Pra Wedding Escape

Reads
3.8K
Votes
0
Parts
20
Vote
Report
Penulis Nenny Makmun

7. Please Share

“Nasti…”
\"Aku lagi gak mau bahas apapun! Aduh kepalaku nyeri,\" Nastiti memotong panggilan Icang.
\"Hmm kita sarapan dulu di depan ada kantin. Bersih kok biasa perawat-perawat rumah sakit makan lalu kamu minum obat sakit kepala ini ya.\"
“Bukan racun kan? Dan bukan obat bius kan? Nanti kamu apa-apain aku lagi!” Sadis arti perkataan barusan, tapi Nastiti mengucapkan sambil bercanda. Ya Nastiti sedang mencoba berkompromi dengan hatinya. Hatinya yang penuh berbagai rasa dengan pria yang tengah menatapnya dengan tajam tetapi teduh.
Tatapan yang penuh untaian makna. Penuh misteri, keteduhan, kedamaian, dan juga getaran gairah yang sebenarnya ingin Nastiti tolak sedari dulu. Nyatanya sebaliknya seakan bersemi diam-diam dalam setia dari waktu ke waktu. Seakan sebuah romansa menghadirkan sebuah nikmat gairah asmara yang datang merayapinya.
Mobil freed putih mengambil jalur kiri dan beberapa meter ke depan menyalakan sign kiri dan parkir pada sebuah kantin yang luas dan bersih.
Kantin masih sepi, jam sudah menunjukkan hampir pukul delapan. Berbagai masakan dari rames, bubur ayam, nasi kuning cukup mengundang selera. Juga ada lontong sayur.
\"Lontong sayurnya enak lho,\" Icang memesan lontong sayur untuk mereka berdua.Lontong sayur membuat Nastiti ingat insiden Sabtu pagi kemarin karena mengantar lontong sayur mengungkap perselingkuhan Bram dengan seorang wanita yang sampai sekarang tidak dikenalnya.
\"Ayo makan, di sini terenak lontong sayurnya. Aku tahu kamu suka sekali lontong sayur,\" dr. Icang sudah mulai melahap.
Nastiti masih ill feel mengingat lontong sayur yang pastinya terbuang begitu saja. Dr Icang mengerutkan wajahnya dan setahu dirinya dulu masa SMP Nastiti memang suka sekali dengan lontong sayur.
\"Hai Non… ayo makan, abis itu makan obatnya.\"
\"Ee iya,\" Nastiti memonyongkan bibirnya.
Lontong sayur yang seingat Icang dulu biasanya tandas, sekarang hanya masuk empat suapan, itupun dipaksa Icang. Paksaan Icang yang mengingatkan Nastiti di waktu lalu kalau Icang masih juga tukang maksa.
\"Kamu udah gak suka lontong sayur, Nasti?\"
\"Hmmm bukan lontong sayurnya, tapi... ah sudahlah... aku lagi males ngebahas lontong sayur yang buat aku tahu perselingkuhan Bram!\" meluncur kalimat tanpa bisa Nastiti stop.
\"Ooo sorry,\" Icang mengangguk-angguk paham walau di otaknya penasaran hubungan antara lontong sayur, Bram, dan perselingkuhan. Setidaknya meraba pesan Ibu Ratna kalau Nastiti yang tengah galau benar adanya.
Mobil meluncur pelan, sepertinya obat yang diberikan dr. Icang membuat Nasti mengantuk dan tertidur.
Icang tersenyum memandang Nastriti yang tertidur, kedua kalinya bisa memandang cewek yang benar-benar menguras hati dan pikirannya di masa remaja. Dan sekarang pun masih membuatnya berdebar, tidak berubah sedikitpun perasaan ini padanya.
\"Nasti, Nasti… apa ceritamu tujuh tahun aku berlari darimu? Kenapa juga kita dipertemukan di saat kamu sepertinya sedang bermasalah dengan cowokmu dan aku sendiri terjebak perjodohan dengan Luna Tobing, putri sahabat omak. \"
***
\"Eh sampai mana nih?\" Nastiti terbangun karena suara lembut lagu-lagu Kla Project akustik menggelitik telinganya.
Icang meletakkan sebuah buku kedokteran dan tersenyum manis bisa menemani Nastiti tidur.
\"Hmm lumayan satu setengah jam, Nas kamu istirahat.\"
\"Upps, oh ya masa?!? Benar kan kamu kasih aku obat tidur!\" mata indah Nastiti melotot bulat.
“Aduh Non, kalau aku mau jahat pastinya bukan obat tidur yang aku kasih ke kamulah …”
“Terus obat apa dong?”
“Ada deh... kapan-kapan aku kasih tahu. Tenang kamu nggak aku apa-apain kok, paling cuma aku ci…” belum selesai ngomong Nasti sudah berteriak.
“Ihhh kamu cium bibir aku ya, ihh...” Nastiti melumat-lumat bibirnya dan menghapus-hapus dengan jarinya.
“Nasti, Nasti… tujuh tahun dan kamu masih seperti anak kecil! Nggak ada yang berubah. Cuma tambah galak sepertinya.”
“Sialan deh loe,” kembali Nasti menonjokkan pukulan ke dada Icang.
Belum mengenai bagian dada karena Icang menangkap tangan dan menggenggamnya.
“Kali ini kamu nggak bisa mukul aku lagi...” diciumnya punggung tangan kanan Nasti dengan lembut.
Mungkin bila ini dilakukan tujuh tahun lalu, Nastiti tidak akan pernah memaafkan lelaki yang kini tengah memandang dan mengelus tangannya.
Nasti mati gaya, jantungnya berdegup keras. Bagaimanapun Icang berubah banyak, semakin ganteng, tenang, rapi, dan wangi.
Nastiti mengedarkan pandangan, familiar mobil parkir di depan rumahnya. Dan membuat dirinya ngantuk tertidur untuk perjalanan yang paling setengah jam ditempuh dari RS ke rumah.
\"Uhum kukira kamu udah lupa rumah aku,\" memaksa menarik tangan kanannya dan mencoba menetralkan apa yang barusan terjadi.
\"Nggak mungkinlah Nas, aku banyak kenangan dengan rumah hijau ini,\" Icang tersenyum penuh makna.
\"Hmm iya aku tahu, kenangan kamu diusir aku ya?\"
\"Salah satunya, tapi yang lain yang manis untuk diingat juga ada kok,\" Faisal balik tersenyum.
\"Hmm kamu jujur deh! Kamu pasti membenci aku dan dendam dengan aku kan? Jujur kamu hanya pura-pura baik kan? Aku tahu kamu pindah ke Medan tujuh tahun lalu gara-gara aku jutekin dan aku tolak terus. Kamu sangat sakit hati dan penuh dendam. Iya kan?” Nasti mencecar dengan kalimat yang memojokkan dan memastikan perasaan apa yang ada sebenarnya dalam hati Icang.
\"Hahaha iya sih, tapi nggak segitunya juga lah. Dendam dengan Nastiti yang buat aku tergila-gila dan sulit sekali melupakannya? Hmmm nggaklah! Nggak ada dendam kok. Well memang aku sakit hati tapi waktu mengurai semuanya. Nyatanya… ee…\"
\"Nyatanya kamu sakit hati, iya kan?\" Nastiti menatap tajam.
\"Hmm sakit hati? Sedikitlah, wajar semua cowok yang ditolak cintanya apalagi dengan sadis. Pastilah ada sakit hati.\"
\"Jadi benar kan kamu masih dendam dan sakit hati sampai sekarang?\" Nastiti mempertegas.
“Ok mau jawaban jujur atau bohong?\" Icang tersenyum menggoda.
\"Hadoh Icaaaang… jujurlah! Aku itu penganut kejujuran. Apa adanya! Meskipun sakit!\"
\"Baiklah, jujur aku sakit hati setelah kamu memilih Andri menjadi pacar kamu di tujuh tahun lalu. Entahlah feeling-ku sih mengatakan itu cara kamu agar aku benar-benar menjauh dan tidak mengejar-ngejar kamu. Tapi aku harus mundur, bagaimanapun kamu sudah memilih seseorang untuk jadi pacar kamu.\"
\"Hahaha Mas Andri ya. Hmmm terus kamu mutusin pindah ke Medan gitu ya ceritanya?\"
\"Yah kebetulan aku keterima di Fakultas Kedokteran di universitas negerinya dan aku ikut Ompung Boru. Karena Ompung Doli sudah tiada. Aku kuliah tepat waktu dan terus mencoba melupakan cinta pertama yang sangat berkesan,” saat menyebut ‘sangat berkesan’, Icang mempertajam menyindir.
\"Dan sekarang kerja di Rumah Sakit Persahabatan, kembali ke asal. Aku sudah berniat sih menemui kamu Nas, ternyata memang Allah mendengarkan doaku tanpa aku harus diusir-usir dulu, aku ketemu kamu.”
\"By the way kamu pasti sakit hati denganku ya Icang?\" Nastiti mengakui rasa salah yang selama ini tersimpan. Rasa salah yang terbungkus dan Nastiti dalam hati terdalam ingin meminta maaf suatu saat bila bertemu.
Rasa salah yang mendera apalagi mengingat kejadian perselingkuhan Bram, membuat Nastiti percaya kalau karma itu memang ada.
\"Ya Nasti aku sakit hati dengan perlakuanmu yang kasar di waktu lalu, tapi sudahlah waktu sudah mengurai semua kok. Nyatanya aku masih ingin tetap bersamamu. Jujur kelakaun kamu itu bukan aku anggap kekasaran sih... kamu tuh lucu, galak, unik dan buat aku penasaran waktu lalu untuk menaklukan. Kamu bak macan galak! Tapi manis dan cantik!\"
\"Iiih gombal banget! Turun yuk biar kali ini kita makan di rumah saja ya Pak Dokter. Eit jangan GR! Anggap ini hanya permintaan maaf aku yah. Kita berteman,” Nastiti mengulurkan tangannya.
“Deal?”“Or No Deal?” Icang menahan tawa.
“Nasti… Nasti… dasar anak kecil…Ok Deal Sayang! Hanya teman ya… mungkin bisa naik…” Icang mengedipkan mata.
“Teman baik, tidak ada lagi! Deal?”
“Pacar, kekasih atau…”
“Nggaaaaak! Teman baik!” Nastiti melotot.
“Baik Non… sepertinya aku memang harus patah hati kedua kali,” Icang memasang wajah sedih. Tapi tidak ada keinginan ngotot seperti tujuh tahun silam. Toh tujuh tahun bukan waktu yang pendek. Icang yakin Nastiti punya cerita dan dirinya juga punya cerita dengan orang lain, tepatnya orang yang dianggap dekat.
Tapi sungguh Faisal masih berharap ada waktu tersisa yang bisa menyatukan dua hati yang berbeda. Semoga!

Other Stories
Pasti Ada Jalan

Sebagai ibu tunggal di usia muda, Sari, perempuan cerdas yang bernasib malang itu, selalu ...

Hanya Ibu

Perjuangan bunga, pengamen kecil yang ditinggal ayahnya meninggal karena sakit jantung sej ...

Kenangan Indah Bersama

tentang cinta masa smk,di buat dengan harapan tentang kenangan yang tidak bisa di ulang ...

Testing

testing ...

Tiada Cinta Tertinggal

Kehadiran Aksan kembali membuat Tresa terusik, teringat masa lalu yang ingin ia lupakan, m ...

Cinta Dibalik Rasa

Cukup lama menunggu, akhirnya pramusaji kekar itu datang mengantar kopi pesananku tadi. ...

Download Titik & Koma