21. Suatu Masa
“Ayu ngapain nonton kok gossip-gosip.” Tiba-tiba Pras sudah mendekat di sampingnya duduk bersama di karpet yang sengaja di gelar di ruang tamu.
“Hmmm, iseng Mas ...”
Tiba-tiba tatapan Pras tertuju pada sosok siapa lagi kalau bukan Gadis yang tengah bersama Vicky Permana diinfo gosip yang tengah tayang.
“Sejak kapan kalian jadian?” cerca pencari berita.
“Belum lama, yah saya dan Gadis masih dalam taraf penjajagan.” Vicky menjawab dengan tenang pertanyaan sang wartawati.
“Mbak Gadis gimana perasaannya bisa jadian dengan Mas Vicky?”
“Hmm baik, ya senanglah dia sangat baik!” Gadis tampak grogi, karena selama ini dia yang seharusnya mencerca subjek berita tetapi kondisinya terbalik sejak jadian dengan Vicky hidupnya.
Ayu tahu Mas Pras sangat terluka, dia jadi merasa bersalah melihat acara entertainment.
“Mas Pras maaf ya, Ayu tidak sengaja …”
“Nggak apa-apa, memang semua sudah berakhir Gadis tidak pernah berubah. Makanya Mama dan Papa tidak setuju Mas melanjutkan hubungan serius kami, walau … Ayu … Mas Pras sangat mencintainya. Dia adalah wanita yang paling Mas harapkan bersama-sama sampai maut memisahkan. Ayu … sungguh kadang cinta memang buta, Mas juga tidak tahu sejak pertama kali melihat wajahnya di gang depan rumah setiap pagi dia akan berangkat kerja, Mas selalu memandanginya dari teloskop dan mencuri-curi dirinya untuk Mas foto.”
Diam sesaat, Ayu memandang sambil sesekali berkerut.
“Mas telah jatuh cinta dari pandangan pertama hingga akhirnya tanpa sengaja dia mencari berita tentang Mas, entah kenapa Mas yang biasa alergi dengan wartawan karena dia yang akan mewawancari jadi bersedia. Kami ternyata menjadi sangat dekat, hingga akhirnya saat Mas Pras ingin melanjutkan kearah serius memperkenalkan Gadis pada Papa dan Mama, hmmm Mama sangat murka karena Gadis beberapa tahun lalu adalah simpanan Papa yang hampir saja dinikahi. Tapi Gadis menolak sebenarnya…”
Rasanya gamblang bisa bercerita apa yang tersimpan di hatinya pada Ayu yang tampak menyimak dan selalu memperhatikan saat dirinya berbicara.
“Hmm, cerita Mas Pras seperti sinetron. Mbak Gadis memang cantik sekali ya…”
“Iya, kalau saja Mas Pras dan Mbak Gadis bisa benar-benar menikah. Ayu akan ikut senang. Mas Pras berdoa saja dan ayo coba rebut Mbak Gadis kembali.” Ayu menyemangati, walau dalam hatinya terbesit rasa cemburu karena rasa cinta yang sangat besar mas Pras tunjukan pada Gadis tanpa mencoba menyembunyikan kekagumannya.
“Aku bukan apa-apa, Mbak Gadis sangat luar biasa. Ah kasihan Mas Pras dia sangat mencintainya sungguh aku ingin bisa membantunya. Andai bias …”
“Eitts bengong lagi sih adikku, ganti deh chanel TV nya…semua nayangin Mbak Gadis dan Vicky. Ngak ada yang lebih penting lagi emang dari mereka! Serasa dunia milik mereka saja!” Mas Pras mencolek rambutnya yang dikuncir tinggi.
Mas Pras tidak tahu perhatian-perhatian kecil itu telah mebuat Ayu jatuh cinta. Ayu jadi terlara-lara hanya dianggap menjadi adik.
“Dis eh Ayu aku mau keluar mungkin pulang agak larut, bilang ke Mang Seno pintu nggak usah dikunci tokh ada pak satpam kan! Biar nggak ngebangunin orang serumah.” Pras berpamitan pada Ayu.
“Mas Pras mau kemana, Sabtukan kantor juga tutup.”
“Itu kan buat staf kantor seperti kamu Yu, kalau Masmu ini bisa saja sewaktu-waktu datang. Ada urusan pameran yang musti Mas selesaikan dengan Mas Randy. Oh ya Mama dan Papa baru balik ke Singapura minggu depan kamu nggak usahlah rajin-rajin ngebersihin rumah, mumpung Mama nggak ada istirahat dan belajar saja buat kuliah-kuliah kamu.” Pras tersenyum penuh arti.
“Iya Mas …”
Ayu melepas Mas Pras yang berlalu dengan mobilnya.
***
“Boy kamu harus datang lho, kita merayakan pesta jadian!” Seru Vicky dari telepon genggamnya.
“Ok Brother, wah selamat ya bisa memacari Gadis akhinya.” Tampak dari kejauhan suara Boy.
“Vick memang nggak berlebihan kalau kita yang baru jadian sudah harus mengadakan pesta segala?” Gadis agak ragu dengan acara Vicky yang dirasa sepihak tanpa rundingan dan tiba-tiba sudah terencana. Membuat Gadis dalam kondisi yang serba ngikut saja.
“Sudahlah tenang saja Dis, semua sudah diatur kok sama temen-temen dekatku. Pokoknya sekarang kamu aku antar ke salon, dandan paling cantik dan malam tinggal menyambut teman-teman aku yang akan jadi temanmu juga malam ini.”
Gadis hanya bisa ngikut semua kemauan Vicky, Vicky berbeda dengan Mas Pras yang selalu meminta pertimbangan terlebih dahulu padanya. Tapi sudahlah, Gadis membayangkan pesta yang nanti malam akan diadakan Vicky pasti meriah, setidaknya menjadi proses melupakan masa lalu bersama Pras. Karena malam nanti benar-benar resmi bahkan Boy memberikan bocoran Vicky telah membelikan cincin berlian untuk dilingkarkan di jari manisnya nanti malam.
***
Pukul 20.00 Vicky dan Gadis sampai di rumah Vicky yang tampak hangat dengan beberapa teman dekatnya yang sudah datang.
Gadis tampak cantik dengan balutan baju terbuka yang sebenarnya Gadis merasa kurang nyaman memakainya, tapi Vicky memaksanya untuk mengenakan. Bersama Vicky, Gadis serasa tidak mempunyai pilihan.
Tampak Boy yang datang hampir bersamaan dengan pacar barunya Nadia yang menggelayut manja di lengannya.
Dan berlanjut wajah-wajah yang asing juga beberapa saja familiar pas meliput sesekali tampak, seperti perias Vicky, desainer khusus baju-baju Vicky. Tetapi sisanya Gadis merasa asing dengan semuanya.
Acara dilakukan dengan teman-teman dekat Vicky saja, Gadis bisa bernafas sedikit lega tidak hingar bingar seperti bayangannya. Terkesan lebih eksklusif, orang tua Vicky juga tidak tinggal bersama Vicky. Semua pesta di serahkan pada teman-teman dekat yang mengaturnya.
“Hmm teman-teman, minta perhatiannya sebentar. Jadi pesta romantis yang terselenggara ini saya persembahkan buat kekasih saya Gadis Pratiwi. Gadis adalah kekasih yang terakhir, bersamanya saya ingin menyisakan umur sampai akhir hayat.” Vicky menatap penuh romantis, sebenarnya tatapan Vicky ini juga melukai beberapa wanita yang berharap lebih pada dirinya.
Gadis tak kuasa menolak semuanya, saat Vicky menyematkan cincin pada jari manisnya. Semua bersorak “Congratulation” dan “Cherrs” dentingan gelas menggema.
Gadis memperhatikan tamu-tamu yang mencicipi berbagai kudapan unik yang tersaji, bunga mawar oranye mendominasi setiap ujung.
Pesta berlangsung tenang, lama-kelamaan semua hanyut dalam musik dansa yang mengalun tenang. Jam sudah menunjukan pukul 23.30 beberapa tamu sudah pulang hanya tinggal teman-teman Vicky yang benar-benar akrab. Entah kenapa Gadis merasa sangat mengantuk padahal biasanya dia kuat untuk bergadang sampai pagi pun dengan kejaran date line tulisan berita.
***
“Boy, Gadis sudah teler tuh. Ada di kamarku. Tadi minumannya sudah aku campur.”
“Hebat kamu Bro, ternyata kamu memang sahabat yang sangat konsisten! Gila menaklukan cewek itu sangat susah tapi kamu tampaknya sangat gampang! Dasar playboy tulen!”
“Ya udahlah terserah kamu mau apakan dia, yang pasti kamu bisa membalas rasa sakit hati kamu padanya. Nadia mau kamu kemanain kalau kamu masih saja mengejar Gadis diam-diam!”
“Ke laut saja! Ternyata tidak ada yang seistimewa cewek licin itu!” Boy menyeringai penuh arti.
***
Boy menatap Gadis yang kelihatan sangat seksi, selama ini belum pernah melihat Gadis memakai baju yang lumayan terbuka dengan satu lengan yang menggantung pada pundaknya dan agak turun.
Gemuruh di dada nya menghentak-hentak batinnya, apalagi sedikit pengaruh minuman membuat rasa kelakiannya tidak bisa terbendung.
Gadis menggeliat sesaat, tapi rasa kantuk pengaruh obat benar-benar melumpuhkannya. Bahkan saat Boy mulai mencoba mendesak apa yang selama ini dipertahankan dengan susah payah dan kelicikannya.
Gadis hanya mendesah pelan, semua terlewati begitu saja.
***
Karma telah mendatanginya, bahkan tanpa pernah diduga satu persatu menyita kebahagiaan yang telah diperjuangkan.
Bukan saja sebuah kehormatan yang terenggut, semuanya kandas dalam sekejap. Gadis sekarang sudah digiring di Badan Narkotika Negara tanpa pernah dia tahu apa sebenarnya yang tengah terjadi setelah pesta ‘jadiannya’ dengan Vicky.
Ada sepuluh orang yang terjaring dari penggebrekan semalam di rumah Vicky. yang Gadis tahu hanya Vicky dan Boy, sisanya Gadis benar-benar tidak mengenal.
***
Pras pulang dengan agak mabuk, Mas Randy memutuskan mengantar Pras yang sudah sempoyongan.
Dari siang mereka mengurus pameran yang akan diselenggarakan hari Rabu, tampak Pras tidak bersemangat menyeleksi beberapa foto. Randy sebagai manajer berusaha membantu semaksimal mungkin.
Hingga pukul 19.00 kelar Randy mengajak Pras ke café Colvino yang tidak jauh dari kantornya. Tanpa diduga Pras memesan beberapa bir dan tampak memang dia sangat tertekan setelah putus dengan Gadis.
Tergopoh-gopoh Randy memapah tubuh Pras, “Ayu tolong ya jaga Mas Pras diurusin, dia mabok berat.” Randy menyerahkan Mas Pras setelah ditidurkan di kamarnya.
“Hmmm pantesan dia mabok berat gini, aku baru liat kamar-kamarnya semua foto Gadis!” Randy geleng-geleng kepala.
“Ayu aku pulang dulu ya, jaga Masmu kamu hiburlah dia biar bisa ngelupain Gadis sombong itu!” Randy agak geram juga dengar cerita Gadis dari igauan Pras sepanjang malam meracau tentangnya.
“Baik Pak,” Ayu menurut pada Randy yang menjadi atasannya di kantor.
***
“Gadissss ... Gadissss … jangan pernah tinggalkan aku ... aku cinta kamu sampai mati!”
Pras mengerang tanpa henti memanggil nama Gadis, Ayu melepas sepatu dan menyeka kaki dan tangnnya dengan air hangat.
Ayu jujur sangat senang mempunyai kesempatan untuk bisa sangat dekat dengan Pras, dalam kondisi mabok wajah tampannya tetap saja terpancar. Bergetar mengusap wajahnya.
Ayu miris melihat lelaki yang sangat memperhatikannya kini tampak rapuh tak berdaya. “Andai aku bisa menggantikan posisi Mbak Gadis untukmu Mas Pras …” Ayu bergumam begitu saja.
Other Stories
Dua Bintang
Setelah lulus, Manda ikut Tante Yuni ke Jakarta untuk melupakan luka keluarga. Tapi dikhia ...
Warung Kopi Reformasi
Di sebuah warung kopi sederhana di pinggir alun-alun Garut tahun 1998, hidup berjalan deng ...
Separuh Dzrah
Saat salam terakhir dalam salat mulai terdengar, di sana juga akan mulai terdengar suar ...
Hafidz Cerdik
Jarum jam menunjuk di angka 4 kurang beberapa menit ketika Adnan terbangun dari tidurnya ...
Love Falls With The Rain In Mentaya
Di tepian Pinggiran Sungai Mentaya, hujan selalu membawa cerita. Arga, seorang penulis pen ...
Dante Fairy Tale
“Dante! Ayo bangun, Sayang. Kamu bisa terlambat ke sekolah!” kata seorang wanita gemu ...