14. Closer To The Heart
“Nah kita sampai di rumahku,” sebuah rumah khas Jawa yang dimodifikasi modern. Rumah besar dalam tanah berukuran kurang lebih 700 m2, taman asri, dan kolam ikan emas tampak menyejukkan.
Tresa ragu masuk, tiba-tiba dikejutkan suara wanita setengah baya kurang lebih seusia ibunya menyambutnya.
\"Sudah pulang Mas, wah genduk cantik ini siapa?\"
\"Kenalin Bun, ini Tresaaa,\" Wisnu mengenalkan Tresa dengan ceria dan sengaja memanjangkan saat menyebut namanya.
\"Ooh ini tho yang kamu ceritain tempo lalu, yo yo kenalin Nduk, saya bundanya Wisnu.\"
Wajahnya cukup ramah, walau alis tebalnya sekali kali bertaut.
\"Tresa, Tan. Saya teman Mas Wisnu.\"
\"Yo wis, duduk-duduk dulu ya. Bunda mau ke belakang ada urusan ama mbok-mbok pembatik.\"
\"Monggo Tan, maturnuwun,\" Tresa belajar unggah-ungguh yang berlaku di Yogyakarta.
Tresa menyapu semua ruangan yang penuh aksesori bernuana Jawa, tampak di halaman belakang terbuka kolam renang dan di sisi agak jauh sepertinya ruangan membatik karena ada plang bertuliskan dengan huruf jawa yang Tresa tidak tahu apa bacanya.
Tampak beberapa mbok-mbok sambil membawa canting dan berkebaya jarik keluar masuk.
\"Hai Tres kok bengong, kamu lihat apa?\" Wisnu datang dengan tiga novel di tangannya.
\"Bunda kamu bisnis batik ya?\" sambil masih menatap tulisan Jawa yang menggelitik rasa penasarannya.
\"Itu huruf Jawa, tepatnya huruf hanacaraka atau carakan. Itu bacanya “ngebatik tulis”. Nanti aku ajarin deh huruf Jawa itu. Atau kamu ingin lihat ada apa di dalamnya, Yuks!\" tanpa canggung Wisnu menarik tangan Tresa dan terus menuntunnya sampai ke workshop pembuatan batik tulis milik bundanya.
\"Wah keren,\" Tresa melihat kompor-kompor kecil menyala dengan api sedang. Di atasnya wajan kecil berisi batu malam dan beberapa mbok-mbok asyik melukiskan canting pada kain putih yang sudah berpola.
Mbok pembatik tampak asyik dan menghayati, mugkin penghayatan ini juga membuat batik tulis menjadi mahakarya yang tinggi karena butuh ketelatenan dan kesabaran yang luar biasa.
\"Wah Den Wisnu, baru pernah bawa pacarnya kemari. Wis tho Den ayu tenan. Mbok Ram setuju banget deh, ndang kawin aja,\" Si Mbok yang menyebut dirinya Mbok Ram tersenyum, giginya merah karena menginang.
Tresa walau nggak bisa ngomong Jawa, tapi sekilas tahulah artinya.
\"Iya Mbok, akunya suka tapi si genduk durung gelem,\" Wisnu melirik sambil tersenyum manis pada Tresa.
\"Ih apaan sih!\" Tresa mencubit bahu kiri Wisnu.
\"Aduh sakit!\"
Kelakuan mereka jadi intermezzo mbok-mbok pelukis batik.
***
\"Nin, Bunda udah tau cewek yang buat Wisnu menolak perjodohan kamu dengannya,\" nada tidak suka Bu Ratih, bunda Wisnu menginfokan pada Nindita calon mantu yang diharapkan.
Dari kamarnya yang cukup jauh berseberangan dengan workshop batiknya, Tante Ratih mengamati Wisnu dan Tresa yang asyik bercanda.
\"Bunda, Wisnu mengajak Tresa ke rumah?\" nada geram Nindita di telepon tak bisa disembunyikan.
Baru tahu sekarang kenapa SMS ajakan ke Maliboro Mall mencari kaos khas Yogyakarta, Dagadu pesanan sepupunya di Jakarta tidak dibalas. Ternyata! Masih Wisnu berusaha meraih hati Tresa.
\"Bunda sendiri gimana?\" Nindita balik bertanya, pendapat tentang Tresa pada Bunda Ratih.
“Memang itu anak cantik, ayu, dan alami. Tapi Nin, Bunda sudah paling setuju Wisnu itu bersanding dengan kamu yang sudah jelas keturunannya. Istilahnya sudah jelas bobot, bibit dan bebetnya. Kamu tenang saja, Bunda akan urus Wisnu untuk tidak macam-macam dengan gadis lain,” Bunda Ratih menjamin pada Nindita.
“Orang tua kamu itu sahabat baik kami, pokoknya dulu sebelum kalian pada lahir. Kita sudah janjian kalau aku punya anak laki-laki dan mamamu punya anak perempuan akan kita jodohkan. Ternyata memang yang diharapkan terwujud, kami semakin yakin kalau kalian memang berjodoh, buktinya sama-sama kita cuma dianugerahi anak tunggal. Iya tho,” panjang lebar Bunda Ratih mengulang alasan mengapa Wisnu dan Nindita harus bersatu.
Jaminan Bunda Ratih membawa sedikit kelegaan dalam hati Nindita.
Wisnu bahagia bisa mengembalikan keceriaan pada wajah Tresa. Inilah trik yang sedang Wisnu lancarkan mendekatkan hati Tresa pada keluarganya agar dia merasa nyaman dan yakin kalau dirinya salah bila hanya dianggap sebagai kakak. Wisnu ingin menjanjikan pada Tresa yang lebih jauh, bukan hanya pacaran tanpa tujuan, tapi lebih ke arah keluarga dan serius.
Other Stories
Death Cafe
Sakti tidak dapat menahan diri lagi, ia penasaran dengan death cafe yang selama ini orang- ...
Mendua
Dita berlari menjauh, berharap semua hanya mimpi. Nyatanya, Gama yang ia cintai telah mend ...
Boneka Sempurna
Bagi Abrian, hidup adalah penjara tanpa jeruji. Selama bertahun-tahun, ia adalah korbam ta ...
Keeper Of Destiny
Kim Rangga Pradipta Sutisna, anak dari ayah Korea dan ibu Sunda, tumbuh di Bandung dengan ...
Nona Manis ( Halusinada )
Dia berjalan ke arah lemari. Hatinya mengatakan ada sebuah petunjuk di lemari ini. Benar s ...
Haura
Apa aku hidup sendiri? Ke mana orang-orang? Apa mereka pergi, atau aku yang sudah berbe ...