10. Jealouse
“San! Kamu ke mana saja sih? Hp mati! Aku telepon kostan kamu nggak ada di kamar kata Bram.”
Suara Quin penuh dengan kecurigaan, selalu curiga kalau dalam sehari dia tidak bisa menghubunginya.
“Aku makan sebentar Quin.”
“Makan di mana? Memang hp nggak kamu bawa?”
“Hp tadi lowbat Quin, makanya aku tinggal. Aku cuma makan di angkringan Bu Rus sebentar kok.”
“Aksannnnn!! Kamu kapan makan bergizi sih? Makan di angkringan mulu. Jorok lagi!” mulai Quin dengan teori-teorinya.
“Iya Quin. Aku nggak sanggup kalau harus makan di restoran besar seperti kamu. Ayahku cuma Pegawai Negeri biasa.”
Selalu Aksan menekankan kalau dirinya bukan kaum jetset seperti Quin yang papanya punya perusaahaan keramik yang diekspor sampai mancanegara.
Papa Quin sudah menjanjikan kalau semuanya akan dihibahkan buat Quin dan siapa yang jadi suaminya kelak. Aksan sudah berjanji menjaga dan menerima Quin yang telah ternoda karena pergaulan bebasnya.
Tapi kini Aksan mulai ragu, dalam hatinya kini ada sosok lembut yang yang sederhana menawan hatinya. Sosok lembut yang rapuh karena diterpa praha perceraian orang tuanya.
Aksan sungguh ingin melindunginya dari kesedihan yang tampak menggelayuti wajah manisnya, tapi Aksan juga tidak bisa meninggalkan Quin yang pernah mengancam akan bunuh diri bila sampai tidak menikah dengannya.
“San aku diundur pulang dari Surabayanya, fashion show-nya ada acara tambahan. Lumayan juga honornya. Lusa mungkin baru bisa ketemuan. San I love you,” Quin menadaskan rasa cintanya.
Quin merasa ada yang berubah dari kekasihnya beberapa hari ini. Tepatnya setelah malam Minggu kemarin penampilan Aksan dan band-nya di acara ulang tahun kampusnya. Quin mencium ada seseorang sepertinya yang mengusik hatinya. Quin yakin pasti gadis yang istimewa.
“Love you too Quin,” Aksan menutup handphone-nya segera.
Di seberang Quin semakin yakin merasa kalau Aksan malas berbicara dengannya, seharusnya dia yang mematikan handphone karena di awal dialah yang menelepon.
***
Wisnu mengamati sepasang cewek dan cowok yang dua hari ini selalu ketemuan di depan toko Kopma. Dadanya bergemuruh kencang, ada yang hilang sejak kemarin Aksan merebut kebiasaan dia mengantar Tresa. Wisnu memutuskan tidak jadi menuju ke sekretariat, melihat ada WA dari Nindita.
WA Nindita:
“Say aku lagi di kantin Mawar, masih ada soto ayam ni. Udah aku pesanin, ke sini ya.”
Tadinya Wisnu memilih menuju ke ke sekretariat saja karena yakin Tresa menunggu jam kuliah berikutnya pasti di sekretariat atau perpustakaan. Tapi melihat sepertinya Tresa tengah dimabuk cinta dengan vokalis Zeus, Wisnu memilih bergabung dengan Nindita. Wisnu juga berpikir tidak mau membuat Nindita marah lagi.
WA Wisnu :
“Ok Nin otw ni, thanks.”
Nindita melambaikan tangannya untuk mengode tempat duduknya. Wisnu mendekat dan menghempaskan badannya pada kursi kayu panjang.
“Kenapa, cape ya Wis? ini sotonya. Ayo mumpung hangat!” Nindita menyodorkan soto ayam kampung bumbu kacang kesukaan Wisnu.
Bila tidak ingat pemandangan barusan pasti soto ayam ini menjadi makanan yang paling nikmat. Bayangan keakraban Aksan dan Tresa sungguh mengejek hatinya, menari-nari di kedua bola matanya.
“Wis kamu kenapa sih? Kaya orang patah arang gitu,” Nindita menyelidik.
“Eh Wis itu Aksan dan Tresa kan? Mereka jadian? Kok Tresa ngebonceng Aksan sambil meluk pinggangnya gitu!” seru Nindita keras.
Wisnu terbelalak, baru saja melihat Tresa dan Aksan melintas di depan warung Mawar mesra sekali. Ah rasa soto ayam menjadi benar-benar hambar, sehambar hatinya.
“Sepertinya mereka jadian ya Wis, aku ikut bahagia deh! Tapi heh! Siap-siap aja Tresa babak belur berhadapan dengan Quin! Dia belum tahu saja Quin bisa berbuat apa saja,” Nindita menyerocos panjang lebar.
“Quin bukannya posesif banget ya Nin?” tiba-tiba Wisnu ingat gadis berambut blondy yang beberapa kali minum di Kopma dan ternyata pulang bareng Aksan.
“Aksan memang playboy! Awas saja kalau Tresa cuma jadi mainan dia! Dia akan berhadapan dengan aku!”
“Kok kamu segitunya sih cemburu pada Aksan, memang kalau jadi kakak angkat harus melindungi banget ya? Sampai-sampai nggak bisa jaga perasaan pacarnya,” Nindita menggerutu kesal.
“Bukan gitu Nin, aku kasihan saja kalau Tresa jadi korban vokalis berandal itu. Gimana pun aku pernah sayang, eee jangan marahlah, aku cuma berusaha jujur! Tapi aku kan sudah berjanji padamu akan belajar mencintai kamu. Please Nin, beri aku waktu untuk semua. Kamu juga tolong jangan seperti Quin yang over posesif. Tidak ada laki-laki yang suka terlalu dicurigai. Dalam hubungan kita butuh kepercayaan dan kejujuran. Itu saja Nin. Please…”
“Iya Wis, selama kamu jujur dan tidak menduakan aku. Aku akan menuruti semua kemauan kamu. Aku sangat menyayangimu dan tidak pernah mau kehilangan kamu.”
Other Stories
Death Cafe
Sakti tidak dapat menahan diri lagi, ia penasaran dengan death cafe yang selama ini orang- ...
Ophelia
Claire selalu bilang, kematian Ophelia itu indah, tenang dan lembut seperti arus sungai. T ...
Rembulan Di Mata Syua
Pisah. Satu kata yang mengubah hidup Syua Sapphire. Rambut panjangnya dipotong pendek sep ...
Cerella Flost
Aku pernah menjadi gadis yang terburuk.Tentu bukan karena parasku yang menjaminku menjadi ...
Jaki & Centong Nasi Mamak
Jaki, pria 27 tahun. Setiap hari harus menerima pentungan centong nasi di kepalanya gara-g ...
Kepingan Hati Alisa
Di sebuah rumah sederhana, seorang wanita paruh baya berkerudung hitam, berbincang agak ...