3. Merakyat
Ibuku yang tidak banyak berbicara, menjadikanku meniru dirinya. Aku menganggap jika aku bisa mengimitasinya, ia akan bahagia dan ia akan mengajakku berbicara karena aku telah menjadi dirinya. Di dalam kehidupan kanak-kanakku, hanya ada dua perempuan yang kukenal, ibuku dan aku. Perempuan ketiga adalah nenek dari ibu yang sesekali menginap. Pada saat ada nenek, dialah yang mengajakku berbicara, memberitahukanku tentang pohon keluarga, menerangkanku siapa ibuku, menjelaskan nama-nama tanaman yang bisa dibuat jamu, mengajariku cara membuat bedak Pohaci yang terbuat dari beras, dan mengenalkanku pada hafalan-hafalan berbahasa Sunda kuno.
Menurut nenek, ibuku bukan perempuan biasa. Nenek juga bukan perempuan biasa, aku juga bukan perempuan biasa. Oleh karenanya aku sering dipanggil Nyi Mas. Sebutan yang aku sendiri tidak begitu suka mendengarnya karena tak ada teman sekampungku yang dipanggil seperti itu. Teman-temanku memiliki nama yang bagus seperti Cicah, Onoh, Okol, Bahru, Enong, Surtinah, Erat, Juju, atau Rowi. Nyi Mas bukan namaku, itu nama panggilan yang aku sendiri tidak tahu siapa yang memulai menggunakan itu. Namaku Sarita. Kata nenek, ibukulah yang memberi nama itu setelah sedikit berdebat dengan ayah. Selama ini, nama anak dibuatkan oleh ayah sebagai wujud tanggung jawab katanya. Ayah selalu mengingatkan bahwa nama adalah doa, dan sebagai orang Islam, ayah memastikan bahwa anak-anaknya memakai nama Islam.
Ibu ingin menandai tahun kelahiranku dengan menempelkannya pada nama. Sarita memiliki jumlah istimewa, begitu kata ibu saat meyakinkan ayah. S itu angka ke-19, A angka ke-1, R angka ke-18, I angka ke-9, T angka ke-20, dan A adalah angka ke-1, jumlah keseluruhannya 68.
Aku lahir pada tahun 1968 pada bulan April. Ibu tidak menambahkan nama yang mewakili bulan, katanya April itu berulang, bisa ditemui dalam setiap tahun. Sedangkan 1968 hanya ada satu kali. Ibu juga menambahkan bahwa nanti akan banyak hal yang terjadi pada bulan April, yang penting tahunnya, bukan bulannya. Ibuku memang benar, banyak kejadian yang selalu jatuh pada bulan April. Misalnya pas satu tahun kemudian, 1 April 1969 adalah hari pertama penetapan Repelita 1 yang didengungkan Bapak Pembangunan untuk memutus kemiskinan. Kelak, Bapak Pembangunan kehilangan keseimbangan akibat ibu negara wafat, juga jatuh pada bulan April, persisnya 28 April, 1996. Bapak Pembangunan sendiri lengser dari kepresidenan sebulan setelah April, yakni 21 Mei.
Kehadiranku dalam keluarga yang seolah aku anak pungut karena aku begitu berbeda dari anggota keluargaku yang lain. Sepertinya kondisi yang sama dirasakan pula oleh ibuku. Ibu sepertinya bukan penduduk asli Kampung Caringin. Tidak ada tanda-tanda bahwa ia bagian dari kampung ini. Rambutnya yang panjang di sanggul sejajar dengan bagian atas kepalanya. Penduduk Kampung Caringin menyanggul rambutnya di tengah belakang kepala. Rambut ibuku tidak pernah berderai-derai ketika tertiup angin, bajunya selalu bersih, kain yang dipakainya selalu terlihat rapi, dan ibuku jarang bicara. Ibu-ibu di Kampung Caringin, rambutnya awut-awutan tak bertemu sisir setiap hari, mereka seharian hanya berkutang saja tanpa memakai kebaya untuk menutup tubuhnya ketika menumbuk padi, mereka memakai baju hanya ketika keluar rumah, dan kain mereka terlihat layu dan koyak, terlalu lama menutupi kemiskinan.
Ibuku bernama Wyatna Saadah. Nama depan yang berasal dari bahasa India. Wyatna berarti peringatan, pepeling. Sedangkan Saadah berarti yang mulia. Peringatan yang mulia. Peringatan apa yang diemban ibuku melalui kombinasi nama dari bahasa India dan Arab sekaligus? Dua nama, sangat janggal, pada zaman tahun 1940-an, nama biasanya tunggal. Aku pun yang lahir 20 tahun kemudian masih menggunakan nama tunggal, Sarita. Kata nenek, ibu bukan penduduk asli Kampung Caringin. Inilah kisah ibuku seperti yang disampaikan oleh nenek.
Ibu berasal dari timur berdarah Sunda Galuh. Dulu sekali, nenek moyang ibuku terpaksa harus meninggalkan tempat tinggalnya karena tidak bersedia mengubah keyakinannya dari Sunda Wiwitan menjadi Islam. Mereka menelusuri pantai selatan, dan tiba di Cidaun. Setelah beberapa generasi, mereka perlahan menyebar ke wilayah Sindangbarang, Cibinong, Pagelaran, Sukanagara, termasuk Kadupandak. Nenek merupakan generasi ke sekian yang lahir di Kampung Cijati wilayah kecamatan Kadupandak. Kakek buyutnya dimakamkan di Kampung Keramat, kampung yang dianggap angker di mana makam para leluhur tidak boleh diganggu. Nenek menjalani kehidupan sebagai istri seorang Carik. Dengan kata lain hanya keluarga nenek yang bisa baca tulis huruf Latin. Pada zaman Belanda, juga setelah Jepang tiba di Indonesia, bisa dihitung jari orang yang bisa membaca dan menulis huruf Latin. Berkat kemampuan baca tulisnya dan kisah leluhurnya dari Kerajaan Galuh, keluarga nenek bergelar Raden dan mendapatkan plakat resmi dari Pemerintah Hindia Belanda. Kehidupan ibu, kehidupan orang terdidik, memiliki trah ningrat.
Pada saat perang di mana-mana. Para lelaki satu per satu meninggalkan keluarganya untuk membela negara. Ibuku, anak bungsu dari delapan bersaudara, dengan darah dan trahnya, diperbolehkan masuk Sekolah Rakyat. Sebagai lulusan terbaik Sekolah Rakyat, ibuku mendapatkan ikatan dinas untuk menjadi siswa Sekolah Guru B selama empat tahun. Pada zaman itu, perempuan hanya berada di dapur, sumur dan kasur. Tidak dengan ibuku. Kecerdasannya mengubah hidupnya dari seorang yang biasanya dilayani laden dan tinggal menjentikkan telunjuk, menjadi seorang pekerja, menjadi rakyat biasa yang harus berkeringat untuk bisa memakan sesuap nasi. Nenek mengubah garis keturunan dengan menanggalkan semua atribut keningratan dan menjadi orang biasa. Ibuku harus menjadi wanita yang menghasilkan uang dengan keringatnya sendiri.
Pada saat Indonesia mengalami kesulitan berat secara ekonomi akibat inflasi dan naiknya pertumbuhan penduduk yang tak terkontrol, tahun 1960, ibuku mendapat tugas sebagai seorang guru Sekolah Dasar. Ia ditugaskan di kampung yang hampir seluruh pendudukya buta huruf dan tidak kenal persekolahan. Atas komando Sukarno, presiden RI, ibuku mengemban tugas mulia, memberantas buta huruf. Ia hanya diberi waktu empat tahun untuk membuat penduduk melek huruf. Penduduk harus melek huruf Latin dan Arab. Tahun 1964, Indonesia akan dinyatakan sebagai negara bebas buta huruf, begitu pesan Sukarno yang selalu mengiang di telinga ibu. Ibuku sendirian menembus hutan, berjalan kaki, melawan kebodohan. Perintah langsung itu menjadikan Wyatna muda seorang wanita biasa, yang harus kontak langsung dengan rakyat biasa dan menjadi pepeling yang mulia atau menjadi orang yang mengajak eling atau sadar pada kekuatan ilmu pengetahuan, khususnya pada membaca. Wyatna harus menjadikan dirinya juga warga kampung yang tidak pernah ditemuinya jadi pandai membaca. Itulah sesungguhnya makna dari nama ibu: pengajar yang mulia.
Bagaimana ibuku membukakan mata orang-orang kampung untuk bisa kenal huruf selalu jadi misteri bagiku. Apakah mereka yang belajar membaca, menulis dan berhitung atau calistung melihat ibuku sebagai wujud raksasa yang menakutkan seperti ketika aku melihatnya mengiris benang kenur layang-layang milik Okol? Ibuku memiliki dua kepribadian? sangat mengherankan kenapa aku tidak kenal ibuku sendiri.
Other Stories
Deru Suara Kagum
Perlahan keadaan mulai berubah. Pertemuan-pertemuan sederhana, duduk berdekatan , atau sek ...
Absolute Point
Sebuah sudut pandang mahasiswa semester 13 diambang Drop Out yang terlalu malu menceritaka ...
Diary Superhero
lanjutan cerita kisah cinta superhero. dari sudut pandang Sefia. superhero berkekuatan tel ...
Jaki & Centong Nasi Mamak
Jaki, pria 27 tahun. Setiap hari harus menerima pentungan centong nasi di kepalanya gara-g ...
Dua Bintang
Setelah lulus, Manda ikut Tante Yuni ke Jakarta untuk melupakan luka keluarga. Tapi dikhia ...
Chronicles Of The Lost Heart
Ketika seorang penulis novel gagal menemukan akhir bahagia dalam hidupnya sendiri, sebuah ...