4. Berbeda Derajat
Lain ibuku, lain pula ayahku. Seingatku, ayah seorang petani, penganut Islam fanatik, dan telah memiliki tujuh anak ketika menikah dengan ibu.
“Ayah seorang anak yang dibuang ibunya,” begitu kata Emak Haji. Saat itu tahun 1920, Emak Haji, sebutanku kepada nenek dari ayahku, atau ibunya ayah, melahirkan ayah, Tapi ia tidak mengurusnya. Ia lebih tertarik untuk mengejar mimpinya menikah dengan seorang petani kaya beranak empat yang baru saja ditinggal mati istrinya. Emak Haji sendiri belum menjadi haji ketika menikah dengan Kakek Haji. Emak Haji hanyalah perempuan biasa yang sebelumnya dinikahi oleh lelaki tukang kawin, kabarnya karena seringnya ia berkawin, sampai beristri hampir 40. Jumlah yang sangat banyak sekali, mungkin itu dibesar-besarkan, atau mungkin terpengaruh cerita pewayangan yang menganggap bahwa Arjuna memiliki istri banyak. Akibatnya siapapun yang gonta-ganti istri, disejajarkan dengan Arjuna yang banyak istri.
Ayah yang masih bayi merah diserahkannya kepada bibinya yang tinggal di Nyomplong, sebuah kampung yang dekat dengan Cijati, di mana nenek dari ibuku tinggal. Bayi merah itu diberinya nama Buchroni. Bayi itu ia serahkan begitu saja, tidak ditanyakan bagaimana keadaan atau nasibnya, dirinya tidak paham bahwa sebagai ibu haruslah menyusui bayinya. Kemelaratan membuat air susupun tak keluar, maka ia seolah tak berkewajiban menyusui bayi. Ia menitipkan perutnya kepada petani kaya dan mengabdi padanya untuk sepanjang hayatnya. Bayi kecilnya, ia lupakan. Andai bayi kecil itu tidak kembali setelah 20 tahun kemudian, mungkin Emak Haji tidak akan pernah tahu kenikmatan masa tua diurusi anak sendiri.
Buchroni kecil dibesarkan dengan air tajin yang dibuat bibinya yang tak beranak. Buchroni diberi nama panggilan Bobon oleh ibu asuhnya. Dalam kemiskinan yang sangat, Bobon kecil dimasukkan ke Sekolah Rakyat. Entah kebetulan atau tidak, Bobon berada satu kelas dengan Yaya, anak istri Carik dari Cijati. Yaya, anak ke-3 dari keluarga Carik yang dihormati, didahulukan, dan tidak ada yang berani menyebut namanya untuk menunjukkan segan kepada anak perempuan pengurus desa. Bobon kecil, karena miskin terpaksa harus berhenti sekolah. Ia meninggalkan Yaya, anak Carik yang cantik yang dijodoh-jodohkan oleh teman-temannya karena seolah mereka terlahir untuk berjodoh. Secara fisik, keduanya mewakili kecantikan dan ketampanan rupa, sehingga dipandang pantas bersanding. Bobon menimba ilmu agama, ia masuk pesantren di Cikalong yang harus ia tempuh dengan berjalan kaki selama dua hari.
Berguru agama ada masanya, Bobon harus pulang ke kampung halamannya karena dia telah melebihi masa akil balig dan sudah dewasa. Ke mana ia harus pulang? Ibu angkatnya telah wafat. Satu-satunya tempat yang bisa ditujunya hanyalah ibu kandungnya yang dia sendiri hampir tidak tahu seperti apa rupanya. Pertemuan dengan ibunya tidak semeriah pertemuan anak hilang selama 20 tahun dan kembali ke pangkuan ibunya. Tidak ada drama, Bobon disambut dengan cambuk ayah tirinya. Dia disuruh membajak sawah, tentu saja ia gagal. Selama hidupnya dia tidak pernah memegang cangkul, dia hanya memegang kalam dan pena untuk menulis indah huruf-huruf Arab.
Sedikit kemampuan baca-tulis yang diperoleh Bobon pada saat Sekolah Rakyat sampai kelas tiga menyelamatkan punggungnya dari cemeti untuk kerbau. Dia diterima bekerja di kebun karet kontrak milik Belanda sebagai tukang catat kiloan karet dan mengurus Eleum atau gumpalan karet sebelum diproses, pekerjaan yang sedikit lebih ringan daripada membajak sawah. Kebutuhan dunia akan karet pada masa setelah perang Dunia II membuat Bobon diuntungkan untuk kedua kalinya karena selain menerima upah dari pabrik Ciastana milik Belanda, juga dia pula yang menentukan karet produksi rakyat yang bisa dibeli atau tidak. Dengan kejeliannya, dia bisa membedakan Eleum karet bagus dan Eleum yang berat akibat banyak mengandung air. Pendapatannya melebihi kebutuhannya sendiri, maka dengan hasil kerjanya dia bisa meminang Amsikah, gadis cantik dari Kampung Situwangi, nama kampung yang sama dengan di mana ibu genetiknya tinggal bersama ayah tirinya.
Pernikahan dengan Amsikah dikaruniai tiga anak lelaki dan satu anak perempuan. Kebahagiaan pernikahan yang belum lengkap jika tidak dihiasi dengan ziarah ke makam-makam para wali dan pemuka agama. Bobon dan istri pun demikian, mereka melakukan ziarah ke Luar Batang. Ziarah kubur dan menemui jejak-jejak para wali Allah. Ayah melaksanakan ziarah yang menjadi bagian dari tradisi untuk mendapatkan berkah dan karomah dari tingginya derajat keimanan wakil Allah di muka bumi yang disebut Habib, yang kabarnya berasal dari Yaman. Ayah berziarah untuk mendapatkan mukjizat kesembuhan bagi duburnya yang selalu mengeluarkan darah. Ayah mengira penyakitnya itu akibat dari guna-guna yang iri pada kedudukannya sekarang.
Selain itu, ayah berziarah untuk mengucap syukur pada karunia Gusti Allah yang memberikannya anak perempuan. Ayah memimpikan memiliki anak perempuan setelah secara berturut-turut diberi tiga anak lelaki. Bayi merah, perempuan itu diberinya nama Zulaikha. Nama yang sama dengan perempuan pada zaman Nabi Yusuf. Kecantikan Zulaikha, anak ayah telihat memancar. Bayi kecil itu berhidung mancung, berkulit putih, tulang-tulangnya panjang, rambutnya ikal. Sungguh kecantikan fisik yang amat sempurna untuk ukuran bayi yang lahir pada zaman susah.
Ziarah ini menjadi ziarah pertama dan terakhir. Sepulang ziarah, Amsikah menderita selesma, sejenis influenza. Tidak tersedianya dokter ataupun mantri kesehatan pada saat itu menyebabkan demam Amsikah dipandang penyakit biasa. Tanpa sepengetahuan siapapun, Amsikah terkena pagebug dan sasalad. Sasalad adalah sebutan untuk merujuk pada musim datangnya penyakit yang dengan mudah menyebar dari satu orang ke orang lain. kondisi Amsikah yang belum genap dua bulan setelah melahirkan mejadikan dirinya rentan terhadap pagebug atau penyakit yang sedang mewabah akibat sisa perang. Menurut dunia modern disebut flu Spanyol. Amsikah hanya terlihat menderita selesma diikuti demam tinggi dan dua hari kemudian dialah yang diziarahi tetangga dan kerabatnya. Amsikah meninggalkan anak-anaknya yang masih kecil dan Bobon menjadi duda pada usia muda. Zulaikha kecil yang lucu, merengek setiap malam meminta susu haknya. Dia tidak tahu jika ibunya telah tiada.
Menjadi pegawai kontrak di pabrik karet sekaligus mengurusi empat anak kecil, jelas bukan kombinasi yang cantik untuk seorang lelaki muda yang sedang meniti karier di pabrik. Bobon sama sekali tidak tahu cara mengurus anak. Lebih buruk lagi, Bobon memiliki anggapan bahwa urusan anak, urusan istri. Lelaki bertugas mencari nafkah, tidak ada pada kamusnya bahwa seorang lelaki membantu menimang, menggendong, meredakan tangis anak kecil. Dirinya steril dari urusan yang bersentuhan dengan anak. Tangannya seolah dikhususkan untuk mengurusi pekerjaan lelaki, yakni menimbang karet, bukan menimang anak. Anak-anak kecil yang ditinggal Amsikah setiap malam hanya bisa menangis. Tangis lapar Zulaikha membawa pikirannya pada keputusan mencari perempuan yang bisa menghentikan tangis anak-anaknya.
Untunglah adiknya Amsikah, Ikah, yang baru saja bercerai dari suaminya bersedia dititipi empat anak. Ikah sendiri memiliki tiga anak dari pernikahannya. Perceraiannya dikabarkan untuk memutus kutukan. Kutukan yang muncul akibat perebutan air. Kisahnya begini.
Ayahnya Ikah memiliki sawah yang harus diari setiap saat agar padi cerenya tumbuh dengan baik. Selokan yang mengairinya menjadi satu-satunya selokan yang pula mengairi sawah-sawah lainnya. Pada saat musim kemarau, kebutuhan air meningkat. Sementara jumlah air menyusut. Ayah Ikah membendung selokan agar airnya mengairi sawahnya. Cara ini tentu saja dipandang tidak adil oleh pemilik sawah yang lain, maka salah satu pemilik sawah membobolkan bendungan kecil itu sehingga air selokan bisa pula mengairi sawahnya. Bendung, bobol, bendung, bobol, terus berulang sehingga memuncakkan emosi. Pada saat puncak kemarahan berubah menjadi kebencian, kedua pemilik sawah ini bertemu dan saling menguji ilmu kanuragan. Kedua lelaki ini bergulat, dan ayah Ikah kalah. Lawannya memberinya supata atau kutukan ka luhur teu sirungan ka handap teu akaran. Supata itu kurang lebih berarti ‘ke atas tidak berpucuk ke bawah tidak berakar’ atau dengan kata lain ‘mati, tidak ada kemajuan dalam hal apapun.’ Saat itu, Ikah sedang dalam kandungan ibunya. Supata ini jatuh pada Ikah yang saat itu sedang dalam posisi akar dari ayahnya. Ikah yang tidak mengetahui dosa ayahnya, kelak dia dan keturunannya akan menanggung supata-nya sendiri-sendiri.
Ayah tentu tidak mengetahui supata kutuk yang dibawa Ikah. Ayah hanya menemukan seorang perempuan, beranak lelaki tiga, adik dari almarhumah istrinya yang bersedia mengurusi Zulaikha kecil.
Turun ranjang, itulah istilah yang digunakan ketika kemudian ayah mengambil Ikah sebagai istri. Pernikahan itu menjadi sorotan karena belum genap 40 hari ayah menduda, telah dengan cepat beristri. Umumnya para lelaki berduka dan menahan diri untuk tidak segera menikah jika ditinggal wafat istrinya. Alasan mengurus bayi tiga meringankan gunjing di kampung kecil soal pernikahan yang terlalu cepat. Ikah sendiri mendapat gunjing yang lebih memekakkan telinga karena dia bercerai bukan karena ditinggal mati suaminya, tapi karena dia merasa lelah mengurusi sawah sambil harus pula mengurusi tiga anak.
Kini, ketika dia bekerja, terdapat enam lelaki kecil dan satu perempuan kecil menunggu di rumahnya. Ikah yang terluka secara batin dapat melupakan laranya dengan mengurusi Zulaikha. Namun itu tidak berlangsung lama. Emak Haji yang kesepian merasa ingin membayar utang mengurus bayi yang dulu tidak dilakukannya. Zulaikha diambil Emak Haji dan Ikah selanjutnya melahirkan anak pertama dari suami keduanya, anak perempuan. Emak Haji dalam tangis menjelaskan bahwa setelah tua nanti, dirinya akan mati sendirian, karena tidak pernah mengurusi anak. Hukum dan keadilan Tuhan akan berlaku, begitu kilahnya, siapa yang tak mengurusi anaknya maka di masa tuanya akan ditinggalkan anaknya. Pemikiran yang sangat menakutkan, seperti utang nyawa bayar nyawa. Aku yakin, walaupun ayahku tak diurusnya, belum tentu tega menelantarkan ibunya dalam renta. Aku membandingkannya pada diriku sendiri, walaupun ibuku berprofil kejam, menakutkan, raksasa ganas tapi aku akan merawatnya jika dia sakit.
Ayah menawarkan hal yang dihindari Ikah. Ayah membeli sawah untuk menyimpan uang. Karena ayah harus berangkat setiap hari ke pabrik karet, urusan mengurus sawah menjadi tanggung jawab Ikah. Penghasilan ayah digunakan untuk membiayai pengelolaan sawah yang ditanami padi. Menanam padi bukan perkara enteng. Padi jenis cere memerlukan waktu hampir setengah tahun mulai dari tanam sampai panen. Ikah tenggelam dalam tanggung jawab sebagai istri, ibu dari tiga anak perempuan yang setiap dua tahun sekali lahir dari pernikahan dengan ayah.
Kehidupan Ikah dengan tanggung jawab mengurus sawah, padi, dan anak mendatangkan kemajuan besar dalam pernikahan kedua ayah. Saat itu perdagangan karet sedang berjaya. Keuntungan menjual lembaran karet yang diselundupkan ke Singapura sangatlah besar. Ayah sebagai orang yang berada di bagian penimbangan mendapatkan uang lebih. Hasil menjual lembaran-lembaran karet halus yang menyeberang lautan, berubah menjadi hamparan sawah di kampung tempat Ikah tinggal. Kebahagiaan itu tidak berlangsung lama. Kembali dubur ayah menggelontorkan darah. Sakit ini tidak dibawa ke dokter karena tidak ada dokter, kecuali di kota provinsi yang harus ditempuh dua hari dengan oplet. Ayah menduga sakitnya kiriman orang. Dugaan itu makin kuat karena pabrik karet di mana dia bekerja memintanya berhenti.
Tanpa sepengetahuan ayah, sesungguhnya di belahan dunia yang lain sedang terjadi perang saudara di Korea. Korea Utara dibantu Tiongkok yang mengakibatkan PBB mengeluarkan embargo ekonomi pada Tiongkok. Embargo inilah yang menyebabkan ayah kehilangan pekerjaan. Indonesia tidak boleh mengekspor karet ke Tiongkok, akibatnya harga karet turun. Produksi karet lembaran dari Jawa tidak dapat dijual begitu saja. Menteri Kemakmuran Kabinet Republik Indonesia Serikat, Djuanda, menyatakan semua perusahaan yang menjual karet harus memiliki izin. Perusahaan karet yang ayah jadikan sandaran merupakan pabrik peninggalan Belanda yang tak bertuan lagi. Maka pabrik karet Tjiastana tutup dan ayah jadi pengangguran.
Kehilangan pekerjaan dan dubur mengeluarkan darah merupakan kombinasi yang tepat bagi ayah untuk merasakan stres yang melebihi kekuatannya sebagai lelaki. Dia terbaring lemah, darah tiada henti keluar dari duburnya. Demam menyerangnya tiada henti. Kata dukun yang diundang datang untuk mengobati, sumber penyakit ada di rumah. Bahasa ini diartikan bahwa Ikah lah pembawa penyakitnya. Dalam sakit ayah memberikan putusan untuk bercerai.
Ada kesamaan nasib yang dialami setiap anak perempuan bungsu yang dialiri darah ayah. Zulaikha, anak bungsu pertama, dari isteri pertama, berumur dua bulan ketika berpisah dengan ibunya. Kini, Zukhroyah, anak bungsu dari isteri kedua, juga berumur dua bulan ketika harus berpisah dari ayahnya karena ibunya dipandang pembawa petaka.
Sesungguhnya kesamaan nasib itu ketika tidak lama kemudian Zukhroyah juga ditinggal ibunya. Bukan karena meninggal, tapi karena ibunya lupa ingatan pada dirinya, pada anaknya, pada semuanya, ia menjadi gila. Kata orang-orang itu karena supata kutuk telah berlaku untuknya. Orang-orang tidak iba melihatnya sebagai akibat dari kepedihan diceraikan suami dengan tuduhan buruk padanya. Ikah menari-nari di jalan, di selokan, di sawah, di mana pun yang ia suka. Zukhroyah kecil menangis minta susu, sama seperti ketika Zulaikha dulu meronta lapar ingin menetek.
Ayah berangsur sembuh dan pikiran normalnya memikirkan mencari ibu bagi Zukhroyah yang mengganggu tidurnya.
Other Stories
Menantimu
“Belum tidur Zani?” “Belum. Ngak bisa tidur.” “Hehe. Pasti ada yang dipikirin ...
Ayudiah Dan Kantini
Waktu terasa lambat karena pahitnya hidup, namun rasa syukur atas persahabatan Ayudyah dan ...
Free Mind
KITA j e d a .... sepertinya waktu tak akan pernah berpihak pada kita lagi setelah aku ...
Romance Reloaded
Luna, gadis miskin jenius di dunia FPS, mendadak viral setelah aksi no-scope gila di turna ...
Mobil Kodok, Mobil Monyet
Seorang kakek yang ingin memperbaiki hubungan dengan anaknya yang telah lama memusuhinya. ...
Dua Bintang
Setelah lulus, Manda ikut Tante Yuni ke Jakarta untuk melupakan luka keluarga. Tapi dikhia ...