Bab 8 – Pertarungan Dalam Hati
Sejak kedatangan Revan, ada jarak yang tak kasatmata tumbuh di antara Arga dan Nayla. Anak-anak masih datang ke dermaga setiap sore, Nayla masih tersenyum dan membacakan buku, tapi Arga mulai jarang hadir. Jika pun datang, ia lebih banyak diam, hanya duduk di sudut dengan wajah yang sulit dibaca.
Nayla menyadarinya. “Arga, kenapa kamu berubah?” tanyanya suatu sore, saat mereka berdua merapikan buku-buku setelah anak-anak pulang.
Arga menunduk, pura-pura sibuk mengikat tali rakit bambu tempat mereka menaruh buku. “Aku nggak berubah.”
“Tapi kamu menjauh. Kamu bahkan jarang bicara lagi,” Nayla menatapnya tajam, berusaha menembus dinding yang kembali ia bangun.
Arga tidak menjawab. Dalam hatinya, pertempuran berlangsung sengit. Ia ingin berkata jujur tentang rasa cemburunya pada Revan, tentang ketakutannya kehilangan Nayla seperti dulu ia kehilangan Rani. Tapi lidahnya kelu. Ia takut kata-kata itu membuatnya terlihat lemah, tidak pantas.
Di malam hari, Arga semakin sering begadang. Ia menulis berlembar-lembar catatan yang hanya berisi kebingungan:
“Apakah aku cukup?”
“Apakah Nayla lebih bahagia dengan Revan?”
“Aku tidak ingin terluka lagi…”
Kertas-kertas itu berserakan di lantai kamarnya, menjadi saksi bisu perang batin yang terus menggerogotinya.
Sementara itu, Nayla mulai resah. Ia merasa kehilangan sosok Arga yang dulu hangat meski pendiam. Ia rindu saat Arga mau membaca ceritanya untuk anak-anak dengan penuh semangat.
Suatu malam, hujan turun deras. Dermaga yang biasanya ramai kini sepi. Nayla berdiri di bawah atap kayu, menunggu Arga yang biasanya selalu muncul saat hujan. Namun, kali ini tidak ada tanda-tanda kehadirannya.
Air mata menetes di pipinya, bercampur dengan rintik hujan. “Arga… kenapa kamu harus pergi saat aku butuh kamu di sini?” bisiknya pada diri sendiri.
Di tempat lain, Arga berdiri di jendela kamarnya, menatap derasnya hujan yang memukul kaca. Dadanya sesak. Ia ingin berlari ke dermaga, menemui Nayla, dan berkata jujur. Tapi bayangan Revan, bayangan masa lalunya, semua menahannya.
Pertarungan dalam hatinya mencapai puncak: tetap tinggal dalam bayangan luka, atau berani melangkah maju meski penuh risiko.
Namun malam itu, Arga memilih diam. Dan keheningan itulah yang melukai Nayla lebih dalam daripada kata-kata.
Nayla menyadarinya. “Arga, kenapa kamu berubah?” tanyanya suatu sore, saat mereka berdua merapikan buku-buku setelah anak-anak pulang.
Arga menunduk, pura-pura sibuk mengikat tali rakit bambu tempat mereka menaruh buku. “Aku nggak berubah.”
“Tapi kamu menjauh. Kamu bahkan jarang bicara lagi,” Nayla menatapnya tajam, berusaha menembus dinding yang kembali ia bangun.
Arga tidak menjawab. Dalam hatinya, pertempuran berlangsung sengit. Ia ingin berkata jujur tentang rasa cemburunya pada Revan, tentang ketakutannya kehilangan Nayla seperti dulu ia kehilangan Rani. Tapi lidahnya kelu. Ia takut kata-kata itu membuatnya terlihat lemah, tidak pantas.
Di malam hari, Arga semakin sering begadang. Ia menulis berlembar-lembar catatan yang hanya berisi kebingungan:
“Apakah aku cukup?”
“Apakah Nayla lebih bahagia dengan Revan?”
“Aku tidak ingin terluka lagi…”
Kertas-kertas itu berserakan di lantai kamarnya, menjadi saksi bisu perang batin yang terus menggerogotinya.
Sementara itu, Nayla mulai resah. Ia merasa kehilangan sosok Arga yang dulu hangat meski pendiam. Ia rindu saat Arga mau membaca ceritanya untuk anak-anak dengan penuh semangat.
Suatu malam, hujan turun deras. Dermaga yang biasanya ramai kini sepi. Nayla berdiri di bawah atap kayu, menunggu Arga yang biasanya selalu muncul saat hujan. Namun, kali ini tidak ada tanda-tanda kehadirannya.
Air mata menetes di pipinya, bercampur dengan rintik hujan. “Arga… kenapa kamu harus pergi saat aku butuh kamu di sini?” bisiknya pada diri sendiri.
Di tempat lain, Arga berdiri di jendela kamarnya, menatap derasnya hujan yang memukul kaca. Dadanya sesak. Ia ingin berlari ke dermaga, menemui Nayla, dan berkata jujur. Tapi bayangan Revan, bayangan masa lalunya, semua menahannya.
Pertarungan dalam hatinya mencapai puncak: tetap tinggal dalam bayangan luka, atau berani melangkah maju meski penuh risiko.
Namun malam itu, Arga memilih diam. Dan keheningan itulah yang melukai Nayla lebih dalam daripada kata-kata.
Other Stories
Suffer Alone In Emptiness
Shiona Prameswari, siswi pendiam kelas XI IPA 3, tampak polos dan penyendiri. Namun tiap p ...
Tersesat
Tak dipungkiri, Qiran memang suka hal-hal baru. Dia suka mencari apa pun yang sekiranya bi ...
Kastil Piano
Kastil Piano. Sebuah benda transparan mirip bangunan kastil kuno yang di dalamnya terdapat ...
Seribu Wajah Venus
Kisah-kisah kehidupan manusia yang kuat, mandiri, dan tegar dalam menghadapi persoalan hid ...
Dream Analyst
Dream Analyst. Begitu teman-temannya menyebut dirinya. Frisky dapat menganalisa mimpi sese ...
Koper Coklat Ibu
Bagi Arini, Yogyakarta bukan lagi tempat untuk pulang, melainkan ruang bawah tanah yang ia ...