Pesan Dari Hati

Reads
3.8K
Votes
0
Parts
19
Vote
Report
Penulis Nenny Makmun

13. Ductkours 6 Days 5 Nights

Tak terasa sudah hari kelima di Singapura rasanya begitu
cepat waktu berjalan. Riri menyegarkan kelelahan hari ini dengan berendam air hangat, bau sabun cair jasmine merebak dalam kamar mandi.
Sejenak memejamkan mata, mencoba mereka ulang pembicaraan 37 menit di Singapore flyer dengan Jo.
Perkataan Jo yang ternyata menginginkan dirinya kembali sebagai seorang kekasih dan tidak adanya konspirasi antara papa, Jo dan mamanya membuat Riri lega dan yang terpenting dirinya telah bisa bersikap lunak terhadap papanya.
Terlintas rasa cemburu dari kilatan mata Cornel saat Jo memeluknya, ada rasa tidak enak merebak kembali di hatinya.
Nyatanya satu persatu jawaban terjawab. Penjelasan Jo akan perasaannya yang telah berubah tidak menginginkan sekedar menjadi sahabat tiga bulan lalu dan tidak adanya konspirasi antara Jo, tante Marina dan papanya cukup membuat Riri bisa tersenyum kembali. Tinggal berbicara dari hati ke hati dengan papanya untuk menjernihkan semuanya termasuk permintaan maaf akan pencurian yang telah Riri lakukan.
Tetapi sekarang timbul pertanyaan lain, Riri menjadi bimbang dalam hatinya siapakah sekarang yang membuatnya bahagia kehadiran Jo ataukah Cornel?
Suara telpon masuk dari telepon genggam menyadarkan Riri untuk menyudahi berendamnya yang menghabiskan satu jam. Setelah memakai baju tidurnya, ternyata ada tiga miss call semua dari Cornel. Riri memutuskan menelepon balik.
\"Ya Cornel ada apa?\" Riri memutuskan menelepon balik.
\"Ri, istirahat ya besok kita masih punya satu hari bersama. Setelah itu kamu dan Jo balik ke Indonesia. Sepertinya aku akan merindukanmu.\" Cornel berkata lembut.
\"Iya Cornel...Singapura-Indonesia dekat, any time kamu bisa ke Jakarta.\"
\"Ri kamu akan kembali ke hati Jo? Karena memang dari awal hati Jo lah yang kamu harapkan?\" Tiba-tiba Cornel to the point bertanya yang menjadi kekhawatiran dirinya.
\"Cornel sudahlah jangan berpikir terlalu jauh. Aku ngantuk banget! Capek! Boleh aku tidur.\" Riri berusaha menghindar percakapan akan hati yang akan dipilih.
Riri sejujurnya bingung dengan hatinya yang berkecamuk tidak jelas, Riri ingin menghindari sesaat pertanyaan yang sungguh dia belum bisa menjawabnya saat ini. Semua berubah terlalu cepat.
\"Ri...mungkin terlalu dini aku mengatakan kalau aku sayang kamu. Dan aku tidak pernah berniat main-main untuk rasa ini.\" Cornel langsung menembaknya.
\"Aku, aku tahu Cornel, karena itu kamu tidak pernah bisa dekat wanita lain setelah Azita meninggalkanmu.\"
Riri tahu Cornel memang sangat menghargai perasaan akan sayang dan cinta, setelah satu hati diberikan dia akan menguncinya rapat-rapat untuk memberikan ruang hati dia sepenuhnya pada yang terpilih.
Riri merasa tersanjung, hatinya bimbang... kenapa juga harus kembali bertemu Jo saat dia mulai bisa melupakannya.
Dan sekarang kehadiran Jo dengan hatinya malah menggoyahkan rasa cinta yang baru saja mulai terhadap Cornel. Mungkinkah kehadiran Jo akan gampang mematikan rasa cinta yang baru saja tumbuh terhadap Cornel. Sepertinya hanya pasan dari hati yang bisa memutuskan apa yang harus Riri pilih.
***
Riri menyelesaikan breakfast dan menikmati tea breakfast London khas hotel Marina Bay Sand dengan cepat. Jo menelepon dan mengatakan kalau dirinya dan Cornel sudah di loby. Tak terasa sudah enam hari lima malam Riri menginap hotel mewah ini.
Sekarang dua pria tengah memandang dirinya lekat yang bergaya santai, celana jeans tiga perempat dengan atasan kaos hitam model feminin dengan logo garuda kecil sebelah kiri membuat tampilannya tampak cute.
\"Ayo jalan,\" Cornel menyalakan mesin mobilnya, kita berputar-putar dulu ya menyaksikan sudut-sudut jalan habis itu Jo ingin mengikuti ducktours.
\"Wah apaan tuh dark tours? Tour kegelapan gitu?\" tanya Riri penasaran
\"Bukan dark gelap Riri Sayang! Tapi duck it\'smean bebek!\" Cornel menjelaskan kesalahan pendengaran speling dark dan duck yang sekilas sama.
\"Jadi tour bebek gitu ya. Kita pakai kostum bebek.\" Riri masih memaksakan ilusinya.
\"Bukan Ri, ducktours itu wisata keliling Singapore dengan kapal amfibi yang bisa jalan di darat dan di air. Perjalanan akan di mulai dari Suntec City karena di sinilah basecamp-nya ducktour boat. Lalu akan diajak mengitari padang sebuah lapangan rumput besar yang berada di tengah perkantoran Singapura. Kita bisa melihat pemandangan kota Singapura dari segala arah, bisa melihat gedung-gedung perkantoran yang menjulang tinggi juga akan diajak untuk melihat spot-spot penting di pusat kota Singapura. Setelah menikmati pemandangan kota lewat jalan darat kita akan ke air turun ke sungai Singapura. Titik awalnya dari ujung jembatan Benjamin Sheares lalu kapal ini akan bergerak ke arah Merlion Park di mana kita melihat Patung Merlion dengan latar belakang gedung-gedung pencakar langit.” Cornel menjelaskan panjang lebar tentang ducktours yang menjadi wisata terakhir bersama Riri.
“Hehehe kamu udah kaya ayah aja Nel, cara ngejelasin udah kaya guide profesional.” Sindir Riri.
\"Emang ayah Cornel seorang guide?\" Jo tiba-tiba tertarik untuk tahu.
\"Iya Jo, dua malam lalu kita dinner bareng lho,\" Riri melebarkan matanya yang indah.
\"Dinner?\" Jo berkata agak keras dan matanya membesar heran.
“Dinner dengan keluarga Cornel yang baru Riri kenal? Terbukti keberadaan Cornel benar-benar mengubah banyak akan Riri. Cornel bergerak cepat meraih hati Riri sepertinya.” Pikir Jo yang merasa kecolongan.
“Ayah Cornel seorang guide dan ibu Cornel orang Indonesia makanya Cornel bisa berbahasa Indonesia.” Jelas Riri pada Jo.
“Riri baru kenal Cornel beberapa hari, tapi ibu dan ayahnya sudah dikenalnya. Bahkan kelihatan akrab dan tidak canggung. Perlakuan Cornel pada Riri juga sangat gentle.” Keluh hati Jo.
\"Nel kita duduk-duduk di situ yuk,\" ajak Riri.
Di selasar jalan Orcad. Sejurus mereka saling mengakrabkan sembari Jo dan Cornel menikmati chocolate cookies crumble cream sementara Riri segara menghabiskan manggo passion frape blended.
\"Yuk lumayan siang nih saatnya ducktours,\" Cornel mengajak Jo dan Riri jalan lagi.
Sementara Cornel mengantri tiket, Jo asik melihat mobil amphibi yang konon dulu bekas milik militer. Sekarang dijadikan untuk alat wisata.
\"Yuks.. let\'s go!\"
Cornel naik dan memilih duduk di pinggir paling belakang.
Riri menyusul di samping dan Jo duduk di sebelah. Riri merasa canggung juga duduk di tengah dua cowok yang sepertinya memperebutkan dirinya dan menuntut perhatiannya.
Touring dimulai dengan seorang pemandu Suntec City menjelaskan persis yang Cornel terangin dan here we are....byurrr mesin yang tadinya mobil darat sekarang berenang menjadi kapal dan mengambang, Riri sudah merem aja! Masih ingat dia beberapa waktu tenggelam dan untung Cornel menolongnya.
Semua peserta tour tampak asik melihat pemandangan sekitar, tiba-tiba di tengah tour yang menyenangkan sebuah kapal kecil dengan tiga pemuda memakai baju seragam Army meminta mereka untuk menyingkir ke tepian dekat patung Marlion.
Entah ada percakapan bahasa asli Singapura sedikit, sepertinya Cornel mengerti.
\"Ada apa Nel kok sepertinya serius banget?” tanya Jo.
“Mereka meminta kita menepi sejenak, dan meminta waktu untuk kita menunda pengembalian ke lokasi awal,” jawab Cornel.
\"Iya tadi tuh sepertinya dari sekelompok militer, mereka sedang latihan untuk hari kemerdekaan Singapura 8 Agustus nanti.” Jo menebak-nebak dengar dari percakapan wisatawan depannya.
\"Terus kita gak boleh berputar dulu ya untuk kembali ke daratan?\" tanya Riri.
\"Lihat?\" salah satu wisatawan menunjuk segerombolan kapal militer di bawah jembatan.
Cornel melihat di bawah jembatan ternyata telah berjajar kapal-kapal militer dan asap mengepul.
Dan tiba-tiba duaar! Sepertinya sangat dekat di telinga suara bom berdentum.
Saking kagetnya Riri menyusupkan wajahnya, Cornel langsung meraihnya ke dada ketika melihat kilatan api dan asap lalu dentuman bom kembali.
Di depan Riri seorang anak lima tahunan cewek menangis.
\"Don\'t cry.\" Pemandu tour ikut menenangkan gadis kecil yang ketakutan dan melakukan hal sama menyusup ke pelukan ibunya.
Setiap akan berbunyi bom Cornel memperat pelukannya dan tangannya menutupkan di telinga Riri.
Ada kurang lebih sepuluh kali dan butuh hampir dua puluh menit keterlambatan untuk kembali ke dermaga.
Setalah menunggu bubar pasukan-pasukan militer kapal ducktours mulai berjalan saat melintasi dekat dengan pasukan-pasukan tentara malahan mereka mengancungkan jempol dan melambaikan tangan persahabatan. Cornel juga ikut melambaikan.
Jo merasa tersisih karena Riri lebih mencari perlindungan dengan lelaki yang seharusnya masih dianggap asing.
Rasa cemburu menghantui Jo tapi wajah Sara juga tidak bisa Jo abaikan begitu saja. Sebenarnya Jo mencintai Sara hanya saja Sara terlalu bersikap memilikinya sampai-sampai bersahabat dengan Riri dan beberapa teman lain tidak diperbolehkan. Waktunya hanya untuk mengurusi Sara, awalnya memang menyenangkan merasa selalu dibutuhkan Sara, tapi lama kelamaan hampir tiga bulan hubungan yang terlalu posesif membuat Jo mulai bosan. Ada rasa rindu kebebasan saat belum ada Sara karena bersama Riri walau dekat tapi dirinya bisa bersahabat dengan siapapun tanpa dicurigai seperti saat ini.
Tidak terlintas untuk jauh dari Riri sebenarnya selama ini, tapi kecemburuan Sara membuat Jo sesaat mengalah untuk menjauhi Riri.
Rasa bersalah menyesakan dada saat Sucita bercerita selama ini Riri menyimpan rapat rasa cinta pada dirinya agar tidak merusak persahabatan yang sudah terjalin lama. Lagi pula waktu itu Riri tidak siap harus kehilangan Jo sebagai sahabat. Sekarang memang hatinya tidak rela bila Cornel yang baru beberapa hari bisa merebut hati Riri.
Jo ingin memperbaiki hubungannya yang rusak dengan Riri, semua karena Sara. Tapi bukan sepenuhnya juga salah Sara karena harusnya sebagai laki-laki dia juga punya prinsip.
“Ahhh kenapa aku jadi bimbang begini, kenapa aku merasa cemburu dan tidak rela bila Riri harus jadian dengan Cornel. Sepertinya Riri juga jatuh cinta pada Cornel apalagi Cornel cepat sekali memperkenalkan Riri pada orang tuanya. Sepertinya Cornel benar-benar serius suka pada Riri,buktinya tanpa banyak berpikir Cornel dalam sekejap sudah mengizinkan Riri ke rumahnya dan makan malam bersama orang tuanya.” Jo bicara dengan hatinya sendiri.
Jo benar-benar merasa kalah sekarang, tiga tahun mengenal Riri tak terlintas sedikit pun memperkenalkan Riri pada mamanya meskipun memperkenalkan hanya sebagai sahabat.
Mungkin kalau Jo sempat memperkenalkan Riri dengan mamanya maka tidak terjadi insiden mamanya dan papanya Riri berkencan karena setidaknya Riri juga akan bercerita sedikit siapa dirinya, siapa orang tuanya saat berkenalan dengan mamanya.
Tapi semuanya sudah terjadi, Jo sadar hati Riri bukanlah hati yang kemarin-kemarin tersakiti. Hati Riri sudah terisi sebuah hati baru yang menawarkan sebuah cinta dengan cepat apalagi fisik Cornel juga sangat menarik.
Cornel dengan postur yang proporsional, wajah tampan dan sifatnya yang lembut penuh perhatian telah mencuri hati Riri bahkan mungkin juga perasaan Riri seutuhnya.
Ada rasa khawatir dalam hati Jo, saat dirinya bimbang dan bingung dengan hatinya sendiri setelah tahu hati Riri yang sebenarnya. Jo ingin memperbaiki hubungannya dengan Riri dan memulai sebagai seorang kekasih bukan lagi sahabat tapi tampaknya tidak semudah yang diperkirakan. Apalagi ada Sara yang statusnya belum putus dan Riri ada Cornel.
Jo sendiri bimbang! Apakah mau melanjutkan hubungan dengan Sara atau mengakhirinya saja. Andai Sara mengizinkan dia tetap bisa bersahabat dengan Riri kemarin-kemarin, juga bisa mempunyai waktu dengan teman-teman yang lain sepertinya mempunyai pacar bukan hal yang membosankan dan tidak membuat hatinya terkekang.
Tentu saja rasa cinta masih ada untuk Sara tapi hatinya tiba-tiba bimbang dengan pilihannya apalagi setelah merasakan Riri sebenarnya tiga tahun telah memberi kenyamanan.
Jo tidak mau Riri tahu kalau dirinya hanya sedang cooling down dengan Sara. Maka Jo lebih baik bilang putus! Karena sama sekali hatinya tidak rela Riri jatuh cinta dengan Cornel.
Cornel begitu tenang menghadapi Riri, Jo jadi ragu apakah dirinya bisa seperti Cornel yang tenang, dewasa dan serius menghadapi Riri yang sebenarnya tomboy, agak cerewet tapi baik hati.
Jo tidak bisa menghentikan apapun usaha atau memang adanya Cornel yang bersikap manis terhadap Riri. Bagai-manapun Jo tetap merasa harusnya Riri waspada akan Cornel yang mungkin hanya akan mempermainkan hatinya saja yang tengah galau.
Siapa saja akan lebih mudah memasuki hati cewek yang tengah rapuh tak terkecuali Cornel yang mungkin kebetulan juga tidak sedang ada pacar. Yang jelas Jo merasa terancam akan kehadiran Cornel.
Sejujurnya Jo ingin masih berharap akan bisa memperbaiki semuanya dengan baik. Masalah dirinya tetap dengan Sara atau dengan Riri yang jelas seakarang Riri harus dijauhkan dengan Cornel.
***
\"Ri kamu perlu dibantu packing nggak?\" tanya Jo.
\"Nggak lah Jo aku nggak belanja seheboh yang kamu kira menguras kartu kredit papa sampai harus dibantuin packing gara-gara banyak bawaan.\" Riri tersenyum hangat.
“Kenapa sih Riri jadi menolak apa yang aku ajukan, padahal dulu apa-apa paling senang kalau aku membantu apa saja?” Hati Jo menggerutu.
\"Nel kamu nggak ikut ke Jakarta ?\"tanya Jo tiba-tiba saat mau sampai di hotel.
\"Suatu hari nanti, pasti aku akan kangen dengan...\" Cornel menatap mesra Riri. Tampak wajah Riri merah padam dengan pernyataan Cornel barusan. Hatinya berbunga-bunga dan tentu saja senang melihat tampang Jo jadi kesal karena Cornel ternyata sangat perhatian.
Bukan balas dendam yang sengaja juga karena sikap Jo waktu lalu yang mengabaikan membuat hatinya sangat kesal dan terpuruk. Setidaknya ini sedikit pembalasan yang tak terpikirkan juga oleh Riri sebelumnya membuat Jo cemburu. Semua berjalan apa adanya dan tak ada rekayasa.
Jo tampak kesal, \"Sialan salah bertanya nih!\"
\"Ehem Ri aku senang bisa menemukan kamu kembali, besok kita kembali Jakarta semua kita mulai dengan lebih baik oke Dears,\" Jo sengaja bicara keras menegaskan hubungan baru mereka.
Dan Jo tiba-tiba mengacak-acak rambut Riri seperti di waktu lalu. Saat dekat Jo kerap kali mengacak-acak rambut cepaknya bila gemas atau kesal dengan dirinya. Saat itu yang ada hati Riri selalu berdebar.
Nyatanya apa yang baru saja dilakukan Jo sebaliknya membuat Riri jengah dan cepat-cepat merapikan rambutnya. Dulu Riri akan membalas apa yang barusan Jo lakukan, tapi semua terhenti begitu saja. Riri tidak ingin membalas mengacak-acak rambut Jo. Karena Cornelkah?
Riri melirik Cornel yang wajahnya juga merah padam, apa yang diingatkan Jo memang benar adanya. Riri bimbang dengan hatinya. Kenapa harus ada Jo lagi tapi Jo yang berterus terang dan ingin memperbaiki hubungan mereka yang retak juga membuat hati Riri riang.
“Apakah benar Jo masih merajai hatinya sekarang? Aduh tapi aku tidak bisa mengabaikan Cornel begitu saja. Aku sepertinya juga jatuh hati pada Cornel walau baru sebentar mengenalnya.” Riri berdialog dengan hatinya.

Other Stories
Testing

testing ...

Cicak Di Dinding ( Halusinada )

Sang Ayah mencium kening putri semata wayangnya seraya mengusap rambut dan berlinang air m ...

Suffer Alone In Emptiness

Shiona Prameswari, siswi pendiam kelas XI IPA 3, tampak polos dan penyendiri. Namun tiap p ...

Way Back To Love

Karena cinta, kebahagiaan, dan kesedihan  datang silih berganti mewarnai langkah hidup ki ...

Cahaya Dalam Ketidakmungkinan

Nara pernah punya segalanya—hidup yang tampak sempurna, bahagia tanpa cela. Hingga suatu ...

Melinda Dan Dunianya Yang Hilang

Melinda seorang gadis biasa menjalani hari-hari seperti biasa, hingga pada suatu saat ia b ...

Download Titik & Koma