Pesan Dari Hati

Reads
3.8K
Votes
0
Parts
19
Vote
Report
Penulis Nenny Makmun

10. Universal Studio Singapore Bersamamu

Ini adalah hari ketiga dua malam Riri di Singapura. Senang hatinya menemukan seorang teman yang bersedia menemani pelarian sementaranya.
Riri memilih kaos tanpa lengan dan celana pendek jeans. Penampilan sportif yang paling di suka dan kaca mata hitam yang sesekali membuat dia leluasa untuk menatap apapun tanpa perludiketahui mood hatinya dan kadang membantu dia menutupi kesenduan hatinya yang tak ingin diketahui orang lain.
Mata adalah pancaran kebenaran. Mata adalah indera yang tidak bisa dibohongi, mata hati yang akan memperlihatkan apakah kita bahagia atau sedih.
\"Hi Ri aku sudah di loby.\" Cornel menyapa di pagi cerah dengan bahasa Indonesianya yang lancar.
\"Haii! Baik aku segera ke loby tunggu ya!\"
Riri segera mematikan telepon genggamnya karena dirinya melambaikan tangan pada Cornel yang menepati janji
Cornel juga mengenakan kaca mata hitam, kaos putih dan celana jeans. Sangat tampan mempesona.
\"Wah asik, Cornel aku tidak merepotkanmu?\" Riri bertanya memastikan.
Mereka baru kenal dalam sebuah accident tapi mereka kenapa bisa begitu dekat dan Riri serasa menemukan sahabat lama yang entah ribuan tahun pernah bersama. Mungkinkah mereka memang pernah bersama. Dejavu* kah? Entah di waktu kapan memang sudah mengalaminya. Yang pasti Riri memang menginginkan melewati hari berat dalam pelariannya dengan sosok yang langsung bisa dipercaya. Pesan dalam hatinya menguatkan keyakinannya kalau Cornel memang sosok yang dikirim Tuhan untuk menemaninya.
\"Ayo naik kok malah ngelamun?\" Cornel menegur Riri dari balik setir Jeep-nya, tak lepas dengan senyumnya yang membuat Riri meleleh.
Riri segera naik dan Cornel mengulurkan tangannya.
“Ok jadi rencana ku hari ini aku akan mengajak kamu Universal Studio? Sudah pernah ke sana Ri?” tanya Cornel.
“USS belum. Aku kemari terakhir empat tahun lalu bersama keluargaku Nel, saat itu USS belum ada.” Terang Riri bersemangat.
“Wow berarti setidaknya kamu sudah banyak tahu dong wisata di negeri kecil ini?\" Cornel sudah mulai menjalankan Jeep-nya dan menyetir dengan tenang.
Yah karena empat tahun lalu saja saat aku dan keluargaku berlibur kemari, kita mengunjungi beberapa tempat wisata dan sekarang aku alone.\" Riri mendadak melow.
“Alone? Maksudnya?\" Cornel mengernyitkan dahinya.
\"Ah sudahlah, kita nikmati saja liburan kita!\" Riri mengibaskan tangannya.
\"Kok kita sih!! Kamu aja kaleee,\" Cornel spontan bicara.
Tiba-tiba Riri geli dengan gaya ngomong gaya alay Cornel yang sok ke Indonesiaan.
\"Hehehe iya deh aku saja dan kamu adalah guide tourku! Eh aku bayar kamu berapa untuk jadi guide istimewa ku?\" Riri pura-pura merasa ngeri dengan uang yang harus dikeluarkan untuk membayar Cornel. Siapa tahu kan memang job side-nya. Cornel adalah menjadi tour guide. Jadi ajakan Cornel bukan semata gratisan menemani dirinya tapi ada pembayaran yang harus Riri lunasi.
\"Apaan sih aku juga butuh liburan kaliiiii. Jangan kau pikir jadi lifeguard enak cuma duduk-duduk bak foto model dan melihat-melihat sekitar wanita-wanita cantik dengan bikini seksi. Aku itu mengawasi sampai detail, maksudnya untuk keselamatan lho!\" Ralat Cornel.
“Hmmm yang benar keselamatan atau memang suka melihat yang seksi-seki ya?” goda Riri sambil melototkan matanya ke arah Cornel yang mendadak malah jadi salting.
Entah kenapa ada rasa ingin tahu, cemburu atau memang ingin menggoda cowok tampan yang kini tampak merah padam dengan godaan Riri.
“Apaaan sih Ri! Itu karena pekerjaan saja kalau alasan cuma mau lihat yang seksi-seksi yang musti jadi penjaga kolam saja kali! Searching aja di intenet!” Cornel protes dengan wajah ngotot. Tentu saja Riri tambah girang saja melihatnya.
“Iyaah marah deh!” Riri semakin senang menggoda. Matanya tak lepas dari sosok Cornel yang memang tampan.Entah kemana menguap kegalauan dirinya sendiri.
“Ihhh reseh deh! Mau aku anterin jalan-jalan atau aku turunin aja kamu di sini kalau terus menggoda aku! Riri kalaupun aku melihat yang seksi-seksi itu benar-benar semata kerjaan karena aku harus mengawasi keselamatan mereka. Percaya? Atau aku turunin nih!” Cornel mengancam Riri menghentikan mobilnya.
Riri jadi ketakutan sendiri kalau Cornel tiba-tiba marah.
\"Iya percaya! Percaya jangan turunin aku ya! Aku butuh kamu... aku butuh teman. Percaya kok! Kalau tidak mana bisa kamu menolong aku kemarin! Kejadian aku jatuh ke kolam itu asli cepat banget tiba-tiba aku seperti kehilangan keseimbangan, tenaga dan nggak bernyawa.\" Papar Riri.
Tiba-tiba Riri jadi diam dan melow lagi. Baru saja senang menggoda Cornel dia kembali pada masalahnya sendiri.
\"Kamu sepertinya memang lagi banyak masalah Ri, sejak kamu mulai masuk ke swimming pool wajah kamu itu menunjukan bukan kegembiraan seperti wisatawan lainnya Kamu datang dengan wajah suram dan hmmm sorry aku jadi nebak-nebak kamu hanya tengah mencoba melarikan diri dari masalah-masalahmu itu datang kemari!\" Cornel melirik gadis yang tengah mengerutkan keningnya.
Riri terperangah segampang itukah wajahnya ditebak, bahkan oleh Cornel yang tidak mengenal dirinya sama sekali.
\"Iya begitulah.” Riri membenarkan.
Dan sepanjang jalan menuju Universal Studio Singapore, begitu mudah Riri berceloteh apa yang menimpanya.
Bahkan sesekali menertawakan kelakuan dirinya yang tengah membawa berapa puluh juta uang tunai, tiga kartu kredit papanya dan nyatanya sang papa membiarkan saja tanpa sengaja memblokirnya.
Teringat semalam tiap membayar setiap belanjaannya dari baju, minyak wangi, sepatu, kosmetik barang-barang yang selama ini alergi dibeli kalau bukan untuk event tertentu dengan ketiga kartu kredit papanya.
Rasa balas dendamlah yang membuat Riri sesekali merasa perlu menjadi konsumeris* dan hedonisme*.
Dan sesekali Cornel mengangguk-angguk mengernyit, membuka kaca mata hitamnya mengekspresikan wajahnya dalam beberapa warna.
Nyatanya dia bisa tertawa sesekali dan bercerita keterpurukannya lebih dengan joke.
Entahlah, Riri merasa tidak perlu lagi menjadi makhluk melakonlis yang sangat menderita seperti dua hari kemarin, bahkan mungkin tiga bulan lalu saat serasa hancur karena kehilangan Jo dan dirinya menjadi makhluk yang paling bodoh. Tiga tahun kebersamaan yang sia-sia karena dirinya tidak berani mengungkapkan perasaannya pada Jo.
Bahkan Riri lebih menarik diri dari pergaulan teman-teman asramanya, banyak menghabiskan dengan kegiatan tanpa perlu banyak bersinggungan, ada rasa malas mendera untuk mengenal lebih dalam teman-teman lain setelah tak ada Jo. Waktu tersisa banyak dilakukan belajar dan kegiatan pencak silatnya. Kegiatan untuk membunuh waktu yang masih menyisakan rasa sakit.
Tapi lihatlah sekarang Riri merasa takjub dengan dirinya sendiri yang berubah lebih berani dengan sosok yang baru saja dikenalnya. Dengan gampang bisa dekat seseorang lain dengan perasaan yang seru.
“Hi Cornel Why I so feel closer with you?” jerit riang hati Riri.
Riri menebak Cornel berumur lebih tua dua atau tiga tahun di atasnya, melihat kematangan dia menyikapi kelakuannya yang cuek dan tak peduli ngomong kaya MRT* di Singapura.
Tanpa sadar semua masalah hatinya meluncur begitu saja. Dari awal jatuh cinta dengan Jo dan berbagai aktivitas terlewati bersama sampai akhirnya Riri menyadari kalau cintanya bertepuk sebelah tangan. Ditambah perselingkuhan papanya yang masih Riri tebak sebagai persekongkolan papa, mamanya Jo dan Jo sendiri. Juga kenekadan Riri membawa lari uang tunai papa dan tiga kartu kreditnya.
\"Hahhh! itulah kisahku Cornel dan here I am as a prisoner, robber dan broken hearts girl! huhhh lega!\" Riri tiba-tiba merasa sebagian beban hatinya terangkat dari dalam tubuhnya.
Bahkan ada rasa ingin menertawakan kekonyolan yang tengah dia lakukan sekarang.
\"Hmmm jadi kesimpulannya sekarang aku tengah mengawal seorang pelarian, perampok sekaligus gadis yang patah hati yah..wow bagus, sepertinya pekerjaan lebih menantang dari pada hanya menjadi penjaga swimming poll,\" Cornel membuka kaca mata hitamnya dan tersenyum manis sambil geleng-geleng kepala.
\"Luar biasa nona yang sedang bersamaku.\" Lanjut Cornel tersenyum menggoda masih tetap geleng-geleng kepala.
\"Iih kamu mengagumi atau ngeledek sih!\" Otomatis Riri mencubit lengan Cornel yang ternyata sangat keras.
Riri yakin Cornel mendapatkan tubuhnya yang sixpack dan kencang pasti berkat olah raga fisiknya yang teratur. Yah berkecimpung di dunia pencak silat bertahun-tahun Riri tahu seseorang badannya terbentuk dengan olah raga.
“Ok sampai deh kita di tempat yang menyajikan keindahan fantastik Ri.” Cornel melirik Riri yang terbengong-bengong melihat keramaian di area parkir menuju Univer-sal Studios Singapore.
Setelah memarkir mobil dan membawa tiket yang ternyata sudah ada di tangan Cornel, Riri sendiri tidak tahu kapan dan darimana Cornel dapat tiket Universal Studios Singapore.
“Kalau mendadak beli sudah pasti kehabisan Ri atau lihat antrinya panjang. Kebetulan aku dapat dari teman, memang dia sengaja menghadiahkan aku untuk dua orang. Dia pikir aku sudah punya pacar jadi beberapa tempat wisata aku dikasih couple.” Cornel menjawab darimana dapat tiket masuk Universal Studios Singapore.
\"Wah asik dong, terus kamu memang nggak punya pacar?\" Riri bertanya cuek.
\"Kali ini wajah Cornel yang menjadi kepiting rebus dan Riri tertawa terbahak-bahak menggoda setengah mengejek, tapi yang jelas senang karena cowok yang baru saja mengubah total kesedihannya sepertinya bernasib sama dirinya. Ya sama-sama jomblo!
Universal Studios Singapore berdiri di kawasan Resort World Sentosa yang merupakan kawasan Integrated Resort, baru saja dibuka secara resmi pada April tahun 2010. Setiap melangkahkan kaki di berbagai zona, akan merasakan nuansa yang berbeda.
Universal Studios Singapura dibagi menjadi tujuh zona, Madagascar, Istana Far Far Away dari dunia Shrek adalah yang pertama di dunia, The Lost World tempat di mana bisa menemukan dunia Dinosaurus dan Waterworld, Ancient Egypt sebuah dunia mesir kuno yang penuh mumi, Sci-Fi sebuah kota futuristik dan dua zona terakhir mengambil tema kota yang terkenal di Amerika yaitu Hollywood dan
New York.
Ada beberapa atraksi yang menarik di Universal Studios Singapore seperti Sesame Street Spaghetti Space Chase. Wahana ini ada di area New York. Di sini akan dibawa masuk ke dunia Sesame Street untuk melihat lebih dekat tokoh-tokoh Sesame Street yang lucu-lucu.
Asik sekali jalan menikmati waktu bersama Cornel melintasi Hollywood Dream Parade adalah parade di jalan yang pertama kalinya diadakan di Singapura yang menampilkan tokoh-tokoh animasi terkenal seperti Shrek, Mada-gascar, dan yang lainnya. Bahkan Riri ikutan antri dengan para pengunjung lain untuk berfoto dengan Ratu Viona isteri pangeran Shrek.
Cornel sangat menyenangkan dia mau saja mengambil foto Riri dengan para tokoh-tokoh animasi yang selama ini hanya disaksikan di film.
Dari film Madagascar yang menjadi hit produksi oleh DreamWorks Animation film, dibuatlah area petualangan yang menarik sebagai salah satu wahana di Universal Studios Singapore
Riri tak hentinya berteriak saat mulai menaiki kapal petualangan Madagsacar. Musik yang menghentak menambah serunya petualangan yang kebanyakan dinaiki keluarga dengan putra-putrinya yang pastinya berfantasi seolah berpetualang beneran di hutan rimba dengan arus sungai deras melewati gua yang gelap dan penuh jebakan.
Sesekali Riri memegang pundak Cornel saat arus sungai cukup deras dan membuat limbung kapal yang dinaiki juga saat melewati air terjun yang membuat bajunya sedikit basah. Area hutan Madagascar dengan nuansa hutan tropis yang kental, dipenuhi dengan binatang-binatang yang unik dan menakjubkan seperti lemurs dan foosas. Nyanyian burung dan teriakan kera memecah keheningan hutan sewaktu menjelajahi lebih dalam lagi area hutan tropis ini, yang serunya akan menjelajahi area ini dengan perahu.
Hampir sore dan Riri benar-benar lega setiap kesempatan dia bisa berkeluh kesah apapun. Dan Cornel selalu menanggapi dengan tenang tapi tidak cuek, bahkan antusias dalam memberikan pandangan-pandangan yang kadang Riri anggap terbalik dengan pandangan dia.
Bahkan Riri tidak keberatan sesekali Cornel memegang tangannya saat berjalan memutari Universal Studios Singapore untuk melihat setiap wahana.
Cowok yang sekarang tengah menikamti capucinno blended-nya serasa orang yang menikmati setiap moment detik berjalan. Tidak pernah mengeluh dengan apa yang ada. Bahkan dengan apa yang terjadi pada Riri, dia berpendapat itu adalah sebuah peristiwa yang harusnya mendewasakan.
Riri memilih jus jeruk dan ayam goreng untuk menu makan siangnya di sebuah restoran tepat di dekat wahana dinosaurus. Matanya menatap Cornel yang tanang saat makan dan mata Cornel ternyata tidak jelalatan kesana kemari seperti kalau sedang bertugas mengawasi kolam renang.
Riri jadi tersenyum sendiri ingin menggoda lagi tapi takut Cornel ngambek dan besok-besok nggak mau jalan bareng dengan dirinya. Padahal jujur hatinya senang sekali karena Cornel telah mau jadi pendengar yang sangat setia dan sesekali memberi masukan.
Finally mobil sport Jeep Cornel mengantarkan Riri kembali ke hotel Marina Bay Sand.
Jam menjelang petang, \"Cukup yah hari ini Non, maaf aku tidak bisa menemani jalan-jalan malam ini. Aku ada janji dengan ibuku mau mengajak dinner...\"
\"Wow romantis sekali! Mau dong ikutan.\" Riri spontan berucap.
\"Hah! Serius mau ikutan?” mata Cornel membesar tak percaya dengan ucapan Riri barusan, walau hatinya terbesit kebahagiaan kalau Riri mau tahu ibu, ayah dan tempat tinggalnya.
Sungguh entah kenapa untuk Riri tidak ada rasa keberatan sama sekali cewek yang sangat manis di depannya mengenal dirinya lebih jauh. Riri mengingatkan Azita yang sudah sangat dekat dengan kedua orang tuanya di waktu lalu. Sangat menyakitkan Azita meninggalkan dirinya dengan kenangan-kenangan indah yang sulit Cornel lupakan.
Kenapa juga Cornel merasa tidak takut bila mengajak Riri ke rumah maka otomatis dia akan memperkenalkan Riri pada kedua orang tuanya dan menjadi dekat. Jika hatinya terlanjur menyukai Riri dan tiba-tiba Riri meninggalkan seperti Azita lagi, apakah ini sama saja dengan aksi bunuh diri membuat Riri dekat dirinya sekaligus keluarganya. Apakah hatinya bisa terima terluka kedua kali? Cornel tiba-tiba bimbang. Tampak dari wajahnya.
\"Kenapa? Gak boleh ya?\" Riri merasa tiba-tiba malu dengan keberaniannya mengajukan diri untuk ikutan acara makan malam keluarga Cornel.
\"Siapa bilang nggak boleh, besok sebelum atau sesudah kita jalan-jalan lagi, kita mampir ke rumah dulu ya.” Cornel mengerlingkan matanya membuat Riri terkesima dan bengong sesaat.
\"Udah masuk sana! Kamu pasti sudah capai untuk seharian ini memuaskan hati di USS. Istirahat dan sudah jangan mikir berat-berat semua persoalan harus dihadapi bukan malah melarikan diri. Bye Riri see you tommorow ya.\" Cornel melambaikan tangannya.
\"Bye Cornel, makasih ya.\" Riri membalas
\"Buat apa?\" Cornel malah balik bertanya.
\"Buat jalan-jalannya, buat ngedengarin segala keluh kesah kepedihan hatiku dan hmmm juga buat pertolongan kemarin dan...dan...\" Riri ingin meneruskan suatu pertanyaan sampai ke napas pertolongan yang menjadi ciuman pertamanya, tapi tertahan dalam hati
“Dan apa lagi?” Corenel bertanya menyelidik.
“Nggak apa-apa, terima kasih ya,” Riri mengukir senyum termanisnya.
Cornel tersenyum, “Sama-sama Riri. By the way aku juga senang liburan ini ada yang menemani, orangnya lucu dan ceplas-ceplos lagi!”
“Sudah yah aku pulang dulu ibu dan ayah pasti menungguku. Janji masih ada cuti tiga hari dan kita masih bisa bersama.”
“Janji ya menemani aku selama aku di sini,” pinta Riri berharap.
“Iya! Janji!” Cornel berjanji mengangkat jari telunjuk dan tengah bersamaan.
Dan Cornel berlalu, Riri menatap punggung Cornel tercetak bidang saat membalik dan menaiki mobilnya. Riri memasuki loby setelah mobil Cornel tidak nampak.
***
Memasuki kamar hotel senyum ceria tak lepas tersungging di bibir Riri yang bersenandung lagu-lagu Maroon Five yang di dengar dari mobil Cornel.
Riri memutuskan berendam air hangat sembari mengingat seharian ini rasanya beban hidupnya sudah banyak berkurang. Tadi Cornel selalu mengingatkan untuk menghadapi persoalannya dengan papanya bukan dengan menghindari beliau tapi harus bicara dari hati ke hati.
Riri tahu pendapat Cornel itu benar dalam hati kecilnya, “Maafkan Riri Pah, masih belum bisa bicara dari hati ke hati dengan papa. Semoga waktu bisa membuat Riri berpikir lebih baik dan ada kejelasan semuanya.”
Malam hari itu di gemerlapan Singapura yang cerah seakan menemani Riri menulis tetang catatan hatinya di buku diary. Untuk pertama kalinya lembaran buku hariannya menuliskan nama selain Jo. Dan Riri tidur berharap mimpi di bawah taburan bintang.

Other Stories
Just, Open Your Heart

Muthia terjebak antara cinta lama yang menyakitkan dan cinta baru dari bosnya yang penuh k ...

Setinggi Awan

Di sebuah desa kecil yang jauh dari hiruk-pikuk kota, Awan tumbuh dengan mimpi besar. Ia i ...

Death Cafe

Sakti tidak dapat menahan diri lagi, ia penasaran dengan death cafe yang selama ini orang- ...

Youtube In Love

Wahyu yang berani kenalan lewat komentar YouTube berhasil mengajak Yunita bertemu. Asep pe ...

Dear Zalina

Zalina,murid baru yang menggemparkan satu sekolah karena pesona nya,tidak sedikit cowok ya ...

Puzzle

Ros yatim piatu sejak 14 tahun, lalu menikah di usia 22 tapi sering mendapat kekerasan hin ...

Download Titik & Koma