3. Almost Eight Years
Satu kesalahan besar telah Zita lakukan, kenapa dirinya tidak bisa menolak kemauan ibu dan bapak.
“Aku lulusan luar negeri dengan pergaulan orang-orang modern akan pernikahan, tapi aku balik ke Indonesia akhirnya aku harus menyetujui dinikahkan dengan seseorang pria yang jadi pilihan orang tua, stupid think!” jerit batin Zita.
Zita tidak punya alasan lagi untuk menolak pria yang diajukan bapak ibunya. Usianya sudah merambat ke angka dua puluh delapan tahun. Putus dengan Fauzi yang hampir delapan tahun benar-benar membuat Zita merasa tidak berharga apa-apa lagi.
Zita sudah percaya dan yakin sepenuhnya kalau memang Fauzi-lah yang akan menjadi the first and the last, tetapi semua harus hancur berkeping-keping ketika Fauzi akhirnya mengingkari semua janji dan rencana ke jenjang serius hubungan mereka yang terbina hampir delapan tahun.
Bukan waktu yang pendek untuk hanya mengenal biasa, bahkan kedua orang tua sudah saling meng-amini hubungan mereka. Semua sudah tertata rapi, semua sudah merasa sehati, bahkan step by step menuju perkawinan yang akan digelar setelah memantapkan pekerjaan sudah menjadi tranding topic di antara keluarga Fauzi dan Zita.
Tapi kembali pada sebuah takdir, kita sebagai insan memang hanya bisa berharap dan merencanakan, tetapi eksekusi tetap Allah. Banyak waktu yang sudah terlewati bersama, tetapi tidak menjamin kesetiaan akan terpelihara.
Kejamnya cinta kedua yang tiba-tiba datang di hati Fauzi dan merusak cinta pertama yang harusnya indah pada saatnya.
Tapi akhir sebuah keindahan itu tidak akan pernah berkunjung lagi setelah Zita menyaksikan dengan mata dan kepala sendiri pengkhianatan kekasihnya.
Fauzi dan Zita sama-sama berkarier menjadi dosen selepas lulus S1 dengan status cumlaude. Selalu bersama hingga sekarang mengajar pada almamater yang sama.
Semua kebersamaan bagai sia-sia karena Fauzi sebagai dosen pembimbing mahasiswinya, Riska, untuk menyelesaikan skripsi ternyata juga jatuh hati padanya.
Sehabis mengajar kuliah Bisnis Internasional, Zita menyambangi ruang dosen yang terlihat sunyi senyap, maklum hari Sabtu memang jarang ada perkuliahan kecuali mata kuliah tertentu.
Tanpa sengaja Zita menyaksikan sendiri Fauzi tengah memeluk mahasiswi cantiknya. Zita bisa membuktikan ternyata Fauzi memang telah berselingkuh dengan Riska, mahasiswi tingkat akhir yang sedang dibimbingnya
Cukup lama untuk menyadarkan diri kalau apa yang disaksikan hanyalah mimpi, tapi ternyata bukan mimpi. Ini kenyataan yang membuatnya terlempar beribu mil dari hati Fauzi yang sudah mengakar dalam hatinya. Bagai dicabut paksa dan sangat melukai.
Zita berpikir untuk menyudahi hubungannya dengan dia. Mengapa setelah hampir delapan tahun cinta pertamanya terangkai indah akhirnya harus terputus juga. Zita baru merasakan seumur-umur patah hati. Almost eight years and now... Zita merasakan... broken hearts.
Pembelaan yang dilakukan Fauzi sudah tidak berarti apa-apa lagi. “Zita Sayang, apa yang kamu lihat sebenarnya tidak seperti yang kau sangka. Aku dan Riska tidak ada apa-apa! Dia mahasiswiku dan masalah pelukan yang kamu lihat itu hanya karena dia sedang depresi. Riska baru saja diputus pacarnya kemudian papa mamanya di ambang perceraian. Kamu mengertilah!”
“Kenapa harus dengan memeluk Zi, kamu sadar tidak?!? Pelukan kamu itu bukan pelukan biasa. Aku merasa semua terbagi dan ini menyakitkan aku. Zi sebenarnya aku juga menemukan ini,” Zita menyerahkan sebuah agenda dan pada halaman tertentu Zita menandai sebuah halaman yang berisi puisi cinta.
Memang teruntuknya menggunakan inisial dan inisial itu adalah R, apa yang beberapa hari menjadi kegundahan Zita terungkap sekarang. Fauzi memang sedang jatuh hati pada wanita lain, mungkin Fauzi jenuh dengannya yang telah delapan tahun bersamanya.
“Zit... Zita... aku dengan Riska tidak ada apa-apa! Pelukan tadi bukan apa-apa! Tak berarti apa-apa!” masih Fauzi mencoba mengelak.
“Bisa saja kamu berkata tidak ada perasaan apa-apa! Tapi, puisi itu ungkapan hati terdalam Zi, aku bukan anak SMA yang bisa saja kemarin-kemarin kamu bodohin. Aku menyaksikan betapa kamu juga membalas pelukannya! Dan itu cukup mengungkapkan perasaan kamu yang sebenarnya ke dia. Aku rasa yang terbaik buat kita saling koreksi dan berkata jujur akan perasaan kita masing-masing,” Zita mencoba tegar, walau hatinya sangat terluka.
Beberapa hari setelah peristiwa tersebut.
Klik!
Telepon dimatikan dan air mata Zita berurai deras setelah Fauzi memang akhirnya memutuskannya.
Zita tidak pernah menduga kalau akhirnya Fauzi tega meninggalkan dirinya. Sebenarnya beberapa hari dari kemarahannya Zita sempat berpikir ulang untuk mempertahankan hubungan yang sudah delapan tahun. Zita tidak tega melukai keluarga besar Fauzi dan dirinya.
You wish Zita! Kenyataan Fauzi lebih memilih gebetan barunya.
Other Stories
Impianku
ini adalah sebuah cerita tentang impianku yang tertunda selama 10 tahun ...
Hati Yang Terbatas
Kinanti mempertahankan cintanya meski hanya membawa bahagia sesaat, ketakutan, dan luka. I ...
Kado Dari Dunia Lain
Kamu pasti pernah lelah akan kehidupan? Bahkan sampai di titik ingin mengakhirinya? Sepert ...
Rumah Malaikat
Alex, guru pengganti di panti Rumah Malaikat, diteror kejadian misterius dan menemukan aja ...
Tes
tes ...
Way Back To Love
Karena cinta, kebahagiaan, dan kesedihan datang silih berganti mewarnai langkah hidup ki ...