Terlupakan

Reads
5.3K
Votes
0
Parts
24
Vote
Report
Penulis Nenny Makmun

18. Berita Miring

Hari ini Majalah Maskulin menerbitkan berita tentang dirinya. Pras merasa sangat dikhinati dengan kepercayaan yang sepenuhnya dia berikan pada Gadis. Apa yang ada dalam berita sekarang seharusnya apa yang tidak semestinya menjadi konsumsi umum. Tapi entah kenapa Majalah Maskulin bisa memberitakan dengan sangat menyindir dirinya.
Sosok Pria Mapan Prakasa Aditya Di Balik Kursi Lumpuhnya!
Sekarang nama pria mapan berprofesi sebagai fotografi dengan jam terbang tinggi sudah tidak asing lagi dengan media. Pria muda 24 tahun dibalik kecacatannya ternyata mempunyai prestasi luar biasa.
Prakasa Aditya yang mengalami cacat kaki karena kelalaian dari ibundanya yang terlalu sibuk dengan karir politiknya, ternyata dalam keterbatasan bisa melahirkan prestasi luar biasa.
Pria maskulin pendiam ini sempat menjalin dengan seorang gadis yang tidak jauh dari media, pada akhirnya harus putus karena ketidakcocokan antara mereka.
…………..
Lebih lengkap media mengekspos kecacatan, menyalahkan orang tuanya yang terlampau sibuk, kisah cintanya yang gagal dengan rangkaian kalimat yang sedemikian rupa tapi tetap saja sangat menyakitkan.
“Gadis tega sekali kamu mengeluarkan semua ceritaku untuk konsumsi publik!” Pras geram sekali, sekarang tidak ada lagi yang tersisa buat dirinya.
Lebih sakit hati lagi foto-foto yang di pasang dirinya yang full, Pras yakin ini foto-foto yang diambil saat interview dengan Gadis dan Boy. Tampak Pras yang memakai kursi roda karena kaki kirinya yang tidak sempurna. Kini semua orang tahu siapa FA.
“Hanya saja Gadis tidak tahu FA itu kepanjangan apa? Aku memang hanya orang yang terabaikan ... I am just Forgotten Angel …”
Lengkap sudah sakit hati karena pengkhianatan Gadis yang tidak sabar atas hubungan mereka, walau Pras sadar pasti Gadis sangat sakit hati karena caci maki papa mama saat dia ingin mengenalkan sebagai kekasihnya.
Ternyata Gadis juga mengumbar kecacatan dia dengan rangkaian kata yang seolah kecacatan tidak menghalangi prestasi. Sesuatu yang Pras jaga selama ini akhirnya menjadi bual-bualan media.
***
Mang Seno menatap sedih Mas Pras yang kini tengah terbaring di rumahnya. Entah angin apa membuat tuannya memutuskan untuk ke rumahnya. Semalam Pras datang dengan alkohol yang sebelum-sebelumnya disentuh, ini sudah kesekian kali Pras pulang dengan mabuk berat.
“Mas Pras kenapa kok kamu berubah sekali, Mamang sangat sedih dengan perubahan sebulan kebelakang ini.”
“Semua karena Gadis Mang, dia mengkhianati aku dan lihat isi majalah itu Mang.”
“Iya nanti Mang lihat, tapi … Ayuuuu …. mana teh manis buat Tuan Pras!” Mang Pras memanggil keponakannya yang tergopoh-gopoh membawakan teh manis panas pada gelas aluminum dan pisang goreng.
Dengan telaten cewek berumur sekitar dua puluh tahun menaruh teh manis dan pisang goreng buatannya. Tampak masih belepotan dengan celemak tepung yang menjadi bahan adonan pisang gorengnya.
Sesaat Pras menatap wajah gadis yang tampak sangat sederhana, gadis yang sangat berbeda dengan Gadis yang kuning langsat. Gadis yang dipanggil Ayu oleh Mang Seno agak hitam manis. Tidak special, jauh dengan Gadis yang menjadi impiannya.
“O iya, Mas Pras ini si Ayu ingat kan keponakan Mamang pernah Mamang ajak ke rumah kok.”
“Oh iya ya, agak lupa Mang …” Pras merasa bersalah.
“Ayu, ini Mas Pras. Masih ingatkan?”
Cewek yang bernama Ayu hanya tersenyum sesaat.
“Mang boleh aku mandi dulu ya, baru aku nikmati teh dan pisangnya. Badanku lengket sekali, maaf ya Mang aku mabuk-mabuk bukannya pulang ke rumah malah ke rumah Mamang.”
“Iya Mamang tahu, sebenarnya kemarin Mamang juga ragu mau pulang tapi karena Mas Pras ngijinin jadi Mang pulang. Soalnya musti jemput Ayu dari Bogor abis pulang dari pesantren.”
***
Setelah mandi dan segar Pras duduk di bale-bale kayu. Rumah Mang Seno sangat sederhana masih kombinasi tembok bata aseli dan bambu. Sederhana tapi karena kepandaian Mang Mamang yang berjiwa seni rumah sederhananya tampak bersih dan klasik.
Halamannya penuh dengan beraneka bunga yang berselang-seling dengan sayuran. Bibi Karti isteri Mang Seno juga seorang yang sangat telaten merawat rumah dan kebun yang tidak terlalu luas.
Hamparan sawah yang ada di belakang rumah Mang Seno membuat suasana teduh semakin terasa.
“Duh Mang nikmatnya di sini …” Pras menikmati teh manis hangatnya. Dan memakan pisang goreng yang manis bercampur sedikit gurih karena Ayu mencampur minyak goreng kelapa dengan margarine.
“Ayu aktivitasnya apa?” Tanya Pras saat berempat menikmati semilir angin.
Bibi Karti menatap keponakannya yang tampak tersipu malu ketika Prakasa mengajukan pertanyaan.
“Saya … saya, cuma lulusan Aliyah dan kalau sore bantu-bantu ngajar ngaji Iqro di musala,” kata Ayu polos.
“Wow kenapa tidak meneruskan kuliah Ayu?”
“Aduh Aden, Mang Seno mau cari uang dari mana kalau Ayu kuliah?” Mang Seno tersenyum menanggapi pertanyaan Pras.
“Hmmm, sayang kalau cuma lulus SMA, Ayu coba ambil-ambil D3 juga gak apa-apakan? Coba sambil bekerja dan sekolah biar mandiri.”
“Iya Mas Pras, saya juga sedang cari-cari kesempatan kursus-kurus atau apa aja yang bisa sekolah dan kerja. “Ayu yang dari tadi diam seputar nasibnya jadi semangat mendengar kalau bisa saja kesempatan belajar dan bekerja.

Other Stories
Nina Bobo ( Halusinada )

JAM DINDING menunjukkan pukul 12 lewat. Nina kini terlihat tidur sendiri. Suasana sunyi. S ...

Mr. Boros Vs Mrs. Perhitungan

Rani berjuang demi adiknya yang depresi hingga akhirnya terpaksa bekerja sama dengan Radit ...

Persembahan Cinta

Rendra pria tampan dari keluarga kaya, sedangkan Fita gadis sederhana. Namun, Mama Fita ra ...

Itsbat Cinta

Hayati memulai pagi dengan senyum, mencoba mengusir jenuh dan resah yang menghinggapi hati ...

Turut Berduka Cinta

Faris, seorang fasilitator taaruf dengan tingkat keberhasilan tinggi, dipertemukan kembali ...

Dengan Ini, Saya Terima Nikahnya

Penulis pernah menuntut Tuhan memenuhi keinginannya, namun akhirnya sadar bahwa ketetapan- ...

Download Titik & Koma