Suara Dari Langit

Reads
4.3K
Votes
0
Parts
20
Vote
Report
Penulis Nina Rahayu Nadea

6. The Wedding

Mia, hari ini begitu cantik. Gaun pengantin yang dikenakan begitu pas di badan. Rancangan desainer terkenal yang begitu elegan dan mewah. Warna putih yang menjadi pilihan Mia. Baju panjang tergerai sampai ke belakang dengan belahan dada yang begitu seksi. Ribuan manik-manik terlihat begitu bercahaya, berpendar tersinari lampu yang ada. Menambah kemewahannya begitu membahana. Nola menatap Mia tak berkedip. Ah, Kak. Kau memang begitu cantik dan menarik, semoga kau selamanya berbahagia. Air mata jatuh di pipi Nola, ada jarum yang menancap di hatinya, semakin banyak tamu yang datang memberi ucapan selamat. Nola semakin bersedih.
“La,” seperti ada yang memanggil. Tapi Nola tak menghiraukan.
“Neng Nola, dipanggil Neng Mia,” Bi Ina, pembantu di rumah memanggil Nola.
“Makasih, Bi,” Nola bergerak memajukan langkah mendekat pada Mia dengan hati enggan.
“Iya, Kakakku yang cantik ada apa?”
“Dari tadi Kakak lihat melamun saja. Sini temenin Kakak di sini.”
Nola tak menjawab. Air mata menetas jatuh di pipi.
“Kok menangis, La? Kamu tak bahagia melihat Kakak menikah?”
“Nggak, Kak. Aku sangat bahagia. Semoga Kakak bahagia ya,” Nola menyembunyikan wajah di punggung Mia. Maafkan aku ya, Kak. Jangan sungkan untuk bercerita padaku tentang segalanya. Aku siap menjadi pendengar, kok. Nola berharap apa yang teruntai di batinnya terucap, tapi tak bisa. Ia memandang wajah Mia yang begitu cantik.
“Doakan Kakak, agar menjadi istri yang baik, yah.”
Nola mengangguk.
Kebersamaan waktu itu begitu sekejap dirasa Nola. Karena kemudian ritual demi ritual mulai dilakukan Mia dengan waktu yang begitu padat. Dan Nola mengikutinya dengan perasaan yang tak menentu. Bahagia, juga perasaan bersalah kerap menghantuinya. Yang diharap Nola kali ini adalah semoga Mia bertemu dengan kebahagiaan selamanya.
Pernikahan yang sangat mewah yang dilaksanakan keluarga. Demi menyambut calon mantu. Lihatlah, betapa banyak acara yang digelar demi memeriahkan acara. Tamu yang datang pun seolah ikut merasakan kemewahan yang diadakan. Mia seakan tak mau lepas menggandeng erat tangan Alex mesra. Nola menatap berulang Mia. Entah mengapa kesedihan kerap menyambangi pintu hatinya ketika menatap Mia dan Alex. Kesenyapan datang dalam dasar hati terdalam. Menyobek pengharapan yang sesaat mekar secepat kilat menguncup.
Bayangan Mia dan Alex bermain di matanya. Tuhan, semoga ini jalan yang terbaik untuk mereka, semoga hikmah terindah dapat mereka rasakan sebagai pasangan suami istri. Tuhan, semoga ini adalah pilihan tepat untuk Mia, Kakakku tersayang, Jangan Kau biarkan ia melara. Naungilah ia dalam kehidupan barunya. Amin.
Nola memandangi wajah Alex. Ya, ia begitu bahagia. Kebahagiaan yang berlebih atau entahlah Nola tak bisa berkata dan tak bisa menyelusuri hati terdalamnya. Nola ingat, ketika usai akad nikah. Tak hentinya Mia menangis tersedu. Tapi Alex? Sepertinya tak terlihat nada sedih di sana. Mungkin Alex bukan tipe orang yang gampang untuk menangis. Berbeda dengan yang lain. Apakah pria pantang untuk mengeluarkan air matanya. Beberapa kali Nola menyaksikan orang menikah, tepatnya akad nikah. Dan selalu yang ditemukan adalah haru. Berbeda dengan Alex.
Baru kali ini Nola lihat seorang mempelai laki-laki mampu menahan tangis ketika acara akad nikah. Salut buat Alex. Di acara sakralnya, tak terlihat keharuan yang datang. Terlihat seperti aneh memang. Perbedaan yang mencolok. Mia sangat bersedih sementara Alex terlihat begitu berbahagia, terlalu pincang terlihat.
Nola memandangi satu per satu tamu yang datang. Begitu menawan padan. Saling serasi dengan pasangannya. Nola merasakan kali ini ia begitu kecil, di tengah kemewahan dan keriuhan pernikahan Mia. Hatinya dirambati perasaan hampa, begitu sepi. Tak ingin Nola mendengar deru musik yang bergemuruh bersanding dengan suara cuap orang seperti berbisik dan mengejeknya dalam kesendirian. Ah, menyebalkan. Segera dilangkahkan kaki menuju belakang, bufe zupa-zupa menjadi pilihannya. Setelah berpura terlebih mengambil hidangan zupa tentunya. Mengambil dan kemudian meninggalkan keramaian dengan menyeruput zupa-zupa kesukaannya.
Hening terasa ketika Nola berada di luar gedung. Tepatnya di belakang gedung. Mengamati pepohonan yang begitu rindang memesona. Ditengadahkannya wajah menatap langit yang cerah, sesekali burung terlihat hinggap di pohon besar. Menemaninya dalam kesendirian.
“Sendirian saja? kenapa tidak gabung dengan yang lain?”
Nola berhenti mengunyah. Disimpannya zupa-zupa yang ada. Kini pandangan Nola beralih ke yang empunya suara. Laki-laki sebayanya, mungkin itu dugaannya. Sesaat Nola mengangguk tersenyum ke arahnya, tanpa kata yang terucap dari bibir.
“Kenalkan nama saya, Pei. Apei, begitu teman-teman memanggiku. Terserah kau mau manggil apa,” laki-laki itu diam melihat ekspresi Nola yang sepertinya acuh saja. ”Hm… namamu siapa, kalau boleh tau?” tangannya mengulur ke arah Nola.
“Nola,” Nola menerima uluran tangan Pei, walau dengan cuek. Jujur Nola tak ingin seseorang mengganggu kesendiriannya. Nola ingin bermesra dengan sepi dan bercumbu dengan duka, enyahkan kebisingan di dalam sana.
“Sepertinya kita punya hobi yang sama,” Pei berkata ketika Nola diam saja.
“Maksudmu?”
“Suka dengan kesendirian, keheningan dan ketenangan. Padahal di dalam sana banyak sekali yang sengaja mengikuti hingar bingar tetapi hatinya kosong dan mati. Seperti Kakakmu itu.”
“Siapa kamu? Lancang. Berani ngomong sembarangan tentang Kakakku. Kakakku adalah orang yang paling berbahagia, apalagi dalam pernikahnnya. Siapa sih kamu sebenarnya?”
“Oh iya. Maaf sekali. Nama saya Pei.”
“Itu saya sudah tau.”
“lho kok tau. Siapa yang ngasih tau?”
“Ya, kamu sendiri tadi yang ngasih tau ke aku. Kamu amnesia, yah?”
“Oh iya, maaf. Aku saudaranya Alex.”
“Saudara?” Nola mengernyitkan dahi menatap Pei. Laki-laki yang baru dikenalnya. Menatap bola matanya.
“Nggak kelihatan saudara. Beda jauh,” usil Nola sekenanya.
“Ya. Emang saudara itu harus sama? Nggak kan. Buktinya kamu dan Mia. Beda banget. Mia itu.... dan kamu?”
“Ah, sudah... sudah! Jangan kau bandingkan aku. Aku sudah tau jawabannya.”
“Duh gitu aja ngambek. Jujur aku suka cewek seperti kamu.”
***
Tak sabar ingin bertemu Mia, ingin mencurahkan hati dari pertemuan yang memberi rasa bahagia ini. Pertemuan tentang seseorang yang membuat dada berdebar. Nola melangkahkan kaki menuju kamar Mia di lantai atas. Tapi semakin dekat Nola tak berani mendekat. Ketika dari jauh terdengar percekcokan di kamar. Antara penasaran Nola melangkahkan kaki dengan pelan. Sangat pelan, menuju ke pintu kamar.
“Dengar, yah. Ingat! Aku menikahimu hanya berpura-pura. Camkan itu!”
“Tega kamu berkata seperti itu, di saat tadi pagi kau berikrar di depan penghulu?” jerit Mia tertahan. “Aku mencintaimu, Lex.”
“Cinta itu telah hilang. Ketika kau mencintai lelaki lain.”
“Lex… demi Tuhan aku tak ada hubungan apa-apa dengan pria mana pun.”
“Teman? Aku tak yakin itu. Dan ingat, Mia. Aku tak yakin juga bahwa bayi yang kau kandung itu anakku.”
“Lex!”
***

Other Stories
Kucing Emas

Kara Swandara, siswi cerdas, mendadak terjebak di panggung istana Kerajaan Kucing, terikat ...

Prince Reckless Dan Miss Invisible

Naes, yang insecure dengan hidupnya, bertemu dengan Raka yang insecure dengan masa depann ...

Sumpah Cinta

Gibriel Alexander,penulis muda blasteran Arab-Jerman, menulis novel demi membuat mantannya ...

Arungi Waktu; Ombak Bergulung, Waktu Berderai—namun Jangkar Tak Pernah Ia Turunkan

Arunika pernah percaya bahwa hidup berjalan lurus, sepanjang rencana yang ia susun dengan ...

Harapan Dalam Sisa Senja

Apa yang akan dalam pikiran ketika dinyatakan memiliki penyakit kronis? Ketika hidup berg ...

The Truth

Seth Barker, jurnalis pemenang penghargaan, dimanfaatkan CEO Kathy untuk menghadapi perebu ...

Download Titik & Koma