Bab 9 – Cinta Yang Jatuh Bersama Hujan
Langit Mentaya sore itu tampak muram. Awan hitam menggantung rendah, seakan menyimpan beban rahasia yang menunggu untuk tumpah. Dermaga sepi, hanya riak air sungai yang beradu dengan tiang-tiang kayu.
Nayla berdiri sendirian, menatap ke arah sungai dengan hati yang dipenuhi kekecewaan. Sudah berhari-hari Arga menjauh. Setiap kali ia mencoba mendekat, Arga selalu menutup diri, memberi alasan yang membuatnya semakin bingung.
Air hujan mulai jatuh, deras dan tanpa kompromi. Nayla tidak bergerak. Biarlah ia basah, biarlah tubuhnya menggigil—hatinya sudah lebih dulu dingin oleh sikap Arga.
Namun tiba-tiba, langkah kaki berat terdengar dari arah jalan kayu. Arga. Dengan napas terburu-buru, ia muncul di tengah hujan, wajahnya basah bukan hanya oleh air langit, tapi juga air mata yang akhirnya tak mampu ia sembunyikan.
“Nayla!” teriaknya. Suaranya nyaring, melawan suara deras hujan.
Nayla menoleh, matanya berkaca-kaca. “Kenapa? Kenapa kamu datang sekarang, setelah semua dingin ini?”
Arga berdiri di hadapannya, terengah-engah. “Karena aku pengecut. Aku takut kehilanganmu sebelum aku sempat jujur. Aku takut kalau aku bukan orang yang tepat buat kamu. Revan—masa lalumu—semua itu bikin aku merasa kecil.”
Nayla terdiam, air hujan mengalir di wajahnya.
“Tapi setiap kali aku coba menjauh,” Arga melanjutkan dengan suara bergetar, “aku sadar… aku nggak bisa. Kamu sudah jadi bagian dari hidupku, Nayla. Aku jatuh. Aku jatuh sama kamu, sama seperti hujan yang nggak pernah bisa menahan dirinya untuk turun.”
Nayla menutup mulutnya, menahan isak. Hatinya bergetar mendengar kata-kata itu.
Perlahan, ia melangkah mendekat. “Arga, kenapa kamu harus merasa kecil? Aku ada di sini bukan karena siapa lebih hebat, tapi karena aku butuh kamu. Anak-anak butuh kamu. Dan yang paling penting…” ia menatap matanya dalam-dalam, “…hatiku butuh kamu.”
Arga tertegun. Di tengah derasnya hujan, kata-kata Nayla terasa seperti cahaya yang membelah kegelapan.
Tanpa berpikir panjang, ia meraih tangan Nayla, menggenggamnya erat. “Jangan lepaskan aku.”
Nayla tersenyum samar meski air matanya bercampur hujan. “Aku nggak akan.”
Di dermaga Mentaya yang basah kuyup, di bawah hujan yang jatuh tanpa henti, dua hati akhirnya saling menemukan. Cinta mereka jatuh bersama hujan tak bisa ditahan, tak bisa dibendung, hanya bisa dirasakan dengan seluruh jiwa.
Nayla berdiri sendirian, menatap ke arah sungai dengan hati yang dipenuhi kekecewaan. Sudah berhari-hari Arga menjauh. Setiap kali ia mencoba mendekat, Arga selalu menutup diri, memberi alasan yang membuatnya semakin bingung.
Air hujan mulai jatuh, deras dan tanpa kompromi. Nayla tidak bergerak. Biarlah ia basah, biarlah tubuhnya menggigil—hatinya sudah lebih dulu dingin oleh sikap Arga.
Namun tiba-tiba, langkah kaki berat terdengar dari arah jalan kayu. Arga. Dengan napas terburu-buru, ia muncul di tengah hujan, wajahnya basah bukan hanya oleh air langit, tapi juga air mata yang akhirnya tak mampu ia sembunyikan.
“Nayla!” teriaknya. Suaranya nyaring, melawan suara deras hujan.
Nayla menoleh, matanya berkaca-kaca. “Kenapa? Kenapa kamu datang sekarang, setelah semua dingin ini?”
Arga berdiri di hadapannya, terengah-engah. “Karena aku pengecut. Aku takut kehilanganmu sebelum aku sempat jujur. Aku takut kalau aku bukan orang yang tepat buat kamu. Revan—masa lalumu—semua itu bikin aku merasa kecil.”
Nayla terdiam, air hujan mengalir di wajahnya.
“Tapi setiap kali aku coba menjauh,” Arga melanjutkan dengan suara bergetar, “aku sadar… aku nggak bisa. Kamu sudah jadi bagian dari hidupku, Nayla. Aku jatuh. Aku jatuh sama kamu, sama seperti hujan yang nggak pernah bisa menahan dirinya untuk turun.”
Nayla menutup mulutnya, menahan isak. Hatinya bergetar mendengar kata-kata itu.
Perlahan, ia melangkah mendekat. “Arga, kenapa kamu harus merasa kecil? Aku ada di sini bukan karena siapa lebih hebat, tapi karena aku butuh kamu. Anak-anak butuh kamu. Dan yang paling penting…” ia menatap matanya dalam-dalam, “…hatiku butuh kamu.”
Arga tertegun. Di tengah derasnya hujan, kata-kata Nayla terasa seperti cahaya yang membelah kegelapan.
Tanpa berpikir panjang, ia meraih tangan Nayla, menggenggamnya erat. “Jangan lepaskan aku.”
Nayla tersenyum samar meski air matanya bercampur hujan. “Aku nggak akan.”
Di dermaga Mentaya yang basah kuyup, di bawah hujan yang jatuh tanpa henti, dua hati akhirnya saling menemukan. Cinta mereka jatuh bersama hujan tak bisa ditahan, tak bisa dibendung, hanya bisa dirasakan dengan seluruh jiwa.
Other Stories
Sebelum Ya
Hidup adalah proses menuju pencapaian, seperti alif menuju ya. Kesalahan wajar terjadi, na ...
Di Bawah Atap Rumah Singgah
Vinna adalah anak orang kaya. Setelah lulus kuliah, setiap orang melihat dia akan hidup me ...
Kating Modus!
Kisah seorang pemuda yang mengikuti organisasi internal di kampusnya. Ia diberi mandat ole ...
Melodi Nada
Dua gadis kakak beradik dari sebuah desa yang memiliki mimpi tampil dipanggung impian. Mer ...
Plan B
Liburan tiga sahabat di desa terpencil berubah jadi mimpi buruk saat satu dari mereka meng ...
Ada Apa Dengan Rasi
Saking seringnya melihat dan mendengar kedua orang tuanya bertengkar, membuat Rasi, gadis ...