Terlupakan

Reads
5.3K
Votes
0
Parts
24
Vote
Report
Penulis Nenny Makmun

20. Sendiri-sendiri

Mungkin kepedihan yang tengah aku rasakan adalah kepedihan yang pernah aku toreh tanpa sengaja atau sengaja pada orang-orang yang dulu berharap banyak padaku. Dan aku abaikan begitu saja. Kini aku merasakan pedihnya hati saat orang aku cintai benar-benar meninggalkanku dan sepertinya sudah menemukan pengganti yang membuatnya nyaman. Tuhan sakit sekali…
“Sudahlah jangan bersedih terus Dis, aku tahu kamu sangat mencintai Mas Prasmu itu. Tapi apakah kamu akan memaksakan cinta yang memang sulit dijangkau? sementara di dekatmu ada hati yang tengah menanti kepastian? Aku menyukaimu Dis.” Vicky menatap tajam mata Gadis untuk meyakinkan bahwa hatinya tulus jatuh cinta padanya.
“Aku jatuh cinta padamu …”
Gadis terperangah dan mencoba yakin kalau Vicky benar-benar mencintainya.
“Tapi Vick, aku … aku belum bisa. Terlalu sakit hati ini.” Airmata yang mengalir untuk lelaki satu-satunya Pras. Dan Gadis tiba-tiba merasa bodoh sekali. Tapi kenyataan dia memang ingin menangis untuk rasa patah hatinya.
***
“Boy tenang, tampaknya Gadis mulai luluh. Geli juga melihat dia menangis gara-gara melihat kemesraan Pras dengan seorang cewek. Siapa tuh cewek kayanya cepat juga menggeser posisi Gadis.” Malam-malam Vicky sengaja menelepon Boy untuk mengabarkan sejauh mana proses pendekatan dia. Semakin dekat maka akan semakin mudah untuk membalas sakit hati sahabatnya.
“Ya, dia anak angkat Mang Seno Vik! Orang yang merawat Pras dari kecil. Khabarnya Si Pras mengusahakan pekerjaan di galerinya dan menyekolahkan juga. Bahkan mereka tinggal serumah, bagaimana ini bukan berita besar. Semakin mereka dekat, Pras juga akan melupakan Gadis. Kamu bebas mau dibawa hubungan kalian.”
“Iya, ehem Boy kamu yakin sudah tidak berminat lagi ke Gadis?” Vicky penasaran untuk menanyakan perasaan Boy yang dulu tersakiti karena Gadis menolaknya.
“Enggaklah! Aku sudah terlanjur kecewa. Yang ada hanya dendam! Aku ingin melihat Gadis terpuruk separah-parahnya. Aku rasa dia memang harus membayar karmanya karena sudah banyak cowok yang buat dia sakit hati. Walau sejak dengan Pras dia berubah, tapi aku tidak rela dia berubah tanpa hukuman.” Boy merasa geram ingat penolakan Gadis.
“Hmm tenang Boy dendammu adalah dendamku, karena aku sangat menyayangimu Boy hanya saja kamu tidak sadar.”
“Vicky kok diam! Apa rencanamu selanjutnya?”
“Aku akan membuat Gadis tersanjung, menghibur, dan membuat dia jatuh cinta padaku. Setelah itu aku akan tinggalkan dia. Berarti lunas janjiku karena dendam sahabat terbaikku terbalas.”
“Hmmm oke Bro, aku tunggu cerita selanjutnya.”
“Pasti!”
Clik! Pembicaraan selesai.
***
“Pagi Dis, wow ada bunga lily yang sangat cantik. Hmm dari siapa Dis?” Boy melihat buket bunga lily yang sudah bertengger pada vas di meja Gadis.
“Kamu pikir dari siapa?” Gadis tersenyum sambil tetap mengedit tulisan di laptop nya.
“Hmmm siapa lagi kalau bukan Pras? Kamu baikan?” Boy sengaja menebak hal yang jelas salah untuk memancing hati Gadis.
“Pras? Ee Mas Pras ke laut aja Boy! Dia sudah menemukan gebetan baru. Syukurlah malah aku lebih mudah melupakannya seperti dia dengan gampang melupakan aku.” Suara Gadis tampak sinis.
“Ooow ya ya aku ingat Dis, ucapan salah satu karyawan kantor galeri Pras Bonaire Fotography kalau Pras memasukan teman wanitanya untuk bekerja menjadi salah satu administrasi gitu deh dan menyekolahkan juga. Pokoknya mereka pasangan serasilah. Kudengar mereka sudah serumah lho. Sepertinya Pras sudah kebelet kawin ya Dis!”
“Iya mungkin, cewek itu pilihan paling tepat mama dan papanya maka Pras ambisi agar dia bekerja dan sekolah lagi. Sudah ah jangan tanya-tanya masalah Pras lagi.” Tiba-tiba wajah Gadis kembali keruh.
“Dis kamu tidak iba dengan berita Pras juga foto-foto dia yang beredar.” Boy masih saja memancing hati Gadis.
“Hmm Boy aku tidak berminat lagi apa pun berita yang menyangkut dirinya! Kita jalan sendiri-sendiri dan mencari kebahagiaan sendiri-sendiri!” Gadis tegas menimpali informasi Boy.
“Tenang Dis, nih ada berita baru lagi tentang Pras! Tuh ada foto dia dan cewek gebetannya. Mesra sekali ya.” Boy membanting sebuah tabloid, yang mau tidak mau Gadis menarik untuk membacanya.
Foto cewek itu sama yang dia lihat di toko buku minggu lalu. Tampak mereka bergandengan di pantai Ancol, tampak Pras menjadikan cewek itu model untuk jepretan kameranya. Jujur Gadis masih merasakan sakit sekali dengan gambar dan pemberitaan yang menuliskan mereka segera menikah. Foto-foto di pantai adalah survey foto pra-wedding yang tengah di rancang.
Boy sengaja tdak menunjukan tabloid yang membuat Pras terluka dan berprasangka buruk Gadislah yang membocorkan rahasia hidup yang selama ini tidak terjamah pers.
Andai Gadis tahu, Boylah yang telah menjual foto-foto yang sengaja menampakan kecacatan Pras juga cerita-cerita yang tersimpan dalam diary laptop Gadis yang Boy baca tanpa sepengetahuan Gadis.
***
Beberapa hari lalu
“Mas Pras kita mau ke mana?” senja yang hangat, Ayu nebeng mas Pras di mobilnya untuk pulang. Pas Pras ada urusan juga untuk pameran yang akan digelar. Mereka pulang bersama.
“Hmmm Ayu gimana kalau kita hunting foto pantai di Ancol. Hmm iseng aja liat matahari tenggelam. Kamu pasti belum pernah ke Ancol, Dufan? mainannya seru-seru.” Pras tiba-tiba tercetus mengajak Ayu untuk refreshing sejenak.
“Eee terserah Mas Pras aja, tapi aku memang belum pernah ke Ancol dan Dufan. Asiik sekali sepertinya.” Mata Ayu berbinar, bersama Mas Pras selalu ada kejutan-kejutan manis.
Diam-diam Ayu mengagumi Mas Pras yang sangat perhatian dan menyayanginya. Ayu berandai-andai bila bisa memilikinya.
“Yu ngelamunin apa?”
“Nggak ... enggak ngelamunin apa-apa kok, kata Bapak Mas Pras punya pacar yang cantik dan baik yah, sayang mama dan papa Mas nggak setuju.”
“Yah begitulah,” jawab Pras pendek tanpa minat untuk bercerita banyak.
Ayu paham hana menganguk-angguk.
Senja yang cerah, beberapa kali Pras membidik Ayu dengan siluet senja yang indah.
Rambut hitam legam panjang Ayu berdera-derai tertiup angin laut. Pras menge-zoom detail wajah yang agak pucat tanpa polesan make up tetapi tidak mengurangi kecantikan alaminya. Menyisakan gemetar walau tidak sedahsyat yang dirasakan pada Gadis.
\"Mas Pras sudah?\" Ayu melambai, tampak titik keringat menetes saat mendekat.
Pras memberikan saputangannya.
\"Untukku Mas, nggak apa-apa? Kena keringatku?\" Ayu ragu mengelap mukanya.
\"Sini,\" Pras meminta saputangannya dan tiba-tiba spontan mengusap wajah Ayu perlahan.
\"Udah cantik lagi kan?\"
Ayu tersipu dengan ucapan Pras, tampak wajahnya merona merah padam, Pras tersenyum sekilas melihat wajah Ayu yang merona.
Ada perasaan yang mengganggunya, tapi Pras tidak mau menebak jauh. Dia merasa lebih pantas menjadi seorang kakak saja buat Ayu.
\"Makan yuk lalu kita pulang.\" Pras menetralisir kediaman yang tiba-tiba tercipta di antara mereka.
***
Tatapan Vicky begitu tajam, sudah dua bulan sejak kejadian perkenalan dengan calon mertua yang berujung tidak jelas hubungan Gadis dan Pras.
“Dis kamu tidak bisa terus merana kehilangan Mas Prasmu, aku ada selalu untukmu bahkan jauh sebelum kamu mengenal Pras. A…aku mencintaimu sejak kamu dan Boy meliput tentang aku.” Vicky meraih tangan Gadis dalam genggamannya.
Ada perasaan hangat menjalari hatinya setelah merana ternyata Mas Pras telah memilih seseorang yang Gadis lihat di beberapa tabloid menyebutnya Dyah Ayu wanita yang sekarang menjadi kekasihnya.
Jelas sekali Pras tampaknya menyayangi cewek manis Dyah Ayu bahkan Pras menjadikan beberapa hasil karyannya dengan Dyah Ayu menjadi modelnya. Kepiawaian Pras membidik siluet-siluet tubuh Ayu membuat Gadis merasa bukan apa-apa lagi. Jelas dia memang sudah tidak ada artinya buat Pras. Karma telah mendatanginya, gara-agar main api dengan papanya di waktu lalu membuat dirinya kini terpuruk tanpa harga.
“Gadis … kenapa kamu tampak sedih begitu, kamu masih ragu denganku? karena aku play boy! Jadi memang tidak ada kesempatan ya buat play boy seperti aku untuk mencintai seorang wanita dan kembali ke jalan benar?”
Sejujurnya dalam diri Vicky, Gadis melihat dirinya yang tidak berbeda jauh waktu lalu yang selalu mempermainkan cowok-cowok dan sekarang telah merasa menyesal dengan masa lalu dan kembali pada jalan yang semestinya. Kalau cinta dan perasaan seseorang terhadap kita memang tidak seharusnya dipermainkan.
“Vick, aku ragu…apakah aku bisa? Jujur aku masih mencintai Mas Pras.”
“Tapi lelaki yang kamu cintaipun sudah lebih dulu memilih wanita lain Dis, kamu tidak mungkin bisa bersamanya. Ayolah, buka mata hatimu. Kamu harus realistis! Mana ada orang tua yang mengijinkan anak kesayangan satu-satunya menikah dengan mantan simpanan papanya!”
Gadis terhenyak. Tapi memang benar apa yang dikatakan Vicky. Sepertinya dirinya disudutkan pada sesuatu yang sangat mustahil untuk dilawan, buktinya Pras tampak pengecut mengabaikan dirinya begitu saja.
“Vicky, entahlah apakah kamu hanya pelarian atau nantinya cintaku … aku harap kamu maklum dan bisa mengerti. Kita coba untuk jalan sebaik-baiknya, tanpa paksaan biarlah mengalir …” Gadis menjawab permintaan Vicky yang berharap menerima cintanya.
“Iya Gadis, aku paham,” ada segurat senyum, entahlah yang Gadispun susah untuk mengartikannya. Tapi yang jelas, kini dia sedang dalam komitmen bersama seorang aktor muda yang tengah naik daun dan itu bukanlah hal yang mudah.

Other Stories
Hujan Yang Tak Dirindukan

Mereka perempuan-perempuan kekar negeri ini. Bertudung kain lusuh, berbalut baju penuh n ...

Don't Touch Me

Dara kehilangan kabar dari Erik yang lama di Spanyol, hingga ia ragu untuk terus menunggu. ...

Kuntilanak Gaul

Rasa cemburu membuat Lydia benci kepada Reisha. Dia tidak bisa terima saat Edward, cowok y ...

Setinggi Awan

Di sebuah desa kecil yang jauh dari hiruk-pikuk kota, Awan tumbuh dengan mimpi besar. Ia i ...

Cangkul Yang Dalam ( Halusinada )

Alya sendirian di dapur. Dia terlihat masih kesal. Matanya tertuju ke satu set pisau yang ...

O

o ...

Download Titik & Koma