3. Try To Honest
Jalanan sepanjang Ring Road Condong Catur sore terasa lengang, “Hemm aku ada langganan fotokopi sekalian jilid yang rapi, jamin deh proposal ini gampang banget di rapiin ama Mas Imam. Aku suka jilid-jilid kliping atau sekedar kumpulan tulisan yang aku print buat sendiri di sini,” Wisnu menerangkan dengan tetap konsentrasi di balik setir VW Kodoknya.
“Maaf ya Mas, gara-gara kecerobohan aku kerjaan Mbak Nindita jadi tertunda, seharusnya proposal-proposal ini besok mau dimasukkan Mbak Nindita ke beberapa perusahaan,” Tresa merasa bersalah, apalagi mengingat tatapan Nindita yang sangat kesal.
“Mas Wisnu sepertinya aku lebih baik di Sie Konsumsi saja, aku takut mengecewakan Mbak Nindita juga Mas Wisnu dengan kepercayaan ini.”
“Aduuuh Tresa ini cuma event kecil, tapi bukan berarti kamu main-main. Ambil positifnya kamu bisa belajar berorganisasi lebih serius. Masalah kemarahan Nindita, tidak usah diambil hati. Selama ini Nindita selalu memusuhi cewek-cewek yang dekat denganku, hemmm aku tahu sebenarnya Nindita memang suka denganku. Apalagi mama dan papa Nindita adalah sahabat ayah dan bundaku, jadi sepertinya kami memang ditakdirkan untuk berjodoh. Jujur aku tidak ada hati buat Nindita, aku hanya ingin jadi sahabat baiknya saja. Tapi yah, kadang kalau orang tua sudah ada kemauan, sulit sekali untuk aku memutuskan ketegasan.”
Tresa tidak menyangka Mas Wisnu yang dikenalnya tiga bulan terakhir dalam organisasi Koperasi Mahasiswa mencurahkan hatinya tentang Nindita yang benar feeling Tresa mengatakan kalau Nindita menyukai Mas Wisnu, dan dirinya dianggap pengacau pendekatannya terhadap Mas Wisnu.
“Mas Wisnu, menurut aku… Mbak Nindita itu cantik dan baik, yah lupakan sikap dia yang agak pemarah kemarin. Aku tahu itu karena Mbak Nindita takut kehilangan Mas Wisnu. Apalagi kedua orang tua kalian sudah saling mengenal, pastilah sangat mudah untuk menyatukan dua keluarga.
Aku rasa kalian pasangan yang serasi,” Tresa mengungkapkan pendapatnya, walau dalam hati kecilnya sesungguhnya terbersit sebuah rasa yang aneh, rasa suka ketika Mas Wisnu memandangnya lembut dan melindunginya dari amukan Nindita, juga kepercayaannya untuk berperan serta dalam event ulang tahun kampusnya. Tapi Tresa tidak mau menerjemahkan lebih jauh, dia merasa kalau ini adalah rasa yang terlalu dini dan Tresa takut hanya sebuah kekaguman sesaat.
“Tapi Tres, susah kalau hati ini tidak klik, aku tidak memiliki rasa chemistry. Aku merasa biasa saja karena aku kenal dia sejak kecil dan kita bersahabat. Dulu mungkin sebelum aku merasakan debar saat dengan… dengan kamu!” Wisnu menarik napas dan memandang sekilas Tresa yang setengah terkejut dengan ekspresi membelalakkan matanya yang indah.
Wisnu tersadar, akhirnya dia memang harus mengutarakan kalau hatinya jatuh cinta pada Tresa.
“Maaf Tres, mungkin ini terlalu cepat. Aku menyukai kamu sejak awal kamu masuk menjadi anggota kepengurusan,” Wisnu tampak pasrah.
Tresa jadi salah tingkah, tapi apa yang dirasa mungkin tidak sehebat dengan apa yang dirasakan Mas Wisnu, Tresa tidak enak hati. Apalagi bila harus berurusan dengan Mbak Nindita yang sudah mulai memasang aksi memusuhinya, rasanya Tresa memilih lebih baik mengalah.
“Maaf Mas, selama ini aku tidak pernah bisa mengambil keputusan dalam hitungan hari, apalagi masalah hati. Aku lebih menyukai proses, jadi maaf bila aku memilih menganggap Mas Wisnu adalah kakak yang selama ini aku tidak punya. Aku mengagumi Mas Wisnu dan tidak mau membuat rusak apa yang sekarang sedang aku rasakan,” Tresa merasa beruntung menyukai membaca novel, jadi menambah stok kalimat untuk menolak halus.
Walau Tresa tahu sehalus apapun namanya penolakan pasti menyakitkan hati. Tresa tidak ada pilihan. Padahal diapun merasa sepi dan jomblo di kota pelajar tanpa teman dekat.
“Hemmm baiklah, hehehe lupakan bualan aku tadi ya! Aku juga lebih nyaman bila kita bersahabat!” ternyata Wisnu sudah memarkir mobil VW-nya di sebuah agen penjilidan yang cukup besar dan sangat asri lokasinya.
“Nah ini tempat yang aku suka, sambil menunggu kumpulan kliping atau kertas-kertas print-an dijilid, aku bisa menunggu sambil menikmati kelapa muda, kalau lapar gado-gado atau nasi gorengnya enak deh! Ayo kita cobain.”
Tresa lega sekali, sepertinya penolakan barusan tidak berdampak menyakitkan buat Mas Wisnu.
“Ayoooo, aku juga sangat lapar! Tadi ngggak sempat makan siang nih…” entah kenapa Tresa jadi lebih bersikap manja, mengingat memang sosok Mas Wisnu lah yang lama dinanti menggantikan kakaknya yang meninggal dunia empat tahun lalu dalam kecelakaan balap motor yang diikuti.
Bila mengingat hari itu adalah kepedihan tiada ujung. Kak Antasena meninggalkan kisah tragis dalam hidup Tresa dan keluarganya. Dalam sebuah kompetisi pembalap muda di arena sirkuit, semua sorak-sorai sporter mendadak menjadi hening dan berubah menjadi teriakan histeris dan tangisan.
“Loh kok malah bengong, es kelapanya gak diminum?” tegur Mas Wisnu.
Tresa mengerjapkan matanya yang membasah dan menarik napas yang menyirat kesedihan. Selalu pedih mengingat Mas Antasena, saat itu almarhum adalah remaja berprestasi dalam balap motor, naas dia harus meninggal saat prestasinya tengah menanjak.
Lebih pedihnya sejak peristiwa meninggalnya kakak tercintanya, ayah dan ibu selalu bertengkar. Tragedi sirkuit berdarah membuat rumah juga memanas, salah satu alasan Tresa memutuskan ke Yogyakarta adalah menghindari pertengkaran ayah dan ibu yang tiada hentinya.
Walau sebenarnya Tresa berat meninggalkan ibunya yang kerap mendapat pukulan dari tangan ayahnya yang bila emosi sudah tidak terkontrol. Kematian kakak, wajah dan tubuh ibu yang lebam, kemurkaan ayah yang tidak bisa terima putra kesayangannya meninggal dunia, membuat Tresa untuk tidak sempat memikirkan dirinya dan bahkan merasakan jatuh cinta seperti teman-temannya.
“Hai Cantik, kenapa kamu sangat sedih? es klamud-nya nggak enak? Atau kamu teringat sesuatu?” terdorong rasa penasaran Wisnu duduk menyamping dan menggenggam tangan Tresa.
Tresa membiarkan tangannya digenggam, saat ini dia membutuhkan seseorang yang bisa mengerti dirinya dan melindunginya seperti waktu lalu saat kakaknya masih hidup dan ayahnya masih bersikap lembut.
“Aku hanya merindukan almarhum kakakku dan kangen suasana rumah yang damai saat Kak Antasena masih hidup.”
“O… maafkan aku Tres, kamu bisa berlindung di bahuku kapan saja kamu mau tanpa aku akan memaksakan dirimu menjadi kekasihku.”
Senja itu Tresa merasakan nyamannya pelukan seseorang yang selama ini tidak pernah ada. Dalam diri Mas Wisnu, Tresa seakan menemukan kasih sayang kakaknya yang terhempas ganasnya persaingan sirkuit balapan.
Tresa akui dia merasakan kenyamanan dalam dekapan Mas Wisnu dengan aroma tubuh maskulin tetapi tetap lembut.
“Terima kasih Mas Wisnu atas sore ini, hemmm makasih jilidan proposalnya memang sangat rapi, besok aku akan sampaikan ke Mbak Nindita,” Tresa tersenyum tulus atas perhatian Mas Wisnu.
“Hemm iya, Tres kamu belajar sesekali ikut Mbak Nindita menyerahkan proposal. Belajar me-lobby dan presentasi. Itu mengasyikkan kok. Nanti Mas bilang deh ke Nindita untuk ajak-ajak kamu.”
“Tapi Mas, memang Mbak Nindita nggak keberatan?”
“Sudahlah itu uruasan Mas, oke! Yang penting kamu harus ikuti perintah Mas Ketum!” Wisnu mengacak rambut Tresa.
“Siap! Siap!” Tresa masuk ke dalam asrama putrinya. Dia yakin sepertinya malam ini akan susah memejamkan mata langsung, Tresa ingin menuliskan senja indah bersama seorang pria yang dikagumi dan menyusup dalam relung hatinya tanpa harus memaksakan cinta dengan cepat. Dia begitu lembut dan halus, dan dekapan hangat di dadanya membuat getaran-getaran pada hatinya yang masih sulit untuk diartikan. Cintakah atau hanya kekaguman, Tresa melaras tanpa bisa memaknai apa yang sebenarnya.
Other Stories
Bukan Cinta Sempurna
Meski populer di sekolah, Dini diam-diam mencintai Widi. Namun Widi justru menjodohkannya ...
Kating Modus!
Kisah seorang pemuda yang mengikuti organisasi internal di kampusnya. Ia diberi mandat ole ...
Devils Bait
Berawal dari permainan kartu tarot, Lanasha meramal kalau Adara, Emily, Alody, Kwan Min He ...
Aparar Keparat
aparat memang keparat ...
Turut Berduka Cinta
Faris, seorang fasilitator taaruf dengan tingkat keberhasilan tinggi, dipertemukan kembali ...
After Honeymoon
Sama-sama tengah menyembuhkan rasa sakit hati, bertemu dengan nuansa Pulau Dewata yang sel ...