Bab 3 – Rahasia Sungai Mentaya
Matahari sore menetes perlahan di balik awan tipis, meninggalkan jejak cahaya keemasan di permukaan Sungai Mentaya. Air sungai memantulkan kilauan yang berkelip, seolah menyimpan rahasia yang tak pernah habis.
Arga duduk di dermaga dengan buku catatannya. Sudah dua hari sejak hujan pertama mempertemukannya dengan Nayla, namun kata-kata gadis itu tentang “benang merah takdir” masih terus terngiang. Ada sesuatu yang tak bisa ia pahami, tapi sekaligus membuatnya ingin tahu lebih banyak.
“Menulis lagi?” Suara lembut itu datang dari belakang.
Arga menoleh. Nayla berdiri di sana, membawa termos kecil dan dua cangkir plastik. Senyumnya sama cerahnya dengan cahaya senja yang membalut langit.
“Kayaknya kamu betah banget di sini,” lanjutnya sambil duduk di sebelah Arga, menuangkan minuman hangat. “Aku bawain teh jahe. Biar gak dingin kalau sore.”
Arga menerima cangkir itu dengan kikuk. “Terima kasih.”
Mereka duduk berdampingan, menatap sungai yang perlahan tenang. Sesekali perahu kecil lewat, ditumpangi nelayan yang pulang membawa hasil tangkapan.
Nayla menyeruput kopi nya, lalu berkata, “Dulu waktu kecil, aku sering ke sini sama ayahku. Katanya Sungai Mentaya punya rahasia. Kalau kita benar-benar mendengarkan, sungai ini bisa bercerita.”
Arga mengerutkan kening. “Bercerita?”
“Iya.” Nayla tersenyum sambil menunjuk permukaan air. “Lihat riaknya. Setiap gelombang itu seperti kalimat. Kadang tenang, kadang bergemuruh. Sungai ini mengajarkan kita tentang hidup.”
Arga terdiam. Kata-kata itu sederhana, tapi baginya terasa dalam. Ia memandang ke air, mencoba mengerti. Apakah benar sungai ini bisa bercerita? Atau justru ia yang terlalu lama menghindar dari suara masa lalu?
“Arga,” Nayla memanggilnya lembut, “kamu pernah punya rahasia di tempat ini?”
Pertanyaan itu menghantam dadanya. Arga menggenggam cangkir lebih erat. Rahasia itu memang ada tentang kehilangan yang masih menghantuinya, tentang seseorang yang pernah tenggelam di sungai ini. Namun, ia belum siap membaginya.
“Tidak ada,” jawabnya singkat.
Nayla menatapnya sejenak, seolah tahu Arga tidak sepenuhnya jujur. Tapi ia tidak memaksa. Ia hanya menghela napas, lalu berkata, “Kalau begitu, biarkan aku yang berbagi rahasia dulu.”
Arga menoleh dengan penasaran.
“Aku pulang ke Mentaya karena ingin membangun sesuatu di sini. Komunitas kecil, tempat anak-anak bisa belajar membaca, menulis, bercerita. Aku ingin mereka punya mimpi, sama seperti aku dulu.”
Mata Nayla berbinar penuh semangat. “Tapi aku gak bisa melakukannya sendirian. Aku butuh teman.”
Arga menatapnya lama. Di dalam dirinya, ada suara kecil yang berbisik bahwa ini adalah panggilan sesuatu yang selama ini ia hindari, tapi mungkin bisa menyembuhkan.
“Apa kamu mau bantu aku, Arga?” tanya Nayla dengan senyum penuh harap.
Seketika, Arga merasakan denyut di dadanya. Ia tidak langsung menjawab, tapi untuk pertama kalinya sejak lama, ia merasa ada alasan untuk tetap tinggal, untuk tidak terus bersembunyi dalam kesunyian.
Sungai Mentaya beriak pelan, seakan ikut menunggu jawabannya.
Arga duduk di dermaga dengan buku catatannya. Sudah dua hari sejak hujan pertama mempertemukannya dengan Nayla, namun kata-kata gadis itu tentang “benang merah takdir” masih terus terngiang. Ada sesuatu yang tak bisa ia pahami, tapi sekaligus membuatnya ingin tahu lebih banyak.
“Menulis lagi?” Suara lembut itu datang dari belakang.
Arga menoleh. Nayla berdiri di sana, membawa termos kecil dan dua cangkir plastik. Senyumnya sama cerahnya dengan cahaya senja yang membalut langit.
“Kayaknya kamu betah banget di sini,” lanjutnya sambil duduk di sebelah Arga, menuangkan minuman hangat. “Aku bawain teh jahe. Biar gak dingin kalau sore.”
Arga menerima cangkir itu dengan kikuk. “Terima kasih.”
Mereka duduk berdampingan, menatap sungai yang perlahan tenang. Sesekali perahu kecil lewat, ditumpangi nelayan yang pulang membawa hasil tangkapan.
Nayla menyeruput kopi nya, lalu berkata, “Dulu waktu kecil, aku sering ke sini sama ayahku. Katanya Sungai Mentaya punya rahasia. Kalau kita benar-benar mendengarkan, sungai ini bisa bercerita.”
Arga mengerutkan kening. “Bercerita?”
“Iya.” Nayla tersenyum sambil menunjuk permukaan air. “Lihat riaknya. Setiap gelombang itu seperti kalimat. Kadang tenang, kadang bergemuruh. Sungai ini mengajarkan kita tentang hidup.”
Arga terdiam. Kata-kata itu sederhana, tapi baginya terasa dalam. Ia memandang ke air, mencoba mengerti. Apakah benar sungai ini bisa bercerita? Atau justru ia yang terlalu lama menghindar dari suara masa lalu?
“Arga,” Nayla memanggilnya lembut, “kamu pernah punya rahasia di tempat ini?”
Pertanyaan itu menghantam dadanya. Arga menggenggam cangkir lebih erat. Rahasia itu memang ada tentang kehilangan yang masih menghantuinya, tentang seseorang yang pernah tenggelam di sungai ini. Namun, ia belum siap membaginya.
“Tidak ada,” jawabnya singkat.
Nayla menatapnya sejenak, seolah tahu Arga tidak sepenuhnya jujur. Tapi ia tidak memaksa. Ia hanya menghela napas, lalu berkata, “Kalau begitu, biarkan aku yang berbagi rahasia dulu.”
Arga menoleh dengan penasaran.
“Aku pulang ke Mentaya karena ingin membangun sesuatu di sini. Komunitas kecil, tempat anak-anak bisa belajar membaca, menulis, bercerita. Aku ingin mereka punya mimpi, sama seperti aku dulu.”
Mata Nayla berbinar penuh semangat. “Tapi aku gak bisa melakukannya sendirian. Aku butuh teman.”
Arga menatapnya lama. Di dalam dirinya, ada suara kecil yang berbisik bahwa ini adalah panggilan sesuatu yang selama ini ia hindari, tapi mungkin bisa menyembuhkan.
“Apa kamu mau bantu aku, Arga?” tanya Nayla dengan senyum penuh harap.
Seketika, Arga merasakan denyut di dadanya. Ia tidak langsung menjawab, tapi untuk pertama kalinya sejak lama, ia merasa ada alasan untuk tetap tinggal, untuk tidak terus bersembunyi dalam kesunyian.
Sungai Mentaya beriak pelan, seakan ikut menunggu jawabannya.
Other Stories
Rindu Yang Tumbuh Jadi Monster
Adrian nggak pernah nyangka, jatuh cinta bisa berawal dari hal sesederhana ngeliat cewek n ...
Broken Wings
Bermimpi menjadi seorang ballerina bukan hanya tentang gerakan indah, tapi juga tentang ke ...
Hujan Dan Lagu-lagu Tentang Rindu
Randy sekarat, dan seorang malaikat maut memberinya pilihan untuk meminta maaf pada para p ...
Rembulan Di Mata Syua
Pisah. Satu kata yang mengubah hidup Syua Sapphire. Rambut panjangnya dipotong pendek sep ...
Tersesat
Qiran yang suka hal baru nekat mengakses deep web dan menemukan sebuah lagu, lalu memamerk ...
First Snow At Laiden
Bunda Diftri mendidik Naomi dengan keras demi disiplin renang. Naomi sayang padanya, tapi ...