10. Colling Down
“Nah Ibu boleh pulang, jangan banyak pikiran Ibu... seminggu cukuplah Ibu istirahat di rumah sakit. Selanjutnya Ibu harus sehat. Nasti jangan lupa obatnya buat Ibu nanti ditebus dulu sebelum pulang ya,” dr. Budiman dan dr. Faisal melepas kepulangan Ibu Ratna yang sudah diperbolehkan pulang.
“Baik Dok, terima kasih atas bantuannya selama ini,” Nasti menyalami dokter Budiman dan Icang.
“Nak Icang meskipun Ibu sudah sehat dan nggak tinggal di Rumah Sakit lagi, sesekali tengokin Ibu ke rumah ya. Rumah Ibu masih seperti dulu dan selalu terbuka kok.”
Nasti senyum-senyum penuh arti memandang Icang yang malah agak grogi dengan tawaran ibunya.
“Tuh dengerin Dokter Icang kata Ibu,” Nastiti sengaja mempertajam jabatan dokternya.
“Iya Ibu, insya Allah saya sempetin main, tapi nggak diusir lagi kan sama…” Icang melirik Nastiti yang sudah melotot.
Dan, “Icaaanggggg!” sebuah cubitan keras mendarat di pinggangnya. Dr. Budiman hanya geleng kepala.
“Kalian sepertinya cocok jadi pasangan deh!” Dr. Budiman berkomentar.
Dan kali ini Nastiti dan Icang terdiam tak bisa berkata-kata. Sementara dokter Budiman, ayah dan ibu tersenyum-senyum saja.
***
Dari jarak tidak jauh Bram hanya bisa menatap kemesraan di antara mereka. Nastiti tampak lebih kurus lagi, tapi wajahnya bersinar. Bram terhenyak sepertinya batal menikah tidak membuat hidup Nastiti limbung.
Perselingkuhan yang dilihatnya pastilah menghancurkan hatinya dan nyatanya dia masih bisa tertawa tegar bahkan tertawa-tawa dengan dokter masa lalunya.
Dokter itu memang ganteng, Bram harus akui. Sikapnya yang tenang sepertinya membuat Nastiti nyaman. Hal yang mudah ditebak, dia datang di saat yang tepat. Saat Nastiti sedang ada masalah dengan dirinya dan rencana perkawinannya di ambang kehancuran.
“Aku harus bisa mengembalikan Nastiti di sisiku, bagaimanpun caranya…” Bram mendesis dan meninggalkan sekelompok orang yang seharusnya dekat menjadi asing dan sepertinya juga akan berlalu.
“Icang aku balik dulu ya, makasih buat bantuannya… bye…”
“Iya Nasti… bye… love you…” Icang berbisik lirih dan hanya Nasti yang dengar.
***
Bu Ratna dan Pak Harjo sengaja mendiamkan masalah antara Nastiti dan Bram. Bagaimanapun ini adalah masalah hati putri mereka. Walau sebenarnya tidak ingin juga mereka berpisah, tapi kesalahan Bram juga bukan kesalahan kecil. Itu menyangkut harga diri dan moral calon menantu yang akan menjadi imam putri semata wayang mereka.
“Bu sudahlah, kita pasrahkan sama Gusti Allah, bersyukur Nastiti nggak stress dengan masalah dia. Udah biarkan saja dia sibuk dengan kerjaannya, kasihan kamu Nduk…” Pak Harjo merasa iba dengan apa yang menimpa putrinya.
“Ah Ibu juga nggak percaya Yah, kok Nak Bram tega ya melakukan perbuatan seperti itu. Padahal enam bulan lagi mau menikah. Ya udah mungkin ini pertanda Gusti Allah sayang sama Nastiti, dia sudah dikasih tahu di awal sikap calon suaminya. Kalau sudah menikah lebih kasihan lagi.”
“Iya Bu, jodoh, rezeki, hidup semua itu rahasia Allah. Tapi Bu… kok orang tua Bram nggak ada omongan apa-apa ya…” Pak Harjo merasa ada yang aneh karena sudah seminggu calon besan mereka pulang dari Singapura dan tidak ada kabar apa-apa.
“Udah biarin aja dulu Ayah, mungkin mereka juga sedang terkejut dengan laporan Bram dan adiknya, Dika juga lihat saat Bram sedang berselingkuh,” kata Ibu Ratna lebih lanjut.
“Kita hanya bisa kasih nasihat terbaik dan tetap mendukung apa yang dianggap terbaik buat Nastiti.”
Ibu Ratna mengangguk-angguk setuju dengan keputusan mereka.
***
Seminggu Lalu_Kediaman Bram
“Braaam... Braam, kamu gimana sih? Otak kamu itu di mana? Bisa-bisanya kamu berselingkuh di rumah dan Nastiti memergoki. Kamu memang keterlaluan!” Mama Linda memarahi putra sulung kesayangannya.
Bram tidak bisa mengelak lagi, Dika sudah melaporkan semua perilakunya pada mama dan papa.
“Bram dijebak Mah… Pah… semua karena pertaruhan.”
“Kamu Bram, Bram! Mbok ya kalau mau selingkuh yang pintar! Pakai otak!” Papa Fatir marah-marah karena kelakuan Bram yang dianggap teledor.
“Nastiti itu gadis yang baik, nggak macem-macem kaya cewek-cewek kamu zaman dulu. Materialistis! Dan cuma mau memeras harta kita. Apalagi kita sudah mengeluarkan biaya yang tidak sedikit untuk persiapan pernikahan kamu! Tiba-tiba semua harus dibatalkan. Braaam! Braaam! Mau ditaruh di mana muka Mama.”
Mama Linda menangis kesal karena merasa kecolongan oleh kelakuan anak sulung kesayangannya. Hilang sudah harapan memiliki mantu yang nggak macam-macam dan mandiri juga sangat care tidak hanya pada Bram tapi juga pada semuanya.
“Maafkan Bram… Mah, Pah. Bram juga sedang membujuk Nasti terus untuk tidak membatalkan pernikahan kami. Tapi entahlah Bram sudah bujuk-bujuk dia bersikeras menolak! Lagipula Nastiti punya teman dekat Mah, Pah… seorang dokter. Dia sudah dekat dengan dokter yang bertugas merawat Ibu Ratna.” Bram tampak putus asa.
“Nasti sudah dekat dengan laki-laki Bram? Wah nggak benar! Pasti laki-laki itu sudah dikenalnya lama atau malah dia memang dekat saat kalian pacaran!” tuduh Mama Linda.
“Entahlah Mah, bahkan Nasti berlindung di balik punggungnya saat aku ingin menjelaskan salah paham pertaruhan yang membuat aku bisa jadi tidur dengan Saron. Dokter Faisal sangat sayang pada Nastiti! Nggak mungkin dia akan bersikap seperti itu kalau tidak pernah terjadi apa-apa.”
“Kamu tidak bertanya lebih jauh siapa itu dokter Faisal pada Nasti!” lanjut papa Bram b ertanya lebih jauh.
“Sudah Pah, itu juga pakai acara Bram menculik dengan mengempesin mobil Nasti. Kalau tidak dengan cara itu, Nasti tidak pernah mau lagi ngomong apapun denganku.”
Papa dan mama Bram saling menatap. Sepertinya mereka sudah harus siap dengan kemungkinan yang buruk sekalipun.
“Ya sudah kamu pokoknya berusaha terus agar Nastiti tidak batal jadi mantu Mama dan Papa akan bantu apapun yang kamu perlukan!” kata Papa Fatir didukung anggukan Mama Linda.
“Iya Pah, Mah… apapun akan Bram usahakan.”
***
Ngopi Time Kedai
“Nasti, maaf aku mengajak kamu ngopi, aku sebagai sahabat kamu dan Bram merasa bersalah karena kebiasan kami yang tidak terpuji membuat kalian batal menikah,” Naon to the point membuka diskusi dengan Nastiti sepulang kantor.
Atas inisatif Rio yang mendorong Naon untuk coba melakukan pendekatan pada Nastiti agar bisa menerima Bram kembali.
“Kasihan Bram, Nasti… sudah hampir sebulan dia benar-benar kacau. Akhir bulan ini dia dapat Surat Peringatan Satu karena kerap terlambat dan kerjanya acak-acakan sekali. Anak buahnya banyak yang komplain ke HRD. Nih aku lihatin sebulan tanpa kamu penampilan dia seperti orang hutan. Coba lihat nih…”
Naon memberikan hp-nya dan ada beberapa foto Bram yang tampak kusut. Rambutnya yang biasanya cepak klimis rapi tampak memanjang tidak beraturan dan biasa tidak berkumis, sekarang tampak berkumis. Tetap tampan tapi terlihat tidak segar dan badannya agak kurus.
Nasti merasa kasihan, tapi ingatan Sabtu pagi di matanya selalu membayangi setiap nama Bram tersebut. Nastiti bisa gila sendiri kalau harus berpura-pura itu adalah hal biasa. Nyatanya hatinya tidak bisa berkompromi.
“Tapi urusan Bram sudah bukan urusan aku lagi Naon, biar cewek dia yang urus. Kurasa akan lebih baik kalau mereka menikah saja mengingat hubungan mereka yang sudah sangat jauh,” Nastiti menjawab dengan dingin.
“Saron itu bukan siapa-siapa Nasti, dia cuma wanita alat taruhan. Sayangnya dia memang ada hati pada Bram sejak beberapa bulan lalu. Tapi Bram tidak sekalipun membalas godaannya. Bram sungguh-sungguh menyayangimu Nastiti. Kamu wanita yang sangat diagungkan dan dia melindungimu seperti pualam,” Naon membela Bram dengan sangat rasa bersalah menghantui dirinya dan Rio dalam tiga minggu sejak tahu Nastiti membatalkan pernikahan mereka gara-gara accident taruhan.
“Naon keputusan aku sudah bulat, aku tidak akan kembali pada Bram. Aku jadi merasa asing dengan Bram saat dia bercerita sisi dunia kelakian yang aku tidak perlu tahu. Ada berapa banyak sih rahasia dia? Empat tahun ternyata aku tidak tahu apa-apa detailnya. Ini kesalahan dan aku harus mengkaji ulang perasaan aku. Karena ini juga pertaruhan kebahagiaan hidup aku.”
Naon menarik napas panjang, gadis di depan yang sedang menyesap kopinya memang sangat keras dalam pendirian. Naon membatin, “Maafkan aku Bro, aku tidak bisa memengaruhi juga.”
Other Stories
Romance Reloaded
Luna, gadis miskin jenius di dunia FPS, mendadak viral setelah aksi no-scope gila di turna ...
Kala Kisah Tentang Cahaya
Kala, seorang gadis desa yang dibesarkan oleh neneknya, MbahRum. tumbuh dalam keterbatasan ...
Kala Menjadi Cahaya Menjemput Harapan Di Tengah Gelap
Hidup Arka runtuh dalam sekejap. Pekerjaan yang ia banggakan hilang, ayahnya jatuh sakit p ...
Bahagiakan Ibu
Ibu Faiz merasakan ketenteraman dan kebahagiaan mendalam ketika menyaksikan putranya mampu ...
Ryan Si Pemulung
Ryan, remaja dari keluarga miskin, selalu merasa hidupnya terkunci dalam sebuah rumah reot ...
After Meet You
kacamata hitam milik pria itu berkilat tertimpa cahaya keemasan, sang mata dewa nyaris t ...