Suara Dari Langit

Reads
4.3K
Votes
0
Parts
20
Vote
Report
Penulis Nina Rahayu Nadea

17. Masa Kecil Pei

Dapat bersekolah bareng Alex adalah hal yang mengasyikkan, itulah yang dipikirkan Pei. Karena dengan begitu ia dapat bersama bermain dengan Alex. Merasakan beragam permainan yang Alex punya. Tapi tidaklah selalu begitu. Karena kelasnya dengan kelas Alex berbeda. Tidak selalu bersama dalam setiap saat. Pastilah beda. Karena Pei dan Alex memang beda kelas. Beda tingkatan. 1 tingkat lebih tinggi dibanding Pei. Atas keinginan Barata mulanya, bahwa Pei masuk ke Sekolah Dasar yang sama. Biar Alex dan Pei selalu bersama. Biar tidak terbagi dalam mengawasi.
Mulanya Pei biasa saja dalam berperilaku. Tapi semakin lama bersama Alex, ia dapat merasakan begitu banyak barang yang mewah dimiliki Alex. Begitu banyak baju-baju baru yang Alex miliki. Dan semua tak sebanding dengan dirinya. Pei kecil belum mengerti mengapa ada perbedaan pada dirinya. Bukankah mereka hidup satu rumah? Bukankah selalu diantar sopir yang sama? Pei selalu cemburu melihat apa yang dipakai Alex yang serba baru. Walau pun selalu jalan bareng ternyata penampilan mereka sangatlah mencolok.
Lihatlah baju yang dipakai Pei, semuanya baju pemberian. Pemberian dari Alex. Pun sepatu sampai alat tulis. Semua adalah pemberian keluarga Barata, baik yang baru atau pun bekas. Pernah beberapa kali temannya mengolok karena memakai barang Alex.
“Pei, kamu ngambil barang Alex, ya?”
“Siapa yang ngambil?”
“Buktinya. Sepatu juga tas ini. Semuanya kepunyaan Alex kan?”
“Itu bukan punyaku,” Alex tiba-tiba datang dan mendekat ke arah temannya.
“Lantas punya siapa, dong?”
“Ibuku memberikannya untuk Pei karena udah sempit dan lusuh,” Alex berkata dengan polos.
Beberapa teman kemudian cuek. Tapi beberapa pula ada yang cengegesan. Malah terus meledek Pei dengan sebutan si tukang rongsok. Tukang yang selalu menerima barang bekas. Keterlaluan. Hati Pei begitu marah, begitu kecewa. Berulang kali ia berbicara pada ibu dan bapaknya, tapi tak ada jalan keluar. Ibunya yang memang mempunyai ekonomi yang pas-pasan tak mungkinlah mengabulkan keinginan anaknya agar membelikan barang mewah seperti kepunyaan Alex.
Semakin hari Pei semakin merasakan ketidaknyamanan. Bukan ketidaknyamanan sebenarnya, tapi rasa iri di hati begitu meletup. Melihat barang yang dipakai Alex selalu lebih bagus darinya, selalu mahal dan tak terbeli oleh keluarganya yang hanya pegawai biasa. Perasaan itu menikam hatinya. Semakin lama semakin membuat goresan yang begitu dalam. Pei cemburu besar, tapi tak ada yang bisa dilakukannya. Bermain bareng, belajar bareng adalah salah satu cara yang dilakukan Pei agar dapat menikmati barang kepunyaan Alex.
Dan Alex senantiasa memperlakukan Pei sebaik mungkin, layaknya saudara sendiri. Alex begitu baik, apa pun mainan yang dimintakan Pei pastilah dikasih dengan baik, dan itu membuat Pei semakin menguasai apa yang dipunyai Alex. Terkadang ketika sedang bermain bersama, yang menguasai permainan hanyalah Pei dan Pei.
Alex berusaha diam dan sabar, memberi semua yang diambil Pei. Tapi ketika semakin lama Pei semakin tak memberinya peluang unuk menggunakan haknya. Alex berontak.
“Ini punyaku,” Alex mengambil barang yang diambil Pei. Mainan baru yang belum sekali pun dipakai olehnya.
“Minjam dong,” Pei tak kalah keras. Mengambil paksa barang yang ada di tangan Alex.
“Kamu minjam terus. Ini kan punyaku.”
“Ih. Kamu kok pelit?” Pei cemberut.
“Sudahlah, bersabar saja. Ingat, dia itu kan saudara kita juga,” Mama Alex mengelus rambut putranya. Walau dalam hati membenarkan apa yang diucapkan Alex. Semakin lama. Semakin bersama dalam satu atap, ternyata membuat semua berubah.
Keluarga Bayu selalu menganggap rumah ini adalah rumahnya. Mengatur segala yang ada di sini, seolah miliknya saja. Tapi istri Barata tak mau bertindak, tak mau membuat kondisi keluarga menjadi retak. Bukankah mertuanya pernah beramanat pada Barata, pun pada dirinya ketika masih hidup, bahwa harus senantiasa melindungi dan menjaga keluarga Bayu sampai kapan pun. Amanat yang berat memang.
Tapi di saat keluarga mengalami masalah. Di saat keluarga intinya mulai terusik dengan kelakuan Bayu dan istrinya pun anaknya apa mereka harus diam?
“Bersabarlah, Ma. Semoga secepatnya ada jalan untuk kita. Untuk kebaikan kita semua,” Barata berkata. Berusaha menenangkan istriya. Ia dapat menangkap kegelisahan dan kecemasan dari raut muka istrinya.
“Tapi aku takut, Mas. Psikologis anak kita, Alex menjadi labil dan tidak punya pegangan karena selalu bersama Pei. Pei itu membawa pengaruh buruk. Coba Mas perhatikan tingkahnya! aku benar-benar tak sanggup bersama mereka kembali.”
“Lantas bagaimana?”
“Aku puya sedikit tabungan. Mungkin cukup untuk rumah sederhana mereka.”
“Baiklah nanti aku bicarakan pada Bayu.”
***
“Bayu. Alhamdulillah aku punya sedikit rezeki untuk keluargamu.”
“Maksudmu?”
“Aku akan buatkan rumah untukmu. Insya allah, walaupun kecil, tapi mudah-mudahan mampu menghalangi kalian dari panas dan hujan.”
“Alhamdulillah, terima kasih Bara. Kau memang kakak yang baik.”
Maka semenjak itu Bayu dan Barata hidup berpisah. Bersama dalam keluarga masing-masing. Dan keluarga Bara bisa bernapas lega, karena dengan demikian mereka dapat hidup berkumpul dengan keluarga utuhnya tanpa pernah ada campur tangan pihak lain. Tanggung jawab sebagai seorang kakak, kiranya cukup sudah. Memberikan rumah, memberi pekerjaan serta memberi perhatian untuk Pei walau tidak serumah. Mungkin cukup sudah.
Adapun Bayu, dalam bekerja semakin giat. Tak lain yang diinginkanya agar dapat mencukupi segala kebutuhan keluarga. Apalagi mengingat keinginan Pei yang semakin meninggi. Ingin ini ingin itu, berbagai cara dilakukan agar keinginan anak dan istrinya bisa terpenuhi. Tapi gaji sebagai pegawai rendahan tidaklah cukup untuk memenuhi kebutuhan mereka yang semakin meninggi.
Pertengkaran seringkali terjadi di rumah. Tak lain yang menjadi penyebab cekcoknya mereka adalah karena ekonomi. Istri Bayu menuntut untuk memberi uang lebih. Sebagai seorang istri yang semula terbiasa hidup nyaman dan mewah dalam lingkungan keluarga Barata, kini tak lagi bisa menikmatinya.
Padahal semasa tinggal di rumah Barata, seringkali ia merasakan nikmatnya makanan enak, jalan-jalan ke luar kota, ke mall atau menonton film. Dan semuanya bisa dilakukan dengan gratis. Kini tidak lagi. Kini seutuhnya dia harus membagi keuangan yang diterima dari gaji suaminya saja. Tidak lebih.
Tidak ada lagi kegiatan untuk bersenang-senang atau memanjakan anaknya dalam memberi makanan mewah. Praktis semua membuat ia kewalahan dengan permintaan Pei yang terus menerus. Pei tidak mau tahu, keinginannya harus selalu terpenuhi. Ia akan membanting, berteriak marah jika keinginannya tak terpenuhi.
Bayu berpikir gerangan apa yang harus dilakukannya agar bisa mencukupi kebutuhan anak istrinya. Agar tangisan dan teriakan Pei tidak lagi terdengar di rumahnya. Hatinya begitu teriris pilu apabila mendengar Pei menangis. Sebagai orang tua, pastilah ingin membuat anak dan istrinya bahagia. Tersenyum ketika suatu cara mulai mampir di hatinya.
Mulai itu sedikit demi sedikit roda perekonomian meningkat. Tak ada lagi rengekan Pei atau tangisan Pei, karena semua barang pasti terpenuhi dengan mudah. Tak ada lagi pertengkaran dengan istrinya karena kebutuhan sang istri yang terpenuhi. Hatinya begitu bahagia melihat anak istrinya hidup senang dan romantis di tengah keluarga.
Tapi kebahagiaan dan kerukunan itu hanya sesaat. Ketika suatu malam polisi datang ke rumah, menggeledah seluruh barang yang ada di rumah. Rumahnya tak luput diberi police line. Bayu tak berkutik ketika dimasukkan ke dalam daftar orang yang melakukan korupsi di perusahaan milik Barata. Ia memang merasa dan mengakui perbuatannya. Yang membuat sakit hati tiada terkira adalah Barata. Ya, Barata. Tega sekali dia menjebloskannya ke jeruji besi. Padahal sebagai pemilik perusahaan, ia dapat dengan mudah menghapus perkara dan menjalankan dengan cara kekeluargaan.
Tangisan serta ibaan istrinya yang datang pada Barata dan istrinya tak digubris. Mereka lebih baik menyelasaikan perkara lewat pengadilan.
“Itu bukan wewenang saya. Karena semua perkara sudah dilimpahkan pada yang berwenang. Sebaiknya kalian datangi saja mereka,” dengan muka masam istri Barata berkata pada adik iparnya. Tak ada lagi senyum yang biasa tersungging di bibirnya.
“Kasihanailah anak saya, Pei yang sedang bersemangat sekolah. Apa jadinya ia melihat ayahnya dipenjara?” istri Bayu menangis tersedu.
“Itu semua karena pilihan kalian. Karena ulah Bayu sendiri. Saya sudah cape mengurus kalian. Maafkan saya, saya tidak bisa membantu,” istri Bara tegas pada pendirian. Ya, memang dia sudah begitu muak dengan keadaan. Selama ini ia mampu bersabar dan bersabar. Berusaha menahan semua gejolak yang ada di hati. Tapi kini, haruskah dengan mudah memaafkan orang yang telah membuat perusahaannya hancur, dan membuat keluarganya harus merintis kembali perusahaan yang telah dirintisnya sejak lama?
Penyesalan sesaat datang pada dirinya karena telah menolong keluarga Bayu. Mengapa begitu tega keluarga Bayu melesapkan keinginan, membuat harapan yang baru dipupuk bermekaran berangsur hilang. Kekeluargaan dan silaturahmi yang selama ini dijaga demi sebuah keutuhan harus terberai karena kelakuan sesaat. Karena ingin menikmati kesenangan sekejap.
Kehidupan Pei mulai berubah. Di sekolah ia menjadi anak pemurung. Olokan dan cemooh selalu hadir di depannya karena perlakuan teman-temannnya. Teman-temannya banyak yang tidak mau berteman dengannya yang hanya seorang anak miskin. Bukan hanya anak miskin yang mampir di telinganya, tapi seringkali sebutan anak koruptor mampir di telinganya.
“Awas ada anak koruptor lewat!’ teriak teman-temannya menyingkir dari Pei yang kebetulan lewat.
Pei hanya menunduk, tak kuasa melihat. Kesedihan selalu menjadi temannya kini. Keceriaan masa kecil yang harusnya didapat ketika sekolah musnah sudah. Tak ada lagi teman, tak ada lagi kegiatan yang dapat menghibur hatinya. Hanyalah kesedihan dan kepiluan.
Bukan hanya itu, anak penjara pun seringkali terdengar di telinga Pei.
“Pei, bapakmu seorang penjahat yah?”
“Lho kok tau?” timpal yang lain.
“Kemarin kan aku berkunjung ke penjara. Hahaha…” itulah olok-olok teman yang selalu didengarnya. Tak bosan sepertinya mereka mencaci dan mencemooh dirinya. Bukan hanya itu, Alex yang biasanya selalu berteman, selalu bersama di sekolah. Kini tidak lagi. Ia lebih memilih menjauhinya. Lebih memilih berteman bersama yang lain. Padahal selama ini yang selalu mendukung dan membelanya adalah Alex. Tapi kini Alex menjauhinya. Keluarganya mungkin yang melarangnya. Alex itu tetap baik. Karena pernah suatu kali dengan sembunyi Alex memberi Pei cokelat waktu istirahat.
“Ssst… sini,” teriaknya halus dari tempat yang tersembunyi ketika Pei termenung sendiri, merasakan perut yang lapar karena tidak ada makanan yang bisa dilahap. Ibunya tak memberi uang sedikit pun. Mulanya Pei tak beranjak. Ia malu pada Alex, tapi ketika berulang kali Alex memanggilnya, ia pun memberanikan diri mendekat.
“Ambillah cokelat ini, jangan bilang siapa-siapa,” ucapnya cepat sambil berlari tak memedulikannya.
Ah, Alex memang baik. Cokelat yang baru diterimanya dimakan dengan lahap.
***

Other Stories
Bungkusan Rindu

Setelah kehilangan suami tercintanya karena ganasnya gelombang laut, Anara kembali menerim ...

Seribu Wajah Venus

Kisah-kisah kehidupan manusia yang kuat, mandiri, dan tegar dalam menghadapi persoalan hid ...

Prince Reckless Dan Miss Invisible

Naes, yang insecure dengan hidupnya, bertemu dengan Raka yang insecure dengan masa depann ...

Keikhlasan Cinta

6 tahun Hasrul pergi dari keluarganya, setelah dia kembali dia dipertemukan kembali dengan ...

Melupakan

Agatha Zahra gadis jangkung berwajah manis tengah memandang hujan dari balik kaca kamarn ...

Cinta Rasa Kopi

Kesalahan langkah Joylin dalam membina bahtera rumah tangga menjadi titik kulminasi bagi t ...

Download Titik & Koma