8. Welcome Singapore
\"Menuju bandara Soeta ya Pak...\"
\"Terminal berapa Non?\" tanya driver taksinya.
\"Garuda Pak, terminal 2E penerbangan internasional,\" jawab Riri ringan.
Hari Minggu yang lenggang tidak ada kemacetan yang berarti menuju bandara. Riri melakukan chek in ada satu jam ke depan menunggu pesawat GA 802 terbang menuju bandara Changi.
Riri menghabiskan waktu dengan searching tentang Singapura lebih detail. Bagaimanapun hobi menulis traveling masih saja melekat walau dirinya sibuk dengan mata kuliah teknik.
Untuk setiap jalan-jalan domestik atau internasional Riri mengoleksi repotasenya untuk memenuhi blog yang khusus bercerita tentang hal yang berhubungan dengan jalan-jalan dan kuliner.
Singapura tetap menggoda dan Riri memilih sebagai tempat untuk berlari dari masalahnya sesaat. Singapura adalah pusat keuangan terdepan keempat di dunia dan sebuah kota dunia kosmopolitan yang memainkan peran penting dalam perdagangan dan keuangan internasional. Pelabuhan Singapura adalah satu dari lima pelabuhan tersibuk di dunia.
Sementara untuk tulisan hati Riri tidak suka menulisnya dalam blog yang bisa saja dibaca setiap orang. Riri lebih suka menulisnya dengan catatan tangan di buku harian yang disimpan rapi dalam almarinya.
Lima belas menit sebelum take off penumpang sudah menaiki pesawat, beruntung Riri mendapat di pinggir jendela. Tempat favorit setiap berpergian bisa memandang lepas awan berarak, lautan dan rumah-rumah di ketinggian tertentu. Semua alat komunikasi dimatikan untuk tidak mengganggu navigasi penerbangan.
Dengan lincah seorang pramugari membagikan jus dalam kemasan mini bertulis orange sun ripe. Riri langsung meneguk habis dan kesegaran mengaliri kerongkongannya. Butuh waktu kurang lebih satu jam empat puluh lima menit menuju Singapura.
Menghabiskan waktu menuju Singapura Riri memilih mengutak-atik layar TV berukuran tujuh inchi dan memasang headset dan memilih lagu-lagu dari band Noah.
Dimulai menikmati lagu “Separuh Aku” Band Noah kebanggaan Indonesia.
”Dan terjadi lagi kisah lama yang terulang kembali kau terluka lagi... Dari cinta rumit yang kau jalani... Aku ingin kau merasa kamu mengerti aku mengerti kamu aku ingin kau sadari... Cintamu bukanlah dia... Dengar laraku...Suara hati ini memanggil namamu... Karena separuh aku dirimu.”
Tiba-tiba pramugari cantik menawarkan menu makan yang tersedia ada ikan atau daging. Riri memilih daging dan jus apel tanpa es.
Sambil sesekali pandangannya melihat awan yang sejuk, pas cuaca sedikit mendung dan tiba-tiba matanya tertuju pada sebuah keluarga yang duduk di sederetan bangkunya di sayap kanan samping yang terdiri ibu, bapak dan dua putrinya yang diperkirakan berusia lima tahun dan tiga tahun.
Keluarga itu mengingatkan dirinya saat berumur lima tahun gadis kecil yang tertidur di pangkuan papanya sementara adiknya dengan ibunya sambil asik meminum susu botol.
Tadi waktu take off dua bocah duduk anteng dengan seat belt-nya tapi setengah jalan masing-masing sudah dipangku dengan ibu bapaknya. Yang besar mendominasi bapaknya dan anak yang kecil ibunya persis seperti dirinya dan Rara.
Ah Riri sebenarnya kangen dengan kebersamaan mereka sudah sebulan tidak pulang ke Cibubur malah sekarang kabur ke negeri orang.
Steak sapi dengan bumbu manis kecap sedikit keju tabur dan lada, ada rebusan kapri, potongan wortel, kacang panjang dan kentang rebus masih hangat menggugah selera makan siang hari. Dengan porsi makan yang cukup. Dan sisa waktu dua puluh menitan Riri memilih sejenak pejamkan mata.
“Welcome to the airport Changi...we already arrived at 13.45...enjoy with your trip... and thank you very much for join with us ...”
Riri tersenyum, “Alhamdulillah, Singapore I am coming with my sadness...”
***
Pandangan mata Riri beredar menyapu bandara Changi yang memang layak untuk dijuluki bandara terbersih, terapih dan termegah. Sangat banyak kemajuan dari empat tahun lalu, papan-papan iklan perusahaan-perusahaan besar multinasional bertebaran semua tertata rapi.
Changi Airport di Singapura terpilih menjadi bandara terbaik di dunia tahun 2013 versi Skytrax. Memang, bandara ini sangat bersih, nyaman, dan juga tertib. Tak hanya itu, fasilitas di dalamnya pun sangat lengkap.
Ketika menapakan kaki di dalam bandara, suasana bersih langsung menyambut kedatangan para penumpang. Banyak tong sampah yang diletakan di dekat tiap-tiap bangku, yang memudahkan penumpang untuk membuang sampah.
Tentu saja kelihatan sangat bersih jika ketahuan buang sampah sembarangan, siap-siap denda menanti. Andai di Indonesia bisa diterapkan masalah sampah, merokok yang sembarang dilakukan maka kena denda sepertinya bangsa tercinta juga bisa sedikit rapi dan tertib.
Banyak papan penunjuk Gate yang terpampang dengan informasi yang jelas. Setiap papan penunjuk Gate selalu diberi catatan waktu berapa lama berjalan kaki menuju ke sana, mulai dari 17 menit, 10 menit hingga 5 menit.
Setelah melewati proses pengecakan imigrasi Riri bisa bernapas lega. Mengikuti kata hatinya menapaki kenangan-kenangan bahagia bersama keluarga empat tahun lalu.
Setelah menaiki kereta sampai pada terminal tiga, Riri memilih salah satu taksi dan tujuan pertama adalah Suntec City Mall menghabiskan hari di sini untuk belanja dan mencoba makanan lain daripada lainnya di food court.
Untuk menuju ke Hotel Marina Bay Sands dan Singapore Flyer hanya butuh waktu sekitar lima belas menit, tapi bukan tujuan itu yang pertama Riri tuju. Riri masih ingin duduk di kursi-kursi yang betebar di sepanjang jalan sambil menikmati tall capucino-nya.
Bernapas sejenak melihat burung-burung liar berterbangan dan orang lalu lalang dengan urusan masing-masing, cuek dan tidak saling mengenal sama sekali.
Angin semilir bertiup dan suara telepon genggamnya berbunyi, tertera dalam layarnya “My Superman” itulah julukan nama buat papanya.
Riri diam membisu sampai handphone berhenti berbunyi, lalu mengganti nama My Superman menjadi Pengkhianat.
Riri yakin papanya mencari hanya untuk meminta maaf atau malah minta izin untuk menikah dengan mamanya Jo. Setiap ingat mama Jo yang menggelayut manja membuat Riri meradang.
“Jangan harap Riri akan memaafkan papa apalagi mama Jo yang sama saja dengan Jo! Sama-sama menyebalkan! Sama-sama membuat aku terpuruk!” Jerit bathin Riri.
Puas menikmati keramain kota di tengah sepi dan resahnya hati, Riri memutuskan berjalan sejenak menyisiri tiap sudutnya.
Jam di tangan menunjukan pukul tiga lebih tiga puluh menit hampir satu jam dirinya di pusat Hypermarket terbesar Carrefour, Singapura yang juga merupakan bagian dari Suntec City Mall.
Bersyukur cuaca tidak panas sekali tapi tidak juga dingin. Terasa hangat menerpa tubuhnya.
***
Riri memutuskan menuju Marlion park sejenak, dengan menaiki taksi kurang lebih lima belas menit Riri sudah berada di jembatan Marlion park.
Masih lekat dalam ingatannya tempat-tempat berfoto saat bersama papa, mama dan Rara empat tahun lalu.
Merlion park adalah tempat yang wajib dikunjungi bila datang ke Singapura. Di taman yang terletak di Marina Bay ini, terdapat patung kepala singa yang menjadi maskot bagi negara Singapura.
Merlion adalah makluk misterius yang berkepala singa dan berbadan ikan. Dari segi bahasanya Mer berarti laut, dan lion berarti singa. Badan ikan melambangkan bahwa jaman dulu Singapura terkenal sebagai tempat dengan banyak nelayannya. Kepala singa melambangkan nama Singapura sebagai kota singa.
Semua sudut Singapura yang sedang Riri jelajahi seakan membangkitkan semua kenangan bersama papa, mama dan Rara.
Sekarang hatinya jujur tidak pernah rela bila kebahagiaan itu direnggut apalagi oleh mama Jo, yang anaknya penyebab luka hatinya. Keputusan Jo berpacaran dengan Sara dan meninggalkan dia sebagai sahabat adalah sakit pertama yang tertoreh dan membuat hatinya perih.
Dilanjutkan tanpa disengaja papa yang selama ini dianggap sang pahlawan dan sang Superman, ternyata pacaran dengan mama Jo ini jelas untuk kedua kalinya luka yang baru saja mulai mengering kembali serasa disilet, amat sakit! Lebih sakit!
Riri benci mengingat wajah Jo, papa dan mama Jo yang sampai sekarang belum Riri tahu namanya.
Tersadar tiga tahun dengan Jo dirinya tidak mengenal sosok mamanya Jo sama sekali. Jo jarang bercerita tentang keluarganya, tentang siapa mamanya, tentang kondisi keluarganya.
Riri terperangah selama ini hubungan dekat dirinya dan Jo sebatas aktivitas biasa. Walau hari spesial ulang tahun dihabiskan bersama tapi ini hanya dia dan Jo. Riri sadar mereka berdua dan tidak pernah mencoba melibatkan orang lain seperti keluarga. Tiga tahun pun Riri tidak tahu menahu apapun tentang mama Jo yang tampaknya tengah mencari pasangan.
Jo hanya pernah bercerita dia bangga dengan mama yang mem-besarkannya sebagai single parent. Hanya itu! Dan tidak pernah terbesit Riri untuk bertemu, berkenalan dan menge-nal nama dan sosok mama Jo.
“Mana mungkin Jo memperkenalkan mamanya, ahhh bodohnya aku yang jatuh cinta pada orang yang salah! Mana mungkin Jo memperkenalkan orang yang paling berjasa membesarkan dirinya karena dia tidak pernah memikirkan untuk serius denganku.”
Riri tersadar ternyata memang dia sebenarnya bukan siapa-siapa dan hubungan dengan Jo adalah “Nothing!”
Riri berjalan menuju patung singa dan meminta salah satu pengunjung mengambil gambar dirinya dengan latar belakang patung Marlion. Puas mengelilingi Marlion park dan mengambil foto-foto tiap sudutnya, Riri kemudian bergabung dengan banyak orang yang kecapaian duduk-duduk di pinggir Singapore river sambil meneguk air mineralnya.
Riri mulai notes kecil dan mencatat rute yang terlewati dan hal-hal menarik untuk mengisi tulisan diblognya. Setidaknya tetap menikmati apa yang tengah dilakukan sekarang.
***
Sambil meneguk air mineral pandangan Riri menyapu Hotel Marina Bay Sand tampak dari Marlion park. Riri tersenyum membayangkan untuk bermalam di hotel yang Riri dengar dari Sucita it’s agreat hotel!
Dengan fasilitas kolam renang yang menyajikan hamparan pemandangan di ketinggian lantai lima puluh tujuh. Para petugasnya yang ramah dan penolong, kamar yang moderen minimalis, makanan yang enak dan masih banyak cerita Sucita yang membuatnya penasaran menginap di hotel Marina Bay Sand.
“Hmmm ok, time to chek in Marina Bay Sand Hotel.” Riri bergumam.
Riri sudah mendapat informasi hotel ini dari Sucita segala seluk beluk dari price for per night, sistem chek in dan tanpa perlu ke resepsionis untuk chek out langsung saja pergi sekunci-kuncinya yang berbentuk sim card karena mereka sudah mempunyai sistem auto lock chek out dan kunci berbentuk sim card yang akan langsung terblokir tidak bisa dipakai lagi bila waktu menginap habis, kecuali membuat laporan bila akan perpanjang menginap sebelum jam chek out habis.
Informasi fasilitas kolam renangnya yang berada pada ketinggian lantai lima puluh tujuh yang apabila dilihat dari Marlion park tampak seperti bangunan berbentuk kapal. Juga tentang The Club tempat makan yang sisi depannya terletak di pinggir kolam dan sisi belakang menghadap lautan.
Riri ingin membuktikan apa yang diceritakan Sucita tentang hotel yang menjadi surga bagi para wisatawannya.
Ternyata benar butuh waktu hampir dua jam untuk chek
in saja, tapi ini malah menguntungkan karena Riri yang memilih kamar di Tower 2 diberi fasilitas menikmati The Club free. The Club restoran yang benar-benar menyajikan hidangan yang lezat.
Riri memilih di salah satu sudut dekat kolam renang.
Riri teringat akan tulisan mengupas hotel Marina Bay Sand sebuah hotel mewah berbintang lima yang telah memenangkan penghargaan dan terletak tepat di jantung kota. Hotel Marina Bay Sand menawarkan pemandangan menakjubkan akan daerah pusat bisnis serta akses yang nyaman ke Marina Square Shopping Mall dan jarak yang hanya membutuhkan beberapa menit ke Sands Expo, Convention Centre, Suntec Convention dan Exhibition Centre.
***
Seorang waitress dengan ramah menawarkan \"Do you like some drinks, we ready for tea, black coffe, cappucinno, some juice available orange juice, water melon juice, piniaple juice.\"
\"Pineapple juice please. \"
\"Coffe or tea do yo want Miss?\"
\"No thank you...\"
Angin senja di hotel Marina Bay Sands membawa sensasi tersendiri, pemandangan lepas yang sangat cantik jelang senja. Berbagai wisatawan mancanegara tengah asik berenang, berfoto, tidur-tiduran di sepanjang kursi malas sepanjang selasar pinggiran kolam.
Tampak cuek dan asik dengan berbagai ragam busana bikini semen-tara Riri tersenyum sendiri karena baju renang yang ada di tas ranselnya adalah baju renang model tertutup yang amat sopan! Tapi peduli amat di sini orang hanya memakai bikini saja cuek apalagi tertutup. Terlebih nggak ada yang kenal dengan dirinya. Jadilah aman untuk sejenak menghapus keruwetan hatinya. Riri berharap akan ada jalan terbaik yang akan memecahkan masalah dirinya dengan Jo, papa dan mamanya Jo juga.
Hotel Marina Bay Sand inilah memang salah satu tempat hiburan yang menjadi surga dunia di kawasan Asia. Semua sibuk dengan kebahagiaan masing-masing, rasa toleransi pun tinggi, tidak ada niat saling ganggu, semua menikmati kenyamanan yang menjadi fasilitas hotel besar dan mahal. Bahkan satu sama lain tidak ragu untuk meminta tolong,“ Please help take a picture,” agar bisa foto bersama.
Riri ingat selama jalan-jalan sejenak saja di Marlion park tadi sudah ada dua pasangan yang meminta tolong untuk diambil gambarnya.
Di setiap kurang lebih jarak lima belas langkah dari restauran The Club ada cowok-cowok berbadan six pack dengan berkaos oblong atau telanjang dada, celana ketat, bertopi dan berkacamata hitam mengawasi tiap sudut kolam renang duduk pada ketinggian kursi dua meter.
Wajah mereka juga ganteng dan cakap. Mengingatkan para penjaga pantai di film Baywatch dan The Guardians yang berkisah tentang pahlawan \'tak dikenal\' di lautan. Dibintangi aktor peraih Oscar, Kevin Costner dan Ashton Kutcher, para perenang penyelamat dari US Coast Guard yang bertugas untuk penyelamatan di kondisi ekstrem, badai atau topan.
Tidak terasa hampir dua jam menunggu untuk bisa chek in dan Riri memutuskan ke bagian informasi di pintu masuk The Club untuk menanyakan tentang status kamarnya. Dan seorang resepsionis cantik menginformasikan kalau kamar-nya sudah siap.
Riri harus balik ke loungage dan mendapatkan kunci dalam bentuk sim card berwarna silver. Kunci yang berfungsi sebagai naik turun lift, karena lift hanya mau berjalan bila kita sudah insert the card dan menekan nomor lantai yang dituju.
Riri mendapat kamar 5048 berada pada lantai 50 kamar nomor 5048. Sementara restoran The Club dan kolam renang ada di lantai 57. Untuk menuju ke dua tempat tersebut The Club dan kolam renangnya Riri harus memencet lantai tertinggi yang tertera pada lift pertama yakni lantai 55 kemudian sampai lantai 55 keluar dan masuk ke dalam lift lagi untuk transfer dua lantai atas menuju ke lantai 57.
***
Akhirnya tepat pukul setengah tujuh Riri bisa masuk kamar-nya. \"Wow,\" Riri berdecak kagum, kamarnya sangat rapi, bersih, artistik dan sudah pasti wangi.
Melepas sepatu treplesnya dan menghempaskan tubuhnya ke kasur yang empuk. Tangannya terlentang melegakan badannya yang lumayan penat.
Sebuah nada panggil terdengar dan ternyata nama layar yang muncul ‘Pengkhinat’, Riri membanting telepon genggamnya dan menutupi tubuhnya dengan selimut karena AC yang menyala dengan dingin. Mau mandi rasanya malas tapi kok badan terasa lengket, Riri berdiri memutuskan mandi dengan air hangat.
Merendam tubuhnya di air hangat membuat hatinya juga lebih tenang setelah untuk kedua kalinya baru saja sampai di Singapura papanya menelepon. Jujur rasanya tidak nyaman juga seperti pelarian tapi Riri memang ingin lari dari masalahnya dan ingin memberi pelajaran buat papanya. Selesai berendam air hangat walau sudah terisi cukup makanan tadi di restaurant The Club tak urung rasa lapar menyerang lagi. Sepertinya pikiran yang terbebani membuat gampang merasakan rasa lapar.
Padahal tadi perutnya sudah lumayan kenyang sekarang karena tadi juga sudah terisi berbagai makanan. Dari mencicipi kue pastry, berbagai kue coklat, kacang-kacangan, walnut, melon, jeruk saat dua jam menunggu chek in di restaurant The Club.
Riri menyeduh mie cup myojo perisa mie soto ayam yang di belinya di Seven Eleven saat jalan-jalan di daerah Suntec City Mall. Riri memasak air panas dan menyiram mie nya lalu membuka lebar-lebar jendela kamarnya, hamparan negara Singapura di malam hari sangat menawan.
Singapura malam hari terbentang kota yang dipadati lampu warna-warni apalagi di akhir pekan. Pemandangan ini menjadi daya tarik wisatawan untuk berkunjung ke negeri singa putih ini.
Salah satu pemandangan terindah adalah Jembatan Helix yang diresmikan April tahun 2011 lalu menjadi pemandangan cantik di Singapura. Jembatan sepanjang 280 meter itu membentang dari gedung teater Esplanade hingga ujung teluk Marina.
Jam merambat pelan, Riri dicekam kesunyian di ketinggian lantai 50 terasing dan kesepian. Riri memutuskan mengambil buku harian yang lebih banyak coretan gado-gado, dari jadwal kuliah, catatan perjalanan, buku yang ingin dibeli sampai catatan harian jadi satu.
“I am really feel alone on my sadness,” Riri menulis di buku hariannya.
Other Stories
Perpustakaan Berdarah
Segala sumpah serapah memenuhi isi hati Gina. Tatapan matanya penuh dendam. Bisikan-bisika ...
Melinda Dan Dunianya Yang Hilang
Melinda seorang gadis biasa menjalani hari-hari seperti biasa, hingga pada suatu saat ia b ...
Don't Touch Me
Malam pukul 19.30 di Jakarta. Setelah melaksanakan salat isya dan tadarusan. Ken, Inaya, ...
Ablasa
Perjalanan Nindya dan teman-temannya ke Nusakambangan menjadi menyeramkan setelah mereka t ...
Separuh Dzarrah
Dzarrah berarti sesuatu yang kecil, namun kebaikan atau keburukan sekecil apapun jangan di ...
Melepasmu Dalam Senja
Cinta pertama yang melukis warna Namun, mengapa ada warna-warna kelabu yang mengikuti? M ...