Epilog
“Mama… bangun… bangun…” gadis kecil berusia lima tahun mulai berkurang air matanya, hatinya mulai tenang walau mamanya masih terkulai lemas tapi sudah mulai tersadar.
“Chika di mana kita?”
“Om baik siapa namanya?” Chika bertanya nama seseorang yang tengah mengemudikan mobil dengan tenang.
Tak dapat dipungkiri lagi, sebenarnya Gadis sudah tidak mau berjumpa dengan orang yang mengingatkan semua kejadian selama empat, lima tahun lalu. Ataukah memang Tuhan menunjukkan dengan cara yang lain untuk bisa meraih kebahagiaan yang pernah diimpikan, menikah dengan lelaki bermata teduh penuh ketenangan yang dia putuskan untuk jangan mendekatinya lagi.
“Mas Pras… maaf ya aku merepotkan. Aduh…” tiba-tiba Gadis merasakan kepalanya sangat berdenyut, tapi batal empuk yang sengaja diposisikan bersandar nyaman dan wangi membuat terasa nyaman untuk menyandarkan kepalanya agar merasa lebih enak.
“Oh namanya Om Pras, terima kasih ya Om sudah tolongin kita,” suara anak kecil itu begitu polos.
“Iya anak manis, sekarang tenang ya jangan menangis lagi. Om akan bawa Mama ke dokter dulu biar memastikan Mama kamu baik-baik saja.”
“Apaan sih Mas Pras, aku baik-baik saja kok, cuma agak kaget saja bertemu kamu kembali.”
“Kenapa Dis, kamu masih marah padaku?”
“Sudahlah Mas, kenapa kita mesti bertemu lagi?”
“Hmmm fine kalau kamu tidak mau ke dokter kita ke Restoran Harmoni dan kamu tidak bisa menolak. Chika suka main game?”
Tanpa minta persetujuan Gadis, Chika langsung menjawab, “Mau-mau Om, Chika suka sekali game Barbie masang-masangin bajunya, mendandanin, dan memberi kutek.”
“Okay, siap… nanti Om install-in, cuma sebentar kok.”
“Iya, asyikk …”
Gadis tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Tak diduga Chika buah hatinya dengan seseorang yang sekarang entah ke mana meninggalkan tanggung jawab malah kompak dengan Pras, lelaki yang sangat dicintai sekaligus menyisakan kebencian karena tidak pernah memperjuangkan cinta mereka. Pras yang pengecut! Yang menuruti semua kemauan orang tuanya dan bahkan menikah dengan wanita lain setelah dia benar-benar terpuruk.
Kejadian lima tahun benar-benar nightmare yang merupakan kunci pembalasan satu per satu semua sakit hati lelaki yang pernah diperas dan ditinggalkan begitu saja, lelaki yang berharap cintanya tapi semua tidak pernah ada di hatinya. Entahlah semua yang biasa dia terapkan ternyata tidak sanggup dia lakukan pada Pras, bahkan karena Pras-lah, Gadis ingin berubah menjalani kehidupannya lebih manusiawi.
Restoran Harmoni
Gadis masih ingat detail semua yang terjadi di Restoran Harmoni, saat Pras mengajaknya ke sini dan setelah itu melihat kamar Pras lalu sebuah ciuman yang hangat, semua terekam jelas dan sampai detik ini tidak ada yang mampu menggantikan bahkan mungkin Boy yang menanamkan benih saat Gadis tidak sepenuhnya sadar.
Entahlah obat apa yang telah dimasukkan Vicky dan Boy pada minumannya sehingga rasanya dia merasa melayang, begitu ngantuk dan enak. Sampai kejadian apa yang paling dijaga pun hilang begitu saja.
***
Gadis memandang Pras yang tengah mengotak-atik Ipad-nya dan, “Nah Chika… ini kan game-game yang kamu suka?”
“Iyaaa Om, makasih…” Chika girang melihat icon game-game yang barusan di-download.
Sementara Gadis merasa dejavu lima tahun lalu di tempat ini saat yang indah bersama Pras pernah terlewati.
“Gadis senang bisa bertemu kamu lagi,” Pras memulai dengan hati-hati, Dia tahu Gadis sudah pasti sangat berat melewati semuanya sendiri. Sejak Pras tahu semuanya kejadian lima tahun lalu.
Andai Gadis tahu bagaimana saat itu dia juga ikut merasa sedih karena penangkapan dirinya yang dianggap pemakai sabu-sabu dan bahkan tiga bulan mendekam di penjara menanti vonis hukuman ternyata mendapati dirinya tengah mengandung dan Pras tidak bisa berbuat apa-apa karena Gadis selalu menolak dan menjauhi.
Tapi Gadis tidak pernah tahu kalau darah yang mengalir pada dirinya adalah darahnya dia juga. Saat melahirkan karena banyak mengalami tekanan batin, Gadis banyak mengeluarkan darah hingga butuh transfusi darah dan Pras melakukan donor darah buat Gadis. Tentu saja tanpa sepengetahuan Gadis, hanya saja kakak Gadis, Mas Jaka yang tahu kalau Mas Pras mantan Mbak Gadis yang menolong saat banyak kehilangan darah.
Diam-diam Pras juga mentransferkan sejumlah uang yang besar untuk membantu keluarga Gadis. Hanya pada Jaka, Pras bisa mencoba menebus kesalahan karena tidak berjuang untuk cintanya.
Seharusnya Pras tidak peduli dengan ancaman papa dan mama juga masa kelam papa yang pernah mencintai Gadis. Tapi saat itu dia benar-benar terpukul, ditambah teror-teror SMS gelap yang menunjukkan kebersamaan Gadis dengan dua pria antara Boy dan Vicky Permana yang masih mendekam di penjara, publikasi kecacatan dirinya yang sangat ditelanjangin di publik, kecacatan dirinya diperjelas dengan foto-foto seluruh badan yang diambil secara pofesional oleh Boy dan penyebab keminderannya sudah bukan rahasia hati dan Gadis yang saat itu dipercaya menyimpan segala keluh kesah diary hatinya.
Terakhir publikasi dirinya yang memojokkan hubungannya dengan Dyah Ayu yang hamil di luar nikah, semua menuduhnya karena perbuatan dirinya.
Saat ini ingin semua Pras katakan pada Gadis, sampai detik ini tidak pernah ada wanita lain yang bisa mengisi kehampaan hatinya.
***
Masih terdiam dan memandang Chika yang tampak asyik mengutak-atik Ipad. Tidak banyak kata, saat ini hanya ingin terpuaskan saling menatap walau dalam hati ingin melimpahruahkan segala yang terpendam.
Sampai akhirnya makan, minum, dan Chika tampak kelelahan. Senja sudah menjemput.
“Mas Pras kita pulang naik taksi saja, terima kasih buat traktirannya. Bagaimanapun yang pernah terjadi, aku senang bisa bertemu lagi.”
“Aku antar saja ya Dis, kamu pindah ke mana sih sekarang?”
“Hmmm kapan-kapan saja Mas Pras, besok-besok mungkin kita bisa bertemu lagi. Aku tidak mau mengganggu Mas Pras dan keluarga Mas Pras di rumah.”
Apa yang baru diucapkan Gadis bagai sengatan yang menyindir dirinya kalau dia bukan lagi Pras yang saat mereka putus. Bagaimanapun dia pernah menikah dengan Dyah Ayu demi menyelamatkan kehormatannya hingga akhir hayatnya.
“Gadis, tidak ada yang berubah dengan aku. Hatiku tetap hanya untukmu, walau…”
“Walau kamu menikahi Dyah Ayu!”
Saat itu Gadis menatap matanya tajam, rasa marah dan kesal karena memang pada akhirnya Pras harus menikahi Dyah Ayu. Sungguh itu bukan karena kemauannya, saat itu dia terkondisikan serba salah.
“Dis, aku menganggap Ayu seperti adikku. Aku menolong dia terutamanya adalah karena Mang Seno. Dyah Ayu anak angkat kesayangan Mang Seno yang memang tidak punya anak. Aku dan Ayu seperti anaknya saja, suatu hari aku merasa sangat down dengan pemberitaan tentang semua rahasia diriku di suatu media. Semua yang diberitakan adalah yang hanya aku ceritakan padamu, tentang kecacatanku, tentang mama yang tidak peduli tetapi semua tiba-tiba menjadi konsumsi umum bahkan sampai foto-foto full aku beredar.
Aku tidak tahu persepsi orang tentang aku. Aku sangat sakit Dis! Aku merasa kamu mengkhianati habis-habisan, belum lagi selalu ada SMS gelap yang menyuruh aku untuk datang ke café atau restoran hanya untuk menyaksikan kedekatan kamu dengan Vicky dan Boy.”
“SMS?” Gadis mengernyitkan wajahnya. Memorinya mencoba merekam kejadian masa lalu, ya Gadis ingat kalau pernah dirinya mencoba mengejar Mas Pras saat dia ketemuan dengan Vicky. Tapi Mas Pras berlalu begitu saja.
“Aku sempat jadi pemabuk, Ayu selalu merawatku. Tapi sungguh aku tidak bisa mencintainya seperti aku mencintaimu. Dis… aku pun terpukul saat kamu mengalami musibah, andai saja aku lebih bersikap satria dalam menyikapi masalah kita. Entah saat itu semua terjadi begitu cepat dan bertubi-tubi tanpa memberi jeda aku untuk berpikir lebih rasional, kalau kamu sudah melupakan semua masa lalu kamu dan kamu juga pasti sudah tidak peduli kalau papaku juga mantanmu.”
“Mas Pras, bagaimana kamu bisa menikahi Dyah Ayu…?”
“Aku hanya menyelamatkan kehormatannya saja, sejak kamu masuk penjara dan dua bulan kemudian kamu juga ternyata hamil, Ayu selalu menghiburku. Aku sendiri mulai ragu aku cinta atau hanya pelarian, tapi akhirnya aku katakan pada Ayu kalau Mbak Gadis-lah yang masih ada di hatiku.
Aku tidak bisa mencintainya, sepertinya dia sangat terpukul. Aku melakukan kesalahan kedua kali dengan melukai hati wanita, tapi sungguh aku tidak pernah berniat seperti itu,” Pras berusaha menceritakan semua yang tertinggal selama Gadis menjalani hukuman tiga tahun dan dua tahun berlari meninggalkan semua kenangan menghapus jejak masa lalunya.
“Mas Pras…” Gadis mendesis miris. Dalam hatinya jujur bukan lagi rasa cemburu atau marah terhadap Dyah Ayu atau siapa pun. Gadis merasa memang inilah karma yang harus dia bayar satu per satu untuk memulai semuanya lebih baik.
“Dyah Ayu berusaha mencintai seorang lelaki di kampusnya, hingga aku tidak lagi bisa mengawasi pergaulan mereka Dis. Suatu hari Ayu kedapatan hamil dan aku tidak tahu bagaimana media pun bisa mencium semuanya. Memojokkan aku yang menghamilinya ditambah Ayu juga diam seribu bahasa. Mama dan Papa ikut menyudutkan aku untuk menikahinya. Yah itulah awalnya aku menikahi Ayu demi menyelamatkan kehormatannya.”
“Tapi Mas Pras… apakah akhirnya kamu mencintainya?” tiba-tiba Gadis merasa ikut luruh dengan keputusan Pras menikahi Ayu.
“Setelah Ayu melahirkan dan aku juga semakin pintar menutup diri dengan pers yang bagai paparazi, juga kesepakatan aku dan Dyah Ayu bercerai. Ayu kembali ke Bogor dan tinggal bersama Bibi Karti dan dia akan menata masa depannya dengan si kecil juga lelaki yang meninggalkannya kembali untuk bertanggung jawab.”
Gadis menarik napas dan melepasnya panjang. Ada rasa lega tersirat, bibirnya terkatup rapat.
“Dan sampai sekarang hingga detik ini tanpa sengaja kita dipertemukan, ternyata memang hanya kamu yang tetap membuatku bergetar,” Pras menatap teduh Gadis yang tampak grogi.
“Mas Pras masih pantaskah aku mengharapkan dirimu? Sementara aku bukan Gadis yang seperti dulu. Aku sudah memiliki anak perempuan dengan Boy yang ternyata waktu lalu melakukan balas dendam.”
“Gadis …”
Pras menggenggam tangan Gadis. Pras tahu apa yang tengah menjadi kebimbangan Gadis.
Dua tahun sejak keluar dari penjara, Gadis bertekad menghapus semuanya. Tapi kini Mas Pras tengah duduk dan menggenggamnya. Berdua memandang Chika dari kejauhan ke arah taman dekat kolam ikan. Chika seperti tahu saja menjauh sesaat memberi mereka ruang dan waktu untuk menjernihkan masalah.
Gadis tidak mampu untuk menyandarkan tubuhnya dalam pelukan Prakasa Aditya, “Sepertinya kamu memang malaikat yang terlupakan, setengah mati aku berusaha melupakanmu, kenyataan Tuhan mempertemukan kita lagi. Aku tahu tanpa kamu bercerita detail, darahmu ada dalam tubuhku saat aku mengalami pendarahan melahirkan Chika dan kamu juga diam-diam memberikan bantuan padaku. Mas Pras maafkan Mas Jaka yang bercerita semua. Aku tahu hatimu memang sangat baik. FA memang pantas menjadi inisial setiap karyamu, kamu selalu menjadi malaikat yang terlupakan...”
Other Stories
Metafora Diri
Cerita ini berkisah tentang seorang wanita yang mengalami metafora sejenak ia masih kanak- ...
Takdir Cinta
Di balik keluarga yang tampak sempurna, tersimpan rahasia pahit: sang suami memilih pria l ...
Makna Dibalik Kalimat (never Ending)
Rangkaian huruf yang menjadi kata. Rangkaian kata yang menjadi kalimat. Kalimat yang mungk ...
Ada Apa Dengan Rasi
Saking seringnya melihat dan mendengar kedua orang tuanya bertengkar, membuat Rasi, gadis ...
Nestapa
Masa kecil Zaskia kurang bahagia, karena kedua orangtua memilih bercerai. Ayahnya langsung ...
Pintu Dunia Lain
Wira berdiri di samping kursi yang sedari tadi didudukinya. Dengan pandangan tajam yang ...