Pra Wedding Escape

Reads
3.8K
Votes
0
Parts
20
Vote
Report
pra wedding escape
Pra Wedding Escape
Penulis Nenny Makmun

Prolog

Sabtu pagi yang cerah dan sejuk, kaos Nastiti sudah basah kuyup oleh keringat hasil jogging pagi yang sempat dua minggu terlewati karena kecapean mencari berbagai pernak-pernik urusan pernikahan dengan Bram, enam bulan mendatang.
Sabtu ini Nastiti merasa sayang melewatkan untuk membugarkan tubuhnya yang turun beberapa kilo. Membuat pipinya jadi lebih tirus dan badannya bak peragawati tinggi kerempeng. Nastiti ingin membentuk tubuhnya kencang saja.
Bisanya hari Sabtu dan Minggu pagi jam setengah enam sudah menceburkan diri ke kolam renang dan memanjang bolak-balik bisa sampai lima puluh putaran. Membiasakan berenang dari kecil membuat Nastiti tidak mungkin melepaskan aktivitas yang menguras fisiknya tapi sekaligus membuatnya bugar.
Kadang Bram menemani kalau sedang tidak kumat malasnya. Bersama-sama melakukan jogging memutari alam pegunungan Bukit Golf yang sejuk jauh dari polusi.
Bram dengan tinggi badan 175 dan badan yang sixs pack tampak terbidang adalah hasil latihan teratur yang dilakukan di fitness centre, biasanya dilakukan sepulang kantor.
Sabtu Minggu Bram lakukan olahraga lebih karena untuk bisa bersama kekasihnya menghabiskan waktu kebersamaan.
Bram yang tinggal di perumahan elite Cibubur menyambangi dengan mobilnya lalu bersama menghabiskan waktu dengan jogging atau berenang.
Nastiti menikmati kebersamaan sederhana dengan Bram. Secara tidak langsung sebenarnya segala perasaan hatinya sudah sepenuhnya Nastiti serahkan. Hingga tidak ada lagi keraguan tersisa untuk melangkah jauh bersamanya menuju jenjang hubungan serius, yaitu menikah.
Mereka sudah sama-sama bisa berdiri dengan pekerjaan yang bagus. Perusahaan besar tempat mereka bernaung cukup memberikan gaji yang memadai. Secara financial tidak ada masalah sama sekali. Didukung Bram bukan dari keluarga biasa-biasa saja dan Nastiti juga walau dari keluarga sederhana tapi cukup berada.
Masalah hati jangan pernah diragukan. Bram adalah satu-satunya pria yang telah empat tahun mengikat hatinya.
Untuk hatinya pada Bram, Nastiti tidak pernah main-main. Semenjak Bram memintanya untuk menjadi pacarnya berarti hatinya sudah tertutup untuk pria manapun. Itulah cinta yang ada dalam Nastiti. Cinta tidak akan pernah bisa diberikan pada orang lain selain lelaki yang telah menyentuh hatinya selama empat tahun ini.
Nastiti yakin, Bram adalah pelabuhan terakhirnya. Hanya Bram dan selamanya Bram. Katika Bram memintanya untuk mengikatnya enam bulan ke depan yang ada adalah rasa bahagia dan ingin segera semua terlewati fase terpenting dalam hidupnya dengan sempurna.
***
Semalam Bram mengabari ada kerjaan kantor yang harus diselesaikan dan sepertinya bakalan pulang malam. Sudah pasti Sabtu pagi tidak bisa jogging bersama, karena Bram memilih untuk memulihkan badannya yang kecapean karena lembur.
Setelah puas berlari keliling di kompleks perumahannya yang serasa di pegunungan tanpa Bram, Nastiti mengeluarkan VW hijau kesayangannya. Dengan riang sesekali bersiul-siul dari mulutnya yang tipis mengikuti alunan musik Motion FM.
Sabtu pagi jalanan tol Cibubur masih lengang, bau harum lontong sayur mengalahkan pewangi mobilnya. Hidung bangir Nastiti ikutan kembang kempis. Perutnya juga mulai keroncongan tapi ini bukanlah masalah penting untuk melajukan cepat VW antiknya.
Nastiti tersenyum riang membayangkan wajah Bram tunangannya sekaligus calon suami enam bulan mendatang menyantap lontong sayurnya. Bram sangat menyukai lontong sayur Mak Icih dekat rumahnya, kalau sudah ditambah sambel dan kerupuk dia tidak peduli apapun minumnya (hehehe kaya iklan aja). Wajahnya yang suntuk dijamin sumringah dan matanya berbinar.
Buat Bram senang gampang, tinggal bawain aja lontong sayur Mak Icih dijamin kalau Nastiti minta ditemani ke mana-mana akan dituruti.
“I gotta feeling that tonight’s gonna be a good night. That tonight’s gonna be a good night. That tonight’s gonna be a good, good night. Tonight’s the night (Hey!). Let’s live it up. (Let’s live it up). I got my money. (My pay). Let’s spend it up (Let’s spend it up,” lagu dari Black Eyed Peas mengalun asik.
Sesekali Nastiti, gadis yang baru setengah tahun fresh graduated menggoyangkan tubuhnya yang langsing mengikuti musik yang menghentak. Dengan kaos putih kombinasi garis pink, celana pendek putih di atas lutut, Nastiti gadis manis tampak seperti ABG saja.
Nastiti memarkirkan VW kodoknya di depan pagar sebuah rumah elite yang besar bercat putih kombinasi hijau dengan jendela-jendela kaca besar berlapis kayu jati.
\"Ah Bram pasti masih ngeringkuk di tempat tidur, apalagi Papa dan Mama lagi ke Singapore, uhh tambah males saja dia!\" Tebak hati Nastiti.
Kalau tidak ingat dua hari lalu dipamitin mama Bram sekaligus camernya yang minta sesekali Bram ditengokin, Nastiti juga nggak mewajibkan dirinya hadir dengan tentengan lontong sayur yang mengundang selera.
Kata Mama Linda, “Terutama soal makanan, Bram juga harus diingetin kalau perlu bawaain tuh makanan kesukaannya ya Nasti! Soalnya Bram paling sembrono soal makanan.”
Masih berlanjut, “Karena enam bulan lagi kamu jadi mantu Mama maka sejak sekarang harus lebih dekati Bram untuk merubah banyak kebiasaan buruknya ya Nasti.”
“Bram… Bram udah kerja juga, masih saja Mama yang ribut ngingetin dia untuk tertib,” gumam Nastiti.
Nastiti celingukan walau sudah hafal rumah Tante Linda dan Om Fatir orang tua Bram, tapi masih saja kerap keterasingan menjalari dirinya dengan situasi rumah yang besar.
Rumah asri dengan luas kurang lebih 700 m2 ada kolam dan bungalo taman, rumah model minimalis tingkat ini terlalu sepi dengan hanya lima penghuni. Papa, Mama, Bram, Dika adiknya dan Bi Manisah.
\"Sepi amat rumah ini, si bibi juga nggak tampak. Hmmm udah jam setengah sembilan semua masih terlelap? Tapi memang cuaca sejuk gini sih cocok buat melanjutkan tidur malam,\" pikir Nastiti sambil melenggang ke kamar Bram yang terletak di lantai dua.
Rumah besar terasa sangat lengang. Nastiti mencoba mencari adakah salah satu penghuni yang terjaga, bisa Dika atau Bibi Manisa bahkan Bram?
Benar-benar senyap, seakan tidak ada kehidupan di rumah yang didekor dengan perabotan minimalis terbuat dari kayu-kayu jati dan barang-barang kristal menghiasi almari-almari kaca.
Beberapa lukisan cat minyak dari pelukis Indonesia terkenal juga menghiasi di dinding tembok.
Sengaja Nastiti tidak mengetuk kamar Bram, lontong sayur di tangan kirinya akan Nastiti taruh dekat hidungnya. Membayangkan ekspresi wajah Bram pasti lucu sekali.
Pintu Nastiti bukan pelan-pelan dan tampak membelakangi tubuh Bram yang tengah meringkuk memeluk guling.
Tapi semakin mendekat Nastiti tersirap dalam pelukan Bram yang bertelanjang dada bukanlah guling melainkan seorang wanita.
Nastiti ternganga pria yang akan menjadi suaminya tengah terlelap kecapean. Entah telah melakukan apa semalaman, yang jelas wanita yang dipeluknya pun hanya mengenakan baju malam tidur yang sangat seksi.
Hatinya berdegup kencang memandang pemandangan yang tidak pernah terlintas sedikitpun dalam benaknya. Tangannya bergetar dan wajahnya serasa panas.
Lontong sayur sudah terlebih dulu jatuh dan aromanya menguar tentu saja tidak memengaruhi Bram yang tampak terlelap kecapean dengan alasan semalam lembur kerja saat izin tidak bisa gabung lari pagi.
Nastiti terpaku ingin rasanya mengamuk, mencakar wajah perempuan yang cantik memesona dan langsung menyidang mereka berdua. Nyatanya dia memilih berlari setelah melihat pemandangan yang paling menyakitkan dalam perjalanan hidupnya.
Air matanya berurai karena rasa sakit yang menyengat sekujur tubuhnya. Terus mengalir deras tanpa bisa ditahannya.
Di tengah-tengah tangga Nasti berpapasan dengan Dika yang segar dengan balutan kaos polo dan rambut basah. Tampaknya Dika baru saja selesai mandi dengan handuk masih di bahunya.
\"Mbak Nasti kenapa?\" Dika yang berpapasan dengan Nastiti kaget melihat calon kakak iparnya tengah menangis sambil berlari menuruni tangga.
\"Maaf Dik, kamu liat sendiri di kamar Mas mu !\" Nastiti berlalu dengan cepat.
Melihat calon iparnya menangis dan wajahnya sangat merah, Dika yakin ada yang telah terjadi antara calon ipar dan abangnya. Membuat Dika penasaran ada apa sebenarnya yang terjadi di kamar kakaknya.

Other Stories
Separuh Dzarrah

Dzarrah berarti sesuatu yang kecil, namun kebaikan atau keburukan sekecil apapun jangan di ...

Bayangan Malam

Riel terus bereinkarnasi untuk keseimbangan Klan Iblis dan Klan Dewi. Tapi ia harus merela ...

Romance Reloaded

Luna, gadis miskin jenius di dunia FPS, mendadak viral setelah aksi no-scope gila di turna ...

Tilawah Hati

Terinspirasi tilawah gurunya, Pak Ridwan, Wina bertekad menjadi guru Agama Islam. Meski be ...

Hafidz Cerdik

Adnan bersyukur masih ada acara bermanfaat seperti *Hafidz Cilik Indonesia*, tempat ia dan ...

Egler

Anton mengempaskan tas ke atas kasur. Ia melirik jarum pendek jam dinding yang berada di ...

Download Titik & Koma