Suara Dari Langit

Reads
4.3K
Votes
0
Parts
20
Vote
Report
suara dari langit
Suara Dari Langit
Penulis Nina Rahayu Nadea

20. Karena Aku Terlalu Cinta

Segera dipacu mobilnya untuk mencari suasana yang bisa mendinginkan kepalanya. Daerah Lembang menjadi pilihannya. Ketika beberapa saat ia nangkring di depan seorang penjual jagung bakar dan menikmatinya, tak diteruskan ketika tiba-tiba ada mobil yang lewat. Mobil yang tak asing lagi. Nola. Mau ke mana ia malam-malam begini mengendarai mobil? Segera diraih HP untuk menelepon Nola, tapi tak diangkat. Khawatir akan sesuatu, apalagi teringat ketika ancaman suatu hari padanya bahwa ia akan tetap menuntutnya, akan menjebloskan dirinya ke penjara. Alex begitu khawatir.
Khawatir Nola berlaku nekat dan melakukan tindakan itu sendirian. Menakutkan. Ia tahu Nola orangnya selalu semangat, tidak ada kamus putus asa dalam hidupnya. Tanpa pikir panjang Alex mengendarai mobilnya dengan jarak yang tidak terlalu dekat ia menguntit mobil Nola dari belakang.
Terkesiap ketika melihat mobil Nola masuk ke sebuah perkebunan. Kebun luas yang sangat sepi. Gila! Mau apa dia malam-malam begini datang ke sini? Rasa penasaran semakin meninggi dan membuat Alex tak menyerah untuk terus membuntuti Nola. Rasa sayang dan cinta pada Nola lah yang membuatnya terus berusaha mencari tahu apa yang sebenarnya dilakukan Nola. Tak mau adik semata wayangnya melakukan hal yang tidak diinginkan.
Mobilnya berhenti. Ketika mobil Nola mendekat ke sebuah rumah. Rumah yang sangat terpencil dan sangat sederhana. Beberapa saat ia menunggu, tapi Nola tidak muncul. Maka, ia pun memberanikan diri ke luar dari mobil. Mengendap, takut ketahuan oleh Nola. Terkejut ketika mendengar ada yang bercakap, kemudian suara pintu dibanting. Alex semakin mendekat. Berdiri persis di bawah jendela kamar yang tak lain adalah kamar Pei. Dari sanalah Alex dapat mendengar dengan jelas tentang apa yang terjadi. Tanpa menunggu lama, Alex menelepon Beno dan menceritakan tentang kejadian yang didengarnya.
Beno ternyata seorang anggota polisi. Sebenarnya ia sudah tahu siapa Pei. Pei adalah orang nomor satu yang saat ini menjadi incaran polisi. Dia adalah seorang pengedar narkoba. Buron kelas kakap, tapi ia tak mau Nola tahu. Beno tahu bahwa Nola begitu cinta pada Pei. Dan tanpa pengetahuan Nola, diam-diam Beno menyimpan seseorang untuk selalu mengawal Nola. Dan ia sengaja menghilang dari pandangan Nola.
Tanpa Alex dan Nola ketahui, jauh sebelum Alex menelepon. Beno ternyata sudah berada di sekitar perkebunan. Ia dengan beberapa temannya membuat siaga dan mengepung tempat tersebut, dengan harapan bahwa Pei dapat ditangkap hidup-hidup dan diadili.
Tanpa perlu lama lagi seluruh tempat itu langsung terkepung. Situasi tidak terkendali ketika Nola loncat dari kamar dan berusaha menghindar. Nola tidak tahu bahwa tanah di belakang jendela itu adalah jurang. Situasi yang sulit untuk menyelamatkan Nola. Hingga akhirnya Nola terjatuh ke dalam jurang.
Beruntung ia dapat memegang akar pepohonan yang ada di sana. Beberapa saat kejadian yang menegangkan itu terjadi. Karena terpaksa, Beno akhirnya menembakkan senjata ke arah Pei.
***
“Kenapa Kakak tau aku di tempat Pei?”
“Kakak menyayangimu, La. Kakak tak tega melihatmu keluyuran sendiri di malam hari. Kebetulan Kakak melihat mobilmu. Lalu Kakak ikuti. Apalagi masuk ke kebun yang kata orang banyak penghuninya. Kamu benar-benar pemberani, La.”
“Kak.”
“Apa, La?”
“Maafin Nola, ya,” Nola memeluk Alex.
“Sudahlah, yang lalu biarlah berlalu. Kau adalah adikku, La. Mia sempat berkata pada Kak Alex agar selalu menjagamu,” Alex membelai rambut adiknya.
Semua begitu bahagia akhirnya keadaan telah terkendali. Masalah yang bertubi itu akhirnya dapat terselesaikan dengan baik dengan pelaku yang akhirnya dapat terbongkar. Semua tak ada yang percaya bahwa Pei ada di balik semua ini. Pei yang santun dan taat beragama, begitu tega melakukan perbuatan yang keji.
Suasana diam berubah menjadi tangis kembali ketika rumah kedatangan tamu.
“Mbak maafkan aku, baru datang sekarang ini,” ucap wanita itu memeluk Bu Kusuma yang menangis. Keluarga itu pun terharu. Bersedih kembali.
“Sudahlah. Semua baik-baik saja. Sama siapa ke sini?”
“Sama suamiku.”
“Maafkan aku juga Mbak, baru sempat kemari.” ucap seorang laki-laki yang baru muncul.
“Nola mana?”
“Di kamar. Temuilah dia.”
“La... ada Om, nih.”
Nola berusaha bangkit. Tapi ternyata kepalanya masih pusing hingga merebahkan badannya kembali.
“Sudahlah diam di sini, tak perlu kau bangun segala, La,” laki-laki yang ternyata Om Darwan datang dan merangkul Nola. “Sudah baikan sekarang? Sabar yah, La,” Om Darwan membelai kepala Nola.
“Ya. Om...”
“Dia...?” Om Darwan tak melanjutkan bicara. Pandangannya mengarah pada Alex.
“Oh, dia Kak Alex. Suaminya Kak Mia.”
“Oh… ini yang dibicarakan Mia waktu itu. Maaf ya, Lex. Om ngak bisa datang ke acara pernikahanmu waktu itu,” Om Darwan menyalami Alex. Alex hanya manggut sambil berpikir. Dalam memorinya mulai bermunculan wajah-wajah baru. Wajah laki-laki yang serasa begitu dekat dalam ingatanya. Siapa dia? Batinnya terus memunguti puing kenangan itu.
“Om ini?” dahi Alex berkerut.
“Aku ini adiknya Bu Kusuma. Mertuamu.”
“Oh!”
“Iya. Waktu itu Mia sempat mau memperkenalkanmu, tapi tak sempat karena kami datang terburu-buru dan harus langsung terbang ke Amerika. Singgah ke sini pun tak sempat karena Om harus bertemu kolega dulu di Vila Bunga. Jadinya Mia yang datang ke sana.”
“Vila Bunga?” Alex baru tersadar bahwa laki-laki di depan ini adalah laki-laki yang bersama Mia di malam itu, laki-laki yang berpelukan dengan Mia. Badan Alex lemas seketika. Ternyata benar bahwa cinta Mia begitu tulus hanya untuknya. Anak yang dikandung itu benar-benar anaknya sendiri. Anak yang semula harus digugurkan karena ketidakpercayaan.
Berutung Mia tak mau melakukannya. Malah ia rela diperlakukan apa pun olehnya asal satu, jangan pernah menyakiti bayi yang dikandungnya. Itu permintaannya. Hingga di malam pengantin itu, malam yang seharusnya menjadi malam yang berbahagia karena malam pertama, menjadi malam neraka bagi Mia.
Alex bersikukuh untuk tidak menerima bayi yang dikandungnya. Alex meminta Mia untuk menggugurkannya tapi Mia berontak karena tak pernah melakukan perbuatan nista itu. Pertengkaran dan pertengkaran kerap terjadi. Pertengkaran karena menganggap bahwa janin yang dikandung Mia adalah anak orang lain, anak hasil perselingkuhan. Maafkan aku Mia. Aku tetap mencintaimu. Hati Alex berkata.
***
Malam itu begitu cerah. Bintang-bintang saling mengintip dari langit. Mengintip dua insan yang sedang bermesra. Disaksikan purnama yang bulat penuh itu oleh Nola dan Beno yang duduk dengan santai di pekarangan rumah.
“Kenapa tak kau katakan padaku siapa itu Pei, Ben?”
“Karena aku terlalu cinta.”
“Cinta?”
“Ya. Aku mencintaimu, La. Dan aku ingin menjaga perasaanmu. Aku tau bahwa cintamu pada Pei begitu besar. Aku tak mau kau terluka.”
Nola tertegun. Begitu mulia hati Beno. Ia begitu menghargai dirinya. Karena cinta yang besar padanya, tak tega membuat hatinya tersakiti hingga membiarkan Nola mencari jalannya sendiri. Bersenang-senang dengan Pei. Beno cuma menyimpan mata-mata hanya untuk mendapatkan informasi tentang Pei dan Nola.
“Ah, Beno. Benarkah kau mencintaiku?” Nola menatap Beno.
“Ya. Nola. Dan aku ingin kau menjadi istriku, menjadi Ibu dari putra-putriku,” Beno mengecup jemari tangan Nola.
Nola terpejam. Merasakan nikmat dan nyamannya hati. Merasakan rasa yang telah lama hilang, kini kembali datang. Perasaan kasih yang lama gersang setelah kematian Pei. Jujur Nola begitu trauma dengan yang namanya laki-laki dan tak ingin mengulangnya. Nola takut bahwa bersama laki-laki, hanya akan membawa lara dan derita saja. Dan Nola tak mau terjerembab kembali.
Bersama Beno, Nola kembali berusaha belajar dan belajar untuk saling cinta dan mencintai. Dan Beno dengan setia menuntunnya. Tak pernah lelah menuntun untuk menerima cintanya. Tapi perhatian dan sayangnya tak lekang ia berikan pada Nola. Ia membimbing Nola untuk belajar menghargai hidup. Bahwa dalam hidup ini harus ada cinta. Cintalah yang dapat membuat semua orang bertahan dan bertahan. Dan malam ini disaksikan bulan purnama, Nola ingin mencoba bangkit. Ingin merasakan nikmatnya bersama dengan seseorang yang membuat hati bisa merindu.
Trauma mendalam. Mungkin itu yang pas untuk Nola. Nola berusaha untuk menata dahulu hati. Terlebih ketika tahu siapa itu Pei. Cerita yang diketahui telah membuat bulu kuduk berdiri. Apalagi cerita yang satu ini. Cerita yang baru saja Nola ketahui dari Beno. Dari Beno, Nola tahu siapa Pei. Pei adalah pasien dari rumah sakit jiwa. Ia adalah seorang psikopat.
Pantaslah selama ini ceritanya banyak sulit dimengerti, selalu berubah-ubah. Tapi baru disadari kini. Dulu? Tak terlihat. Nola yang seorang calon dokter saja tak bisa membedakan antara manusia normal dan manusia sakit jiwa, seperti Pei. Cinta memang telah mengalahkan segalanya. Membutakan mata hati dan nalar yang seharusnya terasah lewat pengalaman sebagai seorang mahasiswi di Fakultas Kedokteran.
Pengalaman hidup Nola itulah yang kemudian membuat dirinya begitu takut dengan namanya laki-laki. Nola hanya ingin belajar dari pengalaman, tidak mau terjerumus untuk ke dua kalinya. Cinta adalah kata yang begitu mulia dan sepatutnya Nola menerima cinta yang benar-benar utuh dan mengerti segalanya. Nola tidak mau terperangkap kembali dengan perasaan. Dan tak tahu, apakah perasaan yang ada dalam hati terhadap Beno apakah cinta atau rasa takut. Takut bahwa seorang wanita yang kembali akan merasakan sepi.
“La, aku tak pernah memaksamu. Tapi bolehkah aku bertanya?”
“Apa, Ben?”
“Adakah hatimu memberi ruang walau sedikit untuk aku tempati?”
Nola tersenyum dan mengangguk, “Tidak sedikit Ben, tapi banyak. Seluruh hatiku hanya untukmu.”
“Benarkah?”
“Ya. Ben. Mulai detik ini aku siap menerima cintamu. Menjadikan labuhan terakhir untukku. Belajar untuk mencintaimu. Dan semoga kau pun menerima keadaanku.”
“Aku mencintaimu, La. Dengan segala kekurangan yang dimiliki. Sangat cinta!” Beno memeluk Nola erat. Sangat erat. Tapi kemudian Beno mendorong tubuh Nola dengan cepat. “Segera ke belakangku, La!”
“Ada apa, Ben.”
“Cepat!”
Tanpa menunggu. Nola menuruti apa yang dikatakan Beno. Dari balik punggung Beno, Nola melihat seseorang berdiri tegak di sebelah sana, terhalangi pepohonan. Tapi Nola dapat menyaksikan dengan jelas laki-laki yang berdiri kaku itu. Itu adalah...
“Pei!”
***
TAMAT

Other Stories
Yume Tourou (lentera Mimpi)

Kanzaki Suraha, seorang Shinigami, bertugas menjemput arwah yang terjerumus iblis. Namun i ...

Cinta Di Balik Rasa

memendam rasa bukanlah suatu hal yang baik, apalagi cinta!tapi itulah yang kurasakan saat ...

Kukejar Impian Besarku

Ramon, Yongki,Dino,Jodi,Eka adalah sekumpulan anak band yg rutin manggung di sebuah cafe d ...

Egler

Anton mengempaskan tas ke atas kasur. Ia melirik jarum pendek jam dinding yang berada di ...

7 Misteri Korea

Saat liputan di Korea, pemandu Dimas dan Devi terbunuh, dan mereka jadi tertuduh. Bisakah ...

Manusia Setengah Siluman

Reno tak pernah tahu apa itu arti punya orang tua. Ia seorang yatim piatu yang berjuang hi ...

Download Titik & Koma