12. Apologize
Tresa memutuskan dua hari tidak masuk dan mematikan hp-nya. Rasa sakit datang bulan yang dideritanya kali ini tak kunjung reda. Dan yang utama Tresa ingin menghindari Aksan yang berusaha menghubunginya lagi.
Aksan datang juga ke asramanya, tapi jelas tidak diizinkan cowok masuk oleh ibu asrama. Aksan hanya bisa menunggu di ruang tamu dan Tresa bersikeras tidak memunculkan batang hidungnya.
Hanya secarik kertas yang dititipkan pada ibu kost ;
Dear Tresa
Aku hanya minta maaf untuk semua.
Untuk perkataan Quin yang membuat kamu sakit hati.
Tresa aku masih menyayangimu.Beri aku waktu.
Salam,
Aksan
Tresa menyobek kertas sampai sobekan terkecil.
Tresa tidak mau lagi tertipu dengan perilaku aksan yang benar kata Mas Wisnu adalah mantan playboy.
Dia maklum tentu saja Quin marah bukan main padanya karena mendapati mereka berdua di kamar terkunci, tentu saja membuat pikiran negatif macam-macam.
Aksan saja yang keterlaluan mencoba menipunya padahal dia sudah mempunyai Quin sebagai pacarnya.
***
Tresa menikmati teh botol dinginnya, tiba-tiba Aksan sudah di sampingnya.
\"Tres?\"
\"San, apa lagi?\" suara Tresa meninggi.
Wisnu yang pas lewat ke sekretariat melotot melihat ketegangan di wajah Tresa menghadapi Aksan.
Wisnu merasa heran karena dua hari lalu mereka sangat mesra seperti sepasang kekasih, tapi sekarang sebaliknya, Wisnu saja ngeri melihat wajah Tresa yang biasanya kalem mendadak sangar.
\"Maaf Tres, peristiwa dua hari lalu. Aku benar-benar sudah menegur Quin untuk meminta maaf tapi sepertinya, hmmm,\" Aksan menarik napas.
\"Iya aku paham kekasihmu cemburu tanpa alasan!\" sambung Tresa ketus.
\"Dan kamu memang playboy kelas coro! Sudah punya pacar masih coba dekati aku!\" Tresa menatap tajam mencari pembenaran.
Aksan menunduk, “Tres memang aku playboy tapi aku tidak bisa menyangkal kalau… kalau aku jatuh hati padamu,\" Aksan balik menatap tajam tepat ke manik mata Tresa.
Tresa tidak bisa berbohong, selalu ada rasa getar sangat yang melara. Teringat kalimat Aksan yang mendengung, ”Menolong sahabat! Sahabat!”
Aksan hanya menganggapnya sahabat, sementara hatinya tidak terima. Ada pedih yang terasa setiap mengingatnya di sudut hatinya.
Saat keduanya bersitegang dengan tatapan mencari sebuah pembenaran, Quin muncul dari mobil Jazz sport birunya dan tanpa basa-basi, \"Aksan kamu masih saja ngebelain cewek murahan ini!\"
Wisnu terbelalak kali ini, dia tidak terima Tresa dituduh wanita murahan dan Tresa lemas tidak berdaya membela dirinya.
\"Hai, hai… apa-apaan kalian? Ini wilayah Kopma, untung saja sepi! Kalian kalau mau berkelahi jangan di sini. Dan Quin jaga mulut kamu! Tresa ini adikku, kalau kamu macam-macam, hadapi aku. Seharusnya kamu tanyakan pada Aksan siapa yang murahan! Dasar playboy kelas coro!\" Wisnu meng-copas istilah yang didengar belum lama dari mulut dari Tresa.
\"Ayo Tres, kita masuk!\" Wisnu menarik tangan Tresa mengungsikan ke dalam sekretariat Kopma.
Nindita saat itu bersama Wisnu sebenarnya masih nggak terima perhatian Wisnu yang dianggap terlalu membelanya. Tapi ingat kembali ancaman Wisnu bila dia tidak berubah maka akan kehilangan dirinya selamanya meredam hatinya untuk mengalah berkompromi.
***
\"Quin kamu apa-apaan sih? Marah-marah di tempat umum, untung saja Kopma lagi sepi. Aku sudah tegaskan kamu harus minta maaf ke Tresa, dia nggak salah apa-apa.\"
Quin kesal memandang Aksan yang berwajah tegang di balik setirnya.
\"Tak akan! Wanita murahan!\" hardik Quin.
\"Dia bukan gadis murahan. Jaga mulutmu Quin!\"
\"Hoh kamu benar-benar menyukai siapa itu... Tresa. Heh, ingat janji kamu San pada Mama dan Papa!\" Quin menandaskan.
Aksan menghela napas panjang. Ingat perjanjian yang dibuat dengan mama dan papa Quin.
Quin mendengus, bibirnya mengerucut, otaknya berputar-putar kesal ingat Tresa yang kalem saat dirinya marah-marah.
Apalagi Quin akui dalam hati, daya pesona kecantikan Tresa yang alami dan sederhana memang terpancar dari wajahnya. Quin yakin kalau Om Rona, koreografer model lihat bakal gatel menyulap Tresa jadi model. Quin yakin dia pasti akan cantik. Aksan tidak salah kalau jatuh cinta pada dia.
Other Stories
Kelabu
Cinta? Apakah aku mencintai Samuel? Pertanyaan yang sulit kujawab. Perasaanku padanya sepe ...
Hopeless Cries
Merasa kesepian, tetapi sama sekali tidak menginginkan kehadiran seseorang untuk menemanin ...
After Meet You
Sebagai seorang penembak jitu tak bersertifikat, kapabilitas dan kredibilitas Daniel Samal ...
Cangkul Yang Dalam ( Halusinada )
Alya sendirian di dapur. Dia terlihat masih kesal. Matanya tertuju ke satu set pisau yang ...
Membabi Buta
Mariatin bekerja di rumah Sundari dan Sulasmi bersama anaknya, Asti. Awalnya nyaman, namun ...
Hikayat Cinta
Irna tumbuh dalam keyakinan bahwa cinta adalah sesuatu yang harus ditemukan—pada seseora ...