12. 37 Minutes At Singapore Flyer
Mengenakan celana tiga perempat bercorak Army dan kaos putih dengan tulisan Go Green menjadi pilihan hari ke tiga jalan dengan Cornel.
Perjalanan yang dituju adalah Jurong Bird Park, Riri lebih banyak diam dan Cornel juga enggan mengusiknya.
Tadi pagi Riri mengecek ada 20 miss call dari papa dan juga SMS yang menanyakan keberadaanya dimana dirinya? Dan permintaan maaf papanya juga permintaan mereka perlu bicara empat mata.
Miss call dan SMS papa membuat mood hatinya berubah jelek lagi, Riri memejamkan mata, empat hari lalu beban hatinya terasa berat. Perlahan berkurang bahkan sebenarnya banyak beban yang terangkat berkat kesediaan Cornel mendengarkan dan memberikan pandangan akan masalah yang tengah menimpanya.
\"Nah sampai deh Nona Riri, yuk turun burung-burung di sini keren-keren.\" Cornel mengajak Riri bersemangat. Cornel menggenggam tangan Riri dan memang benar tampaknya seru mulai masuk pelataran yang sangat bersih. Di pintu masuk sudah disambut burung jenis nuri besar beraneka warna seperti pelangi bahkan sempat berfoto berdua dengan Cornel dengan si burung nuri.
Cornel dan Riri menikmati wisata Jurong Bird Park dengan riang, miss call dan SMS papanya sengaja diabaikan.
Dimulai kunjungan mereka dengan berjalan kaki udara terasa menyegarkan menikmati keindahan mempesona dengan pohon-pohon palem yang eksotis. Melihat pemandangan yang indah, angsa hitam dan bebek yang rukun bahagia hidup bersama.
Cornel mengajak Riri menikmati danau dengan mengayuh bersama-sama dalam kolam buatan berair tenang. Semilir angin berhembus menerpa tanpa sengaja tangan bersentuhan dan di tengah tengah danau Cornel menggenggamnya.
Jalan-jalan berlanjut memasuki ruangan dingin Pinguin Coast tempat burung-burung pinguin yang berwajah sangat lucu tinggal di perairan es salju. Gaya pinguin terbang lalu terjun ke air dan menyelam sangat lucu.
Tiba-tiba Cornel melepaskan jaket dan memakaikan kepada Riri yang kedinginan. Memang gedung besar wisata pinguin ini sangat dingin karena temperatur harus dibuat menyesuaikan kehidupan pinguin yang berasal dari lingkungan salju.
Jurong Bird Park adalah taman burung yang terbesar di seluruh dunia. Sedikit sejarah Jurong Bird Park, dibuka pertama kali pada Januari 1971 di lahan seluas 20.2 hektar. Saat ini ada 600 spesies burung menghuni taman burung terbesar di dunia ini. Dan total jumlah burungnya sekitar 8000an.
Jurong Bird Park ini adalah salah satu tempat wisata favorit para wisatawan manca negara dan lokal. Bayangkan saja total pengunjung pertahunnya saja mencapai hingga 900 ribu orang.
Jika sudah lelah untuk berjalan kaki, disediakan kereta monorail panorail yang akan mengeliling taman ini sehingga bisa menikmati pemandangan yang indah berserta kehidupan aneka satwa unggas.
Sejenak telepon, miss call dan SMS papanya terlupakan. Cornel sudah tahu kalau pas pukul 10.00 ada pertunjukan drama yang dimainkan oleh berbagai burung yang terlatih. Show Birds of Prey di Fuji Hawk Walk, saksikan elang yang menawan, rajawali dan burung elang menukik di atas puncak pepohonan.
Tidak hanya bisa dekat dengan burung yang mengagumkan ini, tapi juga akan memperoleh wawasan tentang dunia elang yang menarik seperti melihat gerak gerik burung-burung ini dalam berburu mangsanya.
Sepanjang menonton hampir satu jam tangan Cornel selalu menggenggam tangan Riri.
\"Apakah ini berati aku sudah jadi pacar Cornel?\" Riri bingung belum terucap apapun hubungan mereka yang sangat singkat.
Nyatanya singkat tapi Riri sudah mengenal kelurga Cornel sementara Jo yang tiga tahun dia tidak tahu apa-apa bahkan nama mamanya yang tengah dekat dengan papanya.
\"Ah Jo apakah kamu memang sengaja menginginkan kehancuran keluargaku? Dengan membiarkan mama kamu berselingkuh dengan papaku?\" Kembali Riri teringat konspirasi mereka.
\"Ini dia es krim home made yang nggak kalah enak dengan es krim mahal. \"Cornel memberikan sebuah es krim yang dibelinya dari sebuah kedai mungil Ben and Jerry.
Perasaan hati Riri bergejolak lagi. Nyatanya apa yang tengah dilakukan semua ini hanya pelarian sejenak, tapi bila kembali ke Jakarta masalah dirinya dan papa belum terselesaikan.
\"Ri, aku tahu kamu pasti memikirkan keluarga kamu kan? Pulanglah Ri hadapi masalah bukan lari terus dari kenyataan. Hmmm ini sudah hari ke lima di Singapura, kamu bilang papamu sudah ada puluhan kali miss call dan SMS. Papa kamu sudah berniat baik. Kamu tidak bisa bersikap mencuekin beliau begitu terus menerus. Beliau punya perasaan bersalah itu sudah pasti! Maafkanlah papa kamu Ri, apa yang kamu lihat dengan mama Jo mungkin benar perselingkuhan, tapi bukan berarti kamu meng-judge salah beliau tak termaafkan.\" Cornel memberikan pandangannya yang beberapa kali kemarin sudah sempat diomongin. Tapi bukan hal yang mudah memang meyakinkan Riri yang masih mendendam.
\"Nel aku paling tidak bisa berkompromi dengan pengkhianatan!\" Riri berkata ketus.
\"Riri kamu bilang keluargaku romantis hangat, tahukah Ri beberapa tahun lalu saat aku masih kelas sembilan, ibu pernah berselingkuh dengan seorang pria. Aku sangat sedih! Apalagi pria itu kerap datang ke rumah, saat itu ayah sedang bekerja jadi guide yang disewa full untuk beberapa hari. Dan suatu hari ayah memergoki kebersamaan mereka, ayah sangat marah hampir sebulan mereka saling diam.”
Cornel diam sesaat, sebuah episode pedih hidupnya tengah dibagi dengan Riri.
“Hingga suatu saat pria selingkuhan ibu main tangan pada ibu! tentu saja aku tidak terima, aku waktu itu masih remaja tubuhku masih kurus tapi aku nekad berkelahi dengan pria itu. Tentu saja aku kalah dan saat yang kritis ayah datang langsung membela aku dan lelaki selingkuhan ibu dihajar balik hingga babak belur. Peristiwa itu membuat ibu sadar kalau pria selingkuhan itu sangat kasar. Ibu saat itu sangat menyesal sambil membersihkan luka aku dan setelah itu ibu benar-benar mengakhiri perselingkuhannya. Untung-nya ayahku sangat pemaaf Ri. Thanks God! Sampai sekarang ibu dan ayah saling belajar untuk terus menyayangi.\"
Riri mendengarkan seksama, dia seakan didongengin. Dari hari kemarin hanya dirinyalah yang berkeluh kesah akan masalahnya, padahal ternyata Cornel pernah mengalami pertengkaran ayah ibunya saat dirinya saat masih remaja.
\"Ri orang tua kita juga manusia bisa, mereka bisa saja khilaf! Kamu harus berbesar hati! Bicaralah dua hati dengan papamu.\" Cornel bicara bijak.
Riri menghembus napas panjang mencoba menerima saran Cornel yang sebenarnya sebuah solusi terbaik. Melarikan diri dari masalah hanya memperpanjang rasa tidak nyaman, bagaimanapun harus diselesaikan dan ada kejelasan apa yang terjadi sesungguhnya.
Tiba-tiba telepon genggam Riri berbunyi dan muncul nama “Pengkhianat” kembali tertulis di layar.
\"Papa.\" Riri mendesis pelan.
Cornel tersenyum memegangi tangannya, \"Angkat dan katakan kamu baik-baik saja dan berjanji untuk bicara dua hati bila sudah sampai di Jakarta.\"
Riri ragu tapi genggaman Cornel menguatkan.
\"Hallo Papa.\"
\"Alhamdulillah, Riri kamu baik-baik saja anak Papa! Riri kamu dimana?\" Suara pak Adityo memberondong penuh kekhawatiran.
\"Riri...Riri baik Pah, sehat! Maaf Papa, Riri di Singapura...maaf Papa...Riri mencuri uang dan kartu kredit Papa.\" Terbata Riri berkata jujur.
Ternyata kalimat satu persatu bisa meluncur begitu saja. Bagaimanapun rasa sayang papa yang besar masih sangat terasa, papa yang over protective pasti sangat ketakutan bila ada sesuatu yang terjadi dengan dirinya apalagi kepergian Riri akibat kesalahannya berselingkuh dengan mama Jo teman terdekat Riri.\"
\"Riri sungguh Papa tidak mempersalahkan uangnya, bahkan Papa tidak berniat memblokir kartu kredit yang kamu bawa. Papa takut kamu kelaparan dan kekurangan. Riri maafkan Papa, semua sudah berakhir malam itu juga. Papa tidak tahu sama sekali kalau Marina ternyata mamanya Jo orang yang kamu cintai... mana mungkin papa akan egois memikirkan kebahagiaan semu hati Papa dan menghancurkan kebahagiaan kamu dan Jo. Papa juga sadar akan melukai hati Mama dan Rara,\" suara Adityo tampak penuh penyesalan dan rasa takut yang tidak disembunyikan.
\"Maafkan Riri juga Papa, tapi aku dan Jo sebenarnya sudah tidak ada hubungan khusus apa-apa karena Jo sudah memilih Sara,” jelas Riri.
\"Oh... sudahlah yang jelas Papa tidak akan pernah melakukan kesalahan yang sama, selama kamu pergi Papa dihantui rasa bersalah. Mama dan Rara sampai menegur Papa. Jujur Papa tidak mau melukai perasaan Mama dan Rara. Papa tidak sanggup menyakiti mama dan Rara! Ri maukah membantu Papa menjaga rahasia ini antara kita? Biarlah ini hanya kita yang tahu. Mereka tidak perlu terluka seperti yang kamu alami,\" pinta Adityo.
\"Papa...\"
\"Ri kalau kamu sudah merasa lebih lega pulanglah, kita bicara dari hati ke hati.\"
\"Iya Papa, Riri tetap sayang Papa.\"
Tanpa terasa air matanya meleleh.
Apa yang diusulkan ayahnya persis yang dikatakan Cornel. Riri sungguh merasa lebih lega sekarang. Entah kemana menguap rasa benci yang amat sangat kemarin-kemarin.
\"Terima kasih Sayangku, Papa kangen sekali. Ri cepat pulang ya dan hati-hati.\" Papa Adityo juga sepertinya lebih tenang.
Clik!
Ada kelegaan, ada sebaris senyum tersungging dan yang membahagiakan ada Cornel menyediakan dadanya yang bidang untuk memeluknya. Semua terasa lebih ringan, Riri berjanji untuk bebicara dari hati ke hati sesampainya di Jakarta.
\"Nah kamu harus pulang Ri, besok pulanglah selesaikan masalah dengan papamu baik-baik. Aku janji bila ada waktu libur aku akan datang ke Indonesia.\" Cornel mengusap lembut tangan Riri.
\"Oke, tapi jangan besok ya. Aku masih ingin sehari lagi menikmati negeri ini. Lusa aku janji! Aku akan pulang! Swear,\" Riri mengangkat dua jari telunjuk dan tengahnya.
\"Baiklah setelah dari Jurong Bird Park, sekarang kamu ingin kemana? Kali ini aku yang menawarkan Nona,\" kata Cornel.
Kita ke Singapore flyer yuk,\" Riri spontan mengajak Cornel. Riri ingin melihat keindahan Singapura di kapsul kaca senja hari.
Cornel berpikir sejenak lalu mengangguk-angguk kepala setuju dengan permintaan Riri.
\"Baiklah Nona Riri.\" Cornel menarik tangan Riri. Berdua berlarian menuju ke mobil dan Cornel tersenyum melihat Riri yang sudah jauh lebih segar daripada awal pertemuan.
***
Sore Singapore flyer terlihat lebih lenggang Riri dan Cornel mengantri untuk memasuki kapsul kaca di gate 18.
Dan entah beberapa baris di belakangnya ada beberapa orang lain mengantri. Riri tidak terlalu memperhatikan, apalagi dia berdiri di depan Cornel cowok dengan tinggi 180 cm dan badan cukup besar membuat terhalang untuk melihat orang-orang di belakangnya.
Pintu terbuka dan Riri segera memasuki kapsul kaca memilih tempat duduk di pinggir dan saat itu seorang lelakipun memilih pinggir juga. Posisi Riri dan lelaki yang tergesa masuk akan belakang-belakangan jika mereka duduk bersama.
Sementara Cornel ada di sebelah kanan Riri. Pandangan Riri beredar dan mata Riri bersirobok dengan sosok pria tersebut yang juga tidak kalah kaget saat berdiri dan membalik badannya.
Dalam beberapa detik mereka berdua hanya bisa saling melongo saling menunjuk dengan jari lalu baru setengah histeris.
\"Jooo!\" Riri berteriak tertahan gemas, matanya melotot.
Dan sebaliknya Jo juga tidak percaya mereka akan bertemu di sini.
\"Riri kamu ngapain?\" Jo melirik lelaki tegap ganteng di sebelah kiri Riri yang tetap tenang, tapi sebenarnya dalam pikiran dan hati Cornel tengah mensinkronkan tentang Jo yang bertemu tanpa sengaja sore ini dengan cerita sedih patah hatiyang diungkapkan Riri terhadap dirinya kemarin selama bersama.
\"Sini kamu duduk samping aku!\" Jo tanpa permisi menarik tangan kanan Riri untuk pindah duduk.
\"Eh apa-apaan sih! Aku lagi sama Cornel! Ini pacarku. Cornel ini Jo dan Jo ini Cornel.\" Riri jadi canggung sendiri memperkenalkan Cornel dan Jo secara bergantian.
“Pacar?” Jo spontan kaget. Riri cuek saja.
Riri resah dua cowok yang menyentuh hatinya tengah berhadap-hadapan. Cornel terlihat lebih tenang dibandingkan Jo yang menyorotkan tatapan curiga.
\"Ri bisa kita bicara berdua saja, kita harus meluruskan tentang hubungan papa dan mamaku.\" Jo menatap tajam Riri
Riri mendadak emosi lagi ingat mama Marina dan papanya yang bersama malam Minggu lalu.
\"Jelas-jelas kalian telah berkolaborasi menghancurkan keluargaku! Jo kamu kan kenal papaku dan kamu tahu aku sangat membanggakan papaku yang setia tapi kamu dan mama mu menghancurkan kami!” Tuduh Riri tanpa ampun.
Emosi Riri memuncak tampak raut wajah Riri yang merah padam dan tatapannya penuh kebencian terhadap Jo.
“Mamamu yang cantik mencoba memikat papaku! Dan kamu Jo, kamu diam saja membiarkan mama kamu mengganggu suami orang! Sudah jelas juga calon suami mama kamu adalah papa sahabatmu sendiri! Kamu tidak menghalangi hubungan terlarang mereka malah sebaliknya mendukung! Lalu selama ini kamu tidak pernah merasa sedikitpun kalau aku menginginkan hubungan kita tidak sekedar persahabatan!” Terengah-engah Riri mengungkapkan amarahnya dengan suara ditekan. Tiga tahun menyimpan rasa cintanya tapi kali ini semua Riri ungkap dengan kemarahan.
Mungkin kalau bukan dalam kapsul kaca yang berisi saat itu sekitar sepuluh orang Riri sudah berteriak-teriak. Tak terasa air mata Riri meleleh menahan rasa sesak di dadanya.Masih belum puas Riri memukul bahu kanan Jo.
\"Dan Jo sekarang aku tahu alasan kamu memilih Sara karena tidak mungkinkan kamu memacari anak tiri mama kamu kalau mereka berdua menikah. Aku sudah tahu arah pikiran rencana kamu dan mama kamu! Kamu sungguh keterlaluan Jo! Tega!\"
Kali ini Riri duduk tetap di sebelah Cornel dan menutup wajahnya.
\"Jo! Ri! aku lebaih baik ke sana dulu ya,\" Cornel bangkit dari duduknya dan melangkah ke pojok, mendekati pintu. Cornel ingin memberikan keleluasan untuk mereka berdua berbicara. Jo menempati tempat duduk bekas Cornel duduk.
Cornel menyaksikan Jo yang detik kemudian merangkul Ri dan merengkuhnya. Tampak Riri terisak di dada Jo. Ada rasa tidak rela mendesak di hati Cornel.
Cornel menatap nanar tapi tidak bisa berbuat apapun, sangat jujur ada rasa tidak terima saat Riri berpasrah dan terisak di dada Jo sama seperti di dadanya waktu tadi setelah menerima telepon papanya. Saat Riri terisak di dadanya tadi serasa membangkitkan memori seseorang Azita kembali yang telah pergi meninggalkan dirinya beberapa tahun lalu.
Azita yang memilih meninggalkan dan menikah dengan pria lain karena dirinya belum mempunyai pekerjaan yang mantap empat tahun lalu.
***
“Ri tenang beri aku kesempatan untuk menjelaskan yang sesungguhnya.” Jo membimbing Riri untuk duduk di bangku pinggir kembali. Sekarang Jo duduk menggantikan tempat duduk awal Cornel.
Tidak ada pilihan Riri memang ingin tahu kebenarannya hubungan mereka bertiga dari pada terus berburuk sangka terhadap Jo, mama Marina dan papanya.
Jo menghembuskan napas panjang sebelum bercerita, dirinya juga ingin mengungkapkan apa yang sebenarnya.
\"Riri sakit yang kamu rasakan sama dengan yang ku-rasakan. Apa yang kau tuduhkan pada aku tentang konspirasi sama sekali salah! Aku juga baru tahu mama ternyata sedang dekat dengan seorang pria. Kekagetanku sama seperti dirimu! Aku baru saja putus dengan Sara saat di pesta ulang tahun Melina lalu bertemu dengan kamu dengan perubahan yang sangat cantik! Dan detik itu aku yakin! Kamu adalah milikku selamanya. Aku baru menyadari kebodohanku selama ini, kenapa aku tidak bisa mencintai kamu? Selama tiga tahun kita sudah sangat dekat tapi aku hanya menganggap kamu hanya sahabat. Aku merasa sangat bodoh! Bersama Sara aku tidak senyaman saat bersamamu. Aku putuskan unuk menyelesaikan hubungan aku dengan Sara. Belum sempat aku berkata tapi tiba-tiba seperti yang kita lihat bersama mamaku tengah dekat dengan papamu! Aku tidak mengira dua bulan ke belakang pria yang mama cintai adalah papa Adityo! Salah besar kalau hanya kamu yang terluka Ri!” Jo menjelaskan dengan suara tertahan.
Beberapa orang asing dalam satu kapsul melirik mereka berdua.
\"Jo jadi kalian bertiga tidak sedang merencanakan untuk jadi keluarga baru di atas penderitaan aku, mamaku dan Rara adikku?” Riri memastikan pengakuan Jo barusan.
“Sama sekali tidak Riri! Kalau aku tahu sosok pria yang dua bulan terakhir ini dekat dengan mamaku adalah papa kamu yang kamu sanjung sebagai super hero, tentu saja aku akan melarangnya. Terlebih aku tahu keluarga kamu sangat harmonis. Aku tidak mau mamaku jadi perusak rumah tangga orang terlebih itu sahabat ku yang baru aku sadari kalau aku menginginkan sebagai kekasih sekarang.” Jo menatap
lembut Riri.
Riri jadi salah tingkah, apa yang barusan Jo katakan sepertinya kalimat yang sangat ingin didengarkan tiga bulan lalu. Tidak bisa dipungkiri pesona Jo masih melekat tapi sosok Cornel sekarang juga mendominasi hatinya. Dan Riri butuh mengikuti pesan hatinya akan dua pria yang sekarang mencintainya.
Jo, kamu putus dengan Sara? Kenapa?\" Entah kenapa Riri bernafsu banget menanyakan suatu kebenaran. Baru saja tahu kalau Jo putus dengan Sara, benarkah hatinya benar-benar merasa berbahagia? Riri tidak tahu.
\"Sara terlalu posesif bahkan aku tidak bisa melanjutkan persahabatan denganmu. Dia sangat cemburu denganmu dan melarang aku menemui kamu. Maafkan aku sempat meninggalkanmu dan membuatmu terluka.\" Jo menatap mata Riri redup tampak ada kelelahan juga menggurat di wajah Jo. Ternyata wajah Jo juga menyiratkan kelelahan tidak seperti tiga bulan lalu biasanya segar dan selalu memancarkan wajah jahil pada dirinya.
Wajah mereka saling bertatapan sangat lekat, Cornel memilih membuang muka membalikan badan memasukan tangannya ke saku menunduk sejenak dan menatap hamparan Singapura dari ketinggian 165 meter tepat posisi teratas.
Pada puncak tertinggi, putaran sengaja diberhentikan sejenak memberikan kesempatan menikmati Singapura dari sudut yang sangat tinggi.
Riri dan Jo terhenyak segera mereka dengan penumpang lainnya serasa sedang melihat miniatur kota Singapura dengan segala ornamen dan ikon khasnya. Bahkan dari ketinggian tersebut bisa melihat pulau Batam dari kejauhan.
Jo memeluk Riri dan semua begitu cepat, Riri serba salah di balik bahu Jo yang tengah memeluknya karena saat bersamaan Cornel mentapnya dengan tajam. Ada sorot cemburu, Riri terhenyak dan segera melepaskan pelukan dari Jo.
\"Cornel can you help take us a picture,\" Jo memberikan Black Berry-nya dan meminta tolong Cornel mengambil gambar mereka berdua.
Jo segera merangkul Riri, pas di puncak ketinggian berlatar belakang hamparan laut dan hotel Marina Bay Sand dan Cornel mengambil the best view untuk mereka berdua dengan perasaan tak menentu. Riri juga tidak bisa mencegah apapun saat Jo bersikap mesra tiba-tiba.
\"Thank you...\" ucap Jo.
\"Sama-sama,\" jawab Cornel ringan baru saja ada rasa panas memburu hatinya karena harus menyaksikan Riri dalam pelukan Jo dan dirinya harus mengabadikan dalam sebuah potret.
\"Wah kamu bisa berbahasa Indonesia,\" Jo baru sadar kalau Cornel barusan berbahasa Indonesia.
\"Cornel ibunya orang Indonesia dan ayahnya asli sini. Cornel menolong aku saat aku terjatuh di kolam, dia adalah lifeguard.\" Terang Riri cepat.
\"Wow keren, gimana kalau besok kita pergi jalan-jalan bersama? Riri kita pulang lusa sama-sama aja ya! Tahukah kamu aku ke sini kerena dalam rangka mencarimu juga sebenarnya.\" Jo menginformasikan tentang kedatangannya di Singapura sebenarnya karena dalam rangka pencarian terhadap Riri.
\"Bagaimana bisa?\" Riri memasang wajah heran.
\"Kamu pikir hanya kamu yang bisa kabur ke Singapura untuk lari dari masalah? Aku juga bisa.\" Jo membela diri.
\"Kamu tahu dari siapa aku ke Singapura?\" selidik Riri.
\"Aku dan papamu sempat mencari kamu beberapa hari lalu, kami janjian ke asrama kamu dan meminjam kunci kamar kamu. Lalu kami temukan foto kamu sekeluarga waktu ke Singapura empat tahun lalu yang kamu lepas dari tembok.”
“Hmmm...”
“Feeling papamu mengatakan kamu kabur kemari. So di sinilah aku mengejar dirimu sekaligus cinta kita yang tertunda.” Jo berkata penuh percaya diri.
Wajah Riri menjadi memerah, Cornel hanya melirik reaksi Riri. Sepertinya cinta tertunda yang akan membuat Riri galau memilih.
“Ok kita makan dulu lalu aku antar Riri balik ke hotel. Besok aku belum tahu nih bisa gabung dengan kalian atau tidak.\" Cornel berkata dingin.
\"Ayolah ikut, aku penasaran dengan wisata ducktours nih,\" Jo malah memaksa Cornel untuk bergabung.
\"Oke kalau gitu malam ini kita istirahat di kediaman masing-masing,\" Cornel menatap tajam Jo, tersirat maksudnya jangan coba-coba malam ini mengajak jalan Riri tanpa dirinya. Jujur hatinya antara tidak percaya dan tidak ikhlas melepas Riri hanya berdua Jo.
\"Deal!\" Jo menjawab tegas.
“Besok kita ketemuan di lobi hotel Riri menginap di hotel Marina Bay Sand.” Cornel berkata dingin.
\"Hotel Marina Bay Sand? Gila Ri kamu habisin uang papamu berapa puluh juta.\" Cornel melotot.
Riri nyengir dan merasa tersindir dengan perkataan Jo barusan.
\"Sudahlah Jo nggak usah dibahas! Lusa juga kita pulang.\" Riri mengalihkan tuduhan menghamburkan uang papanya yang baru saja Jo isyaratkan.
Bertiga menyisakan waktu bersama, Cornel mengendarai mobil lebih kencang daripada biasanya, Riri jadi merasa tidak enak hati.
\"Pasti Cornel kesal gara-gara aku bersikap manis dengan Jo padahal baru empat hari lalu aku memaki-maki dan bersumpah-sumpah tidak akan mengenal Jo lagi.\" Laras batin Riri.
“Ah 37 menit percakapan Singapore flyer mengungkapkan sebuah kebenaran dan nyatanya rasa cintaku pada Jo masih tersisa banyak.” Jujur batin Riri.
\"Ri istirahat ya.\" Tiba-tiba Cornel sudah mendahului untuk membuka pintu dan membantu menurunkan Riri.
Riri merasa kalau Jo sepertinya tidak suka saat Cornel memperlakukan penuh perhatian, sesuatu yang seharusnya hanya Jo yang berhak melakukan karena dialah pria yang sebenarnya Riri cintai sebagai cinta pertama.
Jo sekarang sudah tahu kalau Riri sangat mencintai dirinya. Sebenarnya beberapa waktu lalu Sucita sahabat Riri menceritakan perasaan Riri yang sebenarnya, takut persahabatan menjadi rusak Riri memilih diam menyimpan rasa cintanya pada Jo selama ini. Sampai akhirnya Sara masuk ke dalam kehidupannya dan menjauhkan Riri dengan dirinya.
Saat menemukan Riri kembali di negara singa, Jo tersadar rasa rindu menyerangnya dan seketika ingin memeluk Riri. Kehadiran Cornel sepertinya jadi ancaman baru. Pelukan tadi sengaja Jo lakukan untuk menunjukan pada Cornel bahwa dirinya masih berarti buat Riri. Jo akui ada rasa cemburu dalam hati Jo terhadap Cornel yang bersikap manis terhadap Riri.
Dan demi mempertahankan Riri agar tidak memilih Cornel, tadi Jo terpaksa bohong padanya tentang Sara, \"Maaf Ri aku belum putus dengan Sara sebenarnya, aku masih ragu untuk kalian berdua. Saat dekat dengan Sara aku ingat kamu akan tetapi saat aku dekat denganmu bayangan Sara juga selalu ada. Aku berbohong agar kamu tidak memilih untuk jatuh cinta pada Cornel! Karena lelaki itu terlihat sangat menyayangimu dan seharusnya akulah yang berhak!\"
\"Cornel, Jo sampai besok ya!\" Riri melambaikan tangan sesampainya di loby hotel.
Other Stories
Saat Cinta Itu Hadir
Zita hancur karena gagal menikah setelah Fauzi ketahuan selingkuh. Saat masih terluka, ia ...
Tiada Cinta Tertinggal
Kehadiran Aksan kembali membuat Tresa terusik, teringat masa lalu yang ingin ia lupakan, m ...
Cinta Bukan Ramalan Bintang
Dengan membaca ramalan bintang seakan menentukan hidup seorang Narian akan bahagia atau ti ...
Flower From Heaven
Setelah lulus SMA, Sekar Arum tidak melanjutkan kuliah seperti dua saudara kembarnya, Dyah ...
Dengan Ini, Saya Terima Nikahnya
Penulis pernah menuntut Tuhan memenuhi keinginannya, namun akhirnya sadar bahwa ketetapan- ...
Aku Pulang
Raina tumbuh di keluarga rapuh, dipaksa kuat tanpa pernah diterima. Kemudian, hadir sosok ...