21. Meet You
Empat tahun kemudian…
Aksan tidak banyak berubah, hanya saja rambut semi gondrongnya yang dulu selalu tercium wangi sudah dipotong cepak.
Tidak menyangka sama sekali Tresa bertemu kembali dalam acara pernikahan anak direktur perusahaan multinasional tempat Tresa bekerja.
Dan ada Aksan!
Dalam suasana pesta meriah bertumpah ruah tamu, kadang dunia menjadi kecil. Ternyata mempelai pria sahabat kantor Aksan.
\"Tres, gimana kabar kamu? Kamu lebih cantik dengan dandanan malam ini. Hmmm coba dulu, sekali saja melihat kamu ber-make up. Waaah! Tapi aku suka kamu tanpa make-up kok,\" tidak ada canggung terbersit dalam wajah Aksan menggoda Tresa.
\"Kamu San tidak berubah! Aku baik-baik saja, malah sangat baik daripada saat aku terakhir harus menangis seharian kehilangan kucing kesayanganku yang mati digorok. Dan aku harus sendiri menghadapi ketakutan mencekam dan kepedihan. Waktu itu rasanya tidak nyaman sekali! Aku kehilangan kamu dan Mas Wisnu yang aku anggap kakak,\" Tresa menerawang sejenak terakhir ending mereka bertemu.
Memang kenyataan kenangan paling mengerikan saat ancaman demi ancaman bagai teror yang menakutkan, setelah sebelumnya kucing kesayangannya dibantai sadis. Semakin menjauhnya Aksan dari dirinya saat dirinya butuh keberadaannya. Every body left her!
Kengerian saat Mas Wisnu dengan acara mengebutkan mobilnya dan menganggap dirinya manusia terbodoh karena cinta bertepuk sebelah tangan. Mas Wisnu tidak lagi peduli padanya.
Tresa tidak mengerti, tapi mungkin ini cara terbaik bagi Mas Wisnu menghindar dari dirinya daripada dia selalu sakit hati. Mbak Nindita juga ikut-ikutan masam setiap kali berjumpa.
Tresa merasa tidak nyaman setelah banyak teror yang meresahkan dirinya, Tresa mengundurkan diri dan
mulai berkonsentarsi Kuliah Kerja Lapangan, berlanjut mengikuti Kuliah Kerja Nyata di Daerah Gunung Kidul.
Kuliah Kerja Nyata bertemu teman-teman baru dari berbagai fakultas cukup menghibur dan membantu
proses melupakan semua kesedihan. Indeks Prestasi Tresa melejit di atas 3.5. Semua pikiran dan tenaga didedikasikan untuk menyelesaikan S1 Hubungan Internasionalnya.
Waktu berputar cepat hingga waktunya habis berkutat pada skripsi dengan dosen pembimbing yang terkenal angker. Banyak mahasiswa yang menyerah dan memutuskan tidak kembali bimbingan karena Profesor Harno sangat susah untuk konsultasi.
Setelah Tresa mendapat dosen yang susah, Tresa tertantang untuk menumbangkan teori teman-teman yang bisa dua semester kalau memaksakan bimbingan dengan beliau.
Tresa memakai metode jemput bola, jadi apa pun revisi dari Prof. Suharno secepatnya langsung dikerjakan. Kalau bisa dalam waktu beberapa jam akan maju lagi. Ternyata Profesor Suharno sangat menghargai kegigihannya dalam mengejar dirinya. Tresa juga tidak mau banyak mengeluh.
Hasilnya luar biasa, Tresa bisa lulus wisuda dengan predikat cumlaude dengan angka skripsi A.
Saat meninggalkan Yogyakarta masih ada yang misterius dengan menjauhnya Aksan yang membuat hatinya patah hati untuk cinta pertamanya.
***
Aksan masih saja memikat dengan suaranya yang berat. Walau jenis lagunya tidak seperti empat tahun yang lalu, tetapi lebih ke soft pop, tetap asyik dinikmati.
“Hampamu tak kan hilang semalam oleh pacar impian tetapi kesempatan untukku yang mungkin tak sempurna tapi siap untuk diuji kupercaya diri cintaku yang sejati… Namun tak kau lihat terkadang malaikat tak bersayap tak cemerlang tak rupawan namun kasih ini silakan kau adu… Malaikat juga tahu siapa yang jadi juaranya…” (Malaikat Juga Tahu_Dewi Lestari)
\"Tres kayanya asyik banget menikmati penyanyi itu,\" Angga datang membawakan buah yang selalu disantap habis Tresa.
Berkecamuk keraguan untuk bercerita jujur tentang pria tersebut. Yang sekarang memandang dirinya tanpa lepas.
Apakah Angga akan marah atau malah sebaliknya menghargai sebuah kejujuran. Bagaimanapun Tresa lebih memilih kejujuran dan keterbukaan.
Tresa menarik tangan Angga, tunangannya sesaat menjauh dari tempat Aksan menyanyi.
“Sini Sayang, aku akan bercerita kilat tentang siapa penyanyi itu?\"
Di tengah hingar megahnya perkawinan putri sang direktur, Tresa sesekali dengan ekspresi tangan, Angga memperhatikan tajam, berkerut wajahnya dan sesekali menarik napas kemudian mengangguk-angguk dan berakhir menggenggam tangan Tresa tetap dengan pandangan mesra.
***
Tresa merasa tenang dan bahagia setahun sejak dekat dengan Angga dan tiga bulan lalu mereka memutuskan bertunangan.
Tresa belum berani banyak cerita masa lalunya. Tapi sekarang seakan Tuhan mempertemukan mereka bertiga tanpa direncana dalam sebuah resepsi.
Tresa yakin bahwa saatnya dia menyelesaikan sisa-sisa cerita lalu yang masih misteri. Kenapa Aksan meninggalkannya? Juga saatnya Angga tahu masa lalunya dengan cinta pertamanya.
Sampai sekarang Tresa tidak tahu alasan Aksan meninggalkannya pada saat dia membutuhkan dirinya.
Bersyukur Angga memberikan kelegaan untuk Tresa menyelesaikan masa lalunya yang terputus. Membiarkan Tresa mendekatkan dirinya pada Aksan kembali.
***
Setelah menyelesaikan beberapa lagu, Aksan menghampiri Tresa dan Angga.
“Maaf tadi aku tinggal, hmm tugas,” Aksan agak kaku melihat seorang pria di sebelah Tresa.
\"Oiya San ini Angga… tunanganku.\"
\"Ooh Aksan tampak terkejut, tapi tetap bersikap gentle.\"
\"Angga.\"
\"Aksan.\"
\"Ok sepertinya aku tinggalkan kalian berdua dulu yah, kebetulan tuh ada temenku juga. Aku gabung dengan mereka,\" Angga pamit memberikan ruang dan waktu buat kekasihnya.
\"Thank you Angga,\" Tresa tersenyum sambil memegang tangan Angga yang kemudian terlepas.
Semua tidak luput dari pandangan Aksan, masih saja terbersit rasa cemburu yang seharusnya sudah lenyap termakan waktu. Nyatanya tidak bisa, bahkan menyisakan resah.
\"San kamu tetap jadi penyanyi?\"
\"Nggak cuma. Karena mempelai cowok sobat satu kantor dengan aku. Dia tahu aku suka nyanyi so here I am,” Aksan tersenyum menawan.
\"Oh, kamu gawe di mana?\"
\"Di perusahaan minyak milik Prancis, Tres… di Balikpapan.\"
\"Wah syukurlah, berarti nggak sia-sia kamu kuliah susah-susah di Fakultas Perminyakan San.\"
\"Tres kamu sendiri kerja di mana dan baik-baik saja kan?\" Aksan mendekatkan wajahnya.
\"Iya San aku baik. Baik sekali! Aku menjadi Public Relation di perusahaan elektronik multinasional. Mempelai wanita, Nadine, adalah putri direktur tempat aku bekerja sekarang.\"
“Tres perlu kamu tahu, empat tahun lalu aku pun ketakutan saat ancaman-ancaman itu meneror dirimu.”
\"San kenapa kamu menjauhi aku, padahal aku sangat ketakutan, aku butuh perlindunganmu saat itu.”
\"Maafkan aku… aku dalam posisi yang serba salah.”
“Tresa aku tahu siapa di balik semua teror-teror itu.\"
\"Siapa San?\"
\"Hal yang mudah ditebak Tresa?? Siapa lagi kalau bukan Quin!\"
\"Aku pun sudah menduga begitu.\"
“Karena itu aku menjauhimu dan mencoba melupakanmu, semua demi keselamatan kamu terjamin.”
Tresa mengatupkan bibirnya kuat-kuat.
“Quin bisa berbuat apa saja, dia banyak menyewa preman untuk mencelakai orang yang tidak disukai. Dia memang cinta buta, aku tidak mempunyai kekuatan apa-apa. Tresa jika aku terus dekat denganmu aku pun akan dihabisi. Makanya aku lebih baik meninggalkanmu. Berat sekali Tres.”
\"Aksan kenapa kamu tidak mau bercerita sedikitpun, sebaliknya kamu terus menghindari aku. Bertahun-tahun aku menuduh dirimu lelaki pengecut! Meninggalkanku saat aku terpuruk.\"
\"Aku tidak bisa mengatakan apapun, semua akses agar aku bisa bertemu denganmu ditutup Quin. Aku sampai dikawal body guard kepercayaan keluarga Quin.”
\"San kamu sudah menikah dengan Quin? Aku sempat ke kostan kamu dan Bram memberi tahu kalau kamu tinggal serumah dengan Quin.”
\"Sudah Tres. Kita menikah setahun lalu,\" Aksan menundukkan kepala.
\"Ohh.\"
\"Kamu bahagia San?\" Tresa mencoba mencari tahu di sorot mata Aksan yang redup. Mata itu tidak secemerlang waktu lalu walau keseluruhan Aksan tetap lelaki yang memikat hatinya.
\"Tresa tanpa aku jawab, kamu sudah tahu hidup macam apa yang aku jalani. Quin masih saja posesif walau kita sudah menikah. Bahkan masih suka berlebihan.\"
\"San kamu memutuskan menikahinya, maka kondisi apapun sudah jadi konsekuensi. Bahagia dan tidak kamu harus tanggung. Hanya kamu juga yang bisa merubah Quin untuk bersikap lebih baik,\" Tresa berusaha bijak, walau cemburu masih ada. Rasa tidak terima kalau Aksan akhirnya memilih menikahi Quin.
Tiba-tiba MC memanggil Aksan kembali untuk menyanyi.
“Tres tugas lagi nih, tunggu ya…”
Tatapan Aksan tidak lepas dari Tresa. Sesaat bagai terbius pada masa lalu yang menampilkan bagai slide demi slide pertama kali dirinya jatuh hati dengannya, kesalahpahaman yang membuat Quin, istrinya sekarang cemburu, Mas Wisnu yang menganggap Aksan rival.
Tresa tersentak ternyata Angga sudah berdiri di samping dan menggenggam tangannya.
\"Maaf Angga, aku sejenak teringat empat tahun lalu,\" tanpa mencoba untuk berbohong. Nyatanya aku memang tidak pernah bisa berbohong dengan pria yang akhirnya bisa menyentuh kebekuan hatiku setelah ditinggalkan Aksan.
***
Perjalanan pulang dari pesta Nadine, Tresa tidak banyak omong. Angga pun tidak mau mengusik apa yang tengah Tresa pikirkan.
Tadi sebelum berpisah Aksan menyelipkan kartu namanya dan mengatakan kalau dirinya masih dua hari di Jakarta dan menginap di hotel Velveta.
\"Tres aku masih ingin ketemu dan banyak bercerita apapun, temui aku ya ...\"
Tanpa sepengetahuan Angga, Tresa selipkan kartu nama Aksan pada tas mungil silver yang menjadi aksesori melengkapi gaun pestanya yang pas badan.
Gaun pesta yang dirancang Falis ini memang sepertinya memukau Angga, tunangan Tresa dan Aksan, lelaki yang masih ada dalam sudut hatinya.
Other Stories
Menantimu
“Belum tidur Zani?” “Belum. Ngak bisa tidur.” “Hehe. Pasti ada yang dipikirin ...
Cerella Flost
Aku pernah menjadi gadis yang terburuk.Tentu bukan karena parasku yang menjaminku menjadi ...
Don't Touch Me
Malam pukul 19.30 di Jakarta. Setelah melaksanakan salat isya dan tadarusan. Ken, Inaya, ...
Kastil Piano
Kastil Piano. Sebuah benda transparan mirip bangunan kastil kuno yang di dalamnya terdapat ...
Cahaya Dalam Ketidakmungkinan
Nara pernah punya segalanya—hidup yang tampak sempurna, bahagia tanpa cela. Hingga suatu ...
Death Cafe
Sakti terdiam sejenak. Baginya hantu gentayangan tidak ada. Itu hanya ulah manusia usil ...