14. The Must Be Or Accident!
“Zit, kamu dari mana saja sih? Tadi aku jemput ke kampus nggak ada. Aku telepon nggak aktif, apalagi WA kamu nggak baca ya?” tanya Fikri beruntun, sesampainya di rumah.
“Bukan urusanmu!” Zita meradang, pikirannya galau.
Permintaan Fauzi untuk cepat mewujudkan impian mereka menari-nari dan Zita buntu untuk lari dari perkawinan mereka.
Apalagi kalau mengingat ibunya yang terus bertanya, “Kapan ya cucu hadir meramaikan rumah ini?”
Zita juga bahagia melihat ibu yang sehat dan bergairah sehari-hari mengurus taman anggreknya dan bapak yang sibuk dengan kolam ikannya. Rumah tertata rapi dan kebun luas di belakang rumah yang segar sungguh membuat rumah ini nyaman. Tapi kenapa hati ini gundah gulana tidak jelas. Kenapa sekarang seperti hadir cinta segitiga?
“Ok, apa sih susahnya kamu sms atau WA kalo memang tidak mau aku jemput,” jawab Fikri tenang.
“Ah males aja aku harus selalu info apapun ke kamu! Jangan pernah pedulikan aku. Aku ingin kita cerai! Aku akan bilang dengan Ibu, aku tidak mau melanjutkan pernikahan sandiwara ini.”
“Silakan saja kalau kamu tega Ibu kamu kena serangan jantung lagi,” balas Fikri.
Zita melotot galak dan seperti biasa Zita meninggalkan Fikri yang terdiam seribu bahasa.
Malam itu Zita tidak bisa tidur. Hatinya diliputi keresahan. Bayangan Fauzi yang selalu datang begitu menggoda.
Janji-jani yang sempat terkoyak dan ingin dijalinnya kembali. Tetapi bayangan Fikri juga datang dengan sendu, Fikri punya daya pesona tersendiri dengan ketenangannya. Dengan cara dia menyikapi amarah Zita yang menghentak-hentak bahkan merongrong harga diri. Tetapi Fikri begitu sabar dan penyayang.
Ada bimbang hadir dalam hati Zita, ada perasaan aneh yang menyelimutinya. Ada sesuatu hadir tanpa diundang setelah tiga bulan bersama seorang pria yang menemani tidurnya setiap malam tanpa tersentuh.
Tapi malam ini, setelah pertengkaran berulang hal yang sama karena Fikri selalu memperhatikannya, sementara Zita jengah dengan semua perhatiannya.
***
Tiba-tiba di keremangan kamar, Zita merasakan ada yang membelai kepalanya. Antara rasa kantuk dan lelah, Zita tahu itu Fikri! sekilas dia bisa menangkap bayangan pria yang hampir setiap malam tidur bersamanya.
Tapi kali ini Zita capek untuk memberontak dan marah lagi!
Entahlah, dorongan hasrat membiarkan Zita untuk pasrah akan belaian dan sentuhan, penuh kelembutan sentuhan demi sentuhan dan seterusnya dari pria yang paling dibencinya dan berdua mencapai kebahagiaan penuh sensasi untuk pertama kali.
Zita terdiam setelah semuanya.
“I love you...“ Fikri dengan lembut mengecup keningnya.
Zita bagai mati kutu!
Keegoisan untuk tidak menerima Fikri masih tersisa memaksa untuk berucap, “Fik, aku tetap ingin bercerai!” tetap dengan nada dingin kata-kata tersebut meluncur dari mulut Zita.
Fikri sejenak menghela napas, “Aku mencintaimu, apapun yang akan kamu lakukan dan inginkan asalkan itu membuatmu bahagia, aku akan terima Zit.”
Jelas terbersit wajah Fikri memerah menahan rasa egonya. Dan Zita membelakangi untuk tidur. Berkali mencoba terpejam tapi yang terbayang adalah apa yang barusan terjadi antara dirinya dan Fikri.
Zita merasa wajahnya sangat memerah mengingat setiap sentuhan, ciuman Fikri dan debar jantungnya. Semua bagai memacu adrenalin kewanitaannya.
Zita tersadar inilah debaran dan getaran terdahsyat yang akhirnya membobolkan kesombongan bahwa Fikrilah yang telah menaklukan hatinya dan perlahan pualam akan Fauzi terkikis tanpa menyadarinya.
Hari terus berlalu tetap dengan kebekuan dan sesekali ‘keketusan’ dan amarah tetap dilancarkan Zita terhadap Fikri.
Zita menganggap apa yang terjadi adalah kecelakaan, tapi apakah yang ada di benak Fikri? Ini adalah kewajiban yang didasarkan rasa cinta tanpa pernah ada paksaan.
Zita resah dan galau, mengingat desakan Fauzi yang akan melamar secepatnya setelah urusan dia dan Fikri selesai dan membayangi Zita jadi serba salah melangkah.
Other Stories
Kastil Piano
Kastil Piano. Sebuah benda transparan mirip bangunan kastil kuno yang di dalamnya terdapat ...
Setinggi Awan
Di sebuah desa kecil yang jauh dari hiruk-pikuk kota, Awan tumbuh dengan mimpi besar. Ia i ...
Hanya Ibu
kisah perjuangan bunga, pengamen kecil yang ditinggal ayahnya meninggal karena sakit jantu ...
The Fault
Sebuah pertemuan selalu berakhir dengan perpisahan. Sebuah awalan selalu memiliki akhiran. ...
Nina Bobo ( Halusinada )
JAM DINDING menunjukkan pukul 12 lewat. Nina kini terlihat tidur sendiri. Suasana sunyi. S ...
Harapan Dalam Sisa Senja
Apa yang akan dalam pikiran ketika dinyatakan memiliki penyakit kronis? Ketika hidup berg ...