Terlupakan

Reads
5.3K
Votes
0
Parts
24
Vote
Report
Penulis Nenny Makmun

19. Tentang Dyah Ayu

Tampaknya duduk-duduk sembari menikmati jelang siang di rumah Mang Seno sedikit melegakan Pras setelah sehari kemarin terasa hidupnya terpuruk. Publikasi profil yang cenderung menunjukan dia pribadi yang introvert karena kecacatannya, seorang anak yang terabaikan karena orang tuanya yang sibuk dengan karir masing-masing, pacar yang akhirnya meninggalkannya tanpa alasan yang jelas (hmmm tentu saja Gadis tidak akan mengumbar yang satu ini karena sama saja mencoreng muka sendiri, ini yang ada di benak Pras).
“Gadis sangat keterlaluan! Teganya dia menjual berita tentang aku dan foto-foto ini pada media lain! Kenapa akau harus percaya dan bahkan cinta! Kalau dia akan berubah menjadi wanita baik-baik!”
***
“Ayu maafkan Paman ya, belum bisa menyekolahkan kamu untuk lebih lanjut.” Mang Seno melanjutkan diskusi jelang siang.
“Nggak apa-apa Paman, Ayu ke belakang dulu mau bantu Bibi masak … mari Mas Pras.” Ayu berpamitan menuju dapur kecil di belakang.
Pras memperhatikan kelembutan Ayu yang tidak dibuat-buat, ada rasa kasihan terhadap gadis yatim piatu yang ikut pamannya dari kelas enam Sekolah Dasar.
***
“Haloo Mas Randy?” Tiba-tiba Pras menelepon asisten kantornya.
“Hai Mas Pras, wah ada apa nih tiba-tiba telepon aku jangan tanya masalah honor ya? Semua sudah aku urus dan baru kemarin sore di transfer,” kata suara dari seberang telepon.
“Oh bukan-bukan, hmmm Mas aku mau minta tolong, buat posisi administrasi aku sempat dengar lagi butuh orang. Eum maksudku nggak harus sarjanakan? selama bisa computer excel, word dan yang penting anaknya mau belajar.”
“Oiyaa! Benar Mas masih kosong nih! Ya gaji juga normallah. Ada calon Mas Pras! Iya yang penting anaknya rajin dan telaten.”
“Ok Bro … aku ada saudara nih, kasihan lulusan SMA anaknya rajin, nanti aku suruh buat lamaran deh! Makasih ya.”
“Iya buat Mas Pras apa sih yang nggak akan aku penuhi, by the way cantik nggak?” Randy tiba-tiba
tergelitik menanyakan tentang calon yang diajukan Pras.
“Hmmm, manis,” Pras menjawab singkat.
“Ok Mas Pras! Saya yakin dengan pilihan Mas Pras. Secepatnya curriculum vitae-nya masuk ya Mas! Saya tunggu.”
“Baik, baik … terima kasih ya!”
“Siip sama-sama.”
***
“Jadi saya bisa Mas Pras kerja sambil kuliah?” Mata Ayu berbinar, ketika Mas Pras menyampaikan akan memasukan dia di kantornya dan membantu mencari sekolah yang Diploma dulu.
Mang Seno dan Bibi Karti pun ikut senang dengan rencana Mas Pras terhadap Ayu yang dianggap sebagai anak kandung.
“Terima Kasih Mas Pras,” Ayu tampak bersyukur atas kesempatan yang baru saja didapatkannya.
“Iya Ayu, sama-sama.” Entah kenapa Pras merasa ingin menolong gadis lugu keponakan sekaligus anak angkat Mang Seno yang telah sangat berjasa pada dirinya. Pras ingin menganggap Ayu seperti adiknya. Seperti Mang Seno juga menganggap dirinya seperti anaknya.
***
Pras, Mang Seno dan Ayu kembali ke Jakarta. Mama dan Papa juga tidak keberatan Ayu tinggal di rumah besar mereka, apalagi Ayu juga mau membantu pekerjaan rumah yang selama ini hanya dikerjakan oleh Bibi Tirah.
Pras melihat Ayu sedang membuat surat lamaran dan tahulah nama panjang gadis kalem ini bernama …” Dyah Ayu”.
“Nama yang manis…” Mas Pras mengomentari namanya, membuat Dyah Ayu tersipu-sipu.
“Oke siap, sudah kelar. Ayo berangkat ke kantor Mas.”
“Iya udah nih Mas, sudah selesai ngeprinnya.” Ayu tampak grogi dan tergesa-gesa.
Jadilah hari Rabu yang cerah Mas Pras mengantar Ayu untuk interview sekalian mendaftar sekolah D3 jurusan Bahasa Inggris seperti yang diinginkan.
“Kita mampir ke toko buku Gramedia ya, kamu suka baca buku kan? Mas traktir deh beli novel yang kamu idamkan.”
“Serius Mas?” setiap kali mata Ayu berbinar, ada yang Pras ingat siapa lagi kalau bukan Gadis.
“Iyaaa, tapi kamu nggak malu kan jalan sama orang cacat!”
“Nggaklah Mas Pras, malah saya grogi jalan ama orang terkenal.” Ayu menimpali.
Saat asik memilih buku bersama, Dyah tampak telaten mendorong kursi roda dari rak satu ke rak lain, bahkan berdiam lama pada rak hobi apalagi kalau bukan fotografi. Ayu sabar mengambilkan buku yang Pras tertarik. Sesekali Pras seperti menerangkan pada Ayu pada buku yang tengah dilihat dan memasukan pada keranjang belanja.
Sampai akhirnya Pras dengan santai melihat Ayu yang tengan memilih-milih novel dan mengangguk-angguk pada novel yang menjadi pilihan untuk dibeli.
***
Mata Gadis memanas kenapa juga dia harus melihat adegan Pras dengan cewek yang tidak Gadis kenal di toko buku yang tidak sengaja dia kunjungi.
“Semua memang berlalu dan rasanya aku harus mulai belajar melupakan Mas Pras dengan cepat seperti dia juga begitu cepat meninggalkannya.”

Other Stories
Puzzle

Karina menyeret kopernya melewati orang-orang yang mengelilingi convayer belt. Koper ber ...

Bagaimana Jika Aku Bahagia

Sebuah opini yang kalian akan sadari bahwa memilih untuk tidak bahagia bukan berarti hancu ...

Dream Analyst

Frisky, si “Dream Analyst”, bersama teman-temannya mengalami serangkaian kejadian meny ...

Kabinet Boneka

Seorang presiden wanita muda, karismatik di depan publik, ternyata seorang psikopat yang m ...

Mauren, Lupakan Masa Lalu

“Nico bangun Sayang ... kita mulai semuanya dari awal anggap kita mengenal pribadi ya ...

Suara Cinta Gadis Bisu

Suara cambukan menggema di mansion mewah itu, menusuk hingga ke relung hati seorang gadis ...

Download Titik & Koma