12. Someone Targeting Them
“La,” seseorang tiba-tiba menyapa Nola ketika baru saja membuka pintu mobil. Melangkah ke luar menuju rumah.
“Pei, dari mana saja kau?” Nola menghambur ke pelukannya. Perasaan yang sedari tadi ditahan agar tak ada air mata kini jatuh sudah. Nola membenamkan seluruh kepala ke dalam dada Pei.
“Maaf aku tak bisa datang ketika kejadian itu. Maafkan aku ya, La. Yang penting ingat kau harus sabar dan sabaaar. Ikhlaskan semua yang terjadi,” Pei memeluk Nola lebih erat. Menciumi kepala bertubi. “Jangan bersedih ya, Sayang.”
“Tapi mengapa semua begitu cepat, Pei. Aku belum sempat bertemu Kak Mia. Bahkan belum sempat menyaksikan langsung perut buncitnya. Ah, Pei kalau kau tau betapa hati ini begitu terluka.”
“Ssst... mungkin itu yang terbaik untuk Kakakmu. Bukankah kau sering cerita kalau suaminya itu terlalu mengekang? Dan mungkin ini jalannya. Ia tak mau membuat semua keluarga cemas karena deritanya.”
“Ya. Aku ikhlaskan dia, Pei. Walau tetap saja aku bersedih.”
“Wajar. Sangat wajar kalau kau bersedih. Tapi jangan berlarut-larut. Ingat kondisimu, kuliahmu ya.”
Pertemuan dengan Pei kali ini membuat hati Nola sedikit lega. Rasa sumpek yang ada di hati berangsur hilang. Saat ini Nola begitu butuh teman curhat yang dapat hilangkan beban di dada. Dan pada Pei Nola ceritakan semua gundahnya. Pun perihal kecurigaannya pada Alex.
“Bagaimana menurutmu?”
“Itu adalah hakmu, La. Tapi menurutku nggak usah berprasangka pada yang lain. Mia sudah tidak ada. Kasihan Mia di alam sana, ia ingin istirahat tenang. Jangan kau ganggu ia dengan urusan dunianya.”
“Jadi menurutmu aku tak usah meneruskan kecurigaan ini?”
“Terserahlah...”
***
Semenjak Mia meninggal, keadaan rumah Pak Kusuma menjadi mencekam. Ketakutan dan kematian menjadi teman mereka semua. Banyak hal tragis yang kemudian seolah menguntit.
Dimulai dari Mang Maman, sopir mereka. Mulanya semua menganggap wajar dan menganggap itu sebuah takdir. Tapi kemudian menyusul meninggalnya Bi Ina, juga kecelakaan yang menyebabkan Pak Kusuma harus dirawat ekstra di rumah sakit. Apalagi seorang saksi yang mengatakan bahwa mobil Pak Kusuma sengaja ditabrak oleh seseorang, menyebabkan mobil oleng. Beruntung saat itu ada sebuah pilar yang menyangga mobil, tak membuat mobil terjatuh ke dalam jurang.
Orang pintar sengaja didatangkan ke rumah untuk menguak misteri. Beraneka sesajen sempat tersaji di rumah beberapa lama. Tapi sang misteri tetap tertutup. Tabir tak sedikit pun terbuka. Tetap menyimpan misteri.
Pastilah pelaku mengira bahwa Nola yang mengendarai mobil tersebut, karena mobil yang dibawa Pak Kusuma adalah mobil Nola. Tapi waktu itu entah mengapa mobilnya macet alias tak bisa hidup, akhirnya Nola memakai mobil Pak Kusuma karena terburu. Pak Kusuma memanggil dulu ahli bengkel ke rumah dan memperbaikinya. Mereka semua tercengang dan menyadari bahwa ada seseorang yang berusaha membunuh. Someone has targeting them. Until killed. Menghancurkan keutuhan keluarga. Bayang-bayang kematian terus menguntit. Semua saling berprasangka dan menjadi tidak betah di rumah.
Keadaan yang kacau diperparah dengan perebutan perusahaan oleh anak-anak Pak Kusuma. Doni dan Yuki beserta istri-istrinya. Nola begitu bersedih, di saat ayahnya terkapar di rumah sakit, semakin berada di ujung tubir ketika kakaknya malah ribut mempermasalahkan harta. Tega sekali.
Beruntung Pak Kusuma selamat walau mengalami luka cukup serius. Bu Kusuma karena ingin lebih merawat suami, atas inisiatifnya ia meninggalkan sesaaat rutinitas kerja dan seutuhnya mengurus Pak Kusuma. Dan semua membuat kondisi perusahaan menjadi lebih tak terurus. Kini Bu Kusuma sudah tak peduli lagi dengan perusahaan yang selama ini dibina dengan cucuran keringat dan kerja keras.
Kecelakaan yang menimpa Pak Kusuma telah membuat sadar, bahwa ada yang lebih utama dari semua harta yang selama ini ditumpuk terus. Awalnya ketika Pak Kusuma di rumah sakit, Bu Kusuma masih berusaha untuk membagi waktu antara kerja dan mengurus suami. Tapi semakin lama ada rasa kehilangan, ada rasa kebersamaan yang mulai terenggut karena ketiadaan suami di sisinya. Terpikir dan terpikir terus oleh Bu Kusuma apalah yang dicari selama ini, bukankah harta telah melimpah? Anak-anak sudah begitu mandiri?
Hingga diputuskan bahwa ia hengkang dari perusahaan. Menyerahkan segala urusan perusahaan pada Doni juga Yuki. Bu Kusuma telah mewanti-wanti bahwasanya semua harus akur, jangan saling berselisih.
Yang diniatkan Bu Kusuma kali ini adalah ingin selalu mendampingi Pak Kusuma dalam suka dan duka, mengingat umur yang sudah semakin tua. Terlebih ketika mengingat Pak Kusuma yang mengalami celaka yang parah. Bayangan kematian Bi Ina dan Mang Maman, pun Mia silih berganti datang. Semenjak itu Bu Kusuma menjadi berubah. Dulu ia yang diperbudak uang, kini tidak. Lebih mendekatkan pada Sang Pencipta.
Bi Ina dan Mang Maman, suami istri itu mungkin telah abadi di alam sana bak seorang pengantin yang selalu bermandi cinta. Dan Bu Kusuma tak mau cintanya berpaling. Di akhir hayatnya rasa cinta hanya seutuhnya untuk Pak Kusuma. Tak adil rasanya jika semakin lama menumpuk harta tapi hati semakin senyap dan gersang tanpa Pak Kusuma di sampingnya. Tak ingin kehilangan orang-orang tercinta setelah Mia, kali ini Bu Kusuma ingin menyatukan keluarga yang terpecah.
Setelah Pak Kusuma sedikit pulih dan bisa dibawa ke rumah. Bu Kusuma mengumpulkan semua keluarga. Pun Andre dan Alex. Bu Kusuma sudah menganggap Alex anaknya. Mulai itu ia berkata agar semua bekerja sama saling mencintai seia sekata. Bu Kusuma tak mau ada sesuatu terjadi pada mereka. Di sisa hidupnya ia menginginkan keutuhan keluarga, bukan karena perebutan harta. Ucapan syukur keluarga besar panjatkan atas keselamatan Pak Kusuma. Walau kini harus berjalan dengan bantuan kursi roda. Tapi setidaknya semua membawa hikmah untuk selalu mendekatkan diri pada Sang Kholik. Rasa cinta, saling menyayangi semakin tumbuh erat dalam keluarga besar.
***
Other Stories
Mak Comblang Jatuh Cinta
“Miko!!” satu gumpalan kertas mendarat tepat di wajah Miko seiring teriakan nyaring ...
Cinta Rasa Kopi
Kesalahan langkah Joylin dalam membina bahtera rumah tangga menjadi titik kulminasi bagi t ...
Curahan Hati Seorang Kacung
Setelah lulus sekolah, harapan mendapat pekerjaan bagus muncul, tapi bekerja dengan orang ...
Menantimu
“Belum tidur Zani?” “Belum. Ngak bisa tidur.” “Hehe. Pasti ada yang dipikirin ...
Perpustakaan Berdarah
Sita terbayang ketika Papa marah padanya karena memutuskan masuk Fakultas Desain Komunikas ...
Rindu Yang Tumbuh Jadi Monster
Adrian nggak pernah nyangka, jatuh cinta bisa berawal dari hal sesederhana ngeliat cewek n ...