Terlupakan

Reads
5.3K
Votes
0
Parts
24
Vote
Report
Penulis Nenny Makmun

6. Poor Girl

Sejak interview exclusive, Gadis bisa lebih mudah untuk dekat dengan Pras. Gadis bukan wanita muda yang tidak berpengalaman. Walau jujur sebenarnya hatinya pun bergemuruh saat dekat dengan Pras, tapi Gadis masih selalu penuh pertimbangan tentang keinginan untuk meraih semuanya sempurna.
Gadis tersenyum sendiri, tadi dia tahu persis kalau mas Pras agak grogi berhadapan dengannya. Gadis tahu kalau mas Pras ada hati buatnya, kalau tidak mana mungkin dia tidak menolak untuk diwawancara. Padahal selama ini belum ada yang berhasil mewawancari bahkan mungkin mengetahui wujudnya fotografer yang terkenal itu adalah seorang yang cacat.
“Kalau Mas Pras suka padaku, berarti aku dengan gampang selalu mendapat berita-berita dia secara exclusive. Aku akan mengekspos karya-karyanya dan kerja kerasnya. Ya ya ya selama ini tidak ada satupun media yang menyentuhnya.”
Senyum Gadis tersungging, tadi sore pak Santo janji pas waktu promosi empat bulan lagi Gadis akan naik menjadi Asisten Manager, dia akan mendapat fasilitas mobil.
“Boy, Boy sepertinya aku maju lebih cepat darimu,” Gadis tersenyum puas.
“Mas Pras adalah peluangku, bagaimanapun aku akan taklukan hatinya demi karirku. Suatu saat aku juga kan mejadi Pimpinan Redaksi seperti Pak Santo. Ya! Aku muda dan aku penuh ambisi, apa pun harus aku lakukan demi karir. Demi memperbaiki kondisi aku yang selama ini serba pas-pasan! Prameswari Gadis! Kamu fight! Saatnya kamu buktikan kalau keluargaku hanya bisa menyusahkan orang lain. Aku bukan lagi pecundang yang dianggap sebelah mata.”
Semua berkelebatan bayangan ibu, bapak, kakak dan adiknya. Bagai dendam dalam sekam yang membuatnya Gadis bekerja untuk mengejar ambisi, dan menutup mata hatinya.
Terlalu banyak dendam yang tersimpan di balik wajah ayunya, kedaan keluarganya yang berantakan. Selama ini Gadis bertahan dengan sekolah yang harus dibiayai dengan kerja kerasnya.
Teringat bagaimana Ari dan Arin sepupu dari adik bapak yang kaya raya dengan sombongnya selalu memamerkan harta-hartanya. Dari mereka kecil Gadis dan saudara-saudaranya hanya bisa menumpang mainan mereka, tiba giliran mereka ingin memainkan Gadis harus mengembalikan.
Sampai dewasa Gadis harus bisa menahan bila ingin baju-baju, sepatu-sepatu dan tas yang lagi ‘in’ ingin dimiliki sementara Arin bisa dalam seminggu gonta-ganti sampai tiga kali.
Kalau sedang berbaik hati Arin meminjamkan, kadang juga memberikan bila ternyata tas yang dibeli secara on line ternyata tidak sesuai yang diharapkan.
Tidak hanya Gadis kakaknya Mas Jaka dan adiknya Bagus juga mengalami hal yang sama menerima semuanya bekas-bekas dari saudara-saudara lain tidak hanya dari Ari dan Arin.
***
Mengingat kemiskinan selalu membuat hati Gadis meradang, semua karena bapak yang tidak bertanggung jawab atas keadaan keluarganya.
Bapak seharusnya bisa menjadi penopang keluarga dengan pekerjaannya di salah satu instansi pemerintahan negeri. Andai bapak tidak tergoda dengan wanita penggoda, pastilah tidak terjadi perpisahan antara bapak dan ibu.
Perselingkuhan bapak akhirnya di dengar pihak kantor dan mengakibatkan beliau dipecat tidak dengan hormat, karena dianggap melanggar undang-undang PP10 yang tidak memperbolehkan sebagai Pegawai Negeri melakukan pernikahan kedua kali.
Semua kejadian saat Gadis SD kelas empat, semua menjadi serba susah. Ibu mulai mencari pekerjaan dengan membuka katering. Rumah disulap menjadi tempat jualan gado-gado yang lumayan bisa menopang kehidupan mereka berempat.
Sementara bapak sesuka-sukanya saja datang dan pergi. Kadang di rumah dan kadang entah kemana. Mungkin di rumah isteri kedua tapi tidak ada yang peduli diantara ibu, Gadis dan saudara-saudaranya.
Beruntung otak Gadis yang cerdas membuat dia memperoleh beasiswa saat masuk kelas tujuh sampai kelas dua belas.
Gadis diterima di Perguruan Tinggi Negeri Angkasa jurusan Jurnalistik dan lulus dengan cumlaude.
Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari semenjak bapaknya tidak lagi memberikan uang bulanan, apa pun yang bisa dijadikan uang akan Gadis lakukan.
Sepulang sekolah Gadis membantu ibu membuat gado-gado dan melayani para pembeli, selanjutnya Gadis membantu membereskan rumah, cucian yang menumpuk karena Gadis memaksa menerima cucian tetangga dan mensetrikanya.
Bahkan Gadis rela menjadi joki, saat ulangan sekolah banyak yang mengandalkan kecerdasannya untuk menjadi contekan.
Tanpa sepengetahuan guru-guru Gadis mengkomersilkan kepandainnya, jadi Gadis rela-rela saja saat ujian pekerjaannya menjadi contekan teman-teman kelasnya.
Apabila mereka mendapat nilai bagus maka Gadis akan mendapat bayaran, semua Gadis tulis janji-janji teman-teman yang mencontek pekerjaannya dan hasil nilai mereka bagus maka Gadis tidak segan-segan untuk menagih janji mereka.
Tidak heran bila musim ujian maka Gadis bersemangat belajar karena ini kesempatan untuk mendapatkan uang lebih.
Gadis tidak perduli mendapat julukan cewek matrai, segala sesuatu harus berdasarkan uang. Tidak ada persahabatan dan pertolongan yang gratis. No Money No Service! Itulah standard kerja Gadis.
Gadis melakukan semua karena kemiskinan yang harus dilalui, Gadis juga membiayai adik terkecilnya Bagus agar terus bisa sekolah. Sementara Mas Jaka juga sudah bisa mandiri dengan lukisan-lukisan yang dia jual dengan sistem menitipkan pada pameran-pameran.
Dari fisiknya yang kalem tidak pernah terbayang Gadis adalah sosok yang sangat materialistis, perhitungan, cerdas, dan berorientasi keberhasilan.
Bahkan cenderung menghalalkan segala cara.
Telah banyak cowok-cowok yang tertipu dengan sifatnya yang jinak-jinak merpati.
Beberapa cowok yang benar-benar jatuh cinta seperti Dito yang rela mengantar kemanapun Gadis perlu, memberikan hadiah-hadiah yang Gadis minta dan telah berapa banyak uang yang dikeluarkan untuk membantu keuangan Gadis akhirnya hanya bisa terpukul saat Gadis memutuskan kisah kasih mereka.
Lebih menyakitkan Dito, ternyata Gadis memilih Wisnu yang lebih segalanya setelah Dito banyak berkorban secara material.
Gadis terlatih bagai Robin Hood yang menjelma wanita, Gadis tidak ada pilihan apa pun asal bisa menjadi uang asalkan tidak merugikan dirinya.
Terbayang betapa susahnya hidup Gadis, dia harus jungkar balik tenaga, otak demi memperoleh materi yang tidak hanya untuk kepentingan dirinya sendiri, tapi untuk ibu, kakak, dan adiknya.
Terberat adalah saat dirinya harus bermain kucing-kucingan karena mendobel pacaran agar semakin banyak memeras kekayaan mereka.
Masa kuliah juga Gadis banting tulang selain menjadi Sales Promotion Girl di berbagai pameran, Gadis juga rela meluangkan waktu sekedar menemani kaum pria dari yang brownis alias brondong manis sampai yang bapak-bapak.
Tapi Gadis bukan cewek murahan, dia tahu menjaga diri. Bermain dengan kaum pria tapi tidak satupun bisa menyentuhnya. Gadis tidak pernah mengijinkan sama sekali mereka menjamah bagian tubuh manapun.
Banyak yang penasaran tetapi banyak juga yang dendam karena setelah diperas harta, uang dan tenaga tidak sedikitpun ada timbal balik Gadis untuk mereka bahkan sebaliknya, Gadis akan meninggalkan mereka selamanya.
Mengganti telepon dan memblokir semua akses yang bisa membuat mereka bertemu lagi. Apalagi Gadis sadar kalau om-om atau brownish yang telah dia manfaatin mulai meminta macam-macam dan susah dikendalikan maka tidak perlu pikir dua kali Gadis akan memilih meninggalkan mereka.

Other Stories
Love Of The Death

Cowok itu tak berani menatap wajah gadis di sampingnya. Pandangannya masih menatap pada ...

Free Mind

KITA j e d a .... sepertinya waktu tak akan pernah berpihak pada kita lagi setelah aku ...

Kelabu

Kulihat Annisa tengah duduk di sebuah batu besar di pinggir sungai bersama seorang anak ...

Susan Ngesot

Reni yang akrab dipanggil Susan oleh teman-teman onlinenya tewas akibat sumpah serapah Nat ...

Kisah Cinta Super Hero

cahyo, harus merelakan masa mudanya untuk menjaga kotanya dari mutan saat dirinya menjadi ...

Aruna Yang Terus Bertanya

Cuplikan perjalanan waktu hidup Aruna yang selalu mempertanyakan semua hal dalam hidupnya, ...

Download Titik & Koma