terakhir matanya hanya sempat melihat setengah tubuh dan kaki milik orang lain di kedalaman kolam.
***
Riri juga sempat merasakan ada tangan kuat menarik dan merengkuhnya ke pinggir setelah meminum cukup air.
\"Huaaaak!\"
Riri mengeluarkan air dengan tersedak setelah tiupan kuat memasuki rongga dada lewat mulutnya dan bersamaan tekanan dorongan tangan memopa dadanya.
Riri tidak berpikir macam-macam kalau dirinya baru saja menerima napas buatan disebut juga Resusitasi Jantung Paru atau Bantuan Hidup Dasar atau CPR (Cardio Pulmonary Resuscitation), merupakan suatu tindakan pertolongan sederhana tanpa menggunakan alat bertujuan menyelamatkan nyawa seseorang dalam waktu yang sangat singkat.
Salah satu penyelamat kolam renang tengah memandang lega, dan bertanya,\"Are you ok Miss?\"
\"I am ok , just suddenly it felt very dizzy and dark...\"
Riri mencoba duduk tapi malahan lifeguard itu memapah dan membopongnya mungkin awalnya akan dibawa ke ruang kesehatan. Tapi Riri masih sempat bilang, ”Please just take me to my room 5048.”
\"Where is your key room?\"
Riri menunjuk salah satu tempat duduk santai, satu lifeguard lain sigap mengambilnya dan berdua mengantarkannya ke kamar hotelnya.
Seumur-umur baru pertama kali dia di bopong lagi selain waktu kecil. Ingin meronta tapi tubuhnya memang terasa lemas.
Riri duduk di kursi pinggiran tempat tidur dan mengeringkan tubuhnya yang menggigil.
“Are you really ok?” tanya penjaga kolam renang yang memancarkan wajah was-was.
Riri merasa nggak enak hati dengan tatapannya yang mengkhawatirkan, tapi ya ampun tatapannya sangat lembut.
Riri jadi ingat saat mengenal pertama kali Jo tiga tahun lalu. Tatapan Jo juga yang membuat dirinya langsung yakin kalau hatinya suka pada cowok tersebut walau diawali dengan keributan kecil.
Dan sekarang tatapan cowok itu, membuat Riri terhenyak. Cowok yang ada di depannya tinggi proporsional, kulit lebih kecoklatan, alisnya tebal, rambut cepak dan bibir yang hmmm seksi menawan.
Riri bagai terhipnotis dengan makhluk adam yang tampan sekaligus penolongnya saat terjatuh barusan ke kolam renang yang tidak dalam sebenarnya. Hanya saja memang dia tengah galau karena hatinya yang sakit jadi sepertinya membuat fisiknya juga melemah.
“Miss are you really ok?” kembali si tampan menegur dengan pertanyaan yang sama.
Dan kali ini Riri tersadar, \"Thank you ... I am ok, can I stay alone? by the way thank you for your help...\"
Riri berusaha tersenyum ramah dan secantik mungkin. Hatinya berdebar-debar aroma cowok di depannya sangat maskulin. The lifeguard yang belum sempat Riri kenal tersenyum lega dan dengan sopan mengangguk.
“If you need something just call recepsionist or to ask someting this is my card. There is my number. Please feel free to call me.”
Riri menerima dan membaca cepat. Tertulis sebuah nama, Cornel dan sederet nomer telepon di kartu yang baru saja Riri terima.
“Thank you Cornel.” Riri tersenyum senang dengan perkenalan yang Cornel tawarkan.
“Sama-sama Nona,” jawab Cornel kalem.
Riri kaget ternyata Cornel bisa berbahasa Indonesia.
Tapi belum sempat bertanya Cornel berlalu dan sudah menutup pintu hotel kamarnya dengan meninggalkan senyum dan sederetan gigi putihnya. Debaran lebih dahsyat menghantam hatinya, debaran yang lebih memporak poran-dakan hatinya melebihi saat bersama Jo.
“Cornel...” Riri menggumam sebuah nama.
Dan Riri kembali tersenyum aneh mengingat sebuah hentakan lembut di mulutnya.
\"Apakah Cornel yang memberikan pertolongan pernapasan tadi ya?\"
Tanpa sadar Riri menyentuh bibirnya dan gelombang aneh pun menggetarkan hatinya. Apakah rasa bahagia, kecolongan dan penasaran menyelimuti hatinya. Yang jelas hati Riri berdebar-debar.
Riri memutuskan hari kedua pelarian di Singapura ini untuk tiduran saja di hotel yang megah. Memulihkan stamina tubuhnya yang drop karena capai hati dan fisik.
***
Sadar kalau dirinya belum makan pagi, Riri yang merasa sudah baik-baik saja memutuskan mandi dan cepat naik ke restoranThe Club. Riri memakai kaos oblong gambar Donald Duck salah satu tokoh Walt Disney yang disukai.
Memutuskan ke restoran The Club untuk makan siang. Menuju restoran The Club melintasi kolam dan dari dalam restoran Riri mengedarkan pandangan mencari sosok Cornel.
Tapi dari sekian banyak lifeguard sosok Cornel sudah tak ada. Terbesit rasa kecewa di hati Riri. Tadi dirinya belum sempat mengucapkan terima kasih dengan segenap hati, hanya seperti basa-basi saja.
Riri mengunyah daging asap dengan tidak bersemangat. Padahal biasanya daging asap favoritnya akan menggugah untuk menambah porsi makannya. Tidak tersedianya menu dalam bentuk nasi membuat Riri merasa kehilangan nasi. Riri memilih semangka untuk penutup hidangannya.
Riri kembali turun ke kamarnya dan memutuskan untuk melanjutkan istirahat lagi. \"Aku butuh istirahat,” gumam Riri lirih dan kecewa karena sosok Cornel yang dicari tidak ada.
Dan dalam hitungan menit Riri sudah terlelap. Riri terbangun jam menunjukan pukul 15.00 berarti dirinya tidur hampir lima jam.
Setelah seharian tiduran dan menunggu sampai sore. Rasanya tubuhnya sudah sehat seratus persen. Riri memutuskan mengguyur tubuhnya di bawah shower dengan air hangat.
“Pagi tadi aku kenapa sih? Bisa-bisanya aku pingsan dan tenggelam. Ah sepertinya karena aku belum sarapan dan tadi aku langsung minum kopi, orange juice padahal semalaman aku stres dengan kesendirian yang menggila. Begini rasanya depresi.” Riri membatin mengurai apa penyebab dirinya bisa pingsan tadi pagi.
“Ah ngapain aku ya, rasanya seperti orang hilang...\" Riri hanya bisa berkomunikasi dengan hatinya.
Riri bingung sendiri di negeri orang. Riri teringat kartu nama yang diberikan Cornel tadi pagi tercantum nomor teleponnya. Mengikuti pesan hatinya, Riri memencet nomor tertera.
\"Hallo Cornel speaking,\" suara agak berat di seberang telepon genggamnya.
Riri sesaat terdiam menghayati hentakan-hentakan debaran hatinya.
\" Hallo...Who is this?\"
\"Maaf aku ee I mean I am the girls that\'s you help this morning. Terima kasih banyak Cornel.” Riri tergagap.
\"Oh Miss Riri ... I’ts ok that my job, kebetulan saya paling dekat dengan anda sewaktu terpeleset. Bagaimana keadaan kamu sudah baikan?\" suara di seberang telepon genggam terdengar berat.
\"Iya sudah mendingan habis makan aku langsung tidur, ahh hampir lima jam aku tertidur Cornel.\" Entah kenapa Riri bisa bicara apa adanya dengan penolongnya. Apakah karena efek kesendirian di negeri orang dan butuh seseorang untuk bisa menemani.
\"Ih aku mikir apa sih?\"rutuk Riri.
Riri jadi menggerakan kepalanya cepat, menyadarkan pikiran alam sadar yang tiba-tiba berharap begitu saja. Kelebatan bayangan Cornel yang menariknya saat dia sepersekian detik tenggelam di kedalaman air, setelahnya hanya gelap kemudian dikagetkan dengan hembusan yang memompa rongga dadanya.
Hati Riri berdesir tidak karuan. Seperti ada rasa penasaran besar yang membuncah, ada hal yang ingin dia pertanyakan pada Cornel.
“Apakah dia telah memberikan pertolongan dengan pernapasan buatan pada dirinya sewaktu pingsan?”
Tiba-tiba wajahnya serasa memanas, kalau iya berarti Cornel laki-laki pertama yang telah menyentuh bibirnya. Sementara Jo cowok yang Riri harap akan melakukan first kiss untuknya saja sampai detik ini belum sekalipun melakukan.
\"Aah kenapa Jo lagi sih sebagai pembanding, aku ke sini kan ingin melupakan semua pecundang-pecundang itu sekaligus aksi dendam pada papa!\" Teriak Riri keras dalam hati.
\"Aku harus menanyakan pada Cornel apakah dia benar-benar memberikan pertolongan dengan menciumku?\" Riri diliputi rasa penasaran.
\"Haiii Riri! Riri! Kamu masih ada kan?\" Cornel dari seberang berteriak mengagetkan.
Keheningan cukup lama dalam telepon membuat Cornel bingung untuk mematikan atau meneruskan pembicaraan.
\"Ya I am here, Cornel...Cornel bisakah menemani aku?\"
“Upppps!!” Riri menutup mulutnya yang meluncur begitu saja meminta Cornel menemani dirinya yang tengah kesepian.
\"Ok I will visit you after my job done ok!\" terdengar tanpa beban. Ucapan ringan dan tanpa beban Cornel sangat membantu membuang rasa malu dan harga dirinya yang sesaat jatuh.
Selama ini Riri tidak pernah meminta hal-hal seperti perhatian terhadap lawan jenis, hanya kepada Jo itu pun hanya sesekali karena mereka sangat dekat dan menurut Riri hubungan yang mutualisme. Jo butuh dirinya dan diapun butuh Jo sesekali untuk setiap kejadian yang telah terlewati sebagai kenangan. Sebuah kebersamaan yang tercipta karena saling membutuhkan dan sekaligus persahabatan.
Tapi dengan Cornel pria di negeri orang, baru kenal dalam hitungan menit bisa-bisanya Riri merasa gampang saja meminta dia menemani.
Riri membalik tubuhnya memandang langit-langit kamarnya, meresapi apa yang terjadi pagi tadi. Selama ini dia baik-baik saja belum pernah pingsan, fisiknya terjaga dengan olah raga teratur di perguruan pencak silat kampus.
Riri tidak bisa pungkiri tiga bulan ke belakang sejak Jo memutuskan berpacaran dengan Sara, membuktikan cintanya yang bertepuk sebelah tangan dan usaha keras dia melupakan Jo secara instant membuat efek tubuhnya semakin melemah dan tiga bulan ini berat badanya juga turun beberapa kilo.
Wajahnya tidak seceria tiga bulan lalu, rasa percaya diri dan rasa deket dengan kaum pria semakin tidak ada. Tapi tidak dengan yang barusan kenapa tiba-tiba dia menginginkan Cornel untuk bisa menjadi teman secara spontan.Untungnya Cornel langsung menyetujui dan tidak membuat harga dirinya jatuh. Berbeda saat dengan Jo, saat Riri tidak mau jatuh sama sekali harga dirinya dengan harus jujur kalau dia mencintainya, Riri memilih diam dan akhirnya sadar kalau Jo memang bukan untuknya.
Cukup lama tiga tahun untuk mencoba berani mengungkapkan perasaan hatinya. Sayang sebelum sempat diutarakan ada Sara yang telah menghalanginya. Sepertinya memang sudah menjadi takdir selamanya Jo tidak akan tahu perasaan hati Riri yang sebenarnya.
Waktu seakan berjalan apa adanya bahkan gairah hidupnya serasa mati dan saatnya dia benar-benar harus move on dengan menyetujui ikut Sucita ke sebuah pesta dengan tampil agak berbeda. Yang ada kekagetan karena tiba-tiba Jo sudah menggenggam tangannya dan memujinya di pesta ulang tahun tapi tidak perlu berjam-jam bukan Jo yang melukai lagi saat ini! Tapi mamanya Jo!
Riri berpikir jauh, tahukah Jo yang sebenarnya kalau mamanya berhubungan dekat dengan papanya? Mengingat Jo sudah tahu siapa papa Riri.
Riri membalik tubuhnya kedua tangannya menopang pada dagunya dan menghadap jendela melihat belantara Singapura menjelang senja. Berbagai prasangka buruk berputar di kepala. Spekulasi berbagai pertanyaan yang belum terjawab.
\"Apakah Jo tahu kalau mamanya berhubungan dengan papanya? Kenapa kalau tahu Jo membiarkannya? Padahal diakan tahu kalau lelaki yang menggandeng mesra mamanya adalah papanya seseorang yang paling istimewa dalam hidupku? Apakah hubunganmamanya Jo dan papanya sudah lama? Sampai...ah jangan-jangan karena mamanya suka dengan ayahku maka Jo memutuskan untuk pacaran dengan Sara karena tidak mungkin dia memacari anak tiri mamanya, kalau papaku dan mamanyaJo memutuskan menikah.”
Riri bergidik kalau harus jadi anak tiri wanita lain selain mama yang amat disayangi dirinya dan Rara! Meskipun mama Jo juga cantik dan mungkin baik. Tapi tetap saja mama Jo salah besar menerima papa sebagai kekasihnya mengingat laki-laki berstatus istri orangyang berbahagia dengan keluarganya dan kekayaannya.
“Dasar wanita gatel dan matre! Tidak mau tahu susahnya saat papa membangun bisnis! Dibalik kesempurnaan papa adalah kami dua putrinya dan mama.” Riri mengutuk mamanya Jo.
Riri berbicara dengan hatinya, dialog hati yang semakin memanas karena tidak ada jawaban pasti. Semua adalah hasil spekulasi direkayasa pikiran dan ego yang mendominasi pikiran Riri yang merasa menjadi pihak paling dirugikan dan tersakiti.
Umpatan sialan keluar dari bibirnya setiap mengingat Jo dan mamanya terlebih mengingat begitu mesranya mamanya Jo bergelayut di tangan papanya. Setiap megingat maka mata dan hatinya panas, sebentar lagi air matanya menetes. Kesimpulan Riri saat ini tentu saja Jo tidak mau jadi pacarnya dan memilih Sara karena tahu kalau mamanya berpacaran dengan papanya. Mereka bertiga Jo, mamanya Jo dan papanya sendiri tengan berkonspirasi membuat keluarga baru. Dan Riri semakin geram untuk mengabiskan uang dan kartu kredit rampokannya.
\"Ting tong... \"
Pintu kamarnya ada yang memencet. Riri ragu tapi tak urung menyeret kakinya dan mengintip. Jantungnya serasa berhenti.
\"Cornel!\"
Riri membukakan pintu.
\"Hai Ri?\" sapa Cornel yang langsung bisa akrab.
\"Hai Cornel, ayo masuk.\" Riri mempersilakan Cornel masuk ke kamarnya. Tak terlintas apapun mengajaknya ke dalam. Hatinya percaya saja Cornel orang yang baik.
\"No thanks, aku cuma mau memastikan kamu baik-baik saja dan menepati janji akan menjengukmu setelah jam kerja.\" Cornel tersenyum ramah, tapi tak beranjak sejengkal pun masuk ke kamar Riri.
\"Tidak masuk?\" tawar Riri.
\"Tidak terima kasih, aku sebentar lagi pulang kok.\"
\"Ooh...\"
Cornel menangkap sebersit kekecewaan yang tidak kentara barusan dari suara Riri dan wajahnya.
\"Nanti aku telepon kamu, aku tidak enak karena ini lingkungan aku bekerja.\" Cornel memberikan alasan agar Riri tidak merasa dipermalukan dengan penolakan barusan.
\"Sungguh telpon aku ya? Hmmm oh iya karena ada sesuatu yang ingin aku tanyakan?” Tiba-tiba sensasi ciuman pertama seakan menggelitik hati Riri.
\"Iya janji aku akan telpon kamu, maaf aku nggak bisa lama-lama. By the way Ri aku senang bisa dekat dengan cewek Indonesia, hmm kebetulan mamaku orang Indonesia. Maaf ya Ri sekali lagi aku pergi dulu. Nanti kita bisa ngobrol di luar hotel. Sepertinya kamu beruntung karena pas hari ini pengajuan cutiku di approve SDM jadi aku bebas dari pekerjaan empat hari ke depan.\" Cornel mengembang senyum saat mengatakan cuti yang di acc manajemen perusahaannya.
\"Wah so lucky I am,\" Riri berbinar karena Cornel empat hari ke depan tengah cuti. Riri berharap ada teman yang menemaninya selama di Singapura. Dan itu adalah Cornel!
\"Nanti malam aku SMS ya memastikan besok jam berapa kita bisa ketemu.\" Cornel tersenyum ramah.
\"Asiik! beneran ya? ah senangnya aku jadi punya temen. Jujur aku seperti hilang di negeri ini.\" Riri tersenyum riang.
Setelah Cornel berlalu, Riri dalam kamar berjingkrak-jingkrak senyumnya mengembang lebar.
***
“Malam ini aku mau jalan-jalan seputar hotel saja deh. Daripada bengong-bengong di dalam kamar.” Dan Riri memakai kaos coklat agak ketat, Riri keluar tujuannya adalah memastikan apa saja yang ada di hotel Marina Bay Sand.
Setelah turun dari lantai 50 ke lantai 1 di tower 2 Mall Branded yang merupakan surga para Shopaholic* yang suka barang Branded. Barang-Barang di sini sama seperti yang di Pusat Belanja Orchad, seperti Charles n Keith, Giordano dan masih banyak lagi.
Rasanya Riri sehari tidak akan puas keliling karena mall-nya sangat banyak, lumayan kocek dari kartu kredit ayah di sedot.
Riri menerima SMS Cornel :
\"Besok aku jemput jam 9 ya, aku tunggu di lobby.\"
Riri membalas :
“Ok! Thanks.”
Riri girang membayangkan menjelajah Singapura tidak sendirian. Rasanya keberuntungan tengah menaunginya. Tidak disangka akan ada teman yang menemani dalam pela-riannya apalagi temannya sangat tampan.
Harus Riri akui Cornel lebih tampan dari Jo dan satu pertanyaan terpenting akan ciuman pertama yang masih menjadi tanda tanya akan Riri tanyakan pada Cornel.
Setiap ingat hal itu selalu wajahnya memanas dan ada debar halus yang tidak bisa Riri ingkari.
***
Sementara di sebuah kamar yang rapi dengan berbagai pernak-pernik miniatur mobil-mobilan, buku-buku bahasa Indonesia dan bahasa Inggris, buku traveling, beberapa CD dan juga berbagai koleksi pernak-pernik dari beberapa negara memenuhi rak kayu melekat tembok.
Di kamar berwarna putih bersih Cornel tengah termenung. Sejujurnya pagi tadi dari awal Riri memasuki kolam dirinya sudah mengamati gadis manis tersebut. Wajahnya sangat manis tapi kenapa tampaknya sangat sedih ditambah wajahnya juga pucat.
Gadis itu sangat menarik terlebih penampilannya yang sangat sopan dengan baju renang tertutup ala muslim. Cornel sempat mengawasi sekitar lainnya bagaimanapun dirinya tidak bisa hanya mengamati satu pengunjung walau jujur dibalik kacamata hitamnya Riri benar-benar menarik perhatian hatinya.
Baru saja mengedarkan ke pengunjung lain dirinya kaget karena Riri tahu-tahu sudah tercebur dekat bibir kolam tepi kiri. Cornel yang pas jaga untuk area tersebut langsung loncat dan menolong mengangkat ke permukaan.
Sepetinya sudah cukup menelan air makanya Cornel langsung memberikan bantuan napas untuk membantu mengeluarkan air yang tertelan. Tidak ada perasaan apapun apalagi dirinya agak panik kalau ada apa-apa dengan gadis yang baru saja mengusik hatinya dengan pandangan pertama.
Setelah Azita empat tahun berlalu dari hidupnya hatinya sangat susah untuk bisa disentuh wanita. Dan baru saja Cornel menyadari kalau dirinya ingin mengenal Riri lebih jauh. Sebuah ketidaksengajaan yang membuat hatinya terusik untuk mengenal Riri yang berasal dari Indonesia karena mamanya juga berasal dari Indonesia.
Tanpa sadar Cornel meraba bibirnya dan ternyata ada sensasi yang tiba-tiba hadir, tadi dia tidak sekedar memberikan pertolongan tapi memang ada dorongan hatinya untuk melakukan hal ini pada Riri.
“Sepertinya aku harus meminta maaf atas kelancangan aku, tapi sungguh aku lakukan karena aku juga memang harus menyelamatkannya. ” Suara batin Cornel yang malam ini agak sulit memejamkan matanya.
Perkenalan dengan Riri yang spontan menyadarkan dirinya benar-benar ingin bertemu Riri kembali dan tanpa diduga Riri meminta untuk ditemani, ini adalah kesempatan yang sangat pas apalagi cutinya juga pas sekali disetujui.
Cornel merencanakan Riri juga menjadi teman refreshing-nya, semoga Riri juga tidak keberatan itu yang terpikirkan oleh Cornel yang akhirnya bisa terlelap juga.
Other Stories
Cahaya Menembus Semesta
Manusia tidak akan mampu hidup sendiri, mereka membutuhkan teman. Sebab dengan pertemanan, ...
Mother & Son
Zyan tak sengaja merusak gitar Dana. Rasa bersalah membawanya pulang dalam diam, hingga na ...
Mauren Lupakan Masa Lalu
Mauren menolak urusan cinta karena trauma keluarga dan nyaman dengan tampilannya yang mask ...
Prince Reckless Dan Miss Invisible
Naes, yang insecure dengan hidupnya, bertemu dengan Raka yang insecure dengan masa depann ...
Bungkusan Rindu
Setelah kehilangan suami tercintanya karena ganasnya gelombang laut, Anara kembali menerim ...
Kenangan Indah Bersama
tentang cinta masa smk,di buat dengan harapan tentang kenangan yang tidak bisa di ulang ...