Bab 1 – Hujan Pertama Di Dermaga
Sore itu, langit Di Sungai Mentaya mulai menghitam. Awan bergelayut rendah, menahan jutaan butir hujan yang tak sabar untuk turun. Angin sungai berhembus lembut, membawa aroma lumpur dan dedaunan basah. Dermaga kayu yang menjorok ke sungai tampak sepi, hanya suara air yang menepuk-nepuk tiang pancang terdengar.
Arga berdiri di ujung dermaga dengan buku catatan kecil di tangannya. Pemuda itu terbiasa menulis di sini, di antara kesunyian dan riak sungai. Tempat ini baginya adalah ruang sunyi untuk berbicara dengan dirinya sendiri. Namun, sore itu hujan tiba-tiba jatuh tanpa aba-aba. Rintik kecil berubah deras dalam hitungan menit.
Dengan tergesa, Arga menutup buku catatannya dan berlari ke satu-satunya atap seng yang ada di dekat dermaga. Nafasnya terengah, rambutnya yang hitam mulai lepek terkena air. Ia menyandarkan punggung ke tiang kayu, membiarkan suara hujan menemani diamnya.
Namun, kesunyian itu tidak lama. Dari kejauhan, seorang gadis berlari kecil, menutupi kepalanya dengan tas kain. Langkahnya agak kikuk, tapi senyumnya tetap merekah meski hujan semakin deras. Ia segera bergabung berteduh di bawah atap yang sama.
“Duh, basah semua,” gumamnya sambil mengibaskan lengan bajunya yang putih.
Arga menoleh sekilas. Ada sepasang mata bening yang tampak hidup, meski bulu matanya dipenuhi titik-titik air hujan. Gadis itu menatapnya sebentar, lalu tersenyum ramah.
“Kita sama-sama korban hujan mendadak, ya?” katanya, mencoba membuka percakapan.
Arga mengangguk kaku. “Iya… Mentaya memang suka begini. Hujan tiba-tiba.”
Gadis itu tertawa kecil, suaranya ringan seperti bunyi lonceng. “Aku baru kembali ke kota ini, jadi masih agak kagok. Ternyata hujannya sama saja seperti dulu, mendadak dan deras.”
Kata “baru kembali” membuat Arga sedikit menoleh. “Kamu orang sini?”
“Iya,” jawabnya sambil memeluk tas kainnya. “Aku Nayla. Sebenarnya sudah lama aku merantau, kuliah di Jawa. Baru beberapa minggu ini pulang.”
Arga mengangguk, agak kikuk seperti biasa. “Aku Arga,” jawabnya singkat.
Ada jeda sejenak. Hanya suara hujan yang memecah diam. Namun, entah kenapa Nayla tidak terlihat canggung. Ia justru melangkah sedikit lebih dekat, mengamati sungai yang tertutup tirai air.
“Aku selalu suka dermaga ini,” ucap Nayla lirih. “Dulu waktu kecil, aku sering main di sini. Rasanya… banyak cerita yang tertinggal.”
Arga memperhatikan profil wajah gadis itu. Senyumnya, tatapannya yang hangat, membuat suasana hujan tak lagi dingin. Ia merasakan sesuatu yang aneh seakan ia pernah menulis sosok seperti ini dalam salah satu ceritanya. Seperti potongan kisah yang mendadak keluar dari kertas dan berdiri di hadapannya.
“Kenapa kamu sering ke sini?” tanya Nayla tiba-tiba, menoleh padanya.
Arga terdiam sejenak, lalu menghela napas. “Menulis. Aku suka menulis di sini. Rasanya… sungai ini selalu punya suara untuk didengar.”
Nayla tersenyum lebar. “Keren. Aku juga suka membaca. Kayaknya kita cocok ngobrol banyak soal itu.”
Senyum itu, bersama derasnya hujan Mentaya, membuat Arga sadar satu hal: sore ini bukan pertemuan kebetulan. Ada sesuatu yang jatuh bersamaan dengan hujan sebuah awal, yang entah akan ke mana membawanya.
Other Stories
Pintu Dunia Lain
Nadiva terkejut saat gedung kantor berubah misterius: cat memudar, tembok berderak, asap b ...
Reuni
Kutukan Kastil Piano membuat cinta Selina berbalik jadi kebencian, hingga akhirnya ia mema ...
Di Bawah Panji Dipenogoro
Damar, adalah seorang petani yang terpanggil untuk berjuang bersama mengusir penjajah Bela ...
Mewarnai Bawah Laut
ini adalah buku mewarnai murah dan meriah untuk anak kelas 4 sd ...
Hanya Ibu
Perjuangan bunga, pengamen kecil yang ditinggal ayahnya meninggal karena sakit jantung sej ...
Mozarela Bukan Cinderella
Moza, sejak bayi dirawat di Panti Asuhan Muara Kasih Ibu oleh Bu Kezia, baru boleh diadops ...