Suara Dari Langit

Reads
4.2K
Votes
0
Parts
20
Vote
Report
Penulis Nina Rahayu Nadea

2. Miss You

Andre bisa menepuk dada sesaat. Ketika sebulan - dua bulan berikutnya, uang yang didapat dari hasil keringatnya dapat dinikmati. Begitu bangga dirinya dan sekaligus menyombongkan diri pada orang tua, bahwa ia adalah lelaki sejati yang tidak selamanya berada di bawah bayang-bayang kesuksesan orang tua. Dan ia dapat membuktikan pada keluarga besar Kusuma, anaknya kini berhasil mengepakkan sayap dengan uang berlimpah.
Pak Kusuma pun diam-diam bangga tentang apa yang dikerjakan Andre. Karena tanpa sepengetahuan yang lain. Pak Kusuma sering berbicara kemujuran Andre pada saudara yang lain. Setiap bertemu, pasti yang dibicarakan Pak Kusuma adalah tentang Andre.
Itu diketahui karena kemudian banyak yang bertanya tentang kegiatan Andre sekarang. Dan secara tidak langsung pula mereka membicarakan tentang Andre berdasar cerita dari Pak Kusuma tentunya. Dan hmm… tentulah ini membuat keluarga besar Kusuma berbangga pula. Pun Nola, bangga dengan Andre yang telah membuktikan pada semua keluarga bahwa ia dapat hidup, tanpa pernah menggantungkan hidup pada orang tua. Salut.
Tapi kebahagiaan itu tak berlangsung lama. Setelah satu tahun berjalan berikutnya. Bencana. Itu mungkin yang menimpa Andre. Ternyata uang ratusan juta yang diinvestasikan bersama teman-temannya raib. Raib karena memang ia kemudian tak dapat menelisik tentang keberadaan uang tersebut. Karena ketika ia bertanya ke sana-sini tak dapat jawaban yang memuaskan hatinya. Yang ia tahu dari rekannya adalah uang yang dijadikan modal itu mengalami kerugian karena nilai dolar yang memang tidak berpihak pada mereka.
Entahlah benar atau tidak. Yang pasti setelah kejadian itu, Andre begitu menarik diri dari lingkungan besar keluarga. Ia pun tak berniat mencari tahu tentang penyebab raibnya uang pada teman-teman. Itu wajar, karena teman-temannya satu per satu hilang dari matanya. Di saat kesedihan dan kelelahan itu, temannya yang dulu kerap datang mengimingi tentang keuntungan besar yang berlipat tak pernah datang lagi ke rumah. Tak pernah lagi menampakkan batang hidungnya. Sungguh keterlaluan.
Pak Kusuma sangat marah besar. Beliau mencaci Andre habis-habisan tanpa pernah tahu gerangan hati Andre yang memang sudah terpuruk menjadi lebih terpuruk, melesapkan jiwa dan nuraninya semakin terpuruk ke lembah derita.
“Mana buktinya kamu bisa menjadi lelaki mandiri? Mana?!” Pak Kusuma membentak. Tatapannya menghunus Andre yang tertunduk, tak berani menatap ayahnya yang marah besar.
“Maafkan Andre,” suara Andre tertahan di balik gejolak jiwanya.
“Maaf? Itu tidak cukup. Dengarkan! Uang ratusan juta itu tidak sedikit. Apa kamu sanggup mengembalikannya?” tatapan Pak Kusuma semakin menghujam.
“Tapi kan itu uangku, Yah?”
“Uang kamu? Bangganya dirimu.”
“Ya. Tapi itu juga atas kerja kerasku”
“Itu pemberian Ayah. Ingat!”
“Tapi bukankah itu gajiku yang diberi dan sengaja kudepositokan. Lantas kenapa Ayah menuntut?”
“Bukan menuntut, tapi bertanya tentang sebuah pertanggungjawaban ke mana uang itu.”
“Ternyata Ayah tidak ikhlas memberiku uang itu, ya kan?”
“Tidak ikhlas bagaimana?”
“Buktinya Ayah bertanya, meminta kembali uang yang sudah menjadi milikku?” Andre bangkit. Jiwa lelakinya berontak dan marah. Ayah yang seharusnya berusaha menghibur, memberi petuah. Ternyata tidak. Ayahnya hanya marah besar tidak memberinya rasa perlindungan. Ayah macam apa yang tega menjelekkan dan menjerumuskan dalam keterpurukan saja? “Kalau Ayah ikhlas, tak mungkin bertanya terus tentang uang itu. Orang tua mana yang begitu tega memojokkan anaknya di saat terhimpit?”
“Hey. Wajarlah kalau Ayah bertanya tentang uang itu. Apakah kau tidak memikirkan istrimu, Monic yang sedang mengandung? Apa kau tidak memikirkan Bagas anakmu yang sebentar lagi ujian? Pikir dong. Jangan mau enak sendiri, semua urusan diserahkan sama Ayah.”
“Siapa yang menyerahkan? Ayah sendiri yang selalu memberi fasilitas, memberi. Aku tidak pernah meminta!” dengan muka merah padam Andre berkacak pinggang.
“Baik. Mulai sekarang jangan pernah kamu harap Ayah memberimu bantuan,” Pak Kusuma tak mau kalah. Dia berdiri dengan telunjuk begitu dekat di muka Andre.
“Dengan senang hati, Ayah,” Andre bangkit meninggalkan Pak Kusuma dalam kemarahannya. Pak Kusuma begitu kecewa dengan sikap Andre. Yang diharap adalah sikap lunak dan permintaan maaf, berusaha berubah menjadi yang baik. Tapi yang diinginkanya tak didapat. Hanya perlakuan yang semakin membuat dadanya sesak.
“Sudahlah, Yah. Maafkan Andre,” Nola yang sedari tadi mendengarkan perdebatan, masuk dan menghampiri ayahnya. Nola tak mau ayahnya menjadi sakit karena memikirkan Andre.
“Sudahlah, Nola. Kakakmu memang anak tak tau diri. Mana Ibumu?”
“Sedang ke kantor dulu. Tadi ada yang menelepon katanya ada tamu dari Jakarta.”
“Ayah istirahat dulu. Bilang saja lagi keluar kota kalau ada yang nelepon.”
“Ya, Yah. Ayo Nola antar ke kamar.”
“Nggak usah, Ayah bisa sendiri,” Pak Kusuma berjalan perlahan. “Buatkan Ayah, air putih!”
***
Semenjak itu Andre tidak lagi berkomunikasi dengan keluarga Kusuma. Ia memilih menarik diri dari lingkungan. Entahlah bagaimana nasibnya. Begitu disayangkan memang. Pun, bagi Nola. Secara, Andre adalah kakak laki-laki yang dekat dengannya. Dia sering memberi perhatian walau sekedar bertanya tentang pelajaran sekolah. Tidak seperti kakak lainnya yang cuek.
Yang sangat disayangkan oleh Nola dengan ketiadaan Andre di perusahaan orang tua, adalah ternyata hal ini dijadikan peluang oleh kakak yang lain. Mereka seolah berlomba untuk semakin menarik simpati ayahnya agar uang dapat mengalir lebih banyak, tentunya. Dan yang paling disesalkan adalah masuknya Desi, istri dari Doni, kakak ipar Nola. Ia meminta Pak Kusuma dengan alasan ingin membantu pekerjaan yang asalnya diembankan pada Andre. Dan Pak Kusuma menerimanya dengan senang hati.
Ini seolah menjadi lampu hijau bagi Ane, istrinya Yuki. Ia pun merengek pada Pak Kusuma agar bisa bekerja di perusahaan. Dengan berbagai alasan, masuknya Desi dijadikan alasan bagi mantu Pak Kusuma ini. Ia merajuk Bu Kusuma agar diterima bekerja. Tak ingin dianggap mertua yang pilih kasih, akhirnya keinginan mantu yang ini pun diluluskan Pak Kusuma.
Alhasil lengkaplah. Keluarga Pak Kusuma yang bekerja semakin banyak. Bersama dengan para mantunya. Pastilah mereka digaji pula. Mana ada yang mau bekerja tanpa ada imbalan? Pak Kusuma telah memikirkannya. Karena Pak Kusuma tak pernah memberi pekerjaan tanpa tangan kosong. Tak pedulilah urusan keahlian yang mereka miliki, yang penting bagi Pak Kusuma adalah bekerja bersama. Menurutnya keahlian itu bisa dipelajari dari kebersamaan, dari pengalaman. Masuknya Desi dan Ane adalah sebagai bentuk pertanggungjawaban mereka terhadap keluarga Kusuma, bentuk perhatian mereka bahwa mereka pun sanggup bekerja di perusahaan orang tuanya sendiri.
Tapi menurut Nola tidak demikian. Karena semenjak mereka bekerja di perusahaan tersebut. Persaingan kecil dimulai. Bukan hanya dari urusan pekerjaan, tapi urusan rumah tangga. Mantu ayahnya mulai bersaing dengan semua yang dimiliki. Tak mau ketinggalan barang yang baru. Itulah selalu. Mereka berbahagia di atas penderitaan Andre yang entah bagaimana nasibnya. Andre benar-benar menghilang dari keluarga. Mencari jati diri. Ingin membuktikan pada keluarga bahwa tanpa uluran tangan mereka, ia bisa berdiri.
Nola pun lebih menyimpan rasa rindu pada Andre dengan berdiam diri saja, memfokuskan diri pada kegiatan belajar tambahan dan berbagai les. Walau seringkali di dalam kamar. Tangisnya sering datang menjadi teman dalam hidup. Nola begitu merindu. I miss you, Andre.
***

Other Stories
Keikhlasan Cinta

6 tahun Hasrul pergi dari keluarganya, setelah dia kembali dia dipertemukan kembali dengan ...

Reuni

Kutukan Kastil Piano membuat cinta Selina berbalik jadi kebencian, hingga akhirnya ia mema ...

Deru Suara Kagum

Perlahan keadaan mulai berubah. Pertemuan-pertemuan sederhana, duduk berdekatan , atau sek ...

Bisikan Lada

Kejadian pagi tadi membuat heboh warga sekitar. Penemuan tiga mayat pemuda yang diketah ...

Cinta Rasa Kopi

Kesalahan langkah Joylin dalam membina bahtera rumah tangga menjadi titik kulminasi bagi t ...

Download Titik & Koma