Bab 10 – Epilog: Mentaya Menyimpan Cinta
Musim hujan telah berganti, tapi dermaga di tepian Sungai Mentaya tetap hidup dengan cerita. Rakit bambu yang dulu hanya papan sederhana kini lebih rapi, dihiasi warna-warni gambar anak-anak yang menceritakan mimpi mereka. Buku-buku tersusun lebih banyak, hasil sumbangan orang-orang yang mendengar tentang komunitas kecil itu.
Arga dan Nayla berdiri berdampingan, mengamati tawa anak-anak yang membaca sambil berlarian di tepi dermaga. Wajah mereka basah bukan lagi karena air hujan, melainkan karena sinar matahari Mentaya yang hangat memantulkan cahaya di mata mereka.
“Lucu ya,” kata Nayla sambil tersenyum. “Dulu aku hanya pulang sebentar, tidak pernah terpikir akan bertahan di sini. Tapi sekarang… rasanya aku nggak bisa pergi lagi.”
Arga menatapnya, senyum tenang tersungging di wajahnya. “Karena Mentaya sudah menahanmu?”
“Bukan hanya Mentaya,” Nayla membalas cepat. “Tapi juga seseorang yang keras kepala, pendiam, tapi diam-diam punya hati paling besar.”
Arga tertawa kecil, untuk pertama kalinya tanpa beban. Ia sudah berdamai dengan masa lalunya, dengan rasa takut yang dulu mengekang. Kini ia tahu, hidup selalu memberi kesempatan kedua, asal berani membuka diri.
Hujan sore itu turun pelan, seperti gerimis yang menyapa tanpa mengganggu. Anak-anak berlarian, menengadahkan tangan, tertawa riang.
Arga menggenggam tangan Nayla erat. “Aku janji, Nayla. Apa pun yang terjadi, aku nggak akan lari lagi. Kalau hujan turun, aku ingin kita selalu berdiri di sini. Bersama.”
Nayla menatapnya, lalu mengangguk. “Bersama. Selalu.”
Sungai Mentaya mengalir tenang, membawa cerita mereka ke masa depan. Cinta yang lahir di bawah hujan kini menjadi cahaya yang tak akan padam.
Dan entah berapa musim lagi akan berlalu, tapi hujan di Mentaya akan selalu menyimpan satu kisah: kisah tentang cinta yang jatuh, tumbuh, dan bertahan.
Other Stories
Mentari Dalam Melody
Tara berbeda dengan Gilang, saudaranya. Jika Gilang jadi kebanggaan orang tua, Tara justru ...
Katamu Aku Cantik
Ratna adalah korban pelecehan seksual di masa kecil dan memilih untuk merahasiakannya samb ...
Bukan Cinta Sempurna
Meski populer di sekolah, Dini diam-diam mencintai Widi. Namun Widi justru menjodohkannya ...
Hati Yang Beku
Jasmine menatap hamparan metropolitan dari lantai tiga kostannya. Kerlap-kerlip ibukota ...
Jaki & Centong Nasi Mamak
Jaki, pria 27 tahun. Setiap hari harus menerima pentungan centong nasi di kepalanya gara-g ...
Kastil Piano
Kastil Piano. Sebuah benda transparan mirip bangunan kastil kuno yang di dalamnya terdapat ...