20. The Terror
Meski tidur sekitar jam dua pagi Tresa tetap bangun pagi. Dari dulu tidak bisa untuk bangun siang.
Matanya tertumbuk pada sebuah kardus berpita merah. Agak bingung juga selama ini dia tertutup dengan hari ulang tahunnya kemarin. Tidak ada yang suka kirim-kirim kado buatnya.
“Ah siapa ya? Asyik juga dapat kado.”
Tresa membuka perlahan, tapi perasaannya tidak enak. Dan saat ikatan terbuka… braak, kotak langsung membuka semua dan sebuah pemandangan yang mengerikan membuat Tresa berteriak spontan,” Aghhhhhhhhh… hiiiiiii tidaakkk! Angelaaaaaa!! Tidaaak!!!”
Tresa berlari ke rumah induk. Ibu asrama bingung karena Minggu pagi biasanya kelima anak kost masih pada tidur menurutnya. Dan sekarang di depannya Tresa tengah ketakutan manangis dan pucat pasi.
“Tresa kenapa?” Bu Indah ibu kost bertanya penuh penasaran.
“Angela Bu… huhuhuhuhu… Angela dibunuh… lehernya sepertinya digorok!”
“Hah, ya ampun kotak merah berpita itu berisi bangkai Angela?” Bu Indah terbelalak matanya.
“Itu setengah enam sudah di depan gerbang dan ada nama buat kamu. Sama Mbak Ipong di taruh depan pintu kamarmu,” Bu Indah menjelaskan perihal kardus merah berpita.
“Sebentar! Ibu panggilkan Bapak, biar Bapak yang urus mayat Angela. Mbak Tresa di sini saja ya.”
Selang lima menit Pak Danu, bapak kost sudah bangun.
“Bapak tolong kubur Angela dan jangan ada darah yang tertinggal ya Pak, saya takut. Angelaaa…. Huhuhu…” Tresa menangis tergugu.
“Iya Mbak, semua biar Bapak yang urus.”
Hampir satu jam Tresa mengungsi di ruang tamu, dia benar-benar ketakutan. Bayangan kucing kesayangannya yang menemani selama di Yogyakarta mati dengan leher digorok menganga. Bila ingat itu rasanya mual dan pusing apalagi bau amis yang sempat terhirup menyengat. Tadi Tresa benar-benar ingin muntah dan pingsan.
“Mbak Tresa, ini ada surat, maaf Bapak nggak bisa menghilangkan darahnya soalnya memang sudah bercampur.”
“Tidak!”
“Jadi gimana suratnya? Bapak pegang dulu ya.”
Tresa mengangguk.
Benar-benar sedih kehilangan Angela dan yang membuat semakin pedih matinya dibunuh tidak jelas. Apa
maksudnya pembunuhan terhadap kucing kesayangannya?
***
Aksan membuka amplop yang diminta ke bapak kost dan membawanya ke ruang tamu.
Tresa masih shock.
Aksan membuka amplop berdarah Angela dan muncul tiga lembar foto.
Dia langsung mendesis, \"Quin.\"
Tresa terlongo melihat foto ke satu saat ulang tahun kampus tanpa sengaja dirinya terpeleset dan Aksan memeluknya. Foto kedua adalah foto semalam saat Tresa menaruh bunga mawar di bibir Aksan terlihat sangat dekat. Foto yang ketiga foto tersadis dimana Angela dengan leher digorok.
Di balik foto Angela ada tertulis pesan: “Bisa saja besok empunya kucing bernasib sama, maka jangan main-main dengan kekasih orang!” \"San aku takut, aku tidak pernah punya musuh selama ini,\" Tresa putus asa, bayangan Angela yang digorok membuatnya mual.
\"Tresa kamu harus lebih waspada! jangan pergi ke mana-mana sendiri, sebisa mungkin ada teman. Kamar dikunci dan tenang jangan stress,\" Aksan coba menenangkan, walau dalam hatinya sungguh khawatir.
\"San menurut kamu siapa yang berbuat ini? Apakah Quin?\" Tresa menatap penuh selidik dan curiga.
\"Entahlah, memang Quin bisa saja berbuat banyak lewat orang-orangnya. Dan aku harus memastikan dengannya tentang perihal ini. Selama aku mau menuruti semua kemauan Quin, kamu aman Tres,” Aksan menjamin.
“Setidaknya kamu tidak diusik teror oleh Nindita yang sama-sama tegaan, musuh kamu sekarang Quin.” Tidak bisa disembunyikan awan mendung menggelayut di wajah Tresa.
\"Tres aku cabut dulu ya, ada janji dengan Quin. Banyak yang harus kita bahas karena dia telah bertindak anarkis,” suara Aksan berat. Aksan menghembuskan napas panjang dan berlalu dengan motornya.
***
Tresa tidak bisa tidur, biasanya Angela menjadi teman saat suntuk. Foto-foto Angela terpasang dan semakin ngeri ingat kematiannya. Ancaman tertulis sepertinya tidak main-main. Semalaman Tresa gelisah dalam tidurnya, berkali mimpi dikejar-kekar wanita berambut blondy dengan pisau terhunus. Sangat bernafsu menghabisinya.
\"Oh Tuhan!\" Tresa terjaga dan tatapannya nanar, ada sebuah surat putih tetap berbecak darah. Tresa gemetaran, “Siapa yang menaruhnya, padahal semua pintu masuk asrama pasti terkunci.” Dibukanya dan kembali foto dirinya dengan Aksan. Saat Aksan mengalungkan kalung hati yang kini dipakainya.
\"Kalau besok kamu masih memakai kalung ini, jangan harap lusa kalung ini masih bisa bertengger karena leher kamu siap menjadi santapan anjing-anjingku.\" Tresa refleks melepas kalung hatinya dan memencet nomor telepon Aksan. \"Angkat San, please.\" butiran keringat dingin membasahi baju tidurnya.
Lima kali radial tapi tetap hp Aksan tidak diangkat. Tresa menatap jam dinding kamar pukul tiga pagi. Lolongan anjing di luar asramanya menambah bulu kuduknya berdiri.
***
Hari ini benar-benar badan Tresa terasa lemas, semalam berulang kali bangun dan pagi jam tiga untuk tidur lagi tidak bisa. Mencoba alihkan dengan membaca novel juga tidak bisa. Tresa berulangkali mencoba menelepon Aksan dan WA pun tapi tidak dibaca. Hingga siang ini Aksan juga benar-benar tidak bisa dihubungi. Tresa tidak mau berpikir macam-macam, semoga Aksan butuh istirahat saja.
Derrtt… SMS tidak dikenal : “Hai wanita penggoda, kalau mau aman pergi dari kehidupan lelaki yang suka padamu! Atau mampus!” Tresa menghela napas panjang. Tresa memutuskan mandi lebih lama setelah seharian full dengan kuliah, hampir setiap jam SMS ancaman masuk ke inbox-nya.
\"Aku bisa gila lama-lama!\" Tresa putus asa. Tidak malam kemarin dan seharian ini Aksan tidak menghubunginya dan sulit dihubungi. Sesuatu yang tidak biasanya.
“Aksan kamu di mana? Aku butuh kamu untuk menenangkan hatiku,” Tresa mengeluh lara. Terbersit kecurigaan, tapi Tresa menepiskan kekhawatirannya. Seminggu Aksan tidak menemuinya dan SMS teror mulai berkurang walau sehari masih masuk tapi frekuensinya jauh berkurang banyak. Dua tiga kali tidak seperti di awal teror bisa per jam. Juga surat-surat ancaman tidak ada lagi. Tresa memutuskan konsentrasi pada buku-buku mata kulih dan persiapan Kuliah Kerja Lapangan semester depan.
Other Stories
Perpustakaan Berdarah
Segala sumpah serapah memenuhi isi hati Gina. Tatapan matanya penuh dendam. Bisikan-bisika ...
Cinta Di 7 Keajaiban Dunia
Malam yang sunyi aku duduk seorang diri. Duduk terdiam tanpa teman di hati. Kuterdiam me ...
Hanya Ibu
kisah perjuangan bunga, pengamen kecil yang ditinggal ayahnya meninggal karena sakit jantu ...
Cinta Dibalik Rasa
Cukup lama menunggu, akhirnya pramusaji kekar itu datang mengantar kopi pesananku tadi. ...
Kepingan Hati Alisa
Di sebuah rumah sederhana, seorang wanita paruh baya berkerudung hitam, berbincang agak ...
Kukejar Impian Besarku
Ramon, Yongki,Dino,Jodi,Eka adalah sekumpulan anak band yg rutin manggung di sebuah cafe d ...