Suara Dari Langit

Reads
4.2K
Votes
0
Parts
20
Vote
Report
Penulis Nina Rahayu Nadea

3. My Life Is Lonely

“Hati-hati, Kak,” Nola tersentak ketika mobil yang ditumpangi berhenti mendadak.
“Sialan. Untung kakiku cekatan injak rem,” Mia menghela napas. Wajahnya masih terlihat kaget. “Dasar pengendara sembrono. Baru punya motor hey!” teriak Mia sambil membuka kaca mobil. Walau teriakannya sia-sia, menguar disapu angin di udara. Pengendara motor itu melaju tanpa menoleh sedikit pun. “Seenaknya menyalip mobil orang,” rutuk Mia, sambil berusaha membenarkan posisi duduk. Lalu mengambil air minum yang ada di sampingnya.
“Nggak apa-apa, Kak?”
“Nggak. Cuma kaget saja.”
“Iya tuh orang sudah gila kali. Ngebut banget jalannya,” kata Nola sambil melihat ke arah pengendara motor yang telah berlalu. Cuek dengan tingkahnya yang telah membuat orang lain senewen. Hanya jaketnya saja yang jelas terlihat, berwarna biru dari bahan jeans bertuliskan GoodBoy.
“Masuknya jam berapa, La?”
“Jam 2, Kak.”
Mia melirik jam di tangannya. “Baru jam 12. Nyari makan dulu yu, mau nggak?”
“Mau. Aku pun udah lapar.”
“Ngajak Alex, boleh kan?”
“Boleh dong.”
Sesaat Mia menghentikan mobilnya. Sibuk memijit tombol HP-nya. Kemudian terdengar komunikasinya dengan Alex.
“Ya. Aku mampir dulu ke rumahmu. Nggak usah bawa mobillah. Biar barengan,” Mia menutup HP-nya. Kemudian kembali menyetir mobil. “La, emang kamu nggak cape belajar terus?” tanya Mia kemudian.
“Ngapain cape. Aku malah senang. Belajar itu kan nambah ilmu, Kak. Nambah otak jadi lebih fresh.”
“Haha. Kalau Kakak belajar itu malah jadi stres. Udah deh pokoknya Kakak dukung apa yang Nola lakukan. Kakak dukung Nola untuk menjadi seorang dokter yang terkenal yah. Biar nanti Kak Mia bisa berobat gratis.”
“Sekarang mau gratis juga gampang, Kak. Tinggal pake jamkesmas saja. hehe.”
“Ah kalau itu ribet. Kakak percaya kamu pasti bisa menjadi dokter yang handal. Biar kamu bisa buka praktik sendiri. Nanti kan keren di depan rumahmu ada tulisan besar ‘Dokter Nola... Terima praktek dari jam lima sampai jam enam sore’. Keren, pokoknya.”
“Doain aja, Kak. Aku lulus lewat jalur khusus,” Nola menghela napas. “Rencana Kak Mia sendiri kalau udah nikah mau ngapain nih?”
“Aku juga bingung. Inginnya beresin dulu skripsi, hingga menyandang gelar gitu. Tapi taulah keluarga Alex udah nggak sabar, pengen segera punya cucu. Maklum Alex kan anak tunggal. Jadi yah, rencana untuk sekarang konsentrasi saja dulu untuk nikah, baru nanti dipikirin rencana selanjutnya.”
“Enak yah Kakak, bentar lagi ada yang merhatiin,” Nola tersenyum getir. Tak dibayangkan bagaimana kalau Mia sudah menikah. Ya. Nola dan Mia memang begitu dekat, sangat dekat. Mia adalah orang yang sangat perhatian pada Nola. Di antara waktu kuliahnya, tak segan ia mengantar Nola ke mana pun Nola suka, termasuk ke tempat bimbel. Mia sangat mengkhawatirkan. Ia sepertinya lebih percaya mengantarkan Nola ke mana pun. Padahal Nola selalu bilang biar sama Mang Maman, sopir di rumah. Tapi Mia berusaha untuk mengantar Nola.
“Mumpung belum menikah,” Itulah selalu yang Mia katakan.
Dan Nola pun merasa Mia memang dekat. Teramat dengannya. Karena kebersamaan inilah yang membuat Nola kemudian selalu curhat dengan Mia. Apa pun permasalahan atau keluh di dada, senantiasa diobrolkan dengan Mia. Nola begitu beruntung mempunyai kakak yang begitu memperhatikannya.
Tapi kini seiring rencana pernikahannya, hati Nola semakin dilanda senyap. Kebersamaan dengan Mia sedikit berkurang karena waktu Mia yang terbagi. Ada rasa kehilangan yang teramat besar bertamu di dada Nola.
Tuhan, kalau harus jujur, aku meminta pada-Mu, aku menginginkan Kak Mia tidak menikah saja. Aku ingin dia tetap untukku. Memperhatikan segalanya. Aku ingin Kak Mia tetap menjadi belahan jiwaku, tempatku berkeluh kesah. Aku ingin selamanya Kak Mia menjadi pendorong dan penyemangat dalam banyak hal. Ya, aku ingin...
Segera dienyahkan kecamuk di hati. Ia tak mau menjadi seorang yang egois. Memikirkan kebahagian dan merampas kebahagiaan orang. Sedang Nola tahu, Mia begitu bahagia menyambut hari istimewanya. Tak pantaslah kalau Nola meminta padanya untuk berpisah.
Mia kerap memuji Nola bahwa ia beruntung mempunyai kelebihan dalam banyak hal. Sekolah yang gemilang dengan prestasi yang begitu memukau membuat bangga keluarga besar. Tak seperti dirinya yang memang malas dan kuliah pun kini nyaris terputus karena pernikahan.
Tapi menurut Nola, justru tidak beruntung. Mengapa demikian? Nola merasa keadaannya tidak seperti yang lain. Tidak cantik. Kulitnya begitu hitam dengan badan yang pendek serta gendut. Padahal seringkali Nola diet dan melakukan olahraga teratur. Tapi tetap saja badannya bengkak. Nola begitu iri berat dengan keadaan kakaknya yang begitu cantik dan sempurna. Hampir tiap detik digandrungi para lelaki. Ia selalu dibuntuti para cowok yang begitu menggebu ingin memiliki dan ingin dekat dengannya. Beruntung sekali Alex, karena ternyata terpilih sebagai pemenang untuk yang satu ini.
Berbeda dengan Nola yang selalu kandas dalam hal percintaan. Jangankan bercinta. Lelaki sepertinya enggan berhubungan dengannya. Mereka seakan takut untuk melangkah lebih jauh. Takut Nola cinta pada mereka mungkin.
Ini sebenarnya yang membuat Nola tidak percaya diri. Dan Nola menghabiskan waktu hanyalah dengan membaca, mengikuti berbagai kegiatan agar sebenarnya dapat melupakan kesedihan, terutama dengan keadaan sekeliling. Keadaan yang membuat hatinya tersakiti melihat mereka para wanita yang diantar para kekasihnya. Senyap dan sepi itulah yang dirasakan jika memikirkan lelaki. Secara, dari dulu belum ada satu pun lelaki yang serius menjadi penghuni hatinya. Belum ada seorang kumbang pun menyatakan cinta padanya. Hmm… menyedihkan.
Itulah mungkin yang menyebabkan Nola memang begitu minder berhadapan dengan orang banyak. Dan betapa Mia begitu berharga dalam hal ini. Tak hentinya Mia membangkitkan semangat Nola agar senantiasa melangkah dan jangan pernah memikirkan kekurangan yang dialami. Melangkah bersama Mia sedikit demi sedikit meningkatkan rasa percaya dirinya. Dan Mia pula yang mengajari Nola untuk memanjakan diri dengan berbagai perlengkapan kewanitaan. Mulai dari ke salon, mandi sauna dan seabrek lainnya yang dapat merubah ketidak pedulian tentang masalah wanita. Dia senantiasa memberi pepatah pada Nola bahwa seorang wanita tidak boleh acuh dengan keadaan. Manjakanlah tubuh dengan segala yang dimiliki.
Mia pula yang kerap memilih mode pakaian serta berbagai peralatan wanita semisal tas, sepatu, baju, kosmetik, dan lain-lain. Mia memang begitu perhatian. Wajarlah jika kemudian serasa ada yang hilang dari Nola.
Tapi di balik itu, Nola bersyukur bahwasanya pengorbanan kakaknya yang dicurahkan untuknya: sebagian waktu yang hilang terampas oleh Nola, kini terganti dengan bahagia. Bersanding dengan seseorang yang dicintai. Segera. Dan itu membuat Nola begitu bersedih. My life is lonely
***

Other Stories
Jam Dinding

Setelah kematian mendadak adiknya, Joni selalu dihantui mimpi buruk yang sama secara berul ...

After Meet You

kacamata hitam milik pria itu berkilat tertimpa cahaya keemasan, sang mata dewa nyaris t ...

Jaki & Centong Nasi Mamak

Jaki, pria 27 tahun. Setiap hari harus menerima pentungan centong nasi di kepalanya gara-g ...

Haura

Laki-laki itu teringat masa kecil Haura yang berbakat, berprestasi, dan gemar berpuisi, na ...

Ada Apa Dengan Rasi

Saking seringnya melihat dan mendengar kedua orang tuanya bertengkar, membuat Rasi, gadis ...

Pada Langit Yang Tak Berbintang

Langit memendam cinta pada Kirana, sahabatnya, tapi justru membantu Kirana berpacaran deng ...

Download Titik & Koma