Autumn's Journey

Reads
2.7K
Votes
0
Parts
15
Vote
Report
Penulis Petra Shandi

7. Awal Yang Baru

Henri terjerumus dalam palung penyesalan. Rasanya seperti terlempar dari buaian yang melenakan lalu terjerembap jatuh ke belantara sunyi. Gelap dan sendiri. Meski sebenarnya ia berada di tengah keramaian, menyaksikan gemerlap kembang api di Kota Busan.
Seminggu sudah Henri kehilangan jejak Kim Ha Neul. Sejak kejadian itu, semua hal yang berhubungan dengan perempuan itu sulit sekali ia dapati. Ponselnya selalu dimatikan. Berkali-kali Henri datangi rumahnya, tetapi tak seorang pun yang tahu keberadaan Ha Neul. Merasa putus asa, Henri menceritakan masalah ini pada Tae Joon. Berkat saran lelaki itu, Henri nekat berkunjung ke Busan karena Ha Neul pernah bercerita tentang kota kelahirannya itu.
Henri masih duduk termenung di sudut Kota Busan. Pikiran kusut plus raga letih semakin klop dengan sebotol soju yang tersaji di pojangmacha ini. Seharusnya malam ini Ha Neul mendampinginya, berbaur dengan gemerlap warna-warni yang menerangi langit Busan, memperlihatkan beragam budaya dan tempat hiburan menarik yang biasa mereka lakukan beberapa hari lalu. Namun, Ha Neul tidak menampakkan batang hidungnya. Sungguh, Henri merasa menjadi orang paling jahat di muka bumi. Bahkan ia tak ingat lagi apa tujuan sebenarnya berada di negeri ini.
Perjalanannya di Kota Busan berakhir sia-sia. Henri semakin kebingungan mencari jejak perempuan itu. Seminggu sudah ia berkelana seorang diri, menghabiskan malam di pojangmacha dekat hostel lalu mengunjungi tempat tinggal Ha Neul setiap saat. Semuanya seolah menjadi rutinitas yang melemahkan daya imajinasinya untuk menulis sesuatu. Ini lebih menyedihkan dibanding saat pertama kali ia menginjak kakinya di Negeri Han.
Ha Neul Ssi, komohon maafkan aku. Aku janji tidak akan menulis kisahmu. Tolonglah, Aku tidak bisa tinggal sendirian di tempat ini.
Itu adalah pesan terakhir yang ia kirimkan pada perempuan itu setelah puluhan kali menulis pesan dengan isi yang sama. Berharap Ha Neul bermurah hati dan memutuskan untuk menemuinya.
Lamunan membawanya kembali ke kawasan Jongno. Menyusuri tapak kakinya sendiri menuju Banana Backpackers. Lelaki itu harus memulai semuanya dari awal. Ia mencoba untuk menciptakan kisah dan menuliskannya demi kebangkitan seorang Henri Samuel.
Kenyataannya kakinya malah melangkah menuju tempat yang biasa ia kunjungi. Pojangmacha seolah menjadi rumah utama selama beberapa hari terakhir. Entah kenapa ia mulai seperti orang Korea kebanyakan yang pintar meminum berbotol-botol soju dan bertingkah seperti orang gila. Perempuan sial! Semua ini karena perbuatanmu! umpat Henri dalam hati seraya memainkan sebotol soju. Tiba-tiba ponsel bergetar. Ada sebuah pesan masuk.
Berhenti minum, Sobat! Coba saja aku ada di sana, mungkin aku bisa menantangmu bermain squash. Kamu tidak tahu, permainanku semakin bagus sekarang.
Henri tersenyum membaca pesan singkat dari Arbi. Benar juga, selama di Korea Selatan ia tidak pernah bermain squash. Badannya mulai terasa kaku dan lemak semakin buas menggerogoti perutnya. Namun bagaimanapun, lawan mainnya yang sepadan hanyalah Arbi. Tak ada yang bisa melawan pantulan tajam bolanya selain dia.
Akhirnya, Henri memberanikan diri mendatangi Seoul Sport Club. Tempat itu menyediakan fasilitas olahraga terlengkap di Korea Selatan. Pastinya dengan mudah akan ia temukan lapangan squash dengan semua fasilitasnya. Walau sebenarnya Henri bingung, siapa yang akan ia ajak bermain. Toh Henri akhirnya berpikiran positif. Ia pasti bisa mengajak siapa pun yang ada di sana. Bukan tidak mungkin ia bisa bertemu dengan perempuan yang lebih baik dari Kim Ha Neul sehingga kepalanya tidak selalu terbelenggu oleh masalah itu.
Benar juga. Tidak sulit mendapatkan teman bermain karena banyak orang Korea yang menyukai olahraga squash. Untuk sesaat bayangan lelaki itu kembali ke beberapa bulan silam. Menikmati hidup yang tenang seperti dulu, bermain squash penuh semangat bersama seorang sahabat terbaik. Diam-diam Henri merindukan Arbi.
***
Sudah puluhan kali Henri menghapus halaman-halaman naskah novelnya. Tak ada satu pun kisah hebat yang bisa ia tulis. Semua terasa hambar. Sementara makanan yang telah disiapkan untuk menemaninya menulis sudah habis sebelum waktunya. Pantas saja berat badan lelaki itu semakin membengkak. Sehari-hari yang ia lakukan hanya melamun di kursi teras hostel, bermain gitar, ditemani suara pin wheel yang berputar terhembus angin. Terkadang kincir besar ala Belanda itu bergerak saat angin berhembus kencang.
Tae Joon dan teman-teman dari Kanada seringkali mengajaknya jalan-jalan, tetapi ia selalu menolak ajakan mereka. Hingga pada akhirnya mereka tak pernah mengajaknya lagi. Berkali-kali pula mereka menghibur Henri sekedar berbincang di ruang tengah atau bermain kartu, tetapi lagi-lagi ia seolah enggan untuk berbicara dengan siapa pun. Henri bingung dengan keadaan dirinya sendiri.
Ini sudah untuk ke sekian kalinya ia kembali ke pojangmacha. Bahkan penjaga pojangmacha ini sampai hafal wajah Henri. Pemilik pojangmacha itu tentunya senang karena Henri selalu memesan berbotol-botol soju dalam semalam.
Dalam benak Henri terlintas wajah Ha Neul. Tanpa sadar ia mengumpat, sialan kamu! Bagaimana bisa kamu mengganggu hidupku? Memangnya kamu siapa? Sungguh, perempuan bernama Kim Ha Neul itu berhasil mencuri ketenangan seorang Henri Samuel.
Malam semakin larut dan kelam. Dalam kehangatan soju, lelaki itu masih bertahan melawan dinginnya malam yang tak terkira. Entah sudah berapa kali ia menggosok-gosokkan tangan berusaha membuatnya agar tidak membeku. Bodohnya lagi, ia mulai mengoceh tidak penting seperti orang gila. Perlahan, kesadarannya mulai hilang. Semuanya terasa kabur dan ia tak ingat apa-apa lagi.
***
Dalam lamunan, Henri masih berpikir apa yang akan ia lakukan pagi ini? Semua pasti sama dan akan berulang seperti putaran yang tak pernah ia tahu di mana pangkal dan ujungnya. Itu sebabnya Henri enggan membuka mata karena hanya akan membuatnya lelah sendiri melewati hari yang sudah ia tahu pasti akhirnya. Namun, kali ini ia terganggu oleh sesuatu yang hangat yang menerpa wajahnya, seperti sorot mentari di pagi hari. Henri tak pernah membuka tirai jendela saat bangun tidur. Tak lama hidungnya mencium aroma kaldu ayam. Harum menyengat menggugahnya untuk bangun.
Tiba-tiba terdengar sebuah suara, “Bangunlah, aku tahu kamu sudah tersadar!” Henri mengenali suara itu. Amat mengenali! Sontak lelaki itu membuka mata. Ha Neul!
Ia edarkan pandangan ke seluruh sudut ruangan. Bukan. Ini bukan kamarnya. Beribu pertanyaan menggelayut di kepala. Bagaimana bisa ia terdampar di kamar yang kumuh ini? Apakah lelaki itu sedang bermimpi?
“Kita impas kan sekarang?”
Henri masih menatap perempuan itu dengan kebingungan. Ia memperhatikan pakaiannya yang ternyata masih sama dengan yang kemarin.
“Semalam kamu mabuk, Henri!” Ha Neul menggelengkan kepala dengan lengan dilipatkan ke dada. “Ssipal! Kenapa aku harus selalu terhubung denganmu?” umpat perempuan itu.
Mendengar gumaman Ha Neul, lelaki itu hanya bisa tersenyum. Ternyata Tuhan mendengar doanya. Cepat atau lambat perempuan itu akhirnya kembali juga. “Terima kasih, Ha Neul Ssi,” akhirnya Henri membuka mulut.
“Sudahlah. Makan dulu bubur ayamnya,” dia menyerahkan nampan berisi semangkuk bubur dengan asap yang masih mengepul. “Maaf, mungkin buburnya tidak seenak di Miss Lee Cafe. Namun, setidaknya bisa membuat perutmu terisi,” kata Ha Neul dengan tampang masam.
Memang, rasa bubur yang Ha Neul buat tidak seenak buatan Miss Lee Café, bahkan Henri mampu membuat yang lebih enak dibanding ini. Namun, bagaimanapun juga, rasa lapar mampu menghantam segala keterbatasan selera lelaki itu. Tidak peduli rasa makanan itu, ia lahap semangkuk penuh bubur ini..
“Kamu…,” Ha Neul tidak melanjutkan kalimatnya. Membuat Henri menghentikan suapannya dan memperhatikan perempuan itu.
“Apa? Kamu mau bilang apa?” tanya lelaki itu dengan mulut belepotan.
“Hmm… kamu boleh menuliskan kisahku.”
Sontak Henri tersedak. Lagi-lagi Ha Neul menggelengkan kepala lalu menyerahkan serbet. “Kamu serius?”
Dia mengangguk. “Aku kasihan melihatmu seperti orang gila. Setiap malam mabuk-mabukan tidak jelas.” Hah? Dia tahu dari mana? Batin Henri. “Tapi sepertinya kita harus membuat perjanjian baru.”
“Hmm…”
“Iya,” Kim Ha Neul mendekatkan wajahnya pada lelaki itu. “Gajiku ditambah 300 ribu won, bagaimana?”
Dasar perempuan matre! umpat Henri dalam hati. Seolah Ha Neul benar-benar tahu momen yang tepat untuk memerasnya. “Bisa tidak enyahkan kata ‘uang’ di kepalamu?” lelaki itu menggeleng gemas.
Kali ini Ha Neul menutup mulut lelaki itu dengan telunjuk. “Sepertinya kamu tidak ada pilihan, terima tawaranku atau tidak sama sekali!” seolah menantangnya, ia mengedipkan mata.
It’s a new beginning! Tak henti-hentinya lelaki itu berterima kasih kepada Tuhan. Baginya, Kim Ha Neul adalah penyelamatnya. Perempuan itu mampu membangkitkan semangat yang mulai kendur, dan bahkan memberikan semua kisah hidupnya. Tidak terelakkan lagi. Henri semakin menyukai Kim Ha Neul!
***
Nama Kim Ha Neul seolah sudah melekat erat di kepala Henri. Bagaimana dengan Laura? Lucu saja. Saat di Jakarta, lelaki itu berusaha sekuat tenaga untuk melupakan bayangannya. Sekarang? Henri pun seolah bingung sendiri, bagaimana bisa dengan mudahnya mengenyahkan perempuan yang pernah ia cinta hampir tiga tahun itu.
Henri menatap layar laptop. Masih terlihat senyuman Laura di sana. Apa kabar, Laura? Apa kamu bahagia sekarang? Terakhir saat pertemuan mereka di kafe. Tak ada satu pun yang berubah. Pesona seorang Laura Alexandra masih membius siapa pun yang ada di dekatnya. Perempuan itu terlihat begitu bahagia. Membuat Henri tersadar akan sesuatu. Saat masa kritis hubungan mereka, wajah Laura seringkali diselimuti kekecewaan dan amarah. Mungkin itulah kenyatannya, sebagai kekasih, Henri terlalu banyak kekurangan yang membuat kisah mereka berantakan.
Perlahan jemari lelaki itu bergerak memulai merangkai kata.
Iringan gemericik hati mengalun syahdu di setiap langkahku. Sebuah rasa tak biasa membius kesadaranku akan arti kita selama ini. Bagaimana keping hati meretak pada akhirnya? Yang kemudian tumbuh kepicikan dalam diri, tunas kebinasaan cinta kita. Meski kuakui remuk redam hati ini saat benih yang kutanam tak pernah tertuai. Namun, aku tak berani lagi menyalahkanmu, begitu pun dia. Bukankah cinta sebentuk rasa yang suci? Anugerah Tuhan untuk umat-Nya?
Kau telah memilih jalan yang benar. Sudah kurelakan semua kenangan itu terkubur dalam. Kelak kau harus bahagia dengannya.
Henri tersenyum lalu mengganti gambar Laura dengan ilustrasi sampul depan novel terakhirnya.
***

Other Stories
Di Bawah Langit Al-ihya

Tertulis kisah ini dengan melafazkan nama-Mu juga terbingkailah namanya. Berharap mega t ...

Breast Beneath The Spotlight

Di tengah mimpi menjadi idol K-Pop yang semakin langka dan brutal, delapan gadis muda dari ...

Warung Kopi Reformasi

Di sebuah warung kopi sederhana di pinggir alun-alun Garut tahun 1998, hidup berjalan deng ...

Makna Dibalik Kalimat (never Ending)

Rangkaian huruf yang menjadi kata. Rangkaian kata yang menjadi kalimat. Kalimat yang mungk ...

Kelabu

Kulihat Annisa tengah duduk di sebuah batu besar di pinggir sungai bersama seorang anak ...

Aparar Keparat

aparat memang keparat ...

Download Titik & Koma