3. Who Initial Fa?
Gadis terpekur menatap foto-foto dengan inisial FA, sudah beberapa kali Gadis meliput pameran fotografi. Foto-foto berinisial FA selalu menjadi misteri, karena identitas yang dicantumkan sangat minim. Hanya “FA”.
“Sebenarnya Gadis ingin sekali mewawancarai fotografer jenius ini, tapi setiap kali mencoba menghubungi selalu ditolak dengan halus.
“Gila Boy, sombong banget ya si FA, mentang-mentang karyanya tingkat tinggi bukan berarti dia sok jual mahal kaleee. Masak dimintain profil buat kolom majalah kita ditolak mentah-mentah, emang dia bisa terkenal tanpa kita-kita wartawan! Sebelll!!” umpat Gadis di depan Boy, sahabat juga partner kerjanya.
Yah Dis, itulah tantangan kita. Ternyata tidak semua orang mau terkenal, contohnya si FA ini, dia sangat exclusive dan introvert. Mungkin memang dia tidak suka publikasi-publikasi tentang dirinya. Cukup! Dengan menghadirkan karya-karya dia orang menilainya,” balas Boy bijak.
“Ah lo Boy, pinter banget kalau masalah ngomong. Coba lo bayangin oplah majalah kita naik kalo bisa wawancarain dia, setidaknya kinerja kita kelihatan.”
“Hah, whatever you say lah. Gadis, kamu memang orang yang berambisi!”
“He he, jangan marah Boy, aku kan cuma berandai-andai. Siapa tahu dengan mengangkat profil dia aku bisa naik karier,” Gadis tersenyum cantik.
Sementara di kamar tingkat yang lengkap dengan segala fasilitas, Pras termenung menatap foto-foto Gadis yang diambil dari beberapa angle, betapa hasrat berdesir kuat setiap menyaksikan langkahnya.
Untung Mang Seno selalu mau membantunya, Mang Seno yang memberi informasi siapa namanya, asalnya dan kostannya. Pras geli membayangkan Mang Seno yang bertindak seperti intel hanya demi mencari informasi yang dia ingin ketahui, walau Pras juga searching dari Google.
Waktu sudah hampir menunjukkan pukul 21.00, biasanya pukul segini Gadis dengan langkah lelah pulang dari kantor yang terkadang naik taksi, kadang diantar seorang cowok yang Pras yakin itu teman kerjanya, atau sendirian jalan dari ujung gang yang berarti dia pulang naik kendaraan umum.
Pras gelisah, dari jendela kamarnya yang terbuka belum ada tanda-tanda kehadiran gadis yang menaklukan hatinya.
”Udah Mas Pras, kenapa sih malu-malu berkenalan ama Gadis? Orangnya baik dan ramah kok,” kata Mang Seno yang tiba-tiba sudah nongol membawakan kopi kesukaannya.
“Hmmm… maunya sih Mang, tapi aku nggak berani. Gadis pasti banyak yang naksir, apalagi Mang liat tuh cowok yang kerap ngantar dia, ganteng, gagah dan sempurna.”
“Itu kan perkiraan Mas Pras, gimana? Apa mau Mang sampain salamnya ke Gadis? He… he... he…,” ledek Mang Seno.
“Ngak ah Mang, nanti-nanti saja. Ssstttt tuh… tuh Mang! Gadis diantar cowok yang biasa,” Pras dan Mang Seno bersama memperhatikan gerak-gerik Gadis dan Boy dari atas.
Samar terdengar, “Oke Boy! Makasih ya sudah nganter, jangan lupa besok kita berburu untuk profil minggu depan, aku sih bener-bener penasaran ama si empunya inisial FA (samar sekali, semakin tak terdengar).”
“Ahh kamu masih saja berambisi naik pangkat ya,” ledek Boy sambil memegang ujung topi Gadis dan menghempaskannya ke bawah, membuat Gadis hampir jatuh ke pelukan Boy.
Mang Seno menatap sekilas perubahan mimik tuannya, yang tiba-tiba memanas.
“Sudah Mas Pras, diminum dulu kopinya biar adem.”
“Heh, iya Mang, makasi ya…”
Malam semakin merayap larut, Pras masih memilih-milih foto yang akan diikutkan pameran selanjutnya.
Ternyata foto-foto yang dipamerkan minggu lalu juga habis terjual, beruntung Pras mempunyai agent yang mengurusi segala jual beli, lelang, dan pameran yang profesional.
Pras tidak perlu ribut dengan masalah distribusi, pembagian hasil penjualan atau seputar exhibition. Semua sudah ditangani dengan baik oleh agent-nya, Pras tinggal menerima hasil bersih yang ditransfer ke rekeningnya.
Satu foto Gadis terbingkai besar di antara foto-foto bidikannya, adrenalin Pras terpacu setiap menatap sepasang mata bola yang indah, lesung pipit dan rambut panjang terurai.
Buatnya, foto inilah hasil karya terindah setelah sekian banyak dia mengambil gambar, sebuah foto yang bisa menyemangati hari-hari sepinya dan menemani malam-malam panjangnya.
“Hmmm Gadis…” Pras tertidur lelap dalam mimpinya.
Other Stories
Hafidz Cerdik
Jarum jam menunjuk di angka 4 kurang beberapa menit ketika Adnan terbangun dari tidurnya ...
Awan Favorit Mamah
Hidup bukanlah perjalanan yang mudah bagi Mamah. Sejak kecil ia tumbuh tanpa kepastian sia ...
Mendua
Dita berlari menjauh, berharap semua hanya mimpi. Nyatanya, Gama yang ia cintai telah mend ...
Menolak Jatuh Cinta
Rasa aneh sudah sembilan bulan lenyap, ntah mengapa kini kembali menyusup di sudut hatik ...
Kacamata Kematian
Arsyil Langit Ramadhan naksir berat sama cewek bernama Arshita Bintang Oktarina. Ia berpik ...
Institut Tambal Sains
Faris seorang mahasiswa tingkat akhir sudah 7 tahun kuliah belum lulus dari kampusnya. Ia ...