17. Falling In Love (again)
Boy tersenyum senang ini untuk kedua kalinya, bisa mengajak Gadis bertemu dengan Vicky dalam sebuah café.
Susah payah Boy siang membujuk Gadis untuk bisa menemani ketemuan dengan Vicky.
“Ayolah Dis, Vicky itu teman baikku. Eh sepertinya Vicky ada hati lho ke kamu?” tiba-tiba Boy tersenyum meledek.
Tak urung membuat wajah Gadis memerah dan Boy tahu kalau Gadis bisa saja jatuh hati pada sahabatnya yang tampan. Jelas Vicky tidak kalah dengan Pras yang memang punya wajah rupawan juga. Mungkin kalau tidak cacat bisa saja Pras menjadi saingan berat buat Vicky. Boy jadi tersenyum membayangkan kedua cowok yang sama-sama akan menjadi bagian hidup Gadis.
Biarlah Vicky membalaskan sakit hatinya, daripada Gadis dimiliki Pras lebih baik Vicky lah yang lebih pas.
“Tentu saja Vicky pas buat Gadis sama-sama player! Jadi silakan sesama orang suka mempermainkan orang bertemu dan menemui karma kalian!” Boy berbicara dengan hati dan otaknya yang penuh dendam terhadap Gadis.
***
Gadis memilih baju berwarna merah marun tanpa kerah panjang hingga lutut, dikombinasikan dengan legging hitam juga sabuk besar berwarna hitam. Gadis tampak cute dan seksi.
“Gadis kamu kenapa jadi reporter, gimana kalau kamu menjadi lawan main aku dalam sinetron saja.” Vicky menatap lekat Gadis yang sekarang ada di depannya. Bingung juga tiba-tiba Boy menghilang begitu saja setelah menerima telepon dari Davina yang dari selentingan cerita baru jadian.
Gadis tidak tahu kalau Boy hanya menjauh untuk memberi kesempatan Vicky melakukan pendekatan padanya. Boy juga tidak lupa mengirim SMS gelap pada nomor Pras untuk datang ke café Matahari dimana sekarang Gadis tampak asik bercerita dengan Vicky.
Ini kedua kalinya Pras juga dengan penasaran untuk membenarkan apakah SMS itu hanya bohongan atau benar. Dan kembali Pras harus menyaksikan Gadis yang sepertinya asik berbincang-bincang dengan Vicky.
Bahkan sesekali Vicky tertawa sambil memegang tangannya tanpa sadar, dalam pandangan Pras mereka seperti sepasang kekasih yang sangat serasi.
Boy tahu kalau Pras sedang terluka melihat kemesraan Gadis dan Vicky. Boy kembali mengirim SMS kepada Pras:
SMS Boy:
“Sekarang kamu bisa melihat sendirikan Gadis memang murahan dan sekarang lihat siapa korban selanjutnya? Seorang yang terkenal dan sedang naik daun bukan? Sangat berbeda dengan anda yang sangat introvert.”
“Gadis kamu bohong kalau berubah, nyatanya kamu telah melupakan aku dengan mudah,” Pras melaras pedih.
Gadis melihat seperti sosok Pras yang beranjak dari tempat duduk, tapi dia tidak yakin sepenuhnya.
“Mas Pras kah? Tapi aku yakin dia memang Mas Pras?” Gadis mempertajam tatapan matanya dan melihat sosok Pras yang beralalu.
“Ee sebentar Vick!” Gadis memutus untuk mengejar.
“Mas Pras! Mas!”
Pras tahu kalau sepertinya Gadis mengejar dan memanggilnya. Tapi hatinya terlalu sakit untuk menoleh.
“Mas Pras? Sedanga apa di sini? Dengan siapa?” Gadis berhasil mendekat dan memberondong pertanyaan, tanpa wajah berdosa.
“Aku tidak sengaja sedang mampir saja, kebetulan ada klien minta difoto. Kamu sepertinya sudah baik dan hmmm … well, semoga kamu bahagia dengan cowok barumu,” Pras langsung masuk ke dalam mobilnya.
Gadis terhenyak, ada yang hilang dalam hatinya. Gadis tidak menyangka sepertinya ada salah paham yang terjadi antara mereka. Tapi kenapa, mulutnya terkunci tidak mampu mengucapkan sepatah kata pun?
Tiba-tiba ada yang sakit sekali menggiris di hati, sepertinya mas Pras yang sepenuhnya mempercayai kesungguhan dia berubah sekarang sudah sangat membencinya. Gadis bisa melihat dari tatapan matanya. Mata yang biasanya menjanjikan keteduhan berubah menjadi amarah, luka dan kebencian yang dia coba rendam.
Dan bisanya mas Pras memberikan selamat atas cowok baru, apakah dia berprasangka kalau aku dan Vicky itu jadian? Ternyata batas kepercayaan Mas Pras hanya sampai sebatas itukah ?
Sebenarnya Pras juga tidak ingin meninggalkan Gadis yang menatap nanar kepergiannya. Pras bisa melihat dari kaca spion mobilnya, Gadis terus menatap kepergiannya sampai mobil dia belok ke jalan raya.
Sungguh ini menyakitkan, tapi rasanya mulut terkunci untuk mengatakan sesuatu yang ada dalam relung hatinya kalau, “Gadis aku tetap mencintaimu walaupun kamu mungkin bekas mantan papaku, dan aku sudah tutup mata! Tapi kenapa Gadis kamu tidak menghargai aku, kamu malah memilih dengan orang lain?”
Kenapa Gadis memang itulah kamu! Bodohnya aku masih mencintai dan mengharapkanmu?
***
“Hai Dis, kenapa murung?” Vicky menyapa Gadis yang kembali ke tempat duduk dengan murung.
“Hmm ya mantanku, sepertinya dia salah sangka?”
“Mantan? Kalau mantan kenapa masih dipikirin sih Dis?” Vicky memajukan wajahnya ke wajah Gadis.
Gadis terhenyak, wajah mereka sangat dekat. Dan kenapa jantung ini berdebar tidak karuan. Wajah yang di depannya sangat rupawan. Vicky bintang muda dengan alis tebal, mata elangnya yang tajam, hidung mancung dan bibir yang seksi pantas saja dia menjadi idola wanita dari yang muda sampai ibu-ibu sepertinya menggandrunginya.
“Kenapa kamu musti mikirin mantam kamu yang pengecut. Aku ada untukmu selalu Gadis.”
Gadis mencubit tangannya,” Auuu duh sakit!”
Vicky menjauhkan wajahnya dan mengkerutkan mimiknya, “Kenapa? Apa yang sakit?”
“Eeeenggak, nggak apa-apa kok!” Gadis jadi salah tingkah.
Vicky tahu Gadis sedang grogi, ini hal yang telah sangat biasa setiap kaum hawa yang kaget dengan pernyataan dia yang pura-pura atau sungguh suka beneran pasti akan kaget. Setelahnya Vicky juga tahu akan kemana mereka?
“Hah menurut Boy kamu cewek yang pintar, licin dan hmmm penipu licik! Sepertinya hanya segitu saja! Baru aku bilang akau suka saja sudah grogi begitu. Dasar cewek murahan! Asal kamu tahu saja aku sedang menjadi karmamu! Tepatnya karma buat cewek yang sudah melukai sahabat terbaikku! Juga kekasihku … meski Boy tidak akan pernah tahu kalau aku sebenarnya tidak ingin hanya sekedar sahabat!” Vicky sesumbar lirih dalam hatinya.
Ada Perasaan yan sebenarnya ingin Vicky ungkapkan pada Boy tentang perasaannya, saat Boy jatuh cinta pada Gadis entah kenapa Vicky merasa sangat sakit dan Boy tidak tahu akan perasaan hatinya yang salah.
Sudah lama Vicky suka dari sahabat dekat dan berharap lebih hanya sahabat. Vicky tahu ini sesuatu yang tidak mungkin, mengingat Boy adalah lelaki normal. Lelaki yang menyukai Gadis, cewek yang menurut Boy sejuta pesona. Dan menurut Vicky rivalnya ini memang cantik, hmmm bagaimanapun Vicky mencoba untuk bisa jatuh hati padanya demi membalas sakit hati Boy dan tidak langsung sakit hatinya.
Gadis menatap lekat wajah Vicky yang dari tadi bercerita kejadian-kejadian lucu saat syuting, tentang beberapa kali kesalah dia sehingga harus diulang kali.
Gadis cukup terhibur dan sejenak melupakan keruwetan hatinya tentang Pras, tentang tekadnya untuk berubah dan tentang Vicky yang putih bersih dan sangat terawat, wajahnya yang mulus dan sepertinya yang semakin buat cewek-cewek betah adalah tubuhnya juga wangi maskulin.
“Disss, kok natap aku gitu ya! Ada yang aneh?” Vicky menggerakan tangannya ke wajah Gadis.
“Ennggak eh, sorry hmmm iya aku lagi banyak pikiran aja!” Gadis mengalihkan pembicaraan. Tapi justru membuat Vicky semakin ingin tahu apa yang sedang menjadi pikirannya.
“Dis aku dengar kamu putus ya dengan fotografer angkuh itu ya, fotografer yang berhasil kamu wawancarai dan membuat dirinya tidak lagi cupu, tapi malah menjadi tenar,” Vicky menyelidik.
“Hmmm ya, orang tuanya tidak setuju hubungan kami. Vicky dia bukan cupu malah sebaliknya dia sangat down to earth sikap itulah yang membuat aku jatuh hati. Dia sangat baik bahkan dengan aku yang bukan level nya.”
“Gadis tentu saja dia baik padamu karena dia ada maunya, apalagi kalau bukan dirimukan?” Vicky terus mencecar dengan kata-kata yang terdengar menyebalkan.
“Tidak juga, aku mencintainya. Bagiku Mas Pras orang yang pertama menjadi cintaku, mungkin kedengaran terlalu naif dengan sikapku masa lalu. Tapi cinta memang buta tetapi juga menerangkan Vick! Aku berjanji untuk berubah dengan perilaku aku yang banyak menyakiti pria walau sungguh aku tidak bermaksud begitu. Aku hanya menyadarkan kalau aku bukan yang terbaik dengan meninggalkan mereka itu yang terbaik!” Gadis membela Mas Pras di depan Vicky.
“Okay, Dis … sebenarnya aku suka kamu. Aku tidak tahu perasaan ini berkembang sejak kapan, hanya saja jujur aku cemburu saat kau dekat dan Boy, ternyata kamu tidak suka dengan Boy aku seakan mempunyai peluang untuk bisa dekat dengan kamu. Tetapi aku merana sendiri setelah tahu juga dari Boy kamu memilih dengan fotografer kelas kakap! Aku sangat minder,” Vicky melancarkan pembalasan atas sakit hatinya.
“Maaf ya Vicky! Aku tidak pernah bermaksud menyakiti Boy, Boy sudah aku anggap seperti kakak dan tidak ada rasa cinta padanya. Aku sungguh menyayangi Boy seperti kakak,” Gadis menjelaskan apa yang dirasakan.
“Bagaimana dengan aku Gadis? Aku juga sangat menyayangimu bahkan setelah kamu jadian dengan Pras aku berusaha selalu mencari tahu tentang kamu lewat Boy. Untung saja Boy sudah mendapatkan pengganti jadi aku tidak merasa bersalah menanyakan tentang dirimu.”
Gadis terhenyak, bagaimana bisa Vicky yang digemari banyak cewek bisa memilih dirinya untuk menjadi pacar. Sepertinya Vicky hanya ingin memperrmainkan dirinya saja atau memang merasa tertantang.
“Dis, beri kita waktu untuk saling mengenal. Kalau kamu bisa berubah kenapa aku juga tidak diberi kesempatan untuk menjadi pria setia terhadap satu wanita?” Kata Vicky bersungguh-sungguh. Bukan hal yang sulit untuk Vicky menunjukan wajah tidak bersungguh-sungguh. Dia aktor yang bisa menjadi 1001 apa pun karakter.
“Maaf Vicky, saat ini baiknya kita berteman saja. Sungguh aku belum bisa melupakan Mas Pras dalam hatiku.” Gadis berucap jujur akan perasaannya, walau sejujurnya mulai ada rasa ketertarikan terhadap bintang sinetron yang tengah bersinar ini.
***
Pras mengendarai mobilnya dengan galau, kali ini dia benar-benar yakin dengan penglihatannya.
“Dis sudah tidak ada lagi yang harus dipertahankan? aku sangat terluka …” tanpa bisa menahan wajahnya yang panas mengingat semua tentang Gadis yang harus dilupakan. Pras sendiri tidak yakin apakah mampu untuk melupakan semuanya, karena Gadis yang membuat semangat hidupnya yang monoton menjadi berwarna, bahkan sebenarnya Pras ingin nekad pergi dari rumah demi dia, tapi apa kenyataan yang dia lihat kedua kali Gadis selalu dengan bintang sintetron Vicky Permana dan tampak mesra sekali.
Pras tidak pernah sesakit ini, ternyata dikhinati orang yang paling disayangi membuat diri sangat tidak berarti. Pras mencoba tegar walau hatinya sangat rapuh. Pras sesungguhnya belum siap menerima kalau Gadis telah dengan gampang meninggalkannya.
Other Stories
Gadis Loak & Dua Pelita
SEKAR. Gadis 16 tahun, penjual kue pasar yang dijuluki "gadis loak" karena sering menukar ...
Youtube In Love
Wahyu yang berani kenalan lewat komentar YouTube berhasil mengajak Yunita bertemu. Asep pe ...
Membabi Buta
Mariatin dan putrinya tinggal di rumah dua kakak beradik tua yang makin menunjukkan perila ...
Kucing Emas
Kara Swandara, siswi cerdas, mendadak terjebak di panggung istana Kerajaan Kucing, terikat ...
Kacamata Kematian
Arsyil Langit Ramadhan lagi naksir berat sama cewek bernama Arshita Bintang Oktarina. Ia b ...
Devils Bait
Berawal dari permainan kartu tarot, Lanasha meramal kalau Adara, Emily, Alody, Kwan Min He ...