8. Two Hearts
“Sejujrnya aku merasakan sebuah getar yang berbeda, saat dirimu menatapku dengan takjub. Tiba-tiba aku tersadar tatapan matamu itu penuh cinta dan menjanjikan sebuah damai yang teduh, yang sulit aku lukiskan. Walau dirimu tidak sesempurna pria-pria yang terlalu banyak aku temui, tapi dalam titik matamu dan perilakumu aku merasa debar dan nyaman. Hanya saja aku rasa cinta nyatanya memang telah mati, aku tidak yakin dengan rasa ini …”
“Mas Pras … Mas Pras … orang pasti tidak menyangka begitu sempurna hasil bidikan fotonya. Dan orang tidak pernah menyangka kalau fisik dia tidak sesempurna fotonya walau wajahnya sangat mempesona. Hmmm saying …” tanpa sadar Gadis bergumam dalam lelahnya malam menjelang.
“Hmmm perfect! Reportase tentang Mas Pras pasti akan membuat Pak Santo tidak mempunyai alasan untuk menaikan aku menjadi Asisten Manajer, semoga aku bisa mulai membeli rumah dan dapat mobil pribadi untuk pekerjaanku. Jujur aku lelah bertahun-tahun bersandiwara dan banyak mempermainkan kaum laki-laki, bagaimanapun aku takut dengan karma.”
***
“Tapi ini jauh dari cukup, aku harus bisa kaya benar-benar kaya agar aman dan terutama membalas dendam kemiskinanku di masa lalu,” janji Gadis.
Gadis ingin bisa tunjukan pada Ari dan Arin tidak selamanya dia harus selalu mengemis untuk dapat barang-barang bekas mereka, juga ibu, kakak, dan adik bisa hidup layak.
Gadis menjadi orang yang sangat ambisius untuk bisa meraih apa yang dituju.
“Malam Mas Pras, maaf saya mengganggu saya sudah email untuk profil Mas. Semoga Mas Pras suka dengan tulisan saya.”
Sent!
Gadis mengirim WA kepada Mas Pras untuk mengoreksi interview nya. Bagaimanapun Gadis tidak mau mengecewakan client exclusive nya.
Di Lantai Dua Kamar Prakasa Aditya
Pras tersenyum-senyum sendiri, baginya hari ini salah satu hari yang indah. Pras tidak menyangka mempunyai keberanian untuk menunjukan dirinya tidak hanya Gadis tapi publik.
Tapi Pras tetap tidak mau di interview lain wartawan kecuali Gadis. Karena jelas alasan dia mau di interview bukan untuk membuka dirinya dikonsumsi umum bahkan terkenal.
Pras tidak membutuhkan popularitas, cukup orang menghargai karya-karyanya tanpa harus melihat dirinya yang cacat hanya akan menambahkan rasa belas kasih.
Pras konsentrasi membaca tulisan interview yang ditulis oleh Gadis. Jujur Pras suka dengan gayanya yang santun juga pengambilan dirinya sama sekali tidak menyangka kalau dirinya cacat.
“Boy, bidikan fotonya juga keren,” selama ini Pras selalu mencari objek hunting fotografi nya dan sekarang dia jadi objek. Pras tersenyum puas dengan hasil jepretan Boy.
Pras mengirim WA ke Gadis,” Dis tulisan interview dan fotonya ok saya suka. Btw terima kasih ya.”
Derreeet …
“Saya yang berterima kasih Mas Pras, saya merasa tersanjung karena bisa mewawancara seorang fotografer yang sangat luar biasa dalam karya-karyanya. Saya kagum dengan Anda,” Balasan WA Gadis.
“Aduh, saya jadi besar kepala. Kapan-kapan boleh kalau kita sekedar lunch?” Pras ragu mengirim, tapi jarinya sudah memencet sent dan read.
***
“Yess!” Gadis tersenyum senang dengan WA kapan-kapan lunch bersama Mas Pras.
Gadis terdiam sesaat. Apakah dia juga akan mempermainkan Mas Pras seperti banyak laki-laki yang telah dikecewakan. Apakah dia akan tega terhadap pribadi yang sangat membumi dan lembut?
Tiba-tiba ada kekhawatiran menyelimuti hati Gadis, sampai detik ini Gadis tidak percaya akan cinta. Cinta hanya akan menyakitinya, seperti yang telah dia saksikan bertahun-tahun.
Kekejaman bapak terhadap ibu juga dirinya yang tidak pernah diurus sama sekali, menumbuhkan rasa dendam yang entah sampai kapan bisa dipadamkan.
Rasa debar memaksa Gadis untuk menulis di layar hp nya,”Mas Pras belum tidur? Masih mencari inspirasi?”
WA Pras,” Lagi memandang indahnya bulan yang sangat cantik, berharap pagi segera tiba dan bisa menemukan wajah yang menawan.”
WA Gadis, “Wah! Hati mas Pras sudah tercuri seseorang ya…”
Tiba-tiba ada rasa galau mendera hatinya. Ada rasa debar kalau kali ini Gadis tidak bisa menaklukan seorang lelaki yang seperti biasa dengan mudah ditaklukan untuk sekedar diperas.
“Sebenarnya wajah yang menawan itu adalah kamu Gadis,” bisik hati Pras.
WA Pras, “Iya sudah tiga bulan cewek ini selalu membuat hatiku berdebar tidak karuan Dis, tapi aku tidak pernah punya nyali untuk menyapanya.”
WA Gadis, “Kenapa begitu? Mas Pras orang hebat, hmmm ganteng, kaya, fotografer dengan masa depan cerah. Kalau mas Pras nggak introvert pasti sudah banyak wanita-wanita yang mengejarnya.”
WA Pras,” Aku tidak pernah terpikir dikejar banyak wanita Dis, cukup satu wanita tapi yang mau menerima aku apa adanya dan menemani aku dalam suka dan duka, apalagi aku laki-laki cacat.”
WA Gadis, “Jangan merendah gitu ah, Gadis doakan deh Mas Pras akan dapat yang terbaik. Mas Pras belum mengantuk? Sudah mau jam 01.00 lho?”
WA Pras, “Jujur hari ini merupakan hari yang terindah, hmmm entahlah … setelah setengah tahun hanya memandang akhirnya bisa bertemu … ok sudah larut Gadis belum ngantuk? Besok pagi kan sudah harus ngantor. Tidur ya, senang bisa berkenalan denganmu … salam …”
Ada getar yang tiba-tiba menggelepar tidak jelas, Gadis terdiam meresapi getar-getar yang berbeda yang tidak pernah hadir dalam hatinya menjalar membuat wajahnya memerah.
Melintas wajah mas Pras yang tajam tapi terlihat teduh. Gadis tidak berani berkomentar jauh tentang kecacatan fisiknya. Hanya saja ada yang menderu dalam hatinya untuk bisa mengenalnya lebih jauh dengan lelaki yang sangat tertutup.
Other Stories
Wajah Tak Dikenal
Ketika Mahesa mengungkapkan bahwa ia mengidap prosopagnosia, ketidakmampuan mengenali waja ...
Haura
Apa aku hidup sendiri? Ke mana orang-orang? Apa mereka pergi, atau aku yang sudah berbe ...
Hujan Yang Tak Dirindukan
Mereka perempuan-perempuan kekar negeri ini. Bertudung kain lusuh, berbalut baju penuh n ...
Cerita Guru Sarita
Sarita merasa berbeda dari keluarganya karena mata cokelatnya yang dianggap mirip serigala ...
Blind
Ketika dunia gelap, seorang hampir kehilangan harapan. Tapi di tengah kegelapan, cinta dar ...
Katamu Aku Cantik
Ratna adalah korban pelecehan seksual di masa kecil dan memilih untuk merahasiakannya samb ...