Suara Dari Langit

Reads
4.2K
Votes
0
Parts
20
Vote
Report
Penulis Nina Rahayu Nadea

8. The Loss

Hari masih pagi ketika Alex menghadap Pak Kusuma. Meminta izin untuk berlibur ke Bali, satu minggu.
“Apa… satu minggu?” Nola menyela ketika tahu kakaknya akan pergi.
“Apa? Nggak boleh?” Alex melihat ke arah Nola. Ada nada benci terlihat dari sudut matanya. Wajarlah karena mungkin Nola selalu dianggap sebagai penghalang atas maksud yang sudah direncanakannya.
“Ih, kok Kak Alex bilang begitu?” jawab Nola serasa tak enak.
“Nggak apa-apa. Takut saja kau nggak ngizinin.”
“Lagian apa hakku melarang kalian?” Nola menggerutu. Tak enak juga dengan ucapan Alex yang terlontar.
“Ayah tentu saja mengizinkan kalian. Tapi ingat, kasih kabar ya.”
“Ya, Yah,” Alex berkata dengan wajah yang riang, melirik ke arah Mia yang sedari tadi diam. Ya, semenjak menikah dengan Alex, Mia memang menjadi pendiam. Dia selalu mengalah memberikan luang pada Alex untuk selalu berbicara. Kasihan sekali Mia, pastilah merasa tertekan dengan keadaan ini.
***
Terasa sekali kesepian dan kehilangan melanda hati ketika Mia tak ada. Semenjak ia pergi ke Bali bersama Alex, kerap membuat hati semakin terluka karena sepi. Ya, kepergian Mia tetap saja menoreh luka di hati. Menyimpan tabir yang begitu dalam di hati. Sekaligus seribu tanya bertamu di hati yang gersang ini. Bagaimana sebenarnya hidup baru Mia? Apalagi ketika Nola mendengar sendiri pertengkaran hebat di malam itu. Malam yang bermisteri.
Hari-hari Nola tanpa Mia begitu sepi. Walau SMS yang dikirimnya pastilah selalu dibalas dengan riang dari kakaknya. Tak satu pun SMS yang terlewat untuk dibalas. Selain SMS, sering pula ia berkabar via BBM atau telepon, pun FB atau email. Tak ada yang mencurigakan. Kiranya Mia menikmati hari-harinya. Bersama mengarungi liburan indahnya bersama Alex.
Lambat laun Nola mulai menanam kepercayaan pada dirinya sendiri, bahwa Mia baik-baik saja. Nola percayakan semua bahwa Alex mampu menjadi pemimpin yang baik. Nola harus percaya bahwa cinta mampu mengalahkan segala masalah yang didera. Bukankah selama ini mereka begitu cinta? Saling mencintai. Dan harus Nola akui bahwa Mia dan Alex adalah pasangan yang serasi.
Benar kata orang di sekeliling bahwa tindakan yang dilakukan Nola terlalu berlebihan. Nola terlalu cinta Mia dan tak mau jauh darinya. Maka kecurigaan yang selama ini berakar dari hati Nola, mulai sedikit dihapus seiring dengan seabrek kegiatannya di perkuliahan.
Tak mau menyia-nyiakan peluang yang ada di hadapannya, Nola yang berhasil masuk kedokteran lewat jalur khusus, tak mau kuliahnya terbengkalai hanya memikirkan Mia. Positive thinking.
Nola sengaja melakukan beragam aktivitas selain di kampus. Tak lain, hanya untuk mengisi waktu agar kehilangan yang dirasakan tak begitu mendalam. Ucapan dan pepatah Mia bahwa Nola harus percaya diri kini dilakukan. Nola mulai belajar bergaul dengan orang di sekitarnya. Mulai belajar membuka diri dalam kehidupannya. Dan Nola kini mulai menikmatinya. Ternyata prasangka tentang dirinya yang tidak cantik atau apalah tentang kekurangan tidak terbukti. Selama ini Nola memang terlalu pasif bercengkerama dengan orang di sekitar. Menganggap orang yang akan dekat adalah hanya memperburuk suasana kesendirian. Meremehkan keadaannya yang tidak cantik. Hingga akhirnya ia terlena dan menganggap dirinya tak ada yang mencinta.
Kini Nola menikmati kebersamaan bersama teman. Dan ternyata berteman itu begitu mengasyikkan. Apalagi ketika tugas kuliah datang, pasti Nola dengan semangat mengerjakannya. Karena Nola begitu suka aktivitas, mengerjakan kegiatan yang berbau buku. Menyenangkan. Dan dengan begitu Nola semakin banyak teman tentunya, karena keberadaannya menjadi sasaran empuk untuk beberapa teman yang rada malas. Tak peduli, yang penting kini Nola merasakan nikmatnya berteman.
Pun perihal laki-laki, ada di antaranya yang mulai membuka diri. Walau Nola belum merasakan hati berjalan jauh untuk sekedar menerima sebuah percintaan. Cukuplah sahabat dan teman yang mengasyikkan. Semua telah memberi kenikmatan tersendiri. Bermain. Menghabiskan indahnya masa remaja yang dulu tak pernah didapatnya. Terbuai dalam keindahan semu yang baru dirasa.
Kebebasan yang diberikan Pak Kusuma menambah daftar petualangannya dalam bermain bersama beberapa cowok dan sahabat dekat. Ya, Pak Kusuma telah membebaskannya untuk memakai kendaraan sendirian, tanpa ada pengawalan dari Mang Maman. Tak usah ngomong bertele-tele untuk apa Nola memakai mobil seorang diri, Pak Kusuma telah menganggapnya dewasa dan memberikan kebebasan untuk memakai kendaraan sendiri.
Hm... bayangkan, uang banyak, mobil sendirian dengan teman dekat yang mengasyikkan, serta kelonggaran perhatian dari orang tua yang sibuk bekerja. Apa yang terpikir? Pasti. Nola mulai menikmatinya, merasakan petualangan masa remaja dengan sedikit bersenang-senang. Merasakan suasana malam bersama teman, nangkring sana-sini, main ke club di malam hari. Semua benar-benar melenakannya. Ssst, jangan bilang pada ortu bahwa diam-diam Nola mulai menyenangi yang namanya rokok, atau alkohol berkadar ringan.
Untuk relaksasi, itulah pertama kali ketika beberapa teman menawarinya barang tersebut. Barang yang sebelumnya sangat dibenci. Dan sangat membenci seorang wanita yang perokok. Kini Nola alami, ternyata begitu nikmatnya merokok, apalagi di seputaran kampus yang dingin. Dari kampus ini pulalah Nola belajar mengenal rokok dengan alasan dingin dan biar bisa konsentrasi dalam materi yang diberikan sang dosen. Dan begitulah Nola mulai kecanduan barang ini. Apalagi ketika tugas kuliah yang sedikit menguras otak, pelariannya adalah rokok. Walau pastilah ngumpet. Ngumpet dari ortu maksudnya. Hehe….
Jadwal kuliah yang padat dengan rutinitas lain yang dilakukan akhirnya membunuh perasaan waswas dan cemas yang selama ini bertengger di dada. Rasa khawatir terhadap Mia menjadi luluh dengan kesenangan anak muda yang baru saja dinikmati. Apalagi Pak Kusuma tidak pernah bertanya Nola ke mana. Sepertinya ia begitu percaya apa yang dilakukan Nola. Dari dalam hati terkadang muncul pertanyaan, Apakah Pak Kusuma cemas melepasnya sendirian? Apakah tidak takut anak gadisnya terbawa sesuatu hal yang negatif? Pertanyaan itu seringkali muncul di benak Nola.
Dan sepertinya Pak Kusuma tak peduli. Ia lebih asyik memikirkan aset perusahaan. Menumpuk harta terus untuk kesenangan duniawi. Pak Kusuma memang gila harta. Entah berapa lama ia akan diperbudak harta, tanpa pernah menikmati kesenangan dan keutuhan keluarga. Tak peduli lagi ketika Andre tak pernah ada kabar lagi. Atau Mia yang sudah beberapa minggu tak berkasih kabar.
Nola terkejut mengingatnya. Benar. Telah lama Nola tidak berkomunikasi dengan Mia. Aduh ternyata aku lalai mengingatnya. Dan aku merasa bersalah. Nola membatin. Segera diambil ponsel dan memijit angka di HP-nya, berharap Mia segera mengangkatnya. Tapi apa dikata, Mia tak jua mengangkat telepon. Segera Nola berkirim SMS dan BBM menanyakan kabarnya. Beberapa lama kemudian ada jawaban SMS dan menyatakan bahwa ia baik-baik saja. Serta tak lupa menanyakan kabar Nola. Karena rasa kangen pada Mia, kembali Nola menelepon langsung Mia kembali. Tak diangkat. Itulah selalu, setiap Nola menelepon langsung berharap suara Mia terdengar tidak terbukti juga. Selalu SMS atau BBM yang diterima dan mengabarkan bahwa Mia baik-baik saja.
Ada sedikit rasa khawatir mulai merayapi hati Nola, benarkah Mia baik-baik saja? Sementara hampir satu bulan ia berada di Bali. Dan sepertinya Pak Kusuma, pun Ibu kalem saja dengan keadaan Mia.
“Bu. Kapan Kak Mia pulang?” tanya Nola ketika sarapan pagi.
“Tumben kamu nanyain Kak Mia, La?”
“Kangen saja, Bu. Ibu tidak kangen? Kak Mia sudah hampir satu bulan di Bali. Janjinya kan satu minggu?”
“Iya. Mungkin ada urusan lain, La.”
“Ibu nggak khawatir?”
“Khawatir apa, La? Ia kan sama suaminya. Sama Alex.”
“Lagian, Mia sudah bilang sama Ayah memperpanjang waktunya di Bali. Selain liburan, juga mau berkunjung ke saudara Alex di sana. Katanya belum semua dikunjungi,” Pak Kusuma tiba-tiba datang dari kamarnya.
“Sudah bilang ke Ayah?”
“Sudah. Beberapa waktu lalu.”
“Ibu telepon lagi deh. Aku ingin dengar suara Kak Mia. Aku kangen berat. Tiap kutelepon nggak pernah diangkat.”
“Sudah. Tadi Ibu telepon.”
“Diangkat?”
“Yang ngangkat Alex. Dia bilang kakakmu baik-baik saja. Cuma harus bed rest. Makanya kepulangannya diundur.”
“Kenapa? Sakit?”
“Hamil.”
“O, kalau itu aku udah tau,” Nola terkejut dengan omongannya sendiri. Ketika ingat pertengkaran di malam itu.
“Kapan kau tau? Kata Alex cuma Ibu yang baru tau.”
“Semalam Kak Mia SMS,” Nola membohongi Bu Kusuma. Tak mau membuat cemas. Apalagi mengatakan yang sebenarnya. Bahwa usai menikah, di malam itu, pertengkaran hebat telah terjadi antara Mia dan Alex. Itu tidak mungkin. “Yah, aku pulangnya malam, ya. Ada kuliah tambahan,” ucap Nola sambil berlalu.
“Ya. Hati-hati, ya. Oh ya, kemarin Ayah udah transper ke rekening uang jatahmu. Ayah khawatir uangmu habis karena kegiatan kuliah.”
“Makasih. Ayah is the best. Ditambah kan, uangnya?”
“Iya. Sudah Ayah tambah.”
“Asyiik. Thanks.”
***

Other Stories
Jodoh Nyasar Alina

Alina, si sarjana dari Eropa, pulang kampung cuma gara-gara restu Nyak-nya. Nggak bisa ker ...

Metafora Diri

Cerita ini berkisah tentang seorang wanita yang mengalami metafora sejenak ia masih kanak- ...

Dua Bintang

Setelah lulus, Manda ikut Tante Yuni ke Jakarta untuk melupakan luka keluarga. Tapi dikhia ...

Adam & Hawa

Adam mencintai Hawa yang cantik, cerdas, dan sederhana, namun hubungan mereka terhalang ad ...

Perpustakaan Berdarah

Segala sumpah serapah memenuhi isi hati Gina. Tatapan matanya penuh dendam. Bisikan-bisika ...

Sayonara ( Halusinada )

Raga berlari di tengah malam, tanpa sekalipun menengok ke belakang. Ia kelalahan hingga te ...

Download Titik & Koma