15. Impressions
Sudah sebulan dari peristiwa kesalahpahaman yang terjadi, susah payah Tresa selalu menghindar dari jangkauan Aksan. Tresa menutup hatinya rapat-rapat, dia benar-benar ingin melupakan semua getaran yang kadang masih membayangi saat berdekatan dengan Aksan.
WA Aksan:
“Tres, please sekali ini saja aku bisa memenuhi janji. Kamu janji kan mau menonton band aku main? Setelah itu aku terima kalau kita memang hanya berteman.”
Entah ini berapa puluh SMS yang dikirim pada dirinya. Tresa tetap bersikeras untuk menamatkan semuanya. Beruntung selama sebulan ini Mas Wisnu benar-benar membantu dan bahkan lebih melindunginya. Mas Wisnu terang-terangan memaki Aksan yang menunggui dirinya keluar dari sekretariat Kopma.
Tresa merasa kasihan juga melihat Mas Wisnu memakai-maki Aksan, “Playboy kelas coro! Tresa sudah jelas-jelas malas ketemu kamu! Masih saja kamu ngeyel! Pergi, pergi urus pacar kamu yang gak punya sopan santun!”
Tresa sendiri tidak percaya Mas Wisnu bisa sekejam itu memarahi orang yang bisa saja dianggap rival karena tahu menyukai dirinya. Padahal jelas Mas Wisnu sudah diposisikan sebagai kakak, tapi memang akhir-akhir ini beberapa kali Mas Wisnu seperti sengaja melibatkannya dalam acara keluarga.
Seperti kemarin diajak menemani Mbak Dewi, sepupunya yang akan menikah untuk memesan catering, bahkan Wisnu menawari dirinya untuk menjadi penerima tamu nantinya. Tapi Tresa menolak, ada perasaan yang memberikan warning agar jangan terlibat banyak.
Bagaimanapun Tresa tidak mau ada masalah dengan Mbak Nindita yang sesekali masih menampakkan ketidaksukaan. Tapi setiap dia membahas dengan Mas Wisnu selalu ditenangkan dengan hubungan mereka berdua yang tetap baik-baik saja.
***
Tresa melihat jam dinding di sekretariat pukul setengah enam, tadi Mas Wisnu minta dia tunggu di sekretariat katanya ada yang mau dibicarakan.
Janji pukul setengah lima, Tresa ragu untuk pulang. Toko Kopma juga sudah tutup setengah jam lalu.
Dia sendiri di sekretariat mau pulang juga tanggung, di luar kilat mulai menyambar-nyambar.
Jujur dari kecil Tresa takut dengan hujan deras disertai kilat dan halilintar. Tresa memutuskan menutup pintu sekretariat dan asyik berselancar dunia maya di dalam. Tiba-tiba ‘Dueeer!!’ suara geledek menggelegar dan semua menjadi gelap.
Tresa menjerit karena sempat stop kontak memercikkan api dan komputer mati dengan suara kasar, seakan rontok mesin-mesinnya.
Tresa meloncat dari kursi dan hampir saja terjerembab ke lantai kalau tidak sebuah tangan menangkap tubuhnya.
Bagai dejavu, walau dalam gelap bahu badan miskulin ini pernah tercium sebulan lalu saat dia juga akan terjatuh.
Dalam hitungan detik tanpa kesadaran. Tresa mencoba kembali merekam semua yang pernah dialami. Sengatan getaran, debaran hati kembali berpacu merayap menghasilkan sensasi yang luar biasa.
“Aksan …”
Belum sempat berkata banyak, bibirnya terkatup sebuah sentuhan hangat dan lembut. Membuat Tresa pasrah tanpa berkutik dan bersamaan lampu layar menyala.
Tresa otomatis “Plak!” menampar wajah Aksan. Dan mengatupkan bibirnya yang bergetar.
“Maaf Tres… aku… aku rindu kamu,” Aksan memeluknya dan Tresa tidak mencoba melepaskannya karena terasa sangat nyaman. Kenyamaan seperti awal kali dia jatuh dalam pelukannya.
Tanpa kata-kata amarah lagi, saling memeluk seakan mewakili betapa sebenarnya hati mereka saling merindu. Aksan membelai rambut Tresa dan merenggangkan pelukannya. Mengangkat wajah Tresa lekat pada wajahnya juga. Tiba-tiba berdua bisa tersenyum dan tertawa seakan lenyap prahara di antara mereka.
Other Stories
After Meet You
kacamata hitam milik pria itu berkilat tertimpa cahaya keemasan, sang mata dewa nyaris t ...
Bukan Cinta Sempurna
Pesona kepintarannya terpancar dengan jelas, rambut sebahunya yang biasanya dikucir ekor ...
Akibat Salah Gaul
Kringgg…! Bunyi nyaring jam weker yang ada di kamar membuat Taufiq melompat kaget. I ...
Bali Before Sun Set
Perjalanan di pulau dewata tak hanya menyajikan sesuatu yang amat indah untuk di pandang t ...
Love Falls With The Rain In Mentaya
Di tepian Pinggiran Sungai Mentaya, hujan selalu membawa cerita. Arga, seorang penulis pen ...
Autumns Journey
Akhirnya, Henri tiba juga di lantai sepuluh Apartemen Thamrin. Seluruh badannya terasa p ...