Bab 2 – Benang Merah Takdir
Hujan masih turun deras sore itu, memukul atap seng di atas kepala mereka. Arga dan Nayla berdiri bersebelahan, sama-sama diam, tapi hati mereka berdetak dengan irama yang berbeda.
Arga jarang berbicara dengan orang asing, apalagi dengan perempuan yang baru dikenalnya. Tapi ada sesuatu dari Nayla yang membuatnya tidak merasa terbebani. Entah senyumnya, entah caranya memandang sungai seakan menyimpan kenangan.
“Aku merasa… dermaga ini belum banyak berubah,” kata Nayla sambil menyibakkan rambutnya yang lembap. “Tapi tetap saja ada sesuatu yang hilang. Dulu selalu ramai, sekarang sepi.”
Arga mengangguk pelan. “Orang-orang sudah banyak pindah. Dermaga ini cuma jadi tempat singgah kapal nelayan sekarang. Tidak seramai dulu.”
Nayla menatapnya sekilas, lalu tersenyum tipis. “Tapi kamu masih sering ke sini. Itu artinya kamu punya alasan, kan?”
Pertanyaan itu membuat Arga terdiam. Ia menatap ke arah sungai yang ditutupi kabut hujan. Alasan sebenarnya bukan sekadar menulis dermaga ini menyimpan kenangan pahit yang masih membekas. Namun, ia memilih untuk tidak mengatakannya.
“Tempat ini tenang,” jawabnya singkat.
Nayla tidak memaksa. Ia hanya tersenyum lagi, lalu menengadah ke langit, membiarkan butiran air menetes ke wajahnya. “Aku selalu percaya setiap orang punya ikatan dengan tempat tertentu. Seperti ada benang merah yang menarik kita kembali. Mungkin itu juga yang bikin aku pulang ke sini.”
Arga menoleh, menatap gadis itu. Kata-kata Nayla terasa aneh, seperti menyinggung sesuatu yang lebih dalam. Benang merah? Sebuah istilah yang selama ini hanya ia temui dalam cerita-cerita fiksi, kini terlontar dari mulut seseorang yang baru saja ditemuinya.
“Benang merah?” ulang Arga.
Nayla menunduk sebentar, lalu mengangkat tangannya. Ia memperlihatkan gelang kain tipis berwarna merah yang melingkar di pergelangan tangannya. “Aku percaya, setiap orang punya takdir yang mengikat mereka. Entah pada orang, tempat, atau mimpi. Kadang, kita tidak bisa lari darinya.”
Arga memperhatikan gelang itu. Anehnya, ia merasa jantungnya berdegup lebih kencang. Seolah ada sesuatu dalam dirinya yang terhubung dengan kata-kata Nayla.
Suasana hening lagi. Hanya ada suara hujan dan burung yang terbang rendah di atas sungai.
Nayla kemudian berkata, “Kamu suka menulis, kan? Kalau begitu, ayo suatu saat kamu bacakan ceritamu padaku. Aku ingin tahu dunia seperti apa yang ada di dalam pikiranmu.”
Arga terdiam. Ia biasanya menolak permintaan semacam itu, tapi kali ini tidak ada keberatan dalam hatinya. Hanya ada rasa aneh, campuran takut dan penasaran.
Saat itu juga, hujan mulai reda. Awan perlahan terbelah, memperlihatkan langit senja berwarna jingga. Sungai Mentaya memantulkan cahaya, seperti lembaran kaca yang berkilau.
Nayla menatap pemandangan itu dengan mata berbinar. “Lihat, hujan berhenti. Kayak semesta tahu kita butuh waktu untuk bicara.”
Arga hanya tersenyum samar. Ia menutup catatannya, tapi dalam hati ia sadar: pertemuan ini bukan kebetulan. Ada sesuatu yang halus, tak terlihat, seakan menarik mereka berdua ke arah yang sama.
Sebuah benang merah takdir, yang entah akan membawa mereka ke mana.
Arga jarang berbicara dengan orang asing, apalagi dengan perempuan yang baru dikenalnya. Tapi ada sesuatu dari Nayla yang membuatnya tidak merasa terbebani. Entah senyumnya, entah caranya memandang sungai seakan menyimpan kenangan.
“Aku merasa… dermaga ini belum banyak berubah,” kata Nayla sambil menyibakkan rambutnya yang lembap. “Tapi tetap saja ada sesuatu yang hilang. Dulu selalu ramai, sekarang sepi.”
Arga mengangguk pelan. “Orang-orang sudah banyak pindah. Dermaga ini cuma jadi tempat singgah kapal nelayan sekarang. Tidak seramai dulu.”
Nayla menatapnya sekilas, lalu tersenyum tipis. “Tapi kamu masih sering ke sini. Itu artinya kamu punya alasan, kan?”
Pertanyaan itu membuat Arga terdiam. Ia menatap ke arah sungai yang ditutupi kabut hujan. Alasan sebenarnya bukan sekadar menulis dermaga ini menyimpan kenangan pahit yang masih membekas. Namun, ia memilih untuk tidak mengatakannya.
“Tempat ini tenang,” jawabnya singkat.
Nayla tidak memaksa. Ia hanya tersenyum lagi, lalu menengadah ke langit, membiarkan butiran air menetes ke wajahnya. “Aku selalu percaya setiap orang punya ikatan dengan tempat tertentu. Seperti ada benang merah yang menarik kita kembali. Mungkin itu juga yang bikin aku pulang ke sini.”
Arga menoleh, menatap gadis itu. Kata-kata Nayla terasa aneh, seperti menyinggung sesuatu yang lebih dalam. Benang merah? Sebuah istilah yang selama ini hanya ia temui dalam cerita-cerita fiksi, kini terlontar dari mulut seseorang yang baru saja ditemuinya.
“Benang merah?” ulang Arga.
Nayla menunduk sebentar, lalu mengangkat tangannya. Ia memperlihatkan gelang kain tipis berwarna merah yang melingkar di pergelangan tangannya. “Aku percaya, setiap orang punya takdir yang mengikat mereka. Entah pada orang, tempat, atau mimpi. Kadang, kita tidak bisa lari darinya.”
Arga memperhatikan gelang itu. Anehnya, ia merasa jantungnya berdegup lebih kencang. Seolah ada sesuatu dalam dirinya yang terhubung dengan kata-kata Nayla.
Suasana hening lagi. Hanya ada suara hujan dan burung yang terbang rendah di atas sungai.
Nayla kemudian berkata, “Kamu suka menulis, kan? Kalau begitu, ayo suatu saat kamu bacakan ceritamu padaku. Aku ingin tahu dunia seperti apa yang ada di dalam pikiranmu.”
Arga terdiam. Ia biasanya menolak permintaan semacam itu, tapi kali ini tidak ada keberatan dalam hatinya. Hanya ada rasa aneh, campuran takut dan penasaran.
Saat itu juga, hujan mulai reda. Awan perlahan terbelah, memperlihatkan langit senja berwarna jingga. Sungai Mentaya memantulkan cahaya, seperti lembaran kaca yang berkilau.
Nayla menatap pemandangan itu dengan mata berbinar. “Lihat, hujan berhenti. Kayak semesta tahu kita butuh waktu untuk bicara.”
Arga hanya tersenyum samar. Ia menutup catatannya, tapi dalam hati ia sadar: pertemuan ini bukan kebetulan. Ada sesuatu yang halus, tak terlihat, seakan menarik mereka berdua ke arah yang sama.
Sebuah benang merah takdir, yang entah akan membawa mereka ke mana.
Other Stories
Dua Bintang
Setelah lulus, Manda ikut Tante Yuni ke Jakarta untuk melupakan luka keluarga. Tapi dikhia ...
Bukan Cinta Sempurna
Pesona kepintarannya terpancar dengan jelas, rambut sebahunya yang biasanya dikucir ekor ...
Kado Dari Dunia Lain
"Jika Kebahagiaan itu bisa dibeli, maka aku akan membelinya." Di tengah kondisi hidup Yur ...
Membabi Buta
Mariatin bekerja di rumah Sundari dan Sulasmi bersama anaknya, Asti. Awalnya nyaman, namun ...
Perpustakaan Berdarah
Segala sumpah serapah memenuhi isi hati Gina. Tatapan matanya penuh dendam. Bisikan-bisika ...
Hompimpa Alaium Gambreng!
Dalam liburan singkat di sebuah vila pegunungan, Jibon dan teman-temannya berniat menghidu ...